Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia

Standard

BUNG KARNO

PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

 

BIOGRAPHY AS TOLD TO CINDY ADAMS

 

 

Bab 1

Alasan Menulis Bab ini

 

TJARA jang paling mudah untuk melukiskan tentang diri Sukarno ialah dengan menamakannja seorang jang maha-pentjinta. Ia mentjintai negerinja, ia mentjintai rakjatnja, ia mentjintai wanita, ia mentjintai seni dan melebihi daripada segala-galanya ia tjinta kepada dirinya sendiri. Sukarno adalah seorang manusia perasaan. Seorang pengagum. Ia menarik napas pandjang apabila menjaksikan pemandangan jang indah. Djiwanja bergetar memandangi matahari terbenam di Indonesia. Ia menangis di kala menjanjikan lagu spirituil orang negro. Orang mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia terlalu banjak memiliki darah seorang seniman. “Akan tetapi aku bersjukur kepada Jang Maha Pentjipta, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni. Kalau tidak demikian, bagaimana aku bisa mendjadi Pemimpin Besar Revolusi, sebagairnana 105 djuta rakjat menjebutku? Kalau tidak demikian, bagairnana aku bisa memimpin bangsaku untuk merebut kembali kemerdekaan dan hak-azasinja, setelah tiga setengah abad di bawah pendjadjahan Belanda? Kalau tidak demikian bagaimana aku bisa mengobarkan suatu revolusi di tahun 1945 dan mentjiptakan suatu Negara Indonesia jang bersatu, jang terdiri dari pulau Djawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan bagian lain dari Hindia Belanda?

Irama suatu revolusi adalah mendjebol dan membangun. Pernbangunan menghendaki djiwa seorang arsitek. Dan didalam djiwa arsitek terdapatlah unsur-unsur perasaan dan djiwa seni. Kepandaian memimpin suatu revolusi hanja dapat ditjapai dengan rnentjari ilham dalam segala sesuatu jang dilihat. Dapatkah orang memperoleh ilham dalam sesuatu, bilamana ia bukan seorang manusia-perasaan dan bukan manusia-seni barang sedikit?

Namun tidak setiap orang setudju dengan gambaran Sukarno tentang diri Sukarno. Tidak semua orang menjadari, bahwa djalan untuk mendekatiku adalah semata-mata melalui hati jang ichlas. Tidak semua orang menjadari, bahwa aku ini tak ubahnja seperti anak ketjil. Berilah aku sebuah pisang dengan sedikit simpati jang keluar dari lubuk hatimu, tentu aku akan mentjintaimu untuk selama-lamanja.

Akan tetapi berilah aku seribu djuta dollar dan di saat itu pula engkau tampar mukaku di hadapan umum, maka sekalipun ini njawa tantangannja aku akan berkata kepadamu, “Persetan!” Manusia Indonesia hidup dengan getaran perasaan. Kamilah satu-satunja bangsa di dunia jang mempunjai sedjenis bantal jang dipergunakan sekedar untuk dirangkul. Di setiap tempat-tidur orang Indonesia terdapat sebuah bantal sebagai kalang hulu dan sebuah lagi bantal ketjil berbentuk bulat pandjang jang dinamai guling. Guling ini bagi kami gunanja hanja untuk dirangkul sepandjang malam. Aku mendjadi orang jang paling menjenangkan di dunia ini, apabila aku merasakan arus persahabatan, sirnpati terhadap persoalan-persoalanku, pengertian dan penghargaan datang menjambutku. Sekalipun ia tak diutjapkan, ia dapat kurasakan. Dan sekalipun rasa tidak senang itu tidak diutjapkan, aku djuga dapat merasakannja. Dalam kedua hal itu aku bereaksi menurut instink. Dengan satu perkataan jang lembut, aku akan melebur. Aku bisa keras seperti badja, tapi akupun bisa sangat lunak. Seorang diplomat tinggi Inggris masih belum menjadari, bahwa kuntji menudju Sukarno akan berputar dengan mudah, kalau ia diminjaki dengan perasaan kasih-sajang.

Dalam sebuah suratnja belum lama berselang jang ditudjukan ke Downing Street 10 ia menulis, “Presiden Sukarno tidak dapat dikendalikan, tidak dapat diramalkan dan tidak dapat dikuasai. Dia seperti tikus jang terdesak. “Suatu utjapan jang sangat bagus bagi seseorang jang telah mempersembahkan seluruh hidupnja ke pangkuan tanah-airnja, orang jang 13 tahun lamanja meringkuk dalam pendjara dan pembuangan, karena ia mengabdi kepada suatu tjita-tjita. Mungkin aku tidak sependapat dan sependirian dengan dia tetapi seperti seekor tikus? Djantungku berhenti mendenjut ketika surat itu sampai di tanganku. Ia mengachiri suratnja dengan mengatakan, bahwa ia telah mengusahakan agar Sukarno mendapat perlakuan jang paling buruk dalam surat-surat kabar.

“Aku tidak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat lagi tidur barang sekedjap. Kadang-kadang, di larut tengah malam, aku menelpon seseorang jang dekat denganku seperti misalnja Subandrio, Wakil Perdana Menteri Satu dan kataku, “Bandrio, datanglah ke tempat saja, temani saja, tjeritakan padaku sesuatu jang gandjil, tjeritakanlah suatu lelutjon, bertjeritalah tentang apa sadja asal djangan mengenai politik. Dan kalau saja tertidur, ma’afkanlah.”

Aku membatja setiap malam, berpikir setiap malam dan aku sudah bangun lagi djam lima pagi. Untuk pertama kali dalam hidupku aku mulai makan obat tidur. Aku lelah. Terlalu lelah. Aku bukan manusia jang tidak mempunjai kesalahan. Setiap machluk membuat kesalahan. Di hari-hari keramat aku minta ma’af kepada rakjatku dimuka umum atas kesalahan jang kutahu telah kuperbuat, dan atas kekeliruan-kekeliruan jang tidak kusadari. Barangkali suatu kesalahanku ialah, bahwa aku selalu mengedjar suatu tjita-tjita dan bukan persoalan-persoalan jang dingin.

Aku tetap mentjoba untuk menundukkan keadaan atau mentjiptakan lagi keadaan-keadaan, sehingga ia dapat dipakai sebagai djalan untuk mentjapai apa jang sedang dikedjar. Hasilnja, sekalipun aku berusaha begitu keras bagi rakjatku, aku mendjadi korban dari serangan-serangan jang djahat. Orang bertanja, “Sukarno, apakah engkau tidak merasa tersinggung bila orang mengeritikmu ?” Sudah tentu aku merasa tersinggung. Aku bentji dimaki orang. Bukankah aku bersifat manusia seperti djuga setiap manusia lainnja? Bahkan kalau engkau melukai seorang Kepala Negara, ia akan lemah. Tentu aku ingin disenangi orang. Aku mempunjai ego. Itu kuakui. Tapi tak seorangpun tanpa ego dapat menjatukan 10.000 pulau-pulau mendjadi satu Kebangsaan. Dan aku angkuh. Siapa pula jang tidak angkuh ? Bukankah setiap orang jang membatja buku ini ingin mendapat pudjian?

Aku teringat akan suatu hari, ketika aku menghadapi dua buah laporan jang bertentangan tentang diriku. Kadang-kadang seorang Kepala Pemerintahan tidak tahu, mana jang harus dipertjajainja. Jang pertama berasal dari madjalah “Look”. “Look” menjatakan, bahwa rakjat Indonesia semua menentangku. Madjalah ini memuat sebuah tulisan mengenai seorang tukang betjak jang mengatakan seakan-akan segala sesuatu di Indonesia sangat menjedihkan keadaannja dan orang-orang kampungpun sekarang sudah muak terhadap Sukarno.

Kusudahi membatja artikel itu pada djam lima sore dan tepat pada waktu aku telah siap hendak berdjalan-djalan selama setengah djam, seperti biasanja kulakukan dalam lingkungan istana inilah satu-satunja matjam gerak badan bagiku seorang pedjabat polisi jang sangat gugup dibawa masuk. Sambil berdjalan kutanjakan kepadanja, apa jang sedang dipikirkannja. “Ja, Pak,” ia memulai, “Sebenarnja kabar baik.” “Apa maksudmu dengan sebenarnja kabar baik?” tanjaku. “Ja,” katanja, “Rakjat sangat menghargai Bapak. Mereka mentjintai Bapak. Dan terutama rakjat djelata. Saja mengetahui, karena saja baru menjaksikan sendiri suatu keadaan jang menundjukkan penghargaan terhadap Bapak. Kemudian ia berhenti. “Teruslah,” desakku, “Katakan padaku. Dari mana engkau dan siapa jang kautemui dan apa jang mereka lakukan?” “Begini, Pak,” ia mulai lagi. “Kita mempunjai suatu daerah, di mana perempuan-perempuan latjur semua ditempatkan setjara berurutan.

Kami memeriksa daerah itu dalam waktu-waktu tertentu, karena sudah mendjadi tugas kami untuk mengadakan pengawasan tetap. Kemarin suatu kelompok memeriksa keadaan mereka dan Bapak tahu apa jang mereka temui. Mereka menjaksikan potret Bapak, Pak. Digantungkan di dinding.” “Di mana aku digantungkan?” tanjaku kepadanja. “Di tiap kamar, Pak. Di tiap kamar terdapat, sudah barang tentu, sebuah tempat tidur. Dekat tiap randjang ada medja dan tepat diatas medja itu disitulah gambar Bapak digantungkan. “Dengan gugup ia mengintai kepadaku sambil menunggu perintah. “Pak, kami merasa bahagia karena rakjat kita memuliakan Bapak, tapi dalam hal ini kami masih ragu apakah wadjar kalau gambar Presiden kita digantungkan di dinding rumah pelatjuran. Apa jang harus kami kerdjakan? Apakah akan kami pindahkan gambar Bapak dari dinding-dinding itu?” “Tidak,” djawabku. “Biarkanlah aku di sana. Biarkan mataku jang tua dan letih itu memandangnja! “Tidak seorangpun dalam peradaban modern ini jang menimbulkan demikian banjak perasaan pro dan kontra seperti Sukarno. Aku dikutuk seperti bandit dan dipudja bagai Dewa. Tidak djarang kakek-kakek datang berkundjung kepadaku sebelum mereka mengachiri hajatnja. Seorang nelajan jang sudah tua, jang tidak mengharapkan pudjian atau keuntungan, berdjalan kaki 23 hari lamanja sekedar hanja untuk sudjud di hadapanku dan mentjium kakiku. Ia menjatakan, bahwa ia telah berdjandji pada dirinja sendiri, sebelum mati ia akan melihat wadjah Presidennja dan menundjukkan ketjintaan serta kesetiaan kepadanja. Banjak jang pertjaja bahwa aku seorang Dewa, mempunjai kekuatan-kekuatan sakti jang menjembuhkan.

Seorang petani-kelapa jang anaknja sakit keras bermimpi, bahwa ia harus pergi kepada Bapak dan minta air untuk anaknja. Hanja air-leding biasa dan jang diambil dari dapur. Ia jakin, bahwa air ini, jang kuambil sendiri, tentu mengandung zat-zat jang menjembuhkan. Aku tidak bisa bersoal-djawab dengan dia, karena orang Djawa adalah orang jang pertjaja kepada ilmu kebatinan, dan ia jakin bahwa ia akan kehilangan anaknja kalau tidak membawa obat ini dariku. Kuberikan air itu kepadanja. Dan seminggu kemudian anak itu sembuh kembali. Aku senantiasa mengadakan perdjalanan ke pelbagai pelosok tanah air dari Sabang, negeri jang paling utara dari pulau Sumatra, sampai ke Merauke di Irian Barat dan jang paling timur.

Beberapa tahun jang lalu aku mengundjungi sebuah desa ketjil di Djawa Tengah. Seorang perempuan dari desa itu mendatangi pelajanku dan membisikkan, “Jangan biarkan orang mengambil piring Presiden. Berikanlah kepada saja sisanja. Saja sedang mengandung dan saja ingin anak laki-laki. Saja mengidamkan seorang anak seperti Bapak. Djadi tolonglah, biarlah saja memakan apa-apa jang telah didjamah sendiri oleh Presidenku.” Di pulau Bali orang pertjaja, bahwa Sukarno adalah pendjelmaan kembali dari Dewa Wishnu, Dewa Hudjan dalam agama Hindu. Karena, bilamana sadjapun Bapak datang ketempat istirahat jang ketjil, jang kurentjanakan dan kubangun sendiri diluar Denpasar, bahkan sekalipun ditengah musim kemarau, kedatanganku bagi mereka berarti hudjan. Orang Bali jakin, bahwa aku membawa pangestu kepada mereka. Di kala terachir aku terbang ke Bali di sana sedang berlangsung musim kering. Tepat setelah aku sampai di sana, langit tertjurah. Berbitjara setjara terus-terang, aku memandjatkan- do’a sjukur ke hadirat Jang Maha-Pengasih manakala turun hudjan selama aku berada di Tampaksiring. Karena, kalaulah ini tidak terdjadi, sedikit banjak akan mengurangi pengaruhku. Namun, dunia hanja membatja tentang satu-orang tukang betja. Dunia hanja tahu, bahwa Sukarno bukan ahli ekonomi. Itu memang benar. Aku bukan ahli ekonomi. Tapi apakah Kennedy ahli ekonorni? Apakah Johnson ahli ekonomi? Apakah itu suatu alasan bagi madjalah-madjalah Barat untuk menulis bahwa negeriku sedang menudju kepada keruntuhan ekonomi? Atau bahwa kami adalah “bangsa jang bobrok”. Atau untuk mendjuduli sebuah tjerita: “Mari kita bergerak menentang Sukarno?” Kalau para wartawan membentji Djepang atau Filipina, mereka dapat menjebut suatu daerah di sana, di mana seluruh keluarga — ibu, bapak dan anak-anaknja—bunuh diri, karena menderita kelaparan. Ini semua sudah diketahui orang. Tapi tidak! Hanja mengenai “Orang Djahat dari Asia” mereka membuat foto-foto dari penderitaan rakjat, karena kekurangan makanan oleh musim kering dan hama tikus, sementara dilatarbelakangnja digambarkan hotelku jang indah. Lalu kepala karangannja: “Indonesia kepunjaan Sukarno”. Tapi itu bukan Indonesia kepunjaan Sukarno. Indonesia kepunjaan Sukarno sekarang adalah suatu bangsa jang 10051 bebas buta huruf dibawah umur 45 tahun. Pada waktu Negara kami dilahirkan duapuluh tahun jang lalu hanja 6% dari kami jang pandai tulis-batja. Indonesia kepunjaan Sukarno sekarang adalah suatu bangsa jang dua intji lebih tinggi daripada generasi terdahulu. Apakah masuk di akal, anak-anak bisa tumbuh lebih subur dalam keadaan kelaparan?

Akan tetapi wartawan-wartawan terus sadja menulis, bahwa aku ini seorang “Budak Moskow”. Marilah kita perbaiki ini sekali dan untuk selama-lamanja. Aku bukan, tidak pernah dan tidak mungkin mendjadi seorang Komunis. Aku menjembah ke Moskow? Setiap orang jang pernah mendekati Sukarno mengetahui, bahwa egonja terlalu besar untuk bisa mendjadi budak seseorang—ketjuali mendjadi budak dari rakjatnja. Namun para wartawan tidak menulis tentang apa-apa jang baik dari Sukarno. Pokok-pokok jang dibitjarakan hanja tentang jang djelek dari Sukarno. Mereka suka memperlihatkan Hotel Indonesiaku jang penuh gairah dan di belakangnja gambar-gambar daerah pinggiran jang miskin. Alasan dari “orang jang menghamburkan uang” mendirikan gedung itu ialah, untuk memperoleh devisa jang tidak dapat kami tjari dengan djalan lain. Kami menghasilkan dua djuta dollar Amerika setelah hotel itu berdjalan selama setahun. Aku sadar, bahwa kami masih mempunjai daerah pinggiran jang miskin dekat itu. Akan tetapi negeri-negeri jang kajapun punja hotel jang gemerlapan, empuk dari jang harganja djutaan dollar, sedang di sudutnja terdapat bangunan bangunan jang tertjela penuh dengan kotoran, busuk dan djelek. Aku melihat orang-orang kaja dengan segala kemegahannja berdjalan dengan sedan-sedan jang mengkilap, akan tetapi aku djuga melihat mereka-mereka jang malang mentjakar-tjakar dalam tong-sampah mentjari kulit kentang. Memang ada daerah pinggiran jang miskin di seluruh kota di dunia. Bukan hanja di Djakarta kepunjaan Sukarno. Barat selalu menuduhku terlalu memperlihatkan muka manis kepada Negara-negara Sosialis. “Ooohh,” kata mereka, “Lihatlah Sukarno lagi-lagi bermain-main sahabat dengan Blok Timur.”

Jah, mengapa tidak? Negara-negara Sosialis tak pernah mengizinkan seorangpun mengedjekku dalam pers mereka. Negara-negara Sosialis selalu memudjiku. Mereka tidak membikin aku malu ke seluruh dunia ataupun tidak memperlakukanku dimaka umum seperti seorang anak jang tertjela dengan menolak memberikan lebih banjak djadjan sampai aku mendjadi anak jang manis. Negara-negara Sosialis selalu mentjoba untuk merebut hati Sukarno. Krushchov mengirimi aku jam dan pudding dua minggu sekali dan memetikkan apel, gandum dan hasil tanaman lain dari panennja jang terbaik. Djadi, salahkah aku kalau berterima-kasih kepadanja? Siapakah jang takkan ramah terhadap seseorang jang bersikap ramah kepadanja? Aku mengedjar politik netral, ja! Akan tetapi dalam hati-ketjilnja siapa jang menjalahkanku, djika aku berkata, “Terimakasih rakjat-rakjat Negara Blok Timur, karena engkau selalu memperlihatkan kepadaku tanda persahabatan. Terima-kasih rakjat-rakjat Negara Blok Timur, karena engkau berusaha tidak menjakiti hatiku. Terima-kasih, karena engkau telah menjampaikan kepada rakjatmu bakwa Sukamo setidak-tidaknja mentjoba sekuat tenaganja berbuat untak negerinja. Terima-kasih atas pemberianmu.” Apa jang kuutjapkan itu adalah tanda terima-kasih — bukan Komunisme! Aku ditjela dalam berbagai soal. Mengapa dia terlalu banjak mengadakan perdjalanan, musuh-musuhku selalu bertanja. Di bulan Djuni 1960, pada waktu aku mengadakan perlawatan selama dua bulan empat hari ke India, Hongaria, Austria, RPA, Guinea, Tunisia, Marokko, Portugal, Cuba, Puerto Rico, San Francisco, Hawaii dan Djepang, kepadaku ditudjukan kata-kata baru jang di karang buat diriku. Aku malahan tidak tahu apa maksud “Have 707 Will Travel” hingga seorang sahabat bangsa Amerika menerangkannja.

Memang benar, bahwa aku adalah satu-satunja Presiden jang mengadakan demikian banjak perlawatan. Aku sudah kemana-mana ketjuali ke London, sekalipun Ratu Inggris sudah dua kali mengundangku untuk berkundjung. Aku mengharapkan, di satu saat dapat menerima keramahannja itu. Ada sebabnja aku mengadakan perlawatan itu. Aku ingin agar Indonesia dikenal orang. Aku ingin memperlihatkan kepada dunia, bagaimana rupa orang Indonesia. Aku ingin menjampaikan kepada dunia, bahwa kami bukan “Bangsa jang pandir” seperti orang Belanda berulang-ulang kali mengatakan kepada kami. Bahwa kami bukan lagi “Inlander goblok hanja baik untuk diludahi” seperti Belanda mengatakan kepada kami berkali-kali. Bahwa kami bukanlah lagi penduduk kelas kambing jang berdjulan menjuruk-njuruk dengan memakai sarung dan ikat-kepala, merangkak-rangkak seperti jang dikehendaki oleh madjikan-madjikan kolonial di masa jang silam. Setelah Republik Rakjat Tiongkok, India, Uni Soviet, dan Amerika Serikat, maka kami adalah bangsa jang kelima di dunia dalam hal djumlah penduduk. 3000 dari pulau-pulau kami dapat didiami. Tapi tahukah Saudara berapa banjak rakjat jang tidak mengetahui tentang Indonesia? Atau di mana letaknja? Atau tentang warna kulitnja, apakah kami sawo matang, hitam, kuning atau putih? Jang mereka ketahui hanja nama Sukarno. Dan mereka mengenal wadjah Sukarno. Mereka tidak tahu, bahwa negeri kami adalah rangkaian pulau jang terbesar di dunia. Bahwa negeri kami terhampar sepandjang 5.000 kilometer atau menutupi seluruh negeri-negeri Eropa sedjak dari pantai Barat benuanja sampai ke perbatasan paling udjung di sebelah Timur. Mereka tidak tahu, bahwa kami sesudah Australia adalah negara keenam terbesar, dengan luas tanah sebesar dua djuta mil persegi. Mereka umumnja tidak menjadari, bahwa kami terletak antara dua benua, benua Asia dan Australia, dan dua buah Samudra raksasa, Lautan Teduh dan Samudra Indonesia. Atau, bahwa kami menghasilkan kopi jang paling baik didunia; dari itu timbulnja utjapan: “A cup of Java”. Bahwa setelah Amerika Serikat dan Uni Sovjet maka Indonesialah penghasil minjak jang terbesar di Asia Tenggara dan penghasil timah jang kedua terbesar didunia, negara terkaja di alam semesta dalam hal sumber alam. Atau, bahwa satu dari empat buah ban mobil Amerika dibuat dari karet Indonesia. Namun apa jang mereka mau tahu hanja nama Sukarno. Departemen Luar Negeri kami menjatakan kepadaku, bahwa satu kali kundjungan Sukarno sama artinja dengan sepuluh tahun pekerdjaan Duta. Dan itulah alasan, mengapa aku mengadakan perlawatan dan mengapa aku selalu memberikan kenjataan-kenjataan tentang tanah-airku dalam setiap pidato jang kuutjapkan di setiap pendjuru dunia. Aku hendak mengadjar orang-orang-asing dan memberikan pandangan pertama selintas lalu tentang negeriku, jang terhampar menghidjau dan tertjinta ini laksana untaian zamrud jang melingkar di sepandjang katulistiwa.

Pada suatu hari sekretarisku menjerahkan sebuah surat jang beralamat singkat “Presiden Sukarno, Indonesia, Asia Tenggara”. Penulis surat ini berkata, ia mendengar bahwa aku ini mengekang kemerdekaan pers dan apakah itu benar dan kalau memang demikian alangkah kedjamnja aku ini! Orang jang menulis surat pitjisan ini menamakan aku seorang jang angkara. Dia mengedjek kepadaku, tapi ini tidak kupedulikan. Tahukah engkau apa jang membuat aku gusar? Kenjataan bahwa dia menganggap kantor pos tidak tahu di mana letak Indonesia. Dan oleh sebab itu dia menambahkan kata-kata ,,Asia Tenggara” pada alamatnja! Pendapat manusia berdjalan bagai gelombang. Dalam tahun ’56 ketika aku pertama kali berkundjung ke Amerika Serikat, setiap orang menjukaiku. Sekarang arusnja mendjadi terbalik, menentang Sukarno. Betapapun, aku telah didjadikan bulan-bulanan. Baru-baru ini diserahkan kepadaku sebuah madjalah remadja Amerika. Madjalah itu memperlihatkan gadis striptease setengah telandjang, jang hanja memakai tjelana dalam dan berdiri di samping Sukarno berpakaian seragam militer lengkap. Ini adalah kombinasi jang ditempelkan mendjadi satu supaja kelihatan seolah-olah satu foto dari seorang gadis penari-telandjang membuka pakaiannja di hadapan Presiden Republik Indonesia. Kedua foto ini ditempelkan -satu dengan jang lain. Ini adalah perbuatan kotor jang dilakukan terhadap seorang Kepala Negara. Apakah aku harus mentjintai Amerika, kalau ia melakukan perbuatan seperti itu terhadap diriku? Aku memperbintjangkan muslihat sematjam ini dengan Presiden Kennedy jang sangat kuhormati. John F. Kennedy dan aku saling menjukai pergaulan kami satu sama lain. Dia berkata, “Presiden Sukarno, saja sangat mengagumi Tuan. Seperti saja sendiri, Tuan mempunjai pikiran jang senantiasa menjelidiki dan bertanja-tanja. Tuan membatja segala-galanja. Tuan sangat banjak mengetahui.”

Lalu dia membitjarakan tjita-tjita politik jang kupelopori dan mengutip bagian-bagian dari pidato-pidatoku. Kennedy mempunjai tjara untuk mendekati seseorang melalui hati manusia. Kami banjak mempunjai persamaan. Kennedy adalah orang jang sangat ramah dan menundjukkan persahabatan terhadapku. Dia membawaku ke tingkat atas, ke kamar tidurnja sendiri dan disanalah kami bertjakap-tjakap. Kukatakan kepadanja, ,,Tuan Kennedy, apakah Tuan tidak menjadari, bahwa sementara Tuan sendiri memadu hubungan persahabatan, seringkali Tuan dapat merusakkan hubungan dengan negara-negara lain dengan membiarkan edjekan, serangan makian dan mengizinkan kritik-kritik setjara tetap terhadap pemimpin mereka dalam pers Tuan? Kadang-kadang kami lebih tjondong untuk bertindak atau memberikan reaksi lebih keras, oleh karena kami dilukai atau dibikin marah. Sesungguhnja apakah pergaulan internasional itu bukan pergaulan antar manusia dalam hubungan jang lebih besar? Penggerogotan terus-menerus sematjam ini merobek-robek keseimbangan dan mempertegang lebih hebat lagi hubungan jang sulit antara negara lain dengan negeri Tuan.” ,,Saja setudju dengan Tuan, Presiden Sukarno. Sajapun telah mendapat kesukaran dengan para wartawan kami,” dia mengeluh. ,,Apakah kami beruntung atau tidak, namun kemerdekaan pers merupakan satu bagian dari pusaka peninggalan Amerika.” ,,Ketika Alben Barkley mendjadi Wakil Presiden Amerika Serikat, ia mengundjungi tanah-air saja,” kataku. ,,Dan saja sendiri berdiri dekat beliau di waktu beliau ditjium oleh serombongan anak-anak gadis tjantik remadja.”,,Saja jakin, tentu Wakil Presiden Barkley sangat bersenang hati,” kata Kennedy dengan ketawa jang disembunjikan. ,,Sekalipun demikian tak satupun surat kabar Indonesia mau menjiarkannja.

Dan di samping itu mereka tak berani mengambil risiko untuk menimbulkan kesusahan terhadap seorang negarawan ke seluruh dunia. Barkley adalah seorang jang gembira dan barangkali tidak peduli bila gambarnja itu dimuat. Akan tetapi bukanlah itu soalnja. Jang pokok adalah bahwa kami berkejakinan perlunja para pemimpin dunia dilindungi di negeri kami. “Kennedy sangat seperasaan denganku mengenai soal ini dan berkata kepadaku dengan penuh kepertjajaan, ,,Tuan memang benar sekali, tapi apa jang dapat saja lakukan ? Sedangkan saja dikutuk di negeri saja sendiri. “Karena itu kataku, ,,Ja, itulah sistim Tuan. Kalau Tuan dikutuk di rurnah sendiri, saja tidak dapat berbuat apa-apa. Akan tetapi saja kira saja tidak perlu menderita penghinaan seperti itu di negeri Tuan, di mana Kepala Negaranja sendiri harus menderita sedemikian. Madjalah Tuan ,,Time” dan ,,Life” terutama sangat kurang-adjar terhadap saja. Tjoba pikir, ,,Time” menulis, ,,Sukarno tidak bisa melihat rok wanita tanpa bernafsu”. Selalu mereka menulis jang djelek-djelek. Tidak pernah hal-hal jang baik jang telah saja kerdjakan. “Sekalipun Presiden Kennedy dan aku telah mengadakan pertemuan pendapat, persetudjuan dalam lingkungan ketjil ini tidak pernah tersebar dalam pers Amerika Serikat. Masih sadja, hari demi hari, mereka menggambarkanku sebagai pengedjar-tjinta. Ja, ja, ja, aku mentjintai wanita. Ja, itu kuakui. Akan tetapi aku bukanlah seorang anak pelesiran sebagaimana mereka tuduhkan padaku. Di Tokyo aku telah pergi dengan kawan-kawan ke suatu Rumah Geisha. Tiada sesuatu jang melanggar susila mengenai Rumah Geisha itu. Orang sekedar duduk, makan-makan, bertjakap-tjakap dan mendengarkan musik. Hanja itu. Akan tetapi dalam madjalah-madjalah Barat digembar-gemborkn seolah-olah aku ini Le Grand Seducteur. Tanpa hiburan-hiburan ketjil ini aku akan mati. Aku mentjintai hidup. Orang-orang-asing jang mengundjungi istanaku menjatakan, bahwa aku menjelenggarakan ,,suatu istana jang menjenangkan.”

Adjudan-adjudanku mempunjai wadjah-wadjah jang senjum. Aku berkelakar dengan mereka, menjanji dengan mereka. Bila aku tidak memperoleh kegembiraan, njanjian dan sedikit hiburan kadang-kadang, aku akan dibinasakan oleh kehidupan ini. Umurku sudah 64 tahun. Mendjadi Presiden adalah pekerdjaan jang membikin orang lekas tua. Dan kalau orang mendjadi tua, tentu tidak baik bagi seseorang. Karena itu, sesekali aku harus lari dari keadaan ini, supaja aku dapat hidup seterusnja. Banjak kesenangan-kesenangan jang sederhana telah dirampas dariku. Misalnja, di masa ketjilku aku telah mengelilingi pulau Djawa dengan sepeda. Sekarang perdjalanan sematjam itu tidak dapat kulakukan lagi, karena tentu tidak sedikit orang jang akan mengikutiku. Di Hollywood aku diberi kesempatan untuk rnelihat-lihat di sekitar studio-studio film. Waktu meninggalkan halaman studio aku melihat seorang anak pengantar-surat lewat dengan sepeda, lalu menghentikan sepedanja untuk sesaat. Tiba-tiba aku merasa senang dan pikiranku terbuka, karena itu aku naik dan pergi.

Aku bukan hendak memberi kesan kepada siapapun. Hanja karena merasa senang. Jah, gema dan gambarku ini tersebar ke seluruh dunia ini. Di negeriku sendiripun aku tak dapat lagi menikmati kesenangan jang paling memuaskan hati, jaitu menggeledahi toko-toko kesenian, melihat-lihat benda jang akan dikumpulkan, lalu menawarnja. Kemanapun aku pergi, rakjat berkumpul berbondong-bondong. Dokterku telah memperhatikan, bahwa kegembiraan memang mutlak perlu buat mendjaga kesehatanku. Dengan demikian aku bisa terlepas sedikit dari diriku sendiri dan dari pendjaraku. Karena begitulah keadaanku. Seorang tawanan. Tawanan dari tata-tjara serba resmi. Tawanan dari tata-tjara kesopanan. Tawanan dari perilaku jang baik. Setiap orang harus mentjari suatu kesenangan supaja terlepas dari segala tata-laku ini. Presiden Ayub Khan main golf, Kennedy berperahu lajar, Pangeran Norodom Sihanouk mengarang musik, Radja Muang Thai main saxophone, Lyndon Johnson mempunjai tempat peternakan. Akupun memerlukan kesenangan. Karena itu, bila aku mengadakan perdjalanan, aku mengizinkan diriku sendiri dengan kesenangan mendjalankan tugas dalam mengedjar kebahagiaan. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar Amerika Serikat setiap orang berhak mengedjarnja. Mendjadi Presiden karena diperlukan menjebabkan orang mendjadi terasing. Ketjakapan dan sifat-sifat jang memungkinkan orang menduduki djabatan Presiden itu adalah ketjakapan dan sifat itu djuga jang menjebabkan ia diasingkan. Akan tetapi, di mata orang luar aku selalu gembira. Pembawaanku adalah demikian, sehingga perasaan susah jang teramat sangat tidak pernah memperlihatkan diri. Sekalipun perasaanku hantjur-luluh di dalam, orang tak dapat menduganja. Bukankah Sukarno terkenal dengan ,,senjumnja”? Apapun djuga persoalanku— Malaysia, kemiskinan, lagi-lagi pertjobaan pembunuhan—Sukarno dari luar senantiasa gembira. Seringkali aku duduk-duduk seorang diri di beranda Istana Merdeka. Beranda itu tidak begitu indah. Setengah tertutup dengan lajar untuk menghambat panas dan tjahaya matahari.

Perabotnja terdiri dari korsi rotan jang tidak dilapis dan tidak ditjat dan medja beralas kain batik halus buatan negeriku. Suatu keistimewaan jang kuperoleh karena djabatan tinggi adalah sebuah kursi jang menjendiri pakai bantal. Itulah jang dinamakan ,,Kursi Presiden”. Dan aku duduk di sana. Merenung. Dan memandang keluar ketaman indah jang menghilangkan kelelahan pikiran, taman jang kutanami dengan tanganku sendiri. Dan batinku merasa sangat sepi.Aku ingin bertjampur dengan rakjat. Itulah jang mendjadi kebiasaanku. Akan tetapi aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Seringkali aku merasakan badanku seperti akan lemas, napasku akan berhenti, apabila aku tidak bisa keluar dan bersatu dengan rakjat-djelata jang melahirkanku. Kadang-kadang aku mendjadi seorang Harun al Rasjid. Aku berputar-putar keliling kota. Seorang diri. Hanja dengan seorang adjudan berpakaian preman di belakang kendaraan. Terasa olehku kadangkadang, bahwa aku harus terlepas dari berbagai persoalan untuk sesaat dan merasakan irama denjut djantung tanah-airku. Namun persoalan-persoalan selalu mengikutiku bagai bajangan besar dan hitam dan jang datang dengan samar menakutkan di belakangku. Aku takkan bisa lepas daripadanja. Aku takkan keluar dari genggamannja. Aku takkan dapat madju dengannja. Ia bagai hantu jang senantiasa mengedjar-ngedjar. Pakaian seragam dan petji hitam merupakan tanda pengenalku. Akan tetapi adakalanja kalau hari sudah malam aku menukar pakaian pakai sandal, pantalon dan kalau hari terlalu panas aku hanja memakai kemedja. Dan dengan- katjamata berbingkai tanduk rupaku lain sama sekali. Aku dapat berkeliaran tanpa dikenal orang dan memang kulakukan. Ini kulakukan karena ingin melihat kehidupan ini. Aku adalah kepunjaan rakjat. Aku harus melihat rakjat, aku harus mendengarkan rakjat dan bersentuhan dengan mereka. Perasaanku akan tenteram kalau berada diantara mereka. Ia adalah roti-kehidupan bagiku.

Dan aku merasa terpisah dari rakjat-djelata. Kudengarkan pertjakapan mereka, kudengarkan mereka berdebat, kudengarkan mereka berkelakar dan bertjumbu-kasih. Dan aku merasakan kekuatan hidup mengalir ke seluruh batang tubuhku. Kami pergi dengan mobil ketjil tanpa tanda pengenal. Adakalanja aku berhenti dan membeli sate di pinggiran djalan. Kududuk seorang diri di pinggir trotoir dan menikmati djadjanku dari bungkus daun pisang. Sungguh saat-saat jang menjenangkan. Rakjat segera mengenalku apabila mendengar suaraku. Pada suatu malam aku pergi ke Senen, di sekitar gudang kereta-api, dengan seorang Komisaris Polisi. Aku berputar-putar di tengah-tengah rakjat dan tak seorangpun memperhatikan kami. Achirnja, untuk sekedar berbitjara aku bertanja kepada seorang laki-laki, ,,Dari mana diambil batubata ini dan bahan konstruksi jang sudah dipantjangkan ini?” Sebelum ia dapat memberikan djawaban, terdengar teriakan, ,,Hee,” teriak suara perempuan, ,,Itu suara Bapak Ja suara Bapak Hee, orang-orang, ini Bapak Bapak “Dalam beberapa detik ratusan kemudian ribuan rakjat datang berlari-lari dari segala pendjuru. Dengan tjepat Komisaris itu membawaku keluar dari situ, masuk mobil ketjil kami dan menghilang. Ditindjau setjara keseluruhan maka djabatan Presiden tak ubahnja seperti suatu pengasingan jang terpentjil. Memang ada beberapa orang kawanku. Tidak banjak. Seringkali pikiran oranglah jang berobah-obah, bukan pikiranmu. Mereka memperlakukanmu lain. Mereka turut mentjiptakan pulau kesepian ini di sekelilingmu. Karena itulah, apabila aku terlepas dari pendjaraku ini, aku menjenangkan diriku sendiri. Di Tokyo aku bisa pergi ke Kokusai Gekijo, di mana mereka mempertundjukkan di atas panggung sekaligus empatratus gadis-gadis djelita. Di tahun 1963 aku baru tahu, bahwa Duta Besar Indonesia untuk Djepang diwaktu itu tidak pernah mengundjungi panggung ini. Aku mengumpatnja, ,,Hei, Bambang Sugeng, engkau ini Duta Besar jang malang. Seorang diplomat harus mengetjap setiap djenis kehidupan negeri di mana dia ditempatkan. Hajo! Mari kita pergi melihat gadis-gadis itu. “Akupun mengadjak seorang Indonesia jang bersusila kawakan, jang kaget apabila Presidennja mempertjakapkan wanita. Orang ini mengerling pada gadis-gadis jang tjantik ini, kemudian bangkit dan berkata, ,,Saja tidak dapat menjaksikannja. Saja akan pergi sadja. Terlalu menegangkan pikiran saja.” Dia seorang munafik. Aku bentji orang-orang munafik. Sudah barang tentu lagi-lagi reputasiku menjebabkan aku mendjadi korban keadaan. Di Fiiipina ditahun 1964, Presiden Diosdado Macapagal menjambutku di lapangan terbang. Beliau mengiringkanku ke Laurels Mansion di mana aku menginap. Di sana tinggal Tuan Laurels bekas Presiden Filipina, isterinja dan anak-tjutjunja.

Untuk lebih memeriahkan kedatanganku mereka mendatangkan Bayanihan Cultural Ensemble, suatu perkumpulan paduan-suara, jang menjambutku dengan Tari Lenso sebagai tanda penghormatan. Dua orang wanita muda tampil dari dalam kelompok ensemble itu dan meminta kepadaku untuk turut menari. Sukar untuk menolaknja, karena itu aku mulai menari dan GEGER! Kilat lampu! Djepretan kamera! Dan induk karangannja: “Lihat Sukarno pengedjar-tjinta mulai lagi”. Aku menjukai gadis-gadis jang menarik di sekelilingku, karena gadis-gadis ini bagiku tak ubahnja seperti kembang jang sedang mekar dan aku senang memandangi kembang. Di tahun 1946, di hari-hari jang berat itu semasa revolusi fisik, isteri dari sekretaris duaku datang setiap pagi hanja sekedar untuk membelah telor untuk sarapanku. Ah, sebenarnja aku sendiri bisa memetjahkannja, akan tetapi isteriku tak pernah bangun begitu pagi dan aku merasa lebih tenang dan kuat di saat-saat jang tegang seperti itu apabila melihat barang sesuatu tersenjum di sekitarku. Aku merasa terhibur oleh wanita-wanita muda di sekeliling kantorku. Apabila para tetamu menjiasati tentang adjudan-adjudan wanitaku jang masih muda belia, aku berkelakar kepada mereka, ,,Perempuan tak ubahnja seperti pohon karet. Dia tidak baik lagi setelah tigapuluh tahun.” Katakanlah, aku bereaksi lebih baik terhadap wanita. Wanita lebih mengerti. Wanita lebih bisa turut merasakan. Kuanggap mereka memberikan kesegaran. Djustru wanitalah jang dapat memberikan ini kepadaku. Sekali lagi, aku tidak berbitjara dalam arti djasmaniah. Aku hanja sekedar tertarik pada suatu pandangan jang lembut atau sesuatu jang kelihatan indah. Sebagai seorang seniman, aku tertarik menurut pembawaan watak kepada segala apa jang menjenangkan pikiran. Bila hari sudah larut aku merasa lelah. Seringkali aku kehabisan tenaga, sehingga sukar untuk menggerakkan persendian. Dan apabila seorang sekretaris laki-laki berbadan besar, tidak menarik, buruk dan botak datang membawa setumpukan tinggi surat-surat untuk ditandatangani, aku akan berteriak kepadanja supaja dia segera pergi dan membiarkanku seorang diri. Serpihan-serpihan kulitnja akan rontok dari badannja karena kaget. Aku akan menggeledek kepadanja. Aku akan bangkitkan petir di atas kepalanja. Akan tetapi bilamana jang datang seorang gadis sekretaris berbadan ramping, dengan dandan jang rapi dan meluapkan bau harum menjegarkan tersenjum manis dan berkata kepadaku dengan lunak, ,,Pak, silahkan “, tahukah engkau apa jang terdjadi? Bagaimanapun keadaan hatiku, aku akan mendjadi tenang. Dan aku akan selalu berkata, “Baik”. Ditahun ’61 aku sakit keras. Di Wina para ahli mengeluarkan batu dari gindjalku. Waktu itu adalah saat memuntjaknja perdjoangan kami merebut kembali Irian Barat dan dalam kalangan lawan-lawan kami timbul kegembiraan. Tidak guna lagi mengutuk Sukarno dan memintaminta supaja dia mati, karena Sukarno sekarang sedang menudju kematiannja. Karena itu para dokter melakukan perawatan jang lebih teliti terhadap diriku. Mereka membudjuk hatiku, ,,Djangan kuatir, Presiden Sukarno, kami akan memberikan perawat-perawat jang berpengalaman untuk mendjaga Tuan.” Hehhhh!! Ketika hal ini disampaikan kepadaku, keadaanku mendjadi lebih pajah daripada sewaktu aku mula-mula masuk. Aku tahu apa jang akan kuhadapi. Aku tidak berkata apa-apa, karena aku tidak mau menentang dokter. Pendeknja dihari berikut ia melakukan pembedahan dan aku ingin agar hatinja senang terhadapku selama ia mendjalankan pembedahan itu. Akan tetapi sementara itu aku berpikir dalam hatiku sendiri, “Aku akan lebih tjepat sembuh idengan gadis-gadis perawat jang tidak berpengalaman, karena jang sudah punja pengalaman 40 tahun tentu setidak-tidaknja sekarang sudah berumur 55! “Orang mengatakan, bahwa Sukarno suka melihat perempuan tJantik dengan sudut matanja. Kenapa mereka berkata begitu ? Itu tidak benar. Sukarno suka memandangi perempuan tjantik dengan seluruh bola matanja. Akan tetapi ini bukanlah suatu kedjahatan. Sedangkan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam mengagumi keindahan. Dan sebagai seorang Islam jang beriman aku adalah pengikut Nabi Muhammad jang mengatakan, “Tuhan jang dapat mentjiptakan machluk-machluk jang tjantik seperti wanita adalah Tuhan Jang Maha-Besar dan Maha-Pengasih.” Aku setudju dengan utJapan beliau. Seperti jang dikisahkan, Muhammad mempunjai seorang budak bernama Said. Said, orang jang pertama-tama masuk Islam, mempunjai isteri jang sangat tjantik bernama Zainab. Ketika Muhammad melihat Zainab, beliau mengutjapkan “Allahu Akbar”, Tuhan Maha Besar. Tatkala murid-muridnja bertanja, mengapa beliau mengutjapkan Allahu Akbar ketika melihat Zainab, maka beliau mendjawab, “Aku memudji Tuhan karena telah mentjiptakan machluk-machluk jang tjantik seperti perempuan ini.” Aku mendjundjung Nabi Besar. Aku mempeladjari utjapan-utjapan beliau dengan teliti. Djadi, moralnja bagiku adalah: bukanlah suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi seorang perempuan jang tjantik. Dan aku tidak malu berbuat begitu, karena dengan melakukan itu pada hakekatnja aku memudji Tuhan dan memudji apa jang telah ditjiptakan-Nja. Aku hanja seorang pentjinta ketjantikan jang luarbiasa. Aku mengumpulkan benda-benda perunggu karja seni dari Budapest, seni pualam dari Italia, lukisan-lukisan dari segala pendjuru.

Untuk Istana Negara di Djakarta aku sendiri berbelandja membeli kandil kristal jang berat dan kursi beludru tjukilan emas di Eropa. Aku memungut permadani di Iraq. Aku membnat sendiri rentjana medja kantorku dari satu potong kaju djati Indonesia jang utuh. Aku merentjanakan medja ruang-makan Negara dari satu potong kajudjati Indonesia. Aku menggantungkan setiap kain-hiasan-dinding, memilih setiap barang, merentjanakan di mana harus diletakkan setiap pot-bunga atau karja seni-pahat. Kalau aku melihat sepotong kertas di lantai, aku akan berhenti dan memungutnja. Anggota Kabinet tertawa melihat bagaimana aku, di tengah-tengah persoalan jang pelik, datang kepada mereka dan meluruskan dasinja. Aku senang bila makanan diatur setjara menarik di atas medja. Aku mengagumi keindahan dalam segala bentuk.

Dalam perkundjungannja ke Istana Negara di Bogor, seorang Texas terpikat hatinja pada salah-satu benda seniku. “Tuan Presiden,” katanja tiba-tiba. “Saja akan menjampaikan apa jang hendak saja kerdjakan untuk Tuan. Saja akan menjerahkan sebuah Cadillac sebagai ganti ini.” Kukatakan kepadanja jah, tak soal kata-kata apa jang telah kuutjapkan kepadanja. Tapi pokoknja adalah “Tidak”. Tidak satupun dari benda-benda indah jang telah kukumpulkan dapat ditukar dengan Cadillac. Kalau aku senang kepadamu, engkau akan kuberi sebuah lukisan atau barang tenunan sebagai hadiah. Akan tetapi untuk mendjualnja, tidak, sekali-kali tidak. Semua itu akan kuwariskan kepada rakjat Indonesia, bilamana aku pergi. Biarlah rakjatku memasukkannja kedalam Museum Nasional. Kemudian, apabila mereka lelah atau pikirannja katjau, biarlah mereka duduk dihadapan sebuah lukisan dan meneguk keindahan dan ketenangannja, sehingga mengisi seluruh kalbu mereka dengan kedamaian seperti ia djuga terdiadi terhadap diriku. Ja, aku akan mewariskan hasil-hasil seni ini kepada rakjatku. Untuk didjual? Djangan kira! Seorang orang-asing jang mengerti kepadaku adalah Dutabesar Amerika di Indonesia, Howard Jones. Ia sudah lama ditempatkan di Djakarta dan mendjabat sebagai Ketua dari Korps Diplomatik. Kami sering terlibat dalam perdebatan-perdebatan sengit dan pahit, akan tetapi aku semakin memandangnja sebagai seorang kawan jang tertjinta. Uraian Howard tentang diri pribadiku adalah: “Suatu perpaduan antara Franklin Delano Roosevelt dan Clark Gable.” Apakah orang heran, apabila aku menjebutnja sebagai seorang kawan jang tertjinta? Di suatu hari Minggu beberapa tahun jang silam, ia dengan isterinja Marylou makan bersama-sama denganku dan isteriku Hartini di paviljun ketjil karni di Bogor. Bogor adalah tempat di daerah pegunungan jang sedjuk di luar kota Djakarta. Berlainan dengan dugaan orang bahwa aku mempunjai kran-kran dari emas murni seperti sepantasnja bagi Jang Dipertuan di daerah Timur, maka aku tidak tinggal di Istana Negara jang besar itu. Di pekarangannja kami mempunjai sebuah bungalow ketjil jang besarnja kira-kira sama dengan jang dipunjai oleh seorang pedjabat biasa. Bungalow ini terdiri dari beberapa kamar-tidur, suatu ruang-makan ketjil dan ruang-duduk jang sangat ketjil. Ia tidak mewah. Sederhana sekali. Akan tetapi menjenangkan dan itulah rumahku. Selagi makan Howard berkata, “Tuan Presiden, saja kira sudah waktunja bagi Tuan untuk melihat kembali djalan-djalan dalam sedjarah. Menurut pendapat saja sudah tepat waktunja bagi Tuan untuk menuliskan sedjarah hidup Tuan.”Seperti biasa, apabila seseorang menjebut-njebut tentang otobiografi, aku mendjawab, “Tidak”. Insja Allah, djika Tuhan mengizinkan, saatnja masih 10 atau 20 tahun lagi. Bagaimana saja bisa mengetahui apa jang akan terdjadi terhadap diriku? Siapa jang dapat mentjeriterakan, bagaimana djalannja kehidupan saja? Itulah sebabnja mengapa saja selalu menolak hal ini, karena saja jakin bahwa buruk-baiknja kehidupan seseorang hanja dapat dipertimbangkan setelah ia mati.” “Terketjuali Presiden Republik Indonesia,” djawabnja. “Di samping telah mendjadi Kepala Negara selama 20 tahun, ia telah dipilih sebagai Presiden seumur hidup. Ia adalah orang jang paling banjak diperdebatkan dan dikritik di djaman kita ini. Ia “mempunjai banjak rahasia,” kataku dengan senjum jang disembunjikan. “Akan tetapi dialah satu-satunja orang jang dapat memberanikan diri untuk mengguratkannja dan disamping itu mendjawab serangan-serangan dari para pengeritiknja—dan kawan-kawannja. “Pertemuan ini merupakan pertemuan kekeluargaan jang tidak formil. Aku pakai badju sport dan tidak bersepatu. Hartini membuat nasi goreng, karena dia tahu bahwa keluarga Jones sangat dojan pada nasi-goreng-ajam dan Presiden makan puluk—artinja makan dengan tangan—dan kami duduk di sekitar medja bersama-sama menikmati saat-saat istirahat jang menjenangkan, jang hanja dapat dilakukan diantara kawan-kawan lama. “Untuk membuat otobiografi jang sesungguhnja si penulis hendaknja dalam keadaan jang- susah seperti Rousseau ketika dia menulis pengakuan-pengakuannja dan pengakuan jang demikian ternjata sukar bagi saja. Banjak tokoh jang masih hidup akan menderita, apabila saja mentjeriterakan semuanja. Dan banjak pemerintahan-pemerintahan, dengan mana saja sekarang mempunjai hubungan jang baik, akan mendapat serangan sedjadi-djadinja apabila saja menjatakan beberapa hal jang ingin saja tjeriterakan.” “Walaupun bagaimana, Tuan Presiden, orang-orang-asing merobah pendirian mereka setelah bertemu dengan Tuan dan djatuh ke dalam kekuatan pribadi Bung Karno jang terkenal dan menarik seperti besi-berani. Kalau Tuan terus madju dengan daja-penarik pribadi Tuan itu, maka saja jakin kritikus jang paling tadjampun kemudian akan berkata, “Hee, dia sesungguhnja tidak bernapaskan asap dan api seperti naga. Dia sangat menjenangkan.” “Itulah sebabnja saja pada dasarnja ingin berkawan,” kuterangkan kepadanja. “Saja menjukai orang Timur, saja menjukai orang Barat bahkan Tengku Abdul Rahman sendiri dan orang Inggris. Pun djuga orang-orang jang membentji saja. Setiap saat apa-bila mereka ingin bersahabat, saja lebih ingin lagi dari itu. Suatu kali saja mengetahui bahwa De Gaulle tidak senang kepada saja. Sekalipun demikian saja bertemu dengan dia di Wina. Setelah itu sikapnja berobah. “,,Itulah maksud saja,” Jones melandjutkan. “Tuan tidak bisa mendatangi sendiri seluruh rakjat di dunia, akan tetapi Tuan dapat datang kepada mereka dengan melalui halaman-halaman buku. Tuan menawan hati sedjuta pendengar di lapangan terbuka. Mengapa Tuan tidak menghendaki djumlah pendengar jang lebih besar lagi. “Pertjakapan ini berlangsung terus sampai makan perabung, berupa pisang-rebus kesukaanku. “Begini,” kataku. “Suatu otobiografi tidak ada harganja, ketjuali djika si penulis merasa kehidupannja tidak berguna apa-apa. Kalau dia menganggap dirinja seorang besar, karjanja akan mendjadi subjektif. Tidak objektif. Otobiografiku hanja mungkin djika ada perimbangan dari kedua-duanja. Sekian banjak jang baik-baik supaja dapat menenangkan egoku dan sekian banjak jang djelek-djelek sehingga orang mau membeli buku itu. Kalau dimasukkan hanja jang baik-baik sadja orang akan menjebutmu egois, karena memudji diri sendiri. Memasukkan hanja jang djelek-djelek sadja akan menimbulkan suasana mental jang buruk bagi rakjatku sendiri. Hanja setelah mati dunia ini dapat ditimbang dengan djudjur, ‘Apakah; Sukarno manusia jang baik ataukah manusia jang buruk?’ Hanja di saat itulah dia baru dapat diadili. “Bertahun-tahun lamanja orang mendesakku untuk menuliskan kenang-kenanganku. Press Officerku, Njonja Rochmuljati Hamzah, selalu mendjadi perantara. Satu kali aku betul-betul membentak-bentak Roch jang manis itu di tahun 1960, ketika Krushchov sedang berkundjung kemari, ada seratus orang wartawan-asing berkerumun di bawah tangga. Disatu. saat dia berkata, “Ma’af, Pak, Bapak djangan marah, karena kami sendiripun tidak mengetahui sedjarah hidup Bapak. Dan Bapak sedikit sekali memberikan wawantjara. Oleh karena itu dapatkah Bapak menenteramkan hati saja barang sedikit dan menerima seorang wartawan CBS jang ramah sekali dan ingin menulis riwajat hidup Bapak?” Aku berpaling kepadanja dan menjembur. “Berapa kali aku harus mengatakan kepadamu, T-I-D-A-K!! Pertama, aku tidak mengenalnja, akan tetapi kalau aku pada satu saat menulis riwajat hidupku, aku akan kerdjakan dengan seorang perempuan. Sekarang djauh-djauhlah dari penglihatanku. Engkau seperti pesurah wartawan asing.” Roch berlari keluar dan pulang ke rumahnja. Kemudian aku merasa menjesal. Adjudanku menelpon Roch dan memberitahukan, bahwa aku hendak beItemu dengan dia. Lalu kukirimi kendaraan untuk mendjemputnja. Dia datang dan mengira bahwa akan menerima semprotan lagi, akan tetapi sebaliknja, Presidennja hendak minta ma’af kepadanja. “Ma’afkanlah aku, Roch,” kataku. “Kadang-kadang aku berteriak dan menjebut nama-nama buruk, akan tetapi sebenarnja akulah itu. Djangan masukkan kata-Lata itu dalam hatimu. Kalau aku meradang, itu berarti aku mentjintaimu. Aku menjemprot kepada orang-orang jang terdekat dan paling kusajangi. Hanja mereka jang mendjadi papan-suaraku.” Kemudian kutjium dia di pipinja, tjara jang biasa kulakukan sebagai salam pertemuan dan perpisahan dengan anak-anak perempuan sekretarisku—dan dia pergi dengan hati jang senang sekali. Itu sebabnja, mengapa persoalan-persoalan Asia harus diselesaikan dengan tjara Asia. Tjaraku bukanlah sesungguhnja gaja Barat, kukira. Aku tak dapat membajangkan seorang Perdana Menteri Inggris memeluk sekretaris-wanitanja sebagai utjapan selamat pagi atau utjapan-ma’af, setelah mana perempuan itu lari keluar dan membiarkan dia sendiri.Aku tidak menduga, tidak lama setelah kedjadian ini aku bertemu dengan Cindy Adams. Cindy, seorang wartawan wanita, berada di Djakarta ditahun 1961 dengan suaminja pelawak Joey Adams, jang memimpin Missi Kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara. Wanita Amenka jang riang dan rapi ini, dengan pembawaannja jang suka berkelakar, menjebabkan aku seperti kena pukau.

Wawantjara dengan Cindy menjenangkan sekali dan tidak menjakitkan hati. Tulisannja djudjur dan dapat dipertjaja sepenuhnja. Bahkan dia nampaknja dapat merasakan sedikit tentang Indonesia dan persoalan-persoalannja dan, jah, dia adalah seorang penulis jang paling menarik jang pernah kudjumpai! Kami orang Djawa bekerdja dengan instink. Setahun lamanja aku mentjari-tjari seorang wanita jang akan mendjabat sebagai press officer, akan tetapi ketika aku melihat Roch aku segera mengetahui ~bahwa dialah jang kutjari. Kupekerdjakan dia segera. Begitupun halnja dengan Cindy. Pada kesempatan lain, ketika Howard Jones memulai lagi pokok pembitjaraan tentang sedjarah hidupku, aku memberikan ‘surprise’~ kepadanja. Aku meringis. ,,Dengan satu sjarat. Bahwa aku mengerdjakannja dengan Cindy Adams. “Dan apakah achirnja jang menjebabkan aku mengambil keputusan uatuk mengerdjakan sedjarah hidupku? Jah, mungkin djuga benar, sudah mendekat waktu aku harus rnenjadari, bahwa aku sudah tua.

Sekarang, mataku jang sudah tua dan malang itu berair. Aku harus memandang gambaran ini dengan alasan. Di satu pagi jang lain seorang kemenakan datang menemuiku. Aku biasa memangkunja ketika dia masih ketjil. Sekarang beratnja 70 kilo. Aku menjadari dengan tiba-tiba, bahwa aku tidak dapat memangkunja lagi di atas lututku. Mungkin dia akan mematahkan kakiku jang tua dan lelah itu. Memang wanita tjantik dapat membikin hatiku mendjadi muda lagi, akan tetapi bila aku menginsjafi bahwa anak itu sekarang mendjadi ibu dari beberapa orang anak, tahulah aku bahwa aku sudah berangsur tua djuga. Dan begitulah, waktunja sudah datang. Kalau aku hendak menuliskan kisahku, aku harus mengguratkannja sekarang. Mungkin aku tidak mempunjai kesempatan nanti. Aku tahu, bahwa orang ingin mengetabui, apakah Sukarno seorang kolaborator Djepang semasa Perang Dunia Kedua. Kukira hanja Sukarno jang dapat menerangkan periode kehidupannja itu dan karena itu ia bersedia menerangkannja. Bertahun-tahun lamanja orang bertanja-tanja, apakah Sukarno seorang Diktator, apakah dia seorang Komunis; mengapa dia tidak membenarkan kemerdekaan pers; berapa banjak isterinja; mengapa dia membangun departemen store-departemen store jang baru, sedangkan rakjatnja dalam keadaan tjompang-tjamping. Hanja Sukarno sendiri jang dapat mendjawabnja. Ini adalah pekerdjaan jang sukar bagiku. Suatu otobiografi adalah ibarat pembedahan-mental bagiku. Sungguh berat. Menjobek plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka itu, memang sakit sekalipun banjak diantaranja jang sudah mulai sembuh. Tambahan lagi, aku akan melakukannja dalam bahasa Inggris, bahasa asing bagiku. Terkadang aku membuat kesalahan dalam tatabahasa dan seringkali aku terhenti karena merasa agak kaku. Akan tetapi, mungkin djuga aku wadjib mentjeritakan kisah ini kepada tanah-airku, kepada bangsaku, kepada anak-anakku dan kepada diriku sendiri. Karenanja kuminta kepadamu, pembatja, untuk mengingat bahwa, lebih daripada bahasa kata-kata jang tertulis adalah bahasa jang keluar dari lubuk hati. Buku ini tidak ditulis untuk mendapatkan simpati atau meminta supaja setiap orang suka kepadaku. Harapanku hanjalah, agar dapat menambah pengertian jang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian jang lebih baik terhadap Indonesia jang tertjinta.

Bab 2

Putera Sang Fadjar

 

IBU telah memberikan pangestu kepadaku ketika aku baru berumur beberapa tahun. Di pagi itu ia sudah bangun sebelum matahari terbit dan duduk di dalam gelap di beranda rumah kami jang ketjil, tiada bergerak. Ia tidak berbuat apa-apa, ia tidak berkata apa-apa, hanja memandang arah ke Timur dan dengan sabar menantikan hari akan siang. Akupun bangun dan mendekatinja. Diulurkannja kedua belah tangannja dan meraih badanku jang ketjil ke dalam pelukannja. Sambil mendekapkan tubuhku kedadanja, ia memelukku dengan tenang. Kemudian ia berbitjara dengan suara lunak, ,,Engkau sedang memandangi fadjar, nak. Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan mendjadi orang jang mulia, engkau akan mendjadi pemimpin dari rakjat kita, karena ibu melahirkanmu djam setengah enam pagi di saat fadjar mulai menjingsing.

Kita orang Djawa mempunjai suatu kepertjajaan, bahwa orang jang dilahirkan disaat matahari terbit, nasibnja telah ditakdirkan terlebih dulu. Djangan lupakan itu, djangan sekali-kali kaulupakan, nak, bahwa engkau ini putera dari sang fadjar. “Bersamaan dengan kelahiranku menjingsinglah fadjar dari suatu hari jang baru dan menjingsing pulalah fadjar dari satu abad jang baru. Karena aku dilahirkan ditahun 1901. Bagi bangsa Indonesia abad kesembilanbelas merupakan djaman jang gelap. Sedangkan djaman sekarang baginja adalah djaman jang terang-benderang dalam menaiknja pasang revolusi kemanusiaan. Abad ini adalah suatu djaman di mana bangsa-bangsa baru dan merdeka di benua Asia dan Afrika mulai berkembang dan berkembangnja negara-negara Sosialis jang meliputi seribu djuta manusia. Abad inipun dinamakan Abad Atom. Dan Abad Ruang Angkasa. Dan mereka jang dilahirkan dalam Abad Revolusi Kemanusiaan ini terikat oleh suatu kewadjiban untuk mendjalankan tugas-tugas kepahlawanan.

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam. Adalah mendjadi nasibku jang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnja. Dua sifat jang berlawanan. Aku bisa lunak dan aku bisa tjerewet. Aku bisa keras laksana badja dan aku bisa lembut berirama. Pembawaanku adalah paduan daripada pikiran sehat dan getaran perasaan. Aku seorang jang suka mema’afkan, akan tetapi akupun seorang jang keras-kepala. Aku mendjebloskan musuh-musuh Negara ke belakang djeradjak-besi, namun demikian aku tidak sampai hati membiarkan burung terkurung di dalam sangkar. Pada suatu kali di Sumatra aku diberi seekor monjet. Binatang itu diikat dengan rantai. Aku tidak dapat membiarkannja! Dia kulepaskan ke dalam hutan. Ketika Irian Barat kembali ke pangkuan kami, aku diberi hadiah seekor kanguru. Binatang itu dikurung. Kuminta supaja dia dibawa kembali ke tempatnja dan dikembalikan kemerdekaannja. Aku mendjatuhkan hukuman mati, namun aku tak pernah mengangkat tangan untuk memukul mati seekor njamuk. Sebaliknja aku berbisik kepada binatang itu, ,,Hajo, njamuk, pergilah, djangan kaugigit aku.” Sebagai Panglirna Tertinggi aku mengeluarkan perintah untuk membunuh. Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat memperlihatkan segala rupa, aku dapat mengerti segala pihak, aku memimpin semua orang. Boleh djadi setjara kebetulan bersamaan. Boleh djadi djuga pertanda lain. Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu mendjadikan aku seseorang jang merangkul semuanja.

Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan. Gunung Kelud, jang tidak djauh letaknja dari tempat kami, meletus. Orang jang pertjaja kepada tahjul meramalkan, ,,Ini adalah penjambutan terhadap baji Sukarno.”

Sebaliknja orang Bali mempunjai kepertjajaan lain; kalau gunung Agung meletus ini berarti bahwa rakjat telah melakukan maksiat. Djadi, orangpun dapat mengatakan bahwa gunung Kelud sebenarnja tidak menjambut baji Sukarno. Gunung Kelud malah menjatakan kemarahannja, karena anak jang begitu djahat lahir ke muka bumi ini. Berlainan dengan pertanda-pertanda jang mengiringi kelahiranku itu, maka kelahiran itu sendiri sangatlah menjedihkan. Bapak tidak mampu memanggil dukun untuk menolong anak jang akan

lahir. Keadaan kami terlalu ketiadaan. Satu-satunja orang jang menghadapi ibu ialah seorang kawan dari keluarga kami, seorang kakek jang sudah terlalu amat tua. Dialah, dan tak ada orang lain selain dari orang tua itu, jang menjambutku mengindjak dunia ini. Di Bogor ada sebuah plakat-timbul jang terbuat dari batu pualam putih lagi bersih, jang melukiskan kelahiran Hercules. Ia tergantung di ruang gang jang menudju ke ruangan resepsi Negara. Plakat ini memperlihatkan baji Hercules dalam pangkuan ibunja dikelilingi oleh empatbelas orang wanita-wanita tjantik — semua dalam keadaan telandjang. Tjobalah bajangkan, betapa bahagianja untuk dilahirkan di tengah-tengah empatbelas orang wanita tjantik seperti ini! Akan tetapi Sukarno tidak sama beruntungnja dengan Hercules. Pada waktu aku dilahirkan, tak seorangpun jang akan mengambilku ke dalam pangkuannja, ketjuali seorang kakek jang sudah terlalu amat tua.

Lalu 50 tahun kemudian. Ini bukanlah lelutjon sebagai bahan tertawaan. Ditahun 1949 Republik kami jang masih muda mengindjak tahun keempat dari revolusi kami melawan Belanda. Suatu perdjuangan jang hebat dengan menggunakan berbagai muslihat. Pihak sana di Negeri Belanda bentji kepadaku habis-habisan seperti mereka habis-habisan membentji neraka. Mereka menentangku melalui radio. Dan mereka menentangku melalui pers. Sebuah madjalah membuat suatu pengakuan dengan menjatakan bahwa, ,,Sukarno adalah seorang jang bersemangat, dinamis dan berlainan samasekali dengan orang Djawa jang lamban dan lambat berpikir. Sukarno dapat berbitjara dalam tudjuh bahasa dengan lantjar. Kita hendaknja bisa melihat kenjataan dan kenjataan adalah, bahwa Sukarno sesungguhnja seorang pemimpin.” Dalam tulisan ini diuraikan segala sifat dan tanda jang baik mengenai diriku. Dengan segera aku menjadari maksud tudjuannja.

Tulisan itu akhirnja menjimpulkan, ,,Pembatja jang budiman, tahukah pembatja mengapa Sukarno memiliki sifat-sifat jang luar-biasa itu? Karena Sukarno bukanlah orang Indonesia asli. Itulah sebabnja. Dia adalah anak jang tidak sah dari seorang tuan-kebun dari perkebunan kopi jang mengadakan hubungan gelap dengan seorang buruh perempuan Bumiputera, kemudian menjerahkan anak itu kepada orang lain sebagai anak-angkat. “Sajang! Satu-satunja saksi untuk bersumpah kepada bapakku jang sesungguhnja dan untuk mendjadi saksi bahwa aku dilahirkan oleh ibuku-jang sebenarnja bukan oleh pekerdja di perkebunan kopi sudah sedjak lama meninggal. Melalui generasi demi generasi darah Indonesia sudah bertjampur dengan orang India, Arab, Polynesia asli dan sudah barang tentu dengan orang Tionghoa. Pada dasarnja kami adalah suku bangsa rumpun MeIaju. Dari kata asal Ma timbul kata-kata Manila, Madagaskar, Malaja, Madura, Maori, Himalaja. Nenek-mojang kami berpindah-pindah di sepandjang daerah Asia, menetap di tigaribu pulau jang kemudian mendjadi orang Bali, Djawa, Atjeh, Ambon, Sumatra dan seterusnja. Aku adalah anak dari seorang ibu kelahiran Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Ida Aju, asalnja dari keturunan bangsawan. Radja Singaradja jang terachir adalah paman ibu. Bapakku berasal dari Djawa. Nama lengkapnja Raden Sukemi Sosrodihardjo. Dan bapak berasal~dari keturunan Sultan Kediri. Lagi-lagi, merupakan suatu kebetulan ataupun suatu takdir padaku bahwa aku dilahirkan dalam lingkungan kelas jang berkuasa. Namun betapapun asal kelahiranku ataupun nasibku, pengabdianku untuk kemerdekaan rakjatku bukanlah suatu keputusan jang tiba-tiba. Aku mewarisinja.

Semendjak tahun 1596, jaitu pada waktu Belanda pertama kali menjerbu kepulauan kami, maka tindakan Belanda menguasai daerah kami dan perlawanan kami jang sia-sia dalam merebut kembali tanah-pusaka kami telah membikin hitam Iembaran-lembaran dalam sedjarah kami. Kakek dan mojangku dari pihak ibu adalah pedjuang-pedjuang kemerdekaan jang gagah. Mojangku gugur dalam Perang Puputan, suatu daerah di pantai utara Bali di tempat mana terletak Keradjaan Singaradja dan di mana telah berkobar pertempuran sengit dan bersedjarah melawan pendjadjah. Ketika mojangku menjadari, bahwa semuanja telah hilang dan tentaranja tidak dapat menaklukkan lawan, maka ia dengan sisa orang Bali jang bertjita-tjita mengenakan pakaian serba putih, dari kepala sampai ke kaki. Mereka menaiki kudanja, masing masing menghunus keris, lalu menjerbu musuh.

Mereka dihantjurkan. Radja Singaradja jang terakhir setjara litjik dikeluarkan oleh Belanda dan keradjaannja. Kekajaannja, tempat tinggal, tanah dan semua miliknja dirampas. Mereka mengundangnja ke sebuah kapaI perang untuk berunding. Begitu sampai di atas kapal, Belanda menahannja setjara paksa, lalu berlajar dan mendjebloskannja ke tempat pembuangan. Setelah Belanda menduduki istananja dan merampas miliknja, keluarga ibu djatuh melarat. Karena itu kebentjian ibu terhadap Belanda tak habis-habisnja dan ini disampaikannja kepadaku. Di tahun 1946, ketika itu umur ibu sudah lebih dari 70 tahun, Republik kami jang masih muda terlibat dalam pertempuran-pertempuran djarak dekat dengan musuh. Dalam suatu pertempuran, pasukan kami berkumpul di pekarangan belakang rumah ibu di Blitar. Kisah ini kemudian ditjeritakan oleh pedjuang gerilja kepadaku, ,,Di tempat ini keadaan gerakan kami tenang sekali. Kami semua tiarap menunggu. Rupanja ibu tidak mendengar apa-apa dari pihak kita. Tidak ada tembakan, tidak ada teriakan. Dengan mata jang bernjala-njala beliau keluar mendatangi kami, ‘kenapa tidak ada tembakan? Kenapa tidak bertempur? Apa kamu semua penakut? Kenapa kamu tidak keluar menembak Belanda? Hajo, terus, semua kamu, keluar dan bunuh Belanda-Belanda itu!” Pihak bapakpun adalah patriot-patriot ulung. Nenek dari nenek bapak kedudukannja di bawah seorang Puteri, namun dia seorang pedjoang-puteri di samping pahlawan besar kami, Diponegoro. Dengan menaiki kuda dia mendampingi Diponegoro sampai menemui adjalnja dalam Perang Djawa jang besar itu, jang berkobar dari tahun 1825 sampai tahun 1830. Sebagai kanak-kanak aku tidak mendapat tjeritera-tjeritera seperti ditelevisi atau tjeritera Wild West jang dibumbui. Ibu selalu mentjeritakan kisah-kisah kebangsaan dan kepahlawanan. Kalau ibu sudah mulai bertjerita, aku lalu duduk dekat kakinja dan dengan haus meneguk kisah-kisah jang menarik tentang pedjoang-pedjoang kemerdekaan dalam keluarga kami. Ibupun mentjeritakan tentang bagaimana bapak merebutnja. Semasa mudanja ibu mendjadi seorang gadis-pura jang pekerdjaannja membersihkan rumah-ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak bekerdja sebagai guru sekolah rendah gubernemen di Singaradja dan setelah selesai sekolah sering datang ke lubuk di muka pura tempat ibu

bekerdja untuk menikmati ketenangannja.

Pada suatu hari ia melihat ibu. Pada kesempatan lain ketika duduk lagi dekat lubuk itu ia melihat ibu sekali lagi. Setelah sore demi sore berlalu, ia menegur ibu sedikit. Ibu mendjawab. Segera ia merasa tertarik kepada ibu dan ibu kepadanja. Seperti biasanja menurut adat, bapak mendatangi orangtua ibu untuk meminta ibu setjara beradat. ,,Bolehkah saja meminta anak ibu-bapak?” Orangtua ibu lalu mendjawab, ,,Tidak bisa. Engkau berasal dari Djawa dan engkau beragama Islam. Tidak, sekali-kali tidak! Kami akan kehilangan anak kami. ‘Seperti halnja dengan keadaan sebelum Perang Dunia Kedua, perempuan Bali tidak ada jang mengawini orang luar. Jang kumaksud bukan orang luar dari negara lain, akan tetapi orang luar dari pulau lain. Waktu itu tidak ada perkawinan tjampuran antara satu suku dengan suku lain sama sekali.

Kalaupun terdjadi bentjana sematjam ini, maka pengantin baru itu diasingkan dari rumah orangtuanja sendiri. Suatu keistimewaan dari Sukarno, ia dapat menjatukan rakjatnja. Warna kulit kami mungkin berbeda, bentuk hidung dan dahi kami mungkin berlainan lihat orang Irian hitam, lihat orang Sumatra sawo matang, lihat orang Djawa pendek-pendek, orang Maluku lebih tinggi, lihat orang Lampung mempunjai bentuk sendiri, rakjat Pasundan mempunjai tjiri sendiri, akan tetapi kami tidak lagi djadi inlander atau menganggap diri kami orang-asing satu sama lain. Sekarang kami sudah mendjadi orang Indonesia dan kami satu. Sembojan negeri kami Bhineka Tunggal Ika ,,Berbeda-beda tapi satu djua’.

Kembali kepada kisah bapakku, betapa sukanja situasi ketika ia hendak mengawini ibu. Terutama karena ia resminja seorang Islam, sekalipun ia mendjalankan Theosofi. Untuk kawin setjara Islam, maka ibu harus menganut agama Islam terlebih dulu. Satu-satunja djalan bagi mereka ialah kawin lari. Kawin lari menurut kebiasaan di Bali harus mengikuti tata-tjara tertentu. Kedua merpati itu bermalam di malam perkawinannja di rumah salah seorang kawan. Sementara itu dikirimkan utusan ke rumah orangtua si gadis untuk memberitahukan bahwa anak mereka sudah mendjalankan perkawinannja. Ibu dan bapakku mentjari perlindungan di rumah Kepala Polisi jang mendjadi kawan bapak.

Keluarga ibu datang mendjemputnja, akan tetapi Kepala Polisi itu tidak mau melepaskan. ,,Tidak, dia berada dalam perlindungan saja,” katanja. Bukanlah kebiasaan kami untuk menghadapkan pengantin ke muka pengadilan, sekalipun orangtua tidak setudju. Akan tetapi kedjadian ini adalah keadaan jang luarbiasa ketika itu. Bapak seorang IslamTheosof dan ibu seorang Bali Hindu-Buddha. Pada waktu perkara itu diadili, ibu ditanja, ,,Apakah laki-laki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri?” Dan ibu mendjawab, ,,Tidak, tidak. Saja mentjintainja dan melarikan diri atas kemauan saja sendiri.” Tiada pilihan lain bagi mereka, ketjuali mengizinkan perkawinan itu. Sekalipun demikian pengadilan mendenda ibu 25 ringgit, jang nilainja sama dengan 25 dollar. Ibu mewarisi beberapa perhiasan emas dan untuk membajar denda itu ibu mendjuaI perhiasannja. Karena bapak merasa tidak disukai orang di Bali, ia kemudian mengadjukan permohonan kepada Departemen Pengadjaran untuk dipindahkan ke Djawa. Bapak dikirim ke Surabaja dan di sanalah putera sang fadjar dilahirkan.

Bab 3

Modjokerto: Kesedihan Di Masa Muda

 

MASA kanak-kanakku tidak berbeda dengan David Copperfield Aku dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunjai sepatu. Aku mandi tidak dalam air jang keluar dari kran. Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan jang keterlaluan demikian ini dapat menjebabkan hati ketjil di dalam mendjadi sedih. Dengan kakakku perempuan Sukarmini, jang dua tahun lebih tua daripadaku, kami merupakan suatu keluarga jang terdiri dari empat orang. Gadji bapak f25 sebuIan. Dikurangi sewa rumah kami di Djalan Pahlawan 88, neratja mendjadi f15 dan dengan perbandingan kurs pemerintah f3,60 untuk satu dollar dapatlah dikira-kira betapa rendahnja tingkat penghidupan keluarga kami. Ketika aku berumur enam tahun kami pindah ke Modjokerto. Kami tinggal di daerah jang melarat dan keadaan tetangga-tetangga kami tidak berbeda dengan keadaan sekitar itu sendiri, akan tetapi mereka selalu mempunjai sisa uang sedikit untuk membeli pepaja atau djadjan lainnja.

Tapi aku tidak. Tidak pernah. Lebaran adalah hari besar bagi ummat Islam, hari penutup dari bulan puasa, pada bulan mana para penganutnja menahan diri dari makan dan minum ataupun tidak melewatkan sesuatu melalui mulut mulai dari terbitnja matahari sampai ia terbenam lagi. Kegembiraan di hari Lebaran sama dengan hari Natal. Hari untuk berpesta dan berfitrah. Akan tetapi kami tak pernah berpesta maupun mengeluarkan fitrah. Karena kami tidak punja uang untuk itu. Di malam sebelum Lebaran sudah mendjadi kebiasaan bagi kanak-kanak untuk main petasan. Semua anak-anak melakukannja dan di waktu itupun mereka melakukannja. Semua, ketjuali aku.

Di hari Lebaran lebih setengah abad jang lalu aku berbaring seorang diri dalam kamar-tidurku jang ketjil jang hanja tjukup untuk satu tempat tidur. Dengan hati jang gundah aku mengintip ke luar arah ke langit melalui tiga buah lobang udara jang ketjil-ketjil pada dinding bambu. Lobang-udara itu besarnja kira-kira sebesar batubata. Aku merasa diriku sangat malang. Hatiku serasa akan petjah. Di sekeliling terdengar bunji petasan berletusan di sela oleh sorak-sorai kawan-kawanku karena kegirangan. Betapa hantjur-luluh rasa hatiku jang ketjil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawanku dengan djalan bagaimanapun dapat membeli petasan jang harganja satu sen itu—dan aku tidak!

Alangkah dahsjatnja perasaan itu. Mau mati aku rasanja. Satu-satunja djalan bagi seorang anak untuk mempertahankan diri ialah dengan melepaskan sedu-sedan jang tak terkendalikan dan meratap di atas tempat-tidurnja. Aku teringat ketika aku menangis kepada ibu dan mengumpat, ,,Dari tahun ke tahun aku selalu berharap-harap, tapi tak sekalipun aku bisa melepaskan mertjon.” Aku sungguh menjesali diriku sendiri. Kemudian di malam harinja datang seorang tamu menemui bapak. Dia memegang bungkusan ketjil di tangannja. ,,Ini,” katanja sambil mengulurkan bingkisan itu kepadaku. Aku sangat gemetar karena terharu mendapat hadiah itu, sehingga hampir tidak sanggup membukanja. Isinja petasan. Tak ada harta, lukisan ataupun istana di dunia ini jang dapat memberikan kegembiraan kepadaku seperti pemberian itu. Dan kedjadian ini tak dapat kulupakan untuk selama-lamanja. Kami sangat melarat sehingga hampir tidak bisa makan satu kali dalam sehari. Jang terbanjak kami makan ialah ubi kaju, djagung tumbuk dengan makanan lain. Bahkan ibu tidak mampu membeli beras murah jang biasa dibeli oleh para petani. Ia hanja bisa membeli padi. Setiap pagi ibu mengambil lesung dan menumbuk, menumbuk, tak henti-hentinja menumbuk butiran-butiran berkulit itu sampai mendjadi beras seperti jang didjual orang dipasar. ,,Dengan melakukan ini aku menghemat uang satu sen,” katanja kepadaku pada suatu hari ketika sedang bekerdja dalam teriknja panas matahari sampai telapak tangannja merah dan melepuh. ,,Dan dengan uang satu sen kita dapat membeli sajuran, ‘nak.” Semendjak hari itu dan seterusnja selama beberapa tahun kemudian, setiap pagi sebelum berangkat kesekolah aku menumbuk padi untuk ibuku. Kemelaratan seperti jang kami derita menjebabkan orang mendjadi akrab.

Apabila tidak ada barang mainan atau untuk dimakan, apabila nampaknja aku tidak punja apa-apa di dunia ini selain daripada ibu, aku melekat kepadanja karena ia adalah satu-satunja sumber pelepas kepuasan hatiku. Ia adalah ganti gula-gula jang tak dapat kumiliki dan ia adalah semua milikku jang ada didunia ini. Jah, ibu mempunjai hati jang begitu besar dan mulia. Dalam pada itu bapakku seorang guru jang keras. Sekalipun sudah berdjam-djam, ia masih tega menjuruhku beladjar membatja dan menulis. ,,Hajo, Karno, hafal ini luar kepala. Ha—Na—Tja—Ra—Ka. Hajo, Karno, hafal ini; A-B-C-D-E” dan terus-menerus sampai kepalaku jang malang ini merasa sakit. Lagi-lagi kemudian, ,,Hajo Karno, ulangi abdjad Hajo, Karno, batja ini Karno, tulis itu ” Tapi ajahku mempunjai kejakinan, bahwa anaknja jang lahir di saat fadjar menjingsing itu kelak akan mendjadi orang. Kalau aku berbuat nakal—ini djarang terdjadi—dia menghukumku dengan kasar. Seperti di pagi itu aku memandjat pohon djambu di pekarangan rumah kami dan aku mendjatuhkan sarang burung. Ajah mendjadi putjat karena marah. ,,Kalau tidak salah aku sudah mengatakan padamu supaja menjajangi binatang,” ia menghardik. Aku bergontjang ketakutan. ,,Ja, Pak.” ,,Engkau dapat menerangkan arti kata-kata: ‘Tat Twan Asi, Tat Twam Asi’?” ,,Artinja ‘Dia adalah Aku dan Aku adalah dia; engkau adalah Aku dan Aku adalah engkau.’ “,,Dan apakah tidak kuadjarkan kepadamu bahwa ini mempunjai arti jang penting ?”,,Ja, Pak. Maksudnja, Tuhan berada dalam kita semua,” kataku dengan patuh. Dia memandang marah kepada pesakitannja jang masih berumur tudjuh tahun. ,,Bukankah engkau sudah ditundjuki untuk melindungi machluk Tuhan ?” ,,Ja, Pak.” ,,Engkau dapat mengatakan apa burung dan telor itu?” ,,Tjiptaan Tuhan,” djawabku dengan gemetar, ,,tapi dia djatuh karena tidak disengadja. Tidak saja sengadja. “Sekalipun dengan permintaan ma’af demikian, bapak memukul pantatku dengan rotan. Aku seorang jang baik laku, akan tetapi bapak menghendaki disiplin jang keras dan tjepat marah kalau aturannja tidak dituruti. Aku segera mentjari permainan jang tidak usah mengeIuarkan uang untuk memperolehnja. Dekat rumah kami tumbuh sebatang pohon dengan daunnja jang lebar. Daun itu udjungnja ketjil, lalu mengernbang lebar dipangkalnja dan tangkainja pandjang seperti dajung. Adalah suatu hari jang gembira bagi anak-anak, kalau setangkai daun gugur, karena ini berarti bahwa kami mempunjai permainan. Seorang lalu duduk dibagian daun jang lebar, sedang jang lain menariknja pada tangkai jang pandjang itu dan permainan ini tak ubahnja seperti eretan. Kadang-kadang aku mendjadi kudanja, tapi biasanja mendjadi kusir. Watakku mulai berbentuk sekalipun sebagai kanak-kanak. Aku mendjadikan sungai sebagai kawanku, karena ia mendjadi tempat di mana anak-anak jang tidak punja dapat bermain dengan tjuma-tjuma. Dan iapun mendjadi sumber makanan. Aku senantiasa berusaha keras untuk menggembirakan hati ibu dengan beberapa ekor ikan ketjil untuk dimasak. Alasan jang tidak mementingkan diri sendiri demikian itu pada suatu kali menjebabkan aku kena gandjaran tjambuk. Hari sudah mulai sendja. Ketika bapakku melihat bahwa hari mulai gelap dan botjah Sukarno tidak ada di rumah, dia menuntut ibu dengan keras: ,,Kenapa dia bersenang-senang tak keruan begitu lama? Apa dia tidak punja pikiran terhadap ibunja? Apa dia tidak tahu bahwa ibunja akan susah kalau terdjadi ketjelakaan?” ,,Negeri begini ketjil, Pak, tidak mungkin kita tidak mengetahui kalau terdjadi ketjelakaan,” ibu menerangkan. Sekalipun demikian, bapak jang agak keras kepala marah dan ketika aku sedjam kemudian melondjak-londjak gembira pulang dengan membawa ikan kakap untuk ibu, bapak menangkapku, merampas ikan dan semua jang ada padaku, lalu aku dirotan sedjadi-djadinja. Tetapi ibu selalu mengimbangi tindakan disiplin itu dengan kebaikan hatinja. Oh, aku sangat mentjintai ibu. Aku berlari berlindung ke pangkuan ibu dan dia membudjukku. Sekalipun rumput-rumput kemelaratan mentjekik kami, namun bunga-bunga tjinta tetap mengelilingiku selalu. Aku segera menjadari bahwa kasih sajang menghapus segala jang buruk. Keinginan akan tjinta kasih telah mendjadi suatu kekuatan pendorong dalam hidupku.

Di samping ibu ada Sarinah, gadis-pembantu kami jang membesarkanku. Bagi kami pembantu rumah-tangga bukanlah pelajan menurut pengertian orang barat. Di kepulauan kami, kami hidup berdasarkan azas gotongrojong. Kerdjasama. Tolong-menolong, Gotong-rojong sudah mendarah-daging dalam djiwa kami bangsa lndonesia. Dalam masjarakat jang asli kami tidak mengenal kerdja dengan upah. Manakala harus dilakukan pekerdjaan jang berat, setiap orang turut membantu engkau perlu mendirikan rumah? Baik, akan kubawakan batu tembok; kawanku membawa semen. Kami berdua membantumu mendirikannja. ltulah gotong-rojong. Setiap orang turun tangan. Ada tamu di rumahmu achir-achir ini? Baik, djangan kuatir, akan kuantarkan kue ke rumahmu setjara diam-diam melalui djalan belakang. Atau beras. Atau nasi-goreng. ltulah gotong-rojong. Bantu-membantu. Sarinah adalah bagian dari rumah-tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami dia seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa jang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat gadji sepeserpun. Dialah jang mengadjarku untuk mengenal tjinta-kasih. Aku tidak menjinggung pengertian djasmaniahnja bila aku menjebut itu. Sarinah mengadjarku untuk mentjintai rakjat. Massa rakjat, rakjat djelata. Selagi ia memasak di gubuk ketjil dekat rumah, aku duduk di sampingnja dan kemudian ia berpidato, ,,Karno, jang terutama engkau harus mentjintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mentjintai pula rakjat djelata. Engkau harus mentjintai manusia umumnja.” Sarinah adalah nama jang biasa. Akan tetapi Sarinah jang ini bukanlah wanita jang biasa. Ia adalah satu kekuasaan jang paling besar dalam hidupku.

Di masa mudaku aku tidur dengan dia. Maksudku bukan sebagai suami-isteri. Kami berdua tidur di tempat tidur jang ketjil. Ketika aku sudah mulai besar, Sarinah sudah tidak ada lagi. Aku mengisi kekosongan ini dengan tidur bersama-sama kakakku Sukarmini di tempat tidur itu djuga. Kemudian aku tidur dengan Kiar, suatu tjampuran dari fox terrier dengan andjing djenis Indenesia. Aku tidak tahu pasti, akan tetapi dia bukan djenis jang murni. Orang lslam agaknja tidak menjukai andiing, akan tetapi aku mengaguminja. Dengan tjaranja sendiri bapakku mentjurahkan kasih sajangnja kepadaku. Ketika aku berumur sebelas tahun aku diserang penjakit thypus. Dua setengah bulan lamanja aku berada di ambang pintu kematian. Aku hanja bersandar pada kekuatan bapak jang mendorongku untuk hidup. Selama dua setengah bulan penuh bapak tidur di bawah tempat tidur bambuku. Ia berbaring di atas lantai semen jang lembab, di alas dengan tikar pandan jang tipis dan lusuh, tepat di bawah bilah-bilah tempat-tidurku. Sepandjang hari dan sepandjang malam selama dua setengah bulan bapak berbaring di bawahku. Bukan karena ia tidak dapat memperoleh tempat barang setumpak untuk menjelip dalam kamarku jang sempit itu.

Tidak. Ini dilakukannja karena kepertjajaan mistik bapak. Ia hendak mendo’a terus, memohon siang-malam agar aku diselamatkan dan memohon agar aku mendapat kekuatan-kekuatan dari Jang Maha Kuasa. Akan tetapi supaja kekuatan mistiknja dapat memberikan manfa’at setjara penuh, jang ditjurahkannja langsung dari badannja ke seluruh tubuhku, maka ia harus berbaring di bawahku. Tempat ajah berbaring itu hanja beberapa kaki, gelap, lembab dengan udaranja jang tidak enak dan menjesakkan, siang dan malam sama sadja dan di sanalah ia selama itu menelentang hingga aku sehat sama sekali. Sewa rumah kami sangat murah, karena letaknja kerendahan, dekat sebuah kali. Kalau musim hudjan kali itu meluap, membandjiri rumah dan menggenangi pekarangan kami. Dan dari bulan Desember sampai April kami selalu basah. Air menggenang jang mengandung sampah dan lumpur inilah jang mendjangkitkan penjakit thypusku. Setelah aku sehat kembali kami pindah ke Djalan Residen Pamudji. Rumah ini tidak lebih baik keadaannja, akan tetapi setidak-tidaknja ia kering. Kamar-kamarnja melalui ruangan gelap jang pandjang. Jang paling ketjil adalah kamarku, jang mempunjai djendela atap sebagai ganti lobang-udara. Untuk memperoleh uang tambahan beberapa sen kami menerima orang bajar makan; tiga orang guru bantu dari sekolah bapak dan dua orang kemenakan seumurku.

Nama kelahiranku adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak jang penjakitan. Aku mendapat malaria, disentri, semua penjakit dan setiap penjakit. Bapak menerangkan, ,,Namanja tidak tjotjok. Kita harus memberinja nama lain supaja tidak sakit-sakit lagi.” Bapak adalah seorang jang sangat gandrung pada Mahabharata, tjerita klasik orang Hindu djaman dahulu kala. Aku belum mentjapai masa pemuda ketika bapak menjampaikan kepadaku ,,Kus, engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar dalam tjerita Mahabharata.” ,,Kalau begitu tentu Karna seorang jang sangat kuat dan sangat besar,” aku berteriak kegirangan. ,,Oh, ja, nak,” djawab bapak setudju. ,,Djuga setia pada kawan-kawannja dan kejakinannja, dengan tidak mempedulikan akibatnja. Tersohor karena keberanian dan kesaktiannja. Karna adalah pedjoang bagi negaranja dan seorang patriot jang saleh.”,,Bukankah Karna berarti djuga ‘telinga?” aku bertanja agak kebingungan ,,Ja, pahlawan-perang ini diberi nama itu disebabkan kelahirannja. Dahulu kala, sebagaimana dikisahkan oleh Mahabharata, ada seorang puteri jang tjantik. Pada suatu hari, selagi bermain-main dalam taman, puteri Kunti terlihat oleh Surja Dewa Matahari. Batara Surja hendak bertjinta-tjintaan dengan puteri itu, oleh sebab itu dia memeluk dan membudjuknja dengan keberanian dan tjahaja panasnja.

Dengan kekuatan sinar tjintanja, puteri itupun mengandung sekalipun masih perawan. Sudah tentu perbuatan Dewa Matahari terhadap perawan jang masih sutji itu di luar perikemanusiaan dan menimbulkan persoalan besar baginja. Bagaimana tjaranja mengeluarkan baji tanpa merusak tanda keperawanan puteri itu. Dia tidak berani memetik gadis itu dengan memberikan kelahiran setjara biasa. Apa akal ……… Apa akal Ah, persoalan jang sangat besar bagi Batara Surja. Achirnja dapat dipetjahkannja, dengan melahirkan baji itu melalui telinga sang puteri. Djadi, karena itulah pahlawan Mahabharata itu dinamai Karna atau ‘telinga’.” Sambil memegang bahuku dengan kuat bapak memandang djauh ke dalam mataku. ,,Aku selalu berdo’a,” dia menjatakan, ,,agar engkaupun mendjadi seorang patriot dan pahlawan besar dari rakjatnja.

Semoga engkau mendjadi Karna jang kedua.” Nama Karna dan Karno sama sadja. Dalam bahasa Djawa huruf ,,A” mendjadi ,,O”. Awalan ,,Su” pada kebanjakan nama kami berarti baik, paling baik. Djadi Sukarno berarti pahlawan jang paling baik. Karena itulah maka Sukarno mendjadi namaku jang sebenarnja dan satu-satunja. Sekali ada seorang wartawan goblok jang menulis, bahwa nama awalku adalah Ahmad. Sungguh menggelikan. Namaku hanja Sukarno sadja. Memang dalam masjarakat kami tidak luar biasa untuk memakai satu nama sadja. Waktu di sekolah tanda-tanganku diedja Soekarno— menurut edjaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan supaja segala edjaan ,,OE” kembali ke ,,U”. Edjaan dari perkataan Soekarno sekarang mendjadi Sukarno. Akan tetapi, tidak mudah untuk merobah tanda-tangan setelah berumur 50 tahun, djadi kalau aku sendiri menulis tanda-tanganku, aku masih menulis S-O-E. Memang aku penjakitan di waktu ketjil. Dan sekalipun umpamanja tidak ada penjakit jang diderita oleh baji Kusno-Karno, beban untuk memberi makan dua orang anak masih terlalu berat bagi bapak. Seringkali kami harus bergantung kepada kebaikan dan keramahan dari tetangga kami. Keluarga Munandar menempati rumah jang serangkai dengan kami. Menurut tjara Djawa jang sebenarnja, kalau kami tidak punja beras, kami makan punja mereka. Kalau kami tidak ada pakaian, kami pakai mereka punja. Sewaktu aku berumur sekitar empat-lima tahun nenekku dari pihak bapak hendak membawaku ke tempatnja.

,,Berikanlah anak itu kepadaku untuk sementara,” katanja. ,,Aku akan mendjaganja.” Dan begitulah aku tinggal di Tulungagung jang letaknja tidak djauh dari Modjokerto. Nenekku tidak kaja. Siapa di antara kami jang kaja di waktu itu? Tapi memang ada djuga jang sedikit berada. Nenek berdagang batik, djadi setidak-tidaknja dia sanggup memberiku makan. Kakek dan nenek kedua-duanja mengatakan bahwa aku mempunjai kekuatan-kekuatan gaib. Bilamana ada orang sakit di kampung itu atau mendapat luka jang terasa sakit, nenek selalu memanggilku dan dengan lidah aku mendjilat bagian di mana terasa sakit. Anehnja, si sakit mendjadi sembuh. Nenekpun menduga bahwa aku dapat melihat apa-apa jang gaib, akan tetapi lintasan-lintasan penglihatan galb itu menghilang ketika aku mulai menemukan kekuatan pidatoku terhadap rakjat.

Nampaknja, apa jang disebut kekuatan ini kemudian tersalur ke arah lain, Pendeknja, sesudah berumur 17 tahun aku tak pernah lagi memperoleh penglihatan setjara ilmu kebatinan. Watakku tidak berobah sedikitpun selama hampir enam dasawarsa. Dalam umur tudjuh tahun aku sudah mendjadi seorang pemuja seni. Aku memudja Mary Pickford, Tom Mix, Eddie Polo, Fatty Arbuckle, Beverly Bayne dan Francis X. Bushman. Setiap bungkus rokok Westminster keluaran Inggris berisi gambar dari seorang bintang sebagai hadiah. Aku mengumpulkan bungkus-bungkus rokok jang sudah terbuang dan menempelkan pahlawan-pahlawan jang kupudja itu di dinding. Aku mendjaga kumpulan ini dengan njawaku. Ini adalah harta milikku sendiri jang pertama.

Pada waktu berumur 10 tahun djagoan Karno sudah ternjata mempunjai kemauan jang keras. Dengan kekuatan pribadiku aku mendjadi tokoh jang berkuasa setiap kali berkumpul. Bahkan keluargaku sendiri berkumpul mengelilingiku dan aku mendjadi pusat perhatian. Pada hari ulang-tahunku jang keduabelas, aku sudah mempunjai pasukan. Dan aku memimpin pasukan ini. Kalau Karno bermain djangirik dalam debu di lapangan Modjokerto, jang lain-lainpun turut main. Kalau Karno mengumpulkan perangko, mereka djuga mengumpulkan. Mereka menamakanku seorang ,,djago” Aku mempunjai sebuah sumpitan jang kuperoleh dari seorang kawan. Kami menempatkan bambu jang pandjang dan berlobang ketjil ini ke mulut dan menembakkan katjang ke arah sasaran. Tentunja si Karno mendjadi djago penjumpit. Kalau kami memandjat pohon, aku memandjat lebih tinggi dari jang lain. Dan akupun djatuh paling keras pula daripada anak-anak lain. Akupun lebih sering melukai kepalaku dari jang lain.

Tapi setidak-tidaknja tak ada orang jang dapat mengatakan, bahwa aku tidak mentjobanja. Nasibku adalah untuk menaklukkan, bukan untuk ditaklukkan, sekalipun pada waktu ketjilku. Dalam permainan adu gasing ada sebuah gasing kepunjaan kawan jang berputar lebih tjepat daripada kepunjaanku. Kupetjahkan situasi itu dengan berpikir tjepat ala Sukarno kulemparkan gasing itu ke dalam kali. Bagaimanapun djuga, ada permainan di mana seorang anak bangsa Indonesia dari djamanku tidak dapat menundjukkan keahliannja.

Misalnja Perkumpulan Sepakbola. Aku bukan hanja tidak bisa mendjadi ketuanja, bahkan aku tidak dapat lama mendjadi anggotanja. Anggota jang lain adalah anak-anak Belanda jang terus-terang tidak senang padaku. Anak Belanda tidak pernah bermain dengan anak Bumiputera. Ini tidak bisa. Mereka orang Barat jang putih seperti saldju, jang asli, jang baik dan mereka memandang rendah kepadaku karena aku anak Bumiputera atau ,,inlander”. Bagiku Perkumpulan Sepakbola itu merupakan pengalaman pahit jang membikin hati luka di dalam. Anak-anak jang berambut djagung mendjaga kedua sisi dari pintu masuk sambil berteriak, ,,Hei ……… kauuuu Bruine Hei, anak kulit tjoklat goblok jang malang …..Bumiputera ……….inlander ……….anak kampung Hei, kamu lupa memakai sepatu…………” Sedangkan baji-baji pirang sudah tahu meludah kepada kami. Begitu mereka keluar dari kain-bedung orok, inilah pengadjaran pertama jang diadjarkan orangtuanja kepada mereka. Di pagi hari aku bergembira, karena aku bersekolah di sekolah

Bumiputera, di rnana kami semua sama.

Kami semua tigapuluh orang murid di Inlandsche School kelas dua. Bapakku mendjadi Mantri Guru jang berarti kepala sekolah. Orang Bumiputera dilarang memakai pangkat Kepala Sekolah. Di waktu itu belum ada bahasa Indonesia persatuan. Sampai kelas tiga setiap murid berbitjara dalam bahasa Djawa sebagai bahasa daerah. Dari kelas tiga sampai kelas iima guru memakai bahasa Melaju, bahasa Melaju asli jang telah tersebar ke seluruh bagian dari Hindia Belanda dan achirnja mendjadi dasar bagi bahasa nasional kami, bahasa Indonesia. Dua kali seminggu kami diadjar bahasa Belanda. Ketika aku naik ke kelas lima, bapak menerangkan maksudnja. ,,Tjita-tjitaku hendak mengirim kau ke sekolah tinggi Belanda,” katanja. ,,Karena itu, usaha kita jang pertama ialah memasukkan engkau ke sekolah rendah Belanda. “Karena teringat kembali akan pengalamanku di Perkumpulan Sepakbola aku bertanja, ,,Apakah saja tidak dapat meneruskan sekolah Bumiputera?” ,,Pendidikan Bumiputera hanja sampai kelas lima. Tidak ada landjutannja buat kita. Kita tidak boleh masuk Sekolah Menengah Belanda kalau tidak keluaran Sekolah Rendah Belanda dan tanpa idjazah ini orang tidak bisa masuk Sekolah Tinggi Belanda.” ,,Apakah saja bisa masuk kesana berdasarkan kepandaian?” aku bertanja dengan perasaan kuatir. ,,Kau masuk dengan hak istimewa. Pegawai Gubernemen dan orang kelahiran bangsawan diberi kesempatan untuk menikmati pendidikan Belanda. Jang lain tidak.” Mengingat keadaan kami aku bertanja, ,,Apakah tjuma-tjuma?” ,,Mana bisa. Kita mesti membajar uang sekolah.” ,,Belanda djuga?” ,,Tidak, mereka bebas. Akan tetapi dalam pendjadjahan tak seorangpun dapat mentjapai suatu kedudukan tanpa pendidikan Belanda. Kita harus madju. Aku akan menemui Kepala Sekolah Rendah Belanda untuk mengadjukan permohonan.” Gedung itu bagus terbuat dari kaju, bukan bambu seperti sekolah kami dan dinding luarnja berwarna biru-muda. Di situ terdapat tudjuh kelas. Berlainan dengan medja kami di Sekolah Bumiputera, maka bangku-bangku di sini mempunjai tempat tinta dan latji untuk buku.

Setelah aku menempuh udjian, Kepala Sekolah memberitahukan kepada bapak, ,,Anak tuan sangat pintar, akan tetapi bahasa Belandanja belum tjukup baik untuk kelas enam Europeesche Lagere School. Kami terpaksa mendudukkannja satu kelas lebih rendah. “Ketika kami pergi kami merasa sangat tertekan. Bapak mengeluh. ,,Ini suatu pukulan jang hebat bagi kita. Tapi walaupun bagaimana, tidak ada djalan lain lagi.”,,Umur saja sudah empatbelas,” aku memprotes. ,,Terlalu tua untuk kelas lima. Tentu orang mengira saja tinggal kelas karena bodoh. Saja tentu diberi malu.” ,,Baiklah,” bapak memutuskan di saat itu djuga, ,,Kalau perlu kita membohong. Akan kita kurangi umurmu satu tahun Kalau sudah mulai tahun-peladjaran baru engkau didaftarkan dengan umur tiga-belas.” Masih ada satu persoalan mengenai bahasa Belandaku. Sekalipun kami orang jang tidak mampu, bapak mengambil seorang guru jang mengadjar bahasa Belanda di Europeesche Lagere School ini untuk memberikan peladjaran chusus kepadaku sedjam setiap hari. Aku ingat betul namanja. Juffrouw M.P. De La Riviere. M.P. kependekan dari Maria Paulina. Katakanlah, bahwa ia orang jang paling tidak menarik didunia ini dibandingkan dengan perempuan lain dan karena itu ia tetap melekat dalam pikiranku. Tjara jang paling baik untuk menerangkan arti daripada pendidikan barat—dan bagaimana bapak telah bersusah-pajah mengorbankan uang, prinsip dan segala sesuatu untuk itu—ialah dengan menghubungkannja dengan kisah pertjintaanku jang pertamakali. Aku berumur empatbelas tahun dan tidak ragu lagi hatiku jang muda ini telah tertambat pada Rika Meelhuysen, seorang gadis Belanda. Rika adalah gadis pertama jang kutjium. Dan harus kuakui, bahwa aku sangat gugup waktu itu. Sedjak itu aku lebih ahli dalam hal itu. Tapi, aduh, aku mentjintai gadis itu mati-matian dan kuikuti turun naiknja gelombang irama dari seluruh kehidupan anak sekolah. Aku membawakan buku-bukunja, aku dengan sengadja berdjalan melalui rumahnja, karena mengharapkan sekilas pandang dari dia. Dan nampaknja aku selalu setjara kebetulan berada di mana dia ada. Tjintaku ini kusimpan dalam kalbuku sendiri. Aku takut mengutjapkan sepatah kata, karena takut ketahuan oleh orangtuaku. Aku jakin, bahwa bapak akan sangat marah kepadaku kalau sekiranja ia mendengarku bergaul dengan anak gadis kulitputih. Sunggubpun aku sangat ingin menjampaikan sesuatu tentang hal itu kepadanja, ketakutan terhadap kemarahannja menjebabkan kata-kataku membeku di kerongkongan. Karena itu, keinginan jang menjala-njala ini hanja kupertjajakan kepada diriku jang sedang dimabuk kepajang.

Pada suatu sore aku berdjalan-djalan naik sepeda dengan Rika Meelbuysen dan ketika membelok di udjung djalan gang kami tepat menubruk bapak. Aku mulai menggigil karena takut. Dia bersikap hormat, tapi aku sangat kuatir akan apa jang akan menjusul nanti kalau aku sudah sampai di rumah. Inilah aku, putera bapak satu-satunja, jang bertjinta-tjintaan dengan orang Belanda jang dibentji. Sedjam kemudian aku menjusup masuk rumah dalam keadaan masih tergontjang. Bapak segera mendekatiku dan berkata, ,,Nak, djangan kau takut tentang perasaanku terhadap teman perempuanmu itu. Itu baik sekali. Pendeknja, hanja dengan djalan itu engkau dapat memperbaiki bahasa Belandarnu!” Ketika datang waktunja untuk masuk sekolah menengah, bapak sudah tahu apa jang harus dikerdjakannja. Ia menggunakan pengaruh kawan- kawannja untuk memasukkanku kesekolah menengah jang tertinggi di Djawa Timur, jaitu Hogere Burger School di Surabaja. ,,Nak,” katanja, ,,Maksud ini sudah ada dalam pikiranku semendjak kau dilahirkan ke dunia.” Semua telah diaturnja dan aku akan tinggal dirumah H.O.S. Tjokroaminoto, ialah orang jang kemudian merobah seluruh kehidupanku. ,,Tjokro,” ia menerangkan padaku, ,,Adalah kawanku di Surabaja sedjak sebelum kau ada.” ,,O,” kataku gembira, ,,Saja kira dia keluarga kita.” ,,Tidak,” djawab bapak. ,,Oo, barangkali mungkin keluarga jang sangat djauh, tapi tidak serapat seorang kemenakan atau paman.” Kemudian bapak memandang kepadaku sesaat. ,,Kautahu siapa Tjokro?” ,,Saja hanja tahu, dia berkeliling untuk mempropagandakan kejakinan politiknja. Saja ingat dia datang ke kampung kita untuk mengadakan pidato dan menginap, bapak dengan dia mengobrol sampai waktu subuh.” ,,Tjokro adalah pemimpin politik dari orang Djawa. Sungguhpun engkau akan mendapat pendidikan Belanda, aku tidak ingin darah dagingku mendjadi kebarat-baratan.

Karena itu kau kukirim kepada Tjokro, orang jang didjuluki oieh Belanda sebagai ‘Radja Djawa jang tidak dinobatkan’. Aku ingin supaja kau tidak melupakan, bahwa warisanmu adalah untuk mendjadi Karna kedua.” Aku tidak membawa apa-apa ketika berangkat ke Surabaja. Tak ada barang untuk dibawa. Satu-satunja jang mengikuti kepergianku adalah sebuah tas ketjil dengan pakaian sedikit. Bapak menundjuk salah seorang guru untuk mengiringi perdjalananku di kereta-api jang lamanja enam djam itu. Tidak dirajakan, tidak dipestakan kepergianku itu. Jang kuingat hanja bahwa aku menangis getir. Aku meninggalkan rumah.

Aku meninggalkan ibu. Aku baru seorang anak 15 tahun jang masih takut-takut. Di pagi itu, di hari keberangkatanku ibu melepasku dengan peringatan bahwa aku tidak lagi akan kembali untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Di depan rumah kami dia memerintahkan, ,,Berbaringlah di tanah, nak. Berbaring sadja biarpun kotor.” Kemudian ibu melangkahi badanku pulang-balik sampai tiga kali. lni sesuai dengan kepertjajaan menurut ilmu kebatinan. Dengan melangkahi anaknja dengan tubuhnja sendiri dari mana si anak dilahirkan dan jang mengandung kekuatan kekuatan sakti dari kehidupan, berarti bahwa si anak mendapat restu dari ibunja untuk selama-lamanja. Seakan-akan ia berkata setiap kali, ,,Anak ini berasal dari kandunganku dan kuberkati dia.” Kemudian dia menjuruhku bangkit. Sekali lagi ia memutar badanku arah ke Timur dan berkata dengan sungguh-sungguh, ,,Djangan sekali-kali kaulupakan, anakku, bahwa engkau adalah putera sang fadjar.”

Bab 4

Surabaja: Dapur Nasionalisme

 

DARI djenis binatang prasedjarah jang digali di kepulauan kami, ahli-ahli purbakala membuktikan bahwa setengah djuta tahun jang lalu pulau Djawa sudah didiami orang. Kebudajaan kami adalah kebudajaan purba. Bukalah buku Ramayana. Di dalamnja orang akan membatja keterangan mengenai ,,Negeri Suarna Dwipa jang mempunjai tudjuh buah keradjaan besar”. Suarna Dwipa, jang berarti pulau-pulau emas, adalah nama negeri kami pada waktu ia diabadikan dalam tjerita-tjerita klasik Hindu duaribu limaratus tahun jang lalu. Dari abad kesembilan ketika negeri kami bernama Keradjaan Sriwidjaja sampai abad keempatbeias waktu negeri kami bernama Madjapahit, kami punja ,,negeri jang terkenal makmur telah mentjapai tingkatan ilmu jang demikian tinggi sehingga mendjadi pusat ilmu pengetahuan bagi seluruh dunia-beradab”.

Demikianlah keterangan jang terdapat dalam surat-surat gulung perkamen jang berharga dari negeri Tiongkok dan menurut dugaan adalah bibit dari kebudajaan seluruh Asia. Negeri kami masih tersohor dalam lingkungan internasional ketika Christopher Columbus mentjari kepulauan. Rempah-rempah gugusan pulau-pulau jang sekarang kita namakan Kepulauan Maluku. Seumpama Columbus tidak berlajar mentjari djahe, buah-pala, lada dan tjengkeh kami dan tidak sesat pula di djalan, tentu dia tidak akan menemukan benua Amerika. Ketika djalan laut menudju Hindia achirnja ditemukan orang, modal asing mengerumuni pantai kami, seperti semut mengerumuni tempat gula. Dari Lisboa datanglah Vasco ‘da Gama. Dari negeri Belanda Cornelis de Houtman: Ini merupakan titik-tanda dimulainja ,,Revolusi Perdagangan” di Eropa.

Kapitalisme ini tumpah hingga ia mengenjangkan lapangan eksploitasi dalam masjarakat mereka sendiri. Barang-barang jang sebelumnja diimpor dari Timur, sekarang sudah diekspor ke Timur; djadi Timur mendjadi pasar-pasar tambahan untuk barang-barang berlebih. Daerah Timur mendjadi suatu pasar untuk modal berlebih jang tidak lagi bisa memperoleh djalan keluar. Liberalisme dalam ekonomi lalu membawa liberalisme dalam politik. Untuk mengendalikan ekonomi dari negara lain, terlebih dulu negara itu harus ditaklukkan. Pedagang pedagang mendjadi penakluk; bangsa-bangsa Asia-Afrika didjadjah dan kelobaan ini membuka pintu kepada djaman Imperialisme. Djawa diduduki di abad ke 16; Maluku di abad ke 17 dan lambat laun Negeri Belanda menguasai kepulauan kami setjara berturut-turut hingga ke Bali jang baru dikuasai di tahun 1906. Dengan tjepat kekuasaan asing menanamkan akar-akarnja. Mereka mengambil kekajaan kami, mengikis kepribadian kami dan musnahlah Putera-puteri harapan bangsa dari suatu Bangsa jang Besar jang pandai melukis, mengukir, membuat lagu, mentjiptakan tari. Kami tidak lagi dikenal oleh dunia luar, ketjuali oleh penghisap-penghisap dari Barat jang mentjari kemewahan di Hindia. Akibat daripada Imperialisme sungguh djahat sekali. Orang laki-laki diambil dari rumahnja dan dipaksa mendjadi budak di pulau-pulau jang djauh, di mana terdapat kekurangan tenaga manusia. Perempuan-perempuan dipaksa bekerdja di kebun tarum dan mereka tidak boleh menghentikan pekerdjaannja, sekalipun melahirkan pada waktu menanam. Tempe adalah bungkah jang lunak dan murah terbuat dari katjang kedele jang diberi ragi. Negeri tempe berarti negeri jang lemah. Itulah kami djadinja. Kami terus-menerus dikatakan sebagai bangsa jang mempunjai otak seperti kapas. Kami mendjadi pengetjut; takut duduk, takut berdiri, karena apapun jang kami lakukan selalu salah. Kaml mendiadi rakjat seperti dodol dengan hati jang ketjil. Kami lemah seperti katak dan lembut seperti kapok. Kami mendjadi suatu bangsa jang hanja dapat membisikkan, ,,Ja tuan” Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, jang masih sadja mereka pegang teguh setjara tidak sadar. Hal itu menjebabkan kemarahanku baru-baru ini. Wanita-wanita dari kabinetku selalu menjediakan djuadah makanan Eropa. ,,Kita mempunjai penganan enak kepunjaan kita sendiri,” kataku dengan marah. ,,Mengapa tidak itu sadja dihidangkan?” ,,Ma’af, Pak,” kata mereka dengan penjesalan ,,Tentu bikin maIu kita sadja. Kami rasa orang Barat memandang rendah pada makanan kita jang melarat.” Ini adalah suatu pemantulan kembali dan pada djaman dimana Belanda masih berkuasa. Itulah perasaan rendah-diri kami jang telah berabad-abad umurnja kembali memperlihatkan diri. Edjekan jang terus-menerus dipompakan oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidak-mampuan kami, menjebabkan kami jakin akan hal tersebut.

Dan kejakinan bahwa engkau bangsa jang hina, lagi bodoh adalah suatu sendjata jang ada dalam tangan pendjadjah. lmperialisme adaIah kumpulan kekuatan djahat jang nampak dan jang tidak nampak. Penindasan jang sudah demikian lama dirasakan menjebabkan bangkitnja suatu masa para pelopor. Sun Yat Sen mendirikan Gerakan Nasional Tiongkok ditahun 1885. Kongres Nasional India: ditahun 1887. Aguinaldo dan Rizal membangkitkan Filipina. di tahun-tahun permulaan abad ke-20. Seluruh Asia bangkit dan di abad keduapuluh jang megah ini, dalam mana isolasi tidak akan terdjadi lagi, maka bangsa Indonesia jang lemah dan pemalu itupun dapat merasakan gelora daripada kebangkitan ini.

Dalam bulan Mei 1908 para pemimpin di Djawa menjusun partai nasional jang pertama dengan nama ,,Budi Utomo”, jang artinja ,,Usaha jang Sutji”. Di tahun 1912 organisasi ini memberi djalan kepada Sarekat Islam jang mempunjai anggota sebanjak dua-setengah djuta orang di bawah pimpinan H.O.S. Tjokro Aminoto.

Bangsa Indonesia jang menderita setjara perseorangan sekarang mulai menjatukan diri dan persatuan nasional mulai tersebar. Ia lahir di Djakarta, akan tetapi sang baji baru pertama kali melangkahkan kakinja di Surabaja. Di tahun 1916 maka Surabaja merupakan kota pelabuhan jang sangat sibuk dan ribut, lebih menjerupai kota New York. PeIabuhannja baik dan mendjadi pusat perdagangan jang aktif. Ia mendjadi suatu kota industri jang penting dengan pertukaran jang tjepat dalam perdagangan gula, teh, tembakau, kopi. Ia mendjadi kota tempat perlombaan dagang jang kuat dan orang-orang Tionghoa jang tjerdas ditambah dengan arus jang besar dan para pelaut dan pedagang jang membawa berita-berita dari segala pendjuru dunia. Penduduknja semakin bertambah, terdiri dari pekerdja pelabuhan dan pekerdja bengkel jang masih muda-muda dan jang bersemangat menjala-njala. la mendjadi kota di mana bergolak persaingan, pemboikotan, perkelahian di djalan-djalan. Kota itu bergolak dengan ketidak-puasan dari orang-orang revolusioner. Ke tengah-tengah kantjah jang mendidih demikian itulah seorang anak-ibu berumur 15 tahun masuk dengan mendjindjing sebuah tas ketjil.

Keluarga Tjokroaminoto terdiri dari enam orang. Jaitu Pak dan Bu Tjokro, anak-anaknja Harsono jang 12 tahun lebih muda daripadaku, Anwar 10 tahun lebih muda, puteri mereka Utari lima tahun lebih muda dan seorang baji, Pak Tjokro semata-mata bekerdja sebagai Ketua Sarekat Islam dan penghasilannja tidak banjak. Dia tinggal di kampung jang penuh sesak tidak djauh dari sebuah kali. Menjimpang dari djalanan jang sedjadjar dengan kali itu ada sebuah gang dengan deretan rumah di kiri-kanannja dan ia terlalu sempit untuk djalan mobil. Gang kami namanja Gang 7 Peneleh. Pada seperempat djalan djauhnja masuk ke gang itu berdirilah sebuah rumah buruk dengan paviljun setengah melekat. Rumah itu dibagi mendjadi sepuluh kamar-kamar ketjil, termasuk ruang loteng.

Keluarga Pak Tjokro tinggal di depan; kami jang bajar-makan di belakang. Sungguhpun semua kamar sama melaratnja, akan tetapi anak-anak jang sudah bertahun-tahun bajar makan mendapat kamar jang namanja sadja lebih baik. Kamarku tidak pakai djendela sama sekali. Dan tidak berpintu. Di dalam sangat gelap, sehingga aku terpaksa menghidupkan lampu terus-menerus sekalipun di siang hari. Duniaku jang gelap ini mempunjai sebuah medja gojah tempatku menjimpan buku, sebuah kursi kaju, sangkutan badju dan sehelai tikar rumput. Tidak ada kasur. Dan tidak ada bantal. Surabaja di waktu itu sudah menikmati kemegahan lampu listrik. Setiap kamar mempunjai fitting dan setiap pembajar-makan membajar ekstra untuk lampu.

Hanja kamarku jang tidak punja. Aku tidak punja uang untuk membeli bolanja. Aku beladjar sampai djauh malam dengan memakai pelita. Bahkan akupun tidak mampu membeli kelambu untuk menutupi balai-balai dan supaja terhindar dari njamuk. Kamar itu ketjil seperti kandang-ajam. Tidak ada udara segar dan mendjadi sarang serangga. Akan tetapi karena tak ada orang lain jang mau tinggal denganku di kamar jang gelap itu, maka setidak-tidaknja aku dapat memilikinja untuk diriku sendiri.

Sewanja 11 rupiah, termasuk makan. Atau setjara perhitungan kasarnja empat dollar sebulan. Bapak mengirimiku uang duabelas rupiah setengah, dengan sisanja limapuluh sen untuk uang-saku. Di tahun 1917 bapak dipindahkan ke Blitar. Karena pemindahan ini merupakan kenaikan djabatan, nasib bapak berobah sedikit. Oleh sebab itu ia dapat mengirimiku f1,50 untuk uang-saku setiap bulannja. Memang sukar bagi seorang inlander untuk memasuki H.B.S. Di samping f15,00 sebulan untuk uang-sekolah dan pet seragam

bertuliskan H.B.S., kami harus membajar lagi f75,00 setiap tahun untuk uang buku. Aku ingat betul djumlah ini, karena aku menghitung setiap rupiahnja. Kudjaga agar djangan ada jang terpakai setjara tidak disengadja. Walaupun aku anak jang patuh, harus kuakui, bahwa aku menulis surat pulang hanja kalau dalam kesempitan sadja. Kukira ini sama sadja dengan setiap anak muda, bukan? Dengan tidak usah membuka surat-suratku terlebih dulu bapakpun sudah tahu isinja, bahwa si Karno minta uang. Suratku kepada orangtuaku selalu dimulai dengan kalimat manis jang itu-itu djuga dan tidak pernah berobah-robah: ,,Bapak dan lbu jang tertjinta’ saja berada dalam keadaan sehat-sehat sadja dan harapan saja tentu agar Bapak dan Ibu keduanja demikian pula hendaknja.”

Kemudian setelah salam itu, di baris jang ketiga aku langsung menjampaikan maksud jang terpenting. Aku menulis, ,,Sekarang saja sedang kekurangan uang. Apakah Bapak dan lbu dapat mengirimi barang sedikit?” Di samping ibuku jang penjajang itu selalu mengirimiku setjara diam-diam satu atau dua rupiah bila ia punja uang, akupun mengusahakan sumber lain. Pak Poegoeh, suami kakakku. Mereka tinggal sekira 50 kilometer dari Surabaja dan Pak Poegoeh selalu memberiku uang lima rupiah untuk ongkos pulang. Karena uang itu tidak habis semua untuk ongkos perdjalanan, maka aku sering menemui mereka. Pak Poegoeh enam tahun lebih tua daripadaku dan bekerdja di kantor irigasi dari Departemen Pekerdjaan Umum. Sekalipun kami seperti kakak beradik, aku tak pernah minta bantuan uang kepadanja setjara terang-terangan. Tjara orang Djawa kebanjakan tidak langsung. Kuminta kepada kakakku jang menjampaikannja pula kepadanja. Dan permintaan ini kupikirkan lebih dulu semasak-masaknja. Aku tak pernah meminta di luar batas jang kuperkirakan dapat diperoleh dengan mudah.

Sebagai hasil dari kebidjaksanaan sematjam ini aku kadang-kadang mendapat lebih dari pada jang kuminta. Terasa hari Iibur sangat menjenangkan apabila hadiah itu datang karena aku lalu bisa mendjamu kawan-kawanku dengan kopi atau djadjan. H.B.S. terletak satu kilometer dari Gang Paneleh Setiap anak mempunjai sepeda. Aku sendiri jang tidak. Biasanja aku membontjeng dengan salah seorang kawan atau berdjalan kaki. Aku mulai menabung dan menabung terus dan ketika uangku terkumpul delapan rupiah, kubeli Fongers jang hitam mengkilat, sepeda keluaran Negeri Belanda. Aku merawatnja bagai seorang ibu. Ia kugosok-gosok. Kupegang-pegang. Kubelai-belai. Pada suatu kali Harsono jang berumur tudjuh tahun setjara diam-diam memakai sepedaku itu dan menabrakkannja ke pohon kaju. Seluruh bagian mukanja patah. Harsono ketakutan. Ia tidak berani mengatakan padaku, dan ketika aku mendengar berita itu, kusepak pantatnja dengan keras. Kasihan Harsono. Ia menangis. Ia berteriak. Berminggu-minggu lamanja aku tergontjang oleh Fongersku jang hitam mengkilat itu jang sekarang sudah bengkok-bengkok. Achirnja aku dapat mengumpulkan delapan rupiah lagi dan membeli lagi sepeda jang lain tapi untuk Harsono. Sekali dalam seminggu aku menikmati satu-satunja kesenanganku, Film, Aku sangat menjukainja. Betapapun, tjaraku menonton sangat berbeda dengan anak-anak Belanda. Aku duduk di tempat jang paling murah. Tjoba pikir, keadaanku begitu melarat, sehingga aku hanja dapat menjewa tempat di belakang lajar. Kau dengar? Dibelakang lajar!! Di waktu itu belum ada film bitjara, djadi aku harus membatja teksnja dan terbalik dan masih dalam bahasa Belanda! Lama-kelamaan aku mendjadi biasa dengan keadaan itu sehingga aku dapat dengan tjepat membatja teks itu dari kanan ke kiri. Aku tidak peduli, karena tak ada tjara lain lagi. Bahkan aku bersjukur karena masih bisa menjaksikannja. Saat satu-satunja jang menjebabkan aku ketjewa ialah, bila dipertundjukkan film adu-tindju. Aku sama sekali tak dapat menaksir, tangan siapa jang melakokan pukulan.

Di masa itu ,,Yankee Doodle” jang mendjadi lagu kegemaranku. Mereka memutarnja pada tiap istirahat dan sambil duduk seorang diri dalam gelap dibelakang lajar aku menjanjikannja dengan lunak untuk diriku sendiri. Sampai sekarang aku masih menjanjikan lagu itu. Pada suatu kali sebuah sirkus datang ke kota kami.

Dalam pertundjukan itu mereka melepaskan merpati-merpati dan kalau ada jang hinggap di bahu seseorang, itulah jang memenangkan hadiah. Kami segera mengetahui bahwa, ketika burung itu hinggap pada teman kami, jang sama-sama bajar-makan, hadiahnja seekor kuda. Djadi berkumpullah kami, Suarli pemenang jang beruntung itu, kami pemuda lainnja sebanjak setengah lusin dan seekor kuda tua jang sudah letih. Kami tidak dapat akal akan diapakan kuda itu. Tapi kami harus membawanja keluar, karena itu kami bawa ia pulang. Di bagian belakang rumah ada pekarangan, akan tetapi tidak ada djalan untuk bisa sampai ke tempat itu ketjuali melalui tengah rumah. Dengan tenang kami buka pintu serambi muka dan rumah Pemimpin Besar Rakjat Djawa dan mempawaikan kuda kami melalui kamar-duduk, terus kehalaman belakang di mana ia ditambatkan ke batang sawo.

Tak seorangpun di antara kami jang punja uang untuk membeli makan mulut orang lain, sekalipun mulut itu kepunjaan seekor kuda. Begitulah, dua hari kemudian Suarli mendjualnja. Ketjuali satu sirkus dan film, masa itu bukanlah masa jang menggembirakan bagiku. Aku tidak mempunjai kesenangan semasa mudaku. Aku terlalu serius. Aku tidak mengikuti kesenangan seperti jang dialami oleh anak-anak sekolah jang lain.

Mungkin apa jang dinamakan tindakan kegila-gilaan sebagaimana jang dituduhkan kepadaku· sekarang, adalah sematjam imbangan untuk mengedjar kerugian di masa muda. Tidak ada kesenangan-kesenangan jang menjegarkan dalam kehidupanku hingga aku berumur 50 tahun. Kegembiraan jang kutjari sekarang mungkin sebagai usahaku untuk-menutupi segala sesuatu jang tidak pernah kunikmati di masa muda, sebelum waktunja terlambat. Aku tidak tahu dengan pasti. Aku- tak pernah memikirkannja hingga datang waktunja bagiku untuk mendjalankan pembedahan diri dengan djalan otobiografi ini.

Bagaimanapun djuga, ini adalah pertjakapan antara kita antara engkau, pembatja, denganku. Dan karena aku berbitjara dan gelora hati jang meluap-luap, kemudian merenungkan semua ini sebagai kesedihanku di masa jang silam, aku merasa mungkin djuga benar bahwa aku sedang berusaha mengimbangi kekurangan diriku sendiri sekarang. Pendeknja, aku tidak mengalami masa senang di Surabaja. Pada waktu aku mula datang, aku menangis setiap hari. Ah, aku sangat kehilangan ibu tak dapat kutjeritakan-kepadamu betapa wanita senantiasa memberikan pengaruh jang besar dalam hidupku. Sekarang, aku tidak punja ibu, tidak ada nenek untuk membudjukku jang selamanja mengagumiku — tidak ada Sarinah jang dengan tekun mendjagaku. Aku merasa sebatang kara. Bu Tjokro adalah seorang wanita jang manis dengan perawakan ketjil bagus. Dia sendirilah jang mengumpulkan uang makan kami saban minggu. Dialah jang membuat peraturan seperti: (1) Makan malam djam sembilan dan barangsiapa jang datang terlambat tidak dapat makan. (2) Anak sekolah sudah harus ada di kamarnja djam 10 malam. (3) Anak sekolah harus bangun djam empat pagi untuk beladjar. (4) Main-main dengan anak gadis dilarang. Aku memelihara hubungan rapat dengan Bu Tjokro, akan tetapi dia terlalu sibuk untuk dapat memperhatikanku sebagai seorang ibu. Karena memerlukan hati seorang perempuan, aku menoleh pada Mbok Tambeng, perempuan pembantu rumahtangga, untuk menghiburku. Dia mendjadi pengganti ibuku. Dia menambal tjelanaku. Dia tahu bahwa gado-gado adalah kegemaranku, karena itu dia suka menjusupkan ekstra untukku. Mbok sajang kepadaku, tapi ah! aku sangat merindukan kasih-sajang itu. Masih sadja si Mbok tidak bisa mendjadi penghibur jang tjukup bagi seorang anak jang halus perasaannja. Djiwaku mendjerit-djerit mentjari kepertjajaan hati, bahkan hati seorang bapak ke mana aku dapat menoleh. Pak Tjokro bukanlah orangnja. Seorang pemimpin hanja tertarik pada soal-soal politik. Bahunja bukanlah tempat bersandar untuk menangis. Atau tangannja bukanlah tempat merebahkan diri dengan enak. Sekalipun demikian Pak Tjokro sangat senang kepadaku. Kasih sajangnja ini dinjatakannja terutama di musim kemarau tahun 1918. Biasanja aku pulang mengundjungi orangtuaku dalam waktu libur. Dalam dua bulan libur tinggal di Blitar aku merentjanakan pergi ke tempat kawan-kawan untuk sehari di Wlingi, jang djaraknja 20 kilometer dari Blitar. Semua rentjana telah disiapkan dan dengan keinginan jang besar menghadapi tudjuan aku melambai kepada bapak, mentjium ibu dan memulai perdjalananku. Aku baru sadja sampai dirumah kawan kawanku ketika bahana menggemuruh jang menakutkan memenuhi angkasa dan tanah bergontjang-gontjang di bawah kakiku.

Perempuan-perempuan tua jang ketakutan, anak-anak jang mendjerit dan para pekerdja jang letih oleh membanting-tulang terpentjar keluar dari pondok-pondok mereka menudju kampung jang penuh sesak. Ketakutan, kebingungan dan kekatjauan menghinggapi rakjat kampung. Raksasa Gunung Kelud, gunung berapi di Blitar, mentjari saat itu untuk menundjukkan kemurkaan dari Dewa-dewa.

Langit mendjadi hitam oleh arang dan abu bermil-mil djauhnja. Di mana-mana ledakan lahar. Daerah itu diselubungi oleh asap, api dan ratjun. Dengan kekuatan jang hebat lahar jang mendidih-didih mentjurah menuruni lereng gunung ke tempat jang lebih rendah dan menggenang di sana antara Blitar dan Wlingi. Banjak orang jang mati. Aku sangat kuatir karena kutahu orangtuaku tentu sangat susah memikirkan diriku …….Hidupkah dia ……..Matikah dia. Mereka sadar, bahwa anaknja berada tepat di djalan di mana gunung itu memuntahkan isinja dan mereka tidak dapat memperoleh berita. Sementara itu aku mendengar, bahwa separo negeri kami telah kena landa, karena itu pikiranku dilumpuhkan oleh kekuatiran tentang apakah jang mungkin terdjadi terhadap orangtuaku. Aku harus kembali setjepat mungkin, akan tetapi tidak ada kendaraan jang bagaimanapun bentuknja jang dapat menjeberangi lautan lahar jang menggelora itu.

Achirnja, satu-satunja djalan jang harus ditempuh ialah dengan mengarunginja berdjalan kaki. Selagi lahar masih agak panas, aku mulai melangkahkan kaki menudju djalan pulang. Aku masih djauh ketika mereka menampakku, lalu datang berlari-lari menjongsongku di tengah djalan. Mereka memelukku. Mereka mentjiumku. Mereka mengelus pipiku. ,,0, engkau masih hidup,” teriak bapak. ,,Engkau masih hidup engkau masih hidup.”

Ibu menangis. Aku merangkul orangtuaku dengan kedua belah tanganku. Aduh, kami gembira, gembira sekali bertemu satu sama lain. Di Surabaja, Pak Tjokropun rupanja merasa tjemas memikirkan keadaanku. Ia menaiki mobilnja dan melakukan perdjalanan sehari penuh hanja karena hendak mengetahui bagaimana keadaanku. Mula-mula ia tidak dapat menemuiku atau orangtuaku. Rumah kami selamat, akan tetapi rumah itu sudah mendjadi tumpukan lahar dan lumpur. Sampai di Djalan Sultan Agung 53 ia hanja mendapati rumah kosong sama-sekali. Ketjuali beberapa ekor burung-burung ketjil. Ia djadi sangat bingung sebelum bertemu dengan kami. Djadi aku menjadari bahwa Pak Tjokro mentjintaiku dengan tjaranja sendiri. Hanja tjaranja itu tidak tjukup bagi seorang anak jang kesepian. Ia djarang berbitjara denganku. Bahkan aku djarang melihatnja. Ia tidak mempunjai waktu jang senggang. Kalau ia di rumah tentu ada tamu atau ia bersamadi dalam kesunjian.

Oemar Said Tjokroaminoto berumur 33 tahun ketika aku datang ke Surabaja. Pak Tjokro mengadjarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa jang ia ketahui ataupun tentang apa djadiku kelak. Seorang tokoh jang mempunjai daja-tjipta dan tjita-tjita tinggi, seorang pedjoang jang mentjintai tanah tumpah darahnja. Pak Tjokro adalah pudjaanku. Aku muridnja. Setjara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinja dan diberikannja kepadaku buku-bukunja, diberikannja padaku miliknja jang berharga Ia hanja tidak sanggup memberikan kehangatan langsung dari pribadinja kepada pribadiku jang sangat kuharapkan. Karena tak seorangpun jang mentjintaiku seperti jang kuidamkan, aku mulai mundur.

Kenjataan-kenjataan jang kulihat dalam duniaku jang gelap hanjalah kehampaan dan kemelaratan. Karena itu aku mengundurkan diri kedalam apa jang dinamakan orang Inggris ,,Dunia Pemikiran”. Buku-buku mendjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputus-asaan jang terdapat di luar. Dalam dunia kerohanian dan dunia jang lebih kekal inilah aku mentjari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira.

Seluruh waktu kupergunakan untuk membatja. Sementara jang lain bermain-main, aku beladjar. Aku mengedjar ilmu pengetahuan di samping peladjaran sekolah. Kami mempunjai sebuah perpustakaan jang besar di kota-ini jang diselenggarakan oleh Perkumpulan Theosofi. Bapakku seorang Theosof, karena itu aku boleh memasuki peti harta ini, di mana tidak ada batasnja buat seorang anak jang miskin.

Aku menjelam sama-sekali ke dalam dunia kebatinan ini. Dan di sana aku bertemu dengan orang-orang besar. Buah pikiran mereka mendjadi buah pikiranku. Tjita-tjita mereka adalah-pendirian dasarku. Setjara mental aku berbitjara dengan Thomas Jefferson. Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia. karena dia bertjeritera kepadaku tentang Declaration of Independence jang ditulisnja ditahun 1776. Aku memperbintjangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mendalami lagi perdjalanan Paul Revere.

Aku dengan sengadja mentjari kesalahan-kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln, sehingga aku dapat mempersoalkan hal ini dengan dia. Pada waktu sekarang, apabila ada orang menegur, ,,Hai Sukarno, mengapa engkau tidak suka kepada Amerika ?” maka aku akan mendjawab, ,,Apabila engkau mengenal Sukarno, engkau tidak akan -mengadjukan pertanjaan itu? Masa mudaku kupergunakan untuk memudja bapak-bapak perintis dari Amerika Aku ingin berlomba dengan pahlawan-pahlawannja. Aku mentjintai rakjatnja. Dan aku masih mentiintainja. Bahkan sekarangpun aku masih membatja madjalah Amerika dari ,,Vogue” sampai ke ,,Nugget’. Aku akan selalu merasa berkawan dengan Amerika. Ja, berkawan. Aku mengatakannja setjara terbuka. Aku menuliskan tentang diriku sendiri. Kunjatakan ini dengan tertjetak.

Suatu pendirian dasar seperti jang kumiliki takkan dapat membiarkanku tidak berkawan dengan Amerika. Di dalam dunia pemikiranku akupun berbitjara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb jang mendirikan Gerakan Buruh Inggris aku berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari Austria. Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin dari Rusia dan aku mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau’ Aristide Briand’ dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sedjarah Perantjis. Aku meneguk~semua tjerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnja adalah Voltaire. Aku adalah Danton pedjoang besar dari Revolusi Perantjis. Seribu kali aku menjelamatkan Perantjis seorang diri dalam kamarku jang gelap. Aku mendjadi tersangkut setjara emosionil dengan negarawan-negarawan ini. Di sekolah kami mendengarkan peIadjaran tetntang pengadilan rakjat dari bangsa Junani kuno. Ia melekat dalam pikiranku. Aku membajangkan pemikir-pemikir jang sedang marah selagi berpidato dan meneriakkan sembojan-sembojan seperti ,,Persetan dengan Penindasan” dan ,,Hidup’ Kemerdekasn”. Hatiku terbakar menjaIa-njala.

Macam itu, ketika semua orang sudah menguntji pintu, kamar kandang-ajamku mendiadi ruang pengadilan, aku sebagai seorang pemuda Junani jang terbakar oleh enthusiasme. Sambil berdiri di atas medjaku jang gojah aku ikut terbawa-oleh perasaan. Aku mulai berteriak. Selagi aku berpidato dengan sangat keras kepada tak seorangpun, kepala-kepala berdjuluran keluar pintu, mata bertondjolan dari kepala dan terdengar suara anak-anak muda berteriak dalam gelap’ ,,Hei, No,’ kau gila? Ada apa…. Hei, apa kau sakit?” dan kemudian tukang-tukang sorak itu kembali pada djawabannja sendiri, ,,Ah, tidak ada apa-apa. Tjuma si No mau menjelamatkan dunia lagi” dan satu demi satu pintu-pintu menutup lagi dan membiarkan aku sendiri dalam kegelapan. Pada waktu aku semakin mendekati kedewasaan, duniaku di dalam semakin lebar dan mentjakup pula kawan-kawan dari Tjokroaminoto. Setiap hari para pemimpin dari partai lain atau pemimpin tjabang Sarekat Islam datang bertamu. Dan setiap kali mereka tinggal selama beberapa hari. Sementara kawan-kawanku serumah keluar menjaksikan pertandingan bola, aku duduk dekat kaki orang-orang ini dan mendengarkan.

Kadang-kadang kubagi tempat-tidurku dengan salah seorang pemimpin itu dan minum dari mata-air keahlian mereka hingga waktu fadjar. Aku menjukai waktu makan, Kami makan setjara satu keluarga, djadi aku dapat mengikuti dan meresapkan pertjakapan politik. Pada waktu mereka melepaskan lelah di sekeliling medja, aku bahkan kadang-kadang berani mengadjukan pertanjaan. Mahaputera-mahaputera ini putera-putera jang besar dari rakjat Indonesia—tidak mengatjuhkanku karena aku masih anak-anak. Sekali pada waktu makan malam mereka mempersoalkan tentang kapitalisme dan tentang barang-barang jang diangkut dari kepulauan kami untuk memperkaja Negeri Belanda. Di saat inilah aku bertanja pelahan, ,,Berapa banjak jang diambil Belanda

dari Indonesia?”,,Anak ini sangat ingin tahu,” senjum Pak Tjok, kemudian menambahkan, ,,De Vereenigde Oost Indische Compagnie menjedot— atau mentjuri—kira-kira 1800 djuta gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag.”,,Apa jang tinggal di negeri kita?” kali ini aku bertanja lebih keras sedikit. ,,Rakjat tani kita jang mentjutjurkan keringat mati kelaparan dengan makanan segobang sehari,” kata Alimin, jaitu orang jang memperkenalkanku kepada Marxisme. ,,Kita mendjadi bangsa kuli dan mendjadi kuli di antara bangsa-bangsa,” sela kawannja jang bernama Muso. ,,Sarekat Islam bekerdja untuk memperbaiki keadaan dengan mengadjukan mosi-mosi kepada Pemerintah,” kata Pak Tjok menerangkan dan kelihatan senang karena mempunjai murid jang begitu bersemangat. ,,Pengurangan padjak dan serikat-serikat sekerdja hanja dapat digerakkan dengan kooperasi dengan Belanda—sekalipun kita membentji kerdjasama ini.” ,,Tapi apakah baik untuk membentji seseorang sekalipun ia orang Belanda?” ,,Kita tidak membentji rakjatnja,” dia memperbaiki, ,,Kita membentji sistim pemerintahan Kolonial.” ,,Mengapa nasib kita tidak berobah djika rakjat kita telah berdjoang melawan sistim ini sedjak berabad-abad?”

,,Karena pahlawan-pahlawan kita selalu berdjoang sendiri-sendiri. Masing-masing berperang dengan pengikut jang ketjil di daerah jang terbatas,” Alimin mendjawab. ,,O, mereka kalah karena tidak bersatu,” kataku. Ahli pikir India, Swami Vivekananda, menulis, ,,Djangan bikin kepalamu mendjadi perpustakaan. Pakailah pengetahuanmu untuk diamalkan.” Aku mulai menerapkan apa-apa jang telah kubatja kepada apa jang telah kudengar. Aku memperbandingkan antara peradaban jang megah dari pikiranku dengan tanah-airku sendiri jang sudah bobrok. Setapak demi setapak aku mendjadi seorang pentjinta tanah-air jang menjala-njala dan menjadari bahwa tidak ada alasan bagi pemuda Indonesia untuk menikmati kesenangan dengan melarikan diri kedalam dunia chajal. Aku menghadapi kenjataan bahwa negeriku miskin, malang dan dihinakan. Aku berdjalan-djalan seorang diri dan merenungkan tentang apa jang sedang berputar dalam otakku. Satu djam lamanja aku berdiri tak bergerak di atas djembatan ketjil jang melintasi sungai ketjil dan memandangi iring-iringan manusia jang tak henti-hentinja. Aku melihat rakjat tani dengan kaki-ajam berdjalan lesu menudju pondoknja jang buruk. Aku melihat Kolonialis Belanda duduk mentjekam di atas kereta terbuka jang ditarik oleh dua ekor kuda jang mengkilat. Aku melihat keluarga orang kulit putih kelihatan bersih-bersih, sedang saudara-saudaranja jang berkulit sawo matang begitu kotor, badannja berbau, badjunja tjompang-tjamping, anak-anak mereka djorok-djorok. Aku bertanja dalam hati, apakah orang bisa tetap bersih apabila mereka tidak punja pakaian lain untuk penggantinja.

Kuisap masuk tubuhku bau daripada sisa makanan jang sudah busuk dan bau selokan-selokan jang melemaskan, dan kulekatkan dengan kuat di dalam lobang hidungku bau busuk daripada kemelaratan rakjatku, sehingga sekalipun aku pergi 10.000 mil dari di sungai aku masih tetap mentjiumnja. Aku memandang kedalam keputus asaan dari setiap laki-laki dan perempuan jang kulihat. Aku terhanjut bersama rakjatku. Rakjatku jang miskin lagi papa. Dari djembatan aku menoleh ke arah massa jang seperti semut banjaknja dan aku mengerti sedjelas-djelasnja, bahwa inilah kekuatan kami. Dan aku-menjadari sesadar-sadarnja akan penderitaan mereka. Sekalipun anak ketjil tak akan dapat menahan rawan hatinja pada waktu pertama-kali melihat kata-kata peringatan di kolam-renang jang berbunji, ,,Terlarang bagi andjing dan bumiputera.” Andjing didahulukan. Dapatkah seorang manusia tidak tersinggung perasaannja, apabila seorang kondektur Bumiputera harus menundukkan kepala kepada setiap Belanda jang menaiki tremnja? Aku seorang anak berumur 14 tahun ketika mukaku ditampar oleh seorang anak berhidung pandjang, tak lain hanja disebabkan karena aku seorang inlander. Apakah menurut pendapatmu tindakan-tindakan jang demikian itu tidak meninggalkan gores luka dalam hati? Ja, aku mempunjai kesadaran sebagai seorang anak. Aku memulai persembahan hidupku ini pada umur 16 tahun. Perkumpulan politik jang pertama kudirikan adalah Tri Koro Darmo jang berarti ,,Tiga Tudjuan Sutji” dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi dan sosial jang kami tjari. Ini pada dasarnja adalah suatu organisasi sosial dari para peladjar seumurku. Jong Java’, sebagai langkah kedua, mempunjai dasar jang Iebih luas. Begitupun pergaulan sosial kami berlandaskan kebangsaan. Kami membaktikan diri untuk memperkembangkan kebudajaan asli seperti mengadjarkan tari Djawa atau mengadjar main gamelan. Jong Java pun banjak melakukan pekerdjaan-pekerdjaan sosial. Kami pergi ke kampung-kampung jang berdekatan untuk mengumpulkan dan bagi sekolah atau untuk membantu korban bentjana letusan gunung.

Kami mengadakan pertunjukan di tempat-terapat jang memerlukan pertolongan dan mengeluarkan biaja-biaja itu dari hasil uang masuk. ,,Harus kuakui sekarang, bahwa tampangku di masa muda sangat tampan sehingga kelihatan seperti anak gadis. Karena hanja sedikit wanita terpeladjar pada waktu itu, tidak banjak anak gadis jang mendjadi anggota kami. Dan potonganku lebih banjak menjerupai seorang perawan tjantik sehingga kalau Jong Java mengadakan pertundjukan. Manakala diserahi memainkan peran wanita jang naif itu, aku betul-betul membedaki pipi dan memerahkan bibirku. Akan kutjeritakan sesuatu kepadamu. Aku tidak tahu, bagaimana pendapat orang-asing tentang seorang Presiden jang mau mentjeritakan hal jang demikian itu Tetapi sungguhpun demikian aku akan mentjeritakannja djuga. Aku membeli dua potong roti manis. Roti bulat. Seperti roti-gulung. Dan kuisikan kedalam badjuku. Ditambah dengan bentuk-badanku jang langsing setiap orang menjatakan, bahwa aku kelihatan sangat tjantik. Untunglah dalam peranku itu tidak termasuk adegan mentjium laki-laki. Selesai pertundjukan kupikir, tentu aku tak dapat menghamburkan uangku begitu sadja Karena itu kukeluarkan roti itu dari dalam badju dan kumakan.

Sambil memandangku di atas panggung para penontonpun memberikan komentarnja, bahwa aku memperlihatkan bakat jang besar untuk tampil dimoka umum. Akupun sangat setudju dengan pendapat mereka, tidak lama kemudian aku mendapat kesempatan lain. Ketika itu diadakan pertemuan dari Studieclub, jaitu suatu kelompok sebagai pengadjaran tambahan dan bertudjuan untuk membahas buah-buah pikiran dan tjita-tjita. Di sinilah aku mengadakan pidato jang pertama. Aku berumur 16 tahun. Ketua Studieclub mendapat giliran untuk berbitiara dan mendadak aku dikuasai oleh suatu dorongan jang kuat untuk berbitjara. Aku tidak dapat mengendalikan diriku selandjutnja. Selagi duduk dalam pertemuan itu aku melompat dan berdiri di atas medja. Suatu gerak perbuatan chas seperti kanak-kanak. Kukira ini disebabkan karena aku bersifat emosionil. Sekarangpun aku masih demikian. Ketua menjatakan, ,,Adalah mendjadi suatu keharusan bagi generasi kita untuk menguasai betul bahasa Belanda.” Setiap orang setudju. Setiap orang, ketjuali aku sendiri. Aku gugup tentunja, akan tetapi ketika aku memperoleh perhatian mereka, aku berbitjara dengan suara jang tenang sekali, ,,Tidak. Saja tidak setudju, ,,Tanah kebanggaan kita ini dulu pernah bernama Nusantara. Nusa berarti pulau. Antara berarti di antara.

Nusantara berarti ribuan pulau-pulau ini, dan banjak di antara pulau-pulau ini lebih besar daripada seluruh negeri Belanda. Djumlah penduduk Negeri Belanda hanja segelintir djika dibandingkan dengan penduduk kita. Bahasa Belanda hanja dipergunakan oleh enam djuta orang. ,,Mengapa suatu negeri ketjil jang terletak di sebelah sana dari dunia ini menguasai suatu bangsa jang dulu pernah begitu perkasa, sehingga dapat mengalahkan Kubilai Khan jang kuat itu?” Dengan suara tenang dan tidak terburu-buru atau tegang aku selandjutnja mengemukakan alasan-alasan ditambah dengan kenjataan-kenjataan. Aku mengachiri pidato itu dengan kata-kata, ,,Saja berpendapat, bahwa jang harus kita kuasai pertama-tama lebih dulu adalah bahasa kita sendiri. Marilah kita bersatu sekarang untuk mengembangkan bahasa Melaju. Kemudian baru menguasai bahasa asing. Dan sebaiknja kita mengambil bahasa Inggris, oleh karena bahasa itu sekarang mendjadi bahasa diplomatik. ,,Belanda berkulit putih. Kita sawo matang. Rambut mereka pirang dan keriting. Kita punja lurus dan hitam. Mereka tinggal ribuan kilomerer dari sini. Mengapa kita harus berbitjara bahasa Belanda?!” Maka terdjadilah keributan karena sangat kagum. Mereka tak pernah mendengar hal sematjam ini sebelumnja. Kuingat Direktur H.B.S., Tuan Bot, berdiri di sana. Dia tidak berbuat apa-apa melainkan memandang kepadaku dengan muka tidak senang sama-sekali, seakan dia berkata, ,,Oooh—Oooh, Sukarno mau bikin susah !” Sekalipun aku tidak membikin susah, aku sudah tjukup dibikin susah. Aku adalah anak baru di sekolah Belanda ini dan tambahan lagi seorang anak Bumiputera. H.B.S. mempunjai 300 orang murid. Hanja 2 diantaranja orang Indonesia. Aku dikeliiingi dari segala djurusan oleh anak laki-laki dan anak-anak gadis Belanda. Sudah tentu mereka tidak senang padaku. Terketjuali barangkali beberapa anak gadis, maka aku dianggap sepi. Sekolah mulai djam tudjuh pagi sampai djam satu siang, enam hari dalam seminggu. Di antara djam-djam peladjaran ada waktu istirahat, pada waktu mana setiap anak bermain atau djadjan. Akan tetapi anak-anak Belanda tentu memisah dari kami. Mereka berusaha supaja kami tidak ada kawan. Merekapun berusaha supaja hidung kami selalu berlumuran darah.

Sewaktu kami masih sebagai siswa baru, seorang anak jang rapi pakai tjelana baru dan kaku berwarna putih jang mendjadi ketentuan untuk tahun pertama berdiri mengangkang menghalangi djalanku dan mengedjek, ,,Menjingkir dari djalanku, anak inlander.” Ketika aku berdiri di sana dia melepaskan tangannja PANGGGG!’ Tepat dihidungku! Djadi, kupukul dia kembali. Setiap hari aku pulang babak-belur. Aku tak pernah mendjadi tukang berkelahi, tapi sekalipun aku dapat menahan penghinaan aku tak dapat menghindari perkelahian tangan. Kadang-kadang kukalahkan mereka, akan tetapi terkadangpun mereka mengalahkanku. Kamipun mengalami diskriminasi di dalam sekolah.

Sekolah begitu keterlaluan terhadap kami, sehingga kalau seorang anak Bumiputera membuat suatu kesalahan maka Direktur menghukumnja dengan larangan masuk kelas selama dua hari. Kami mentjurahkan tenaga dengan sungguh-sungguh kepada peladjaran. Akan tetapi sekalipun kami bertekun siang dan malam, nilai jang didapat oleh anak-anak Belanda pasti lebih tinggi daripada jang diterima oleh anak Indonesia. Nilai ketjakapan diukur dengan angka. Angka 10 jang tertinggi dan angka 6 adalah batas nilai tjukup dan inilah kebanjakan jang diterima oleh inlander. Kami mempunjai suatu pameo mengenai angka-angka ini: angka sepuluh adalah untuk Tuhan, sembilan untuk professor, angka delapan untuk anak jang luar-biasa, tudjuh untuk Belanda dan enam untuk kami. Angka sepuluh tidak pernah diterima oleh anak Bumiputera. Aku adalah penggambar tjat-air jang luar-biasa. Di tahun kedua kami disuruh menggambar kandang-andjing. Sementara jang lain masih mengukur-ukur dan menaksir-naksir dengan potlot aku sudah selesai menggambar kandang jang lengkap, di dalamnja seekor andjing jang dirantai dan sepotong tulang. Guru perempuan kami memperlihatkan gambarku kepada seluruh kelas. Ia mengatakan, ,,Gambar ini begitu hidup dan penuh perasaan, karena itu patut mendapat nilai jang setinggi mungkin.” Tapi apakah aku memperoleh angka jang paling tinggi itu? Tidak. Selalu orang kulit putih lebih pandai. Lebih tjerdas. Orang kulit putih lebih banjak tahu. Alat kolonial tidak akan berhasil, ketjuali djika ia memupuk keunggulan kulit putih terhadap sawo matang. Guru-guru sangat sajang kepadaku. Aku anak jang patuh, sungguh-sungguh dan hormat. Hanja sesekali aku bertindak di luar garis. Aku tidak pernah betul-betul kurang-adjar, akan tetapi pada suatu kali setelah pidatoku jang pertama aku berdjalan melalui ruangan ketika professor Egberts melihatku dan meneriakkan, ,,Hai, Sukarno, bagaimana dengan kau punja ‘Jong Java’?” dan aku mengedjek, Ja, Professor, bagaimana pula dengan tuan punja ‘Oud Holland’?” Aku mendjadi favorit dari guru bahasa Djerman jang djuga memimpin Kelompok Perdebatan kami. Dalam memperdebatkan persoalan ke hilir-ke mudik dan mengadjukan pendapat-pendapat jang berlawanan, aku memperbaiki ketjakapan berbitjara. Professor Hartagh melihat, bahwa aku dapat memimpin kawan-kawanku.

Pada suatu pertemuan Hartagh menjampaikan kepada ke-20 orang murid setjara bersama-sama dan kepadaku setjara pribadi, bahwa aku akan mendjadi pemimpin jang besar kelak. Professor mungkin punja bola-kristal’ untul meramal. Iapun pernah mentjeritakan kepada orang lain, bahwa dia akan mendjadi guru dan memang itu dia djadinja. Seorang guru perempuan betul-betul sangat sajang kepadaku, sehingga ia memberiku nama Belanda. Aku, tjalon pemimpin dari suatu revolusi di masa jang akan datang, dengan nama Belanda? Dia menamaiku Kerel. Dia bahkan memanggilku ,,Schat”, perkataan Belanda untuk kesajangan. Kalau dia kelupaan kuntji atau sesuatu barang, dia lalu menundjukku dan berkata dengan manis, ,,Schat, maukah engkau pergi ke kamarku dan mengambil kuntji?” Ach, ini adalah hak istimewa jang sangat besar. Pada suatu hari dia mengadjakku ke rumahnja untuk menerima peladjaran tambahan bahasa Perantjis. Aku gemetar karena anugerah jang istimewa itu. Pada waktu umurku semakin mendekati kedewasaan aku masih gemetar dengan anugerah istimewa sematjam ini. Akan tetapi karena alasan lain. Aku sangat tertarik kepada anak-anak gadis Belanda. Aku ingin sekali mengadakan hubungan pertjintaan dengan mereka. Hanja inilah satu-satunja djalan jang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap beagsa kulit putih dan membikin mereka tunduk pada kemauanku. Bukankah ini selalu mendjadi idaman? Apakah seorang djantan berkulit sawo matang dapat menaklukkan seorang laki-laki kulit putih? Ini adalah suatu tudjuan jang hendak diperdjoangkan. Menguasai seorang gadig kulit-putih dan membikinnja supaja menginginiku adalah suatu kebanggaan. Seorang pemuda tampan senantiasa mempunjai kawan gadis-gadis jang tetap. Aku punja banjak. Mereka bahkan memudja gigiku jang tidak rata. Dan aku-mengakui bahwa aku sengadja mengedjar gadis gadis kulit-putih. Tjintaku jang pertama adalah PauIine Gobee, anak salah seorang guruku. Dia memang tjantik dan aku tergila-gila kepadanja. Kemudian menjusul Laura. Oo, betapa aku memudjanja. Dan ada lagi keluarga Raat. Mereka ini keluarga Indo dan mempunjai beberapa orang puteri aju. H.B.S. letaknja di arah jang berlawanan dengan rumah keluarga Raat, tapi sekalipun demikian setiap hari selama berbulan-bulan aku mengambil djalan keliling, hanja untuk lewat di muka rumahnja dan untuk menangkap selintas pandangannja. Dekat itu terdapat Depot Tiga, warung tempat minum. Aku kadang-kadang diadjak oleh salah seorang kawan ke sana dan di sanalah kami dapat duduk dengan gembira dan memandangi gadis-gadis Belanda lalu. Kemudian bagai suatu tjahaja jang bersinar dalam gelap, muntjullah Mien Hessels dalam kehidupanku. Hilanglah Laura, lenjaplah keluarga Raat dari ingatan dan lenjap pulalah kegembiraan Depot

Tiga. Sekarang aku punja Mien Hessels. Dia sama-sekali milikku dan aku sangat tergila-gila kepada kembang tulip berambut kuning dan pipinja jang merah mawar itu. Aku rela mati untuknja kalau dia menghendakinja.

Umurku baru 18 tahun dan tidak ada jang lebih kuinginkan dari kehidupanku ini selain daripada memiliki djiwa dan raga Mien Hessels. Aku mengharapnja dengan perasaan berahi dan sampailah aku pada suatu kesungguhan hati, aku harus mengawininja. Tak satupun jang dapat memadamkan api jang sedang menggolak dalam diriku. Ia adalah bagai kembang-gula di atas kue jang takkan dapat kubeli. Kulitnja lembut bagai kapas, rambutnja ikal dan pribadinja memenuhi segala-galanja jang kuidamkan. Untuk dapat merangkulkan tanganku memeluk Mien Hessels nilainja lebih dari segala harta bagiku. Achirnja aku memberanikan diri untuk berbitjara kepada bapaknja. Aku mengenakan pakaian jang terbaik, dan memakai

sepatu. Sambil duduk di kamarku jang gelap aku melatih kata-kata jang akan kuutjapkan di hadapannja. Akan tetapi pada waktu aku mendekati rumah jang bagus itu aku menggigil oleh perasaan takut. Aku tak pernah sebelumnja bertamu ke rumah seperti ini. Pekarangannja menghidjau seperti beludru. Kembang-kembang berseri tegak baris demi baris, lurus dan tinggi bagai pradjurit. Aku tidak punja topi untuk dipegang, karena itu sebagai gantinja aku memegang hatiku. Dan di sanaIah aku berdiri, gemetar, di hadapan bapak dari puteri gadingku, seorang jang tinggi seperti menara jang memandang ke bawah langsung kepadaku seperti aku ini dipandang sebagai kutu di atas tanah. ,,Tuan,” kataku. ,,Kalau tuan tidak berkeberatan, saja ingin minta anak tuan.” ,,Kamu? Inlander kotor, seperti kamu? sembur tuan Hessels, ,,Kenapa kamu berani-beranian mendekati anakku? Keluar, kamu binatang kotor. Keluar!” Dapatkah orang membajangkan betapa aku merasa seperti didera dengan tjambuk? Dapatkah kiranja orang pertjaja, bahwa noda jang ditjorengkan di mukaku ini pada satu saat akan pupus sama-sekali? Sakitnja adalah sedemikian, sehingga di saat itu aku berpikir, ,,Ja Tuhan, aku tak akan dapat melupakan ini.” Dan djauh dalam lubuk hatiku aku merasa pasti, bahwa aku tidak akan dapat melupakan dewiku jang berparas bidadari itu, Mien Hessels.

23 tahun kemudian, jaitu tahun 1942. Djaman perang. Aku sedang melihat-lihat etalase pada salah satu toko pakaian laki-laki disuatu djalanan Djakarta, ketika aku mendengar suara di belakangku, ,,Sukarno?” Aku berpaling memandangi seorang wanita asing, ,,Ja, saja Sukarno.” Dia tertawa terkikik-kikik, ,,Dapat kau menerka siapa saja ini?” Kuperhatikan dia dengan saksama. Dia seorang njonja tua dan gemuk. Djelek, badannja tidak terpelihara. Dan aku mendjawab, ,,Tidak, njonja. Saja tidak dapat menerka. Siapakah Njonja?” ,,Mien Hessels,” dia terkikik lagi. Huhhhh! Mien Hessels! Puteriku jang tjantik seperti bidadari sudah berobah mendjadi perempuan seperti tukang sihir. Tak pernah aku melihat perempuan jang buruk dan kotor seperti ini. Mengapa dia membiarkan dirinja sampai begitu. Dengan tjepat aku memberi salam kepadanja, lalu meneruskan perdjalananku. Aku bersjukur dan memudji kepada Tuhan Jang Maha-Penjajang karena telah melindungiku. Tjatji-maki jang telah dilontarkan bapaknja kepadaku sesungguhnja adalah suatu rahmat jang tersembunji. Kalau dipikir-pikir, tentu aku takkan bisa lepas dari perempuan ini. Aku bersjukur kepada Tuhan atas perlindungan jang telah diberikanNja. Huhhh, orang apa itu! Djalan hidupku sebagai seorang pentjinta di masa belia berachir ketika Bu Tjokroaminoto meninggal. Keluarga Pak Tjokro dengan anak-anak jang bajar-makan pindah kerumah lain. Dan pemimpin jang kumuliakan itu keadaannja begitu tertekan, sehingga aku merasa kasihan melihatnja. Anaknja masih ketjil-ketjil, dia seorang diri dan rumah itu asing suasananja. Seluruh keluarga nampaknja tidak berbahagia samasekali. Aku tidak dapat memandangi keadaan jang demikian itu. Kami belum lama menempati rumah jang baru itu ketika saudara Pak Tjok datang menemuiku dan berkata, ,,Sukarno, kaulihat bagaimana sedihnja hati Tjokroaminoto. Apakah tidak dapat kau berbuat sesuatu supaja hatinja gembira sedikit?” Hatiku sangat berat dan mendjawab, ,,Saja dengan segala senang hati mau mengerdjakan sesuatu, supaja dia dapat tersenjum lagi. Tapi apa jang dapat saja

lakukan? Saja tidak bisa mendjadi isteri Pak Tjokro.” ,,Bukan begitu, tapi engkau dapat menggembirakan hatinja dengan tjara lain.”

,,Tjara lain? ” Ja? ,,Bagaimana?” ,,Djadi menantunja. Puterinja Utari sekarang tidak punja ibu lagi. Tjokro sangat kuatir terhadap hari depan anaknja itu dan siapa jang akan mendjaganja dan mengasihinja. Inilah jang memberatkan pikirannja. Saja kira, kalau engkau minta kawin dengan anak saudaraku itu, mungkin ini akan mengurangi sedikit tekanan perasaan dari Pak Tjokro.”

,,Tapi umurnja baru 16,” kataku memprotes. ,,Ja memang, dan engkau belum 21. Perbedaan umur tidak begitu djauh. Katakanlah pada saja, Sukarno, apakah ada perhatianmu sedikit terhadap anak kakakku?” ,,Jah,” aku menerangkan pelahan-lahan. ,,Saja sangat berterima kasih kepada Pak Tjokro……. Saja mentjintai Utari Tapi tidak terlalu sangat. Sungguhpun begitu, sekiranja saja perlu memintanja untuk meringankan beban dari djundjunganku, jah, saja bersedia. “Aku mendatangi Pak Tjokro dan mengadjukan lamaranku. Dia sangat gembira dan oleh karena akan mendjadi menantu aku segera dipindahkan ke kamar jang lebih besar dengan perabot jang lebih banjak. Sampai di hari ia menutup mata, ia tak pernah mengetahui, bahwa aku mengusulkan perkawinan ini hanja karena aku sangat menghormatinja dan menaruh kasihan kepadanja. Kami kawin dengan tjara jang kita namakan ,,kawin gantung” Ini adalah perkawinan biasa jang dibenarkan dalam hukum dan agama. Orang Indonesia mendjalankan tjara ini karena beberapa alasan. Kadang-kadang dilangsungkan kawin gantung terlebih dulu, karena kedua-duanja belum mentjapai umur untuk dapat menunaikan kewadjiban mereka setjara djasmaniah. Atau adakalanja si anak dara tinggal di rumah orangtuanja sampai pengantin laki-laki sanggup membelandjai rumah-tangga sendiri. Dalam hal kami, aku dapat tidur dengan isteriku kalau aku menghendakinja. Akan tetapi aku tidak melakukannja karena dia masih kanak-kanak. Boleh djadi aku seorang jang pentjinta, akan tetapi aku bukanlah seorang pembunuh anak gadis remadja. Itulah sebabnja, mengapa kami melakukan kawin gantung. Pesta kawinnjapun digantung. Di saat-saat aku mengawini Utari terdjadi dua buah peristiwa, lain tidak karena pendirian jang kolot. Penghulu setjara serampangan menolak untuk menikahkan kami karena aku memakai dasi. Dia berkata, ,,Anak muda, dasi adalah pakaian orang-jang beragama Kristen. Dan tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama Islam.” ,,Tuan Kadi” aku membalas, ,,Saja menjadari, bahwa – dulunja mempelai hanja memakai pakaian Bumiputera, jaitu sarung. Tapi ini adalah tjara lama. Aturannja sekarang sudah diperbarui.” ,,Ja,” katanja membentak, ,,Akan tetapi pembaruan itu hanja untuk memakai pantalon dan djas buka.” ,,Adalah kegemaran saja untuk berpakaian rapi dan memakai dasi,” aku menerangkan dengan tadjam. ,,Dalam hal ini, kalau masih terus berkeras kepala untuk berpakaian rapi itu, saja menolak untuk melakukan pernikahan.”

Apabila aku ditegur dengan keras dimuka umum, atau disuruh harus begini-begitu atau lain-lain, aku mendjadi keras. Dalam hal ini biarpun Nabi sendiri sekalipun, takkan sanggup menjuruhku untuk menanggalkan dasi. Aku menjentak bangkit dari korsiku dan mendjawab dengar tandas, Barangkali lebih baik tidak kita landjutkan hal ini sekarang.” Timbul protes keras dari imam mesdjid, akan tetapi aku menggeledek, ,,Persetan, tuan-tuan semua. Saja pemberontak dan saja akan selalu memberontak, saja tidak mau didikte orang di hari perkawinan saja.” Kalau sekiranja tidak di hadapan salah seorang tamu kami jang djuga seorang alim dan sanggup menikahkan kami, mungkinlah Sukarno tidak akan bersatu dengan Utari Tjokroaminoto dalam pernikahan menurut agama.

Ketika lima menit lagi aku akan menghabisi masa djedjakaku, terdjadilah peristiwa aneh jang kedua. Tepat sebelum aku mengindjak ambang-pintu aku mengambil rokok untuk melakukan hembusan jang terachir. Aku mengeluarkan korek-api dari kantong, menggoreskan sebuah di sisi kotaknja untuk menjelakannja dan……. Sisst…….seluruh kotak itu menjala oleh djilatan api. Anak korek-api jang ada dalam kotak itu menjala semua sampai jang terachir. Karena djilatan api ini djariku terbakar. Kuanggap kedjadian ini sebagai pertanda-buruk dan memberikan kepadaku suatu perasaan ramalan jang gelap. Aku tidak mentjeritakan hal ini kepada siapapun, akan tetapi aku tidak dapat menghindarkan diri dari perasaan jang menakutkan …….. Ehhh…..

Apa maksudnja ini? Sekalipun kedudukanku sebagai orang jang baru kawin, waktuku di malam hari kupergunakan untuk mempeladjari Pak Tjokro. Aku mendjadi buntut dari Tjokroaminoto. Kemana dia pergi aku turut. Sukarnolah jang selalu menemaninja ke pertemuan-pertemuan untuk berpidato, tak pernah anaknja. Dan aku hanja duduk dan memperhatikannja. Dia mempunjai pengaruh jang besar terhadap rakjat Sekalipun demikian, setelah berkali-kali aku mengikutinja aku menjadari, bahwa dia tak pernah meninggikan atau merendahkan suaranja dalam berpidato. Tak pernah membuat lelutjon. Pidato-pidatonja tidak bergaram. Aku tidak pernah membatja salah-satu buku jang murah tentang bagaimana tjara mendjadi pembitjara di muka umum. Pun tidak pernah berlatih di muka katja. Bukanlah karena aku sudah tjukup berhasil, akan tetapi karena aku tidak mempunjai apa-apa.

Tjerminku adalah Tjokroaminoto. Aku memperhatikannja mendjatuhkan suaranja. Aku melihat gerak tangannja dan kupergunakan penglihatanku ini pada pidatoku sendiri. Mula-mula sekali aku beladjar menarik perhatian pendengarku. Aku tidak hanja menarik, bahkan kupegang perhatian mereka Mereka terpaksa mendengarkan. Suatu getaran mengalir ke sekudjur tubuhku ketika mengetahui, bahwa aku memiliki suatu kekuatan jang dapat menggerakkan massa. Aku menguraikan pokok pembitjaraanku dengan sederhana. Pendengarku menganggap tjara ini mudah untuk dimengerti, karena aku lebih banjak mendasarkan pembitjaraanku kepada tjara bertjerita, djadi tidak semata-mata memberikan fakta dan angka. Aku berbuat menurut getaran perasaanku. Pada suatu malam Pak Tjokro tidak dapat memenuhi undangan ke suatu rapat dan kepadaku dimintanja untuk menggantikannja. Kali ini adalah suatu pertemuan ketjil, akan tetapi aku

menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknja. Aku mulai dengan suara lunak. ,,Negeri kita, saudara, adalah tanah jang subur, sehingga kalau orang menanamkan sebuah tongkat ke dalam tanah, maka tongkat itu akan tumbuh dan mendjadi sebatang pohon. Sekalipun demikian rakjat menderita kekurangan dan kemelaratan adalah beban jang harus dipikul sehari-hari. Puntjak gunung menghisap awan di langit, turun ke bumi dan negeri kita diberi rahmat dengan hudjan jang melimpah-limpah. Akan tetapi kita kekurangan makan dan perut kita mendjerit-djerit kelaparan.” ,,Ja, betul,” mereka berteriak dari tempat duduknja. Suaraku mulai naik. ,,Saudara tahu apa sebabnja, saudara-saudara? Sebabnja ialah, oleh karena orang jang mendjadjah kita tidak mau menanamkan uang kembali untuk memperkaja bumi jang mereka peras. Pendjadjah hanja mau memetik hasilnja. Ja, mereka menjuburkan bumi kita ini. Betul! Akan tetapi tahukah saudara dengan apa mereka menjuburkan bumi kita ini? Tahukah saudara apa jang dikembalikan ke bumi kita ini setelah 350 tahun mendjadjah? Saja akan tjeritakan kepada saudara-saudara. Bumi kita ini mereka suburkan dengan majat-majat jang bergelimpangan dari rakjat kita jang mati karena kelaparan, kerdja keras dan hanja tinggal tulang-belulang! ,,Maka dari itu saja bertanja, apakah saudara tidak setudju dengan saja? Seperti saja sendiri, apakah hati saudara tidak digontjang-gontjang oleh keinginan untuk merdeka? Saja pergi tidur dengan pikiran untuk merdeka. Saja bangun dengan pikiran untuk merdeka. Dan saja akan mati dengan tjita-tjita untuk merdeka di dalam dadaku.

Apakah saudara tidak setudju dengan saja?” ,,Setudjuuuuuu!” mereka berteriak, ,,Ja……..kami setudju!” Mereka melihat kepadaku kalau aku berbitjara. Mereka memandang kepadaku seperti memudja, mata-mata terbuka lebar, muka-muka terangkat ke atas, meneguk semua kata-kataku dengan penuh kepertjajaan dan harapan. Nampak djelas, bahwa aku mendjadi pembitjara jang ulung. Ia berada dalam urat-nadiku.

Aku menghirup lebih banjak lagi persoalan politik di rumah Pak Tjokro, dapur daripada nasionalisme. Dan setelah mengikuti setiap pidatoku maka kawan-kawan seperdjoangan mulai mengerti lebih banjak tentang pendirianku. Kemudian mulai setudju. Lalu mengikuti pendirianku. Dan mentjintaiku. Mereka memilihku sebagai sekretatis dari Jong Java dan beberapa waktu kemudian aku mendjadi ketua. Akupun menulis untuk madjalah Pak Tjok, ,,Oetoesan Hindia”, akan tetapi dengan nama-samaran, karena memang susah untuk memasuki sekolah Belanda sambil menulis dalam madjalah jang menbela tindakan untuk merobohkan Pemerintah Belanda. Aku kembali kepada Mahabharata untuk memperoleh nama samaranku.

Aku memilih nama ,,Bima” jang berarti ,,Pradjurit Besar” dan djuga berarti keberanian dan kepahlawanan. Aku menulis lebih dari 500 karangan. Seluruh Indonesia membitjarakannja. Ibu, jang tidak tahu tulis-batja, dan bapakku tidak pernah tahu bahwa ini adalah anak mereka jang menulisnja. Memang benar, bahwa keinginan mereka jang paling besar adalah, agar aku mendjadi pemimpin dari rakjat, akan tetapi tidak dalam usia semuda itu I Tidak dalam usia jang begitu muda, jang akan membahajakan pendidikanku di masa jang akan datang. Bapak tentu akan marah sekali dan akan berusaha dengan berbagai djalan untak mentjegahku menulis. Aku tidak akan memberanikan diri menjampaikan kepada mereka, bahwa Karno ketjil dan Bima jang gagah berani adalah satu. Ramalan emas jang pertama-kali diutjapkan oleh ibu di waktu aku lahir—jang didengungkan kembali oleh nenekku pada waktu aku masih botjah ketjil dan jang didengungkan lagi di masa mudaku oleh Professor Hartagh—kemudian diutjapkan pula ketika aku berada di ambang-pintu usiaku jang keduapuluh. Dan oleh dua orang jang berlainan.

Dr. Douwes Dekker Setiabudi adalah seorang patriot jang telah menderita selama bertahun-tahun dalam pembuangan. Ketika umurnja sudah lebih dari 50 tahun ia menjampaikan kepada partainja, jaitu Nationaal Indische Partij, ,,Tuan-tuan, saja tidak menghendaki untuk digelari seorang veteran. Sampai saja masuk ke liang-kubur saja ingin mendjadi pedjoang untuk Republik Indonesia. Saja telah berdjumpa dengan pemuda Sukarno. Umur saja semakin landjut dan bilamana datang saatnja saja akan mati, saja sampaikan kepada tuan-tuan, bahwa adalah kehendak saja supaja Sukarno jang mendjadi pengganti saja.” ,,Anak muda ini,” ia menambahkan, ,,akan mendjadi ‘Djuru-selamat’ dari rakjat Indonesia di masa jang akan datang.” Ramalan jang kedua keluar dari Pak Tjokro, seorang penganut Islam jang saleh. Dia banjak mempergunakan waktunja untuk sembahjang dan mendo’a. Setelah beberapa lama melakukan samadi, ia kembali kepada seluruh keluarganja pada suatu malam jang berhudjan dan ia berbitjara dengan kesungguhan hati? ,,Ikutilah anak ini. Dia diutus oleh Tuhan untuk mendjadi Pemimpin Besar kita. Aku bangga karena telah memberinja tempat berteduh di rumahku.” Sepuluh Djuni 1921 aku lulus. Sebelas Djuni rentjana jang telah kuperbuat untuk diriku sendiri ditolak mentah-mentah. Kawan-kawanku dan aku bermaksud akan meneruskan peladjaran ke sekolah tinggi di Negeri Belanda. Ibu tidak mau tahu sama-sekali dengan itu.

Aku bersoal dengan dia. ,,Ibu, semua anak-anak jang lulus dari H.B.S. dengan sendirinja pergi ke Negeri Belanda. Itulah djalan jang biasa. Kalau orang mau memasuki sekolah tinggi dia pergi ke Negeri Belanda.” ,,Tidak. Tidak bisa. Anakku tidak akan pergi ke Negeri Belanda,” ia memprotes. ,,Apa salahnja keluar negeri?”,,Tidak ada salahnja,” katanja. ,,Tapi banjak djeleknja untuk pergi ke negeri Belanda. Apakah jang menjebabkan kau tertarik? Pikiran untuk mentjapai gelar universitas ataukah pengharapan akan mendapat seorang perempuan kulit-putih ?” ,,Saja ingin masuk universitas, Bu.” ,,Kalau itu jang kau ingini, kau memasuki jang disini. Pertama kita harus mengingat kenjataan pokok jang mengendalikan sesuatu dalam hidup kita, Uang. Pergi keluar negeri memerlukan biaja jang sangat besar. Di samping itu, engkau adalah anak jang dilahirkan dengan darah Hindia. Aku ingin supaja engkau tinggal disini diantara bangsa kita sendiri. Djangan lupa sekali-kali, ‘nak, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah di kepulauan ini.” Dan begitulah aku mendaftarkan diri ke universitas di Bandung. Mungkin suara ibu jang kudengar. Akan tetapi sesungguhnja tangan Tuhanlah jang telah menggerakkan hatiku.

Bab 5

Bandung: Gerbang Ke Dunia Putih

 

MINGGU terachir bulan Djuni tahun 1921 aku memasuki kota Bandung, kota seperti Princeton atau kota peladjar lainnja dan kuakui bahwa aku senang djuga dengan diriku sendiri. Kesenangan itu sampai sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok. Djadi dapat dibajangkan, betapa menjenangkan masa jang kulalui untak beberapa waktu. Salah satu bagian daripada egoisme ini adalah berkat suksesku dalam pemakaian petji, kopiah beludru hitam jang mendjadi tanda pengenalku, dan mendjadikannja sebagai lambang kebangsaan kami. Pengungkapan tabir ini terdjadi dalam pertemuan Jong Java, sesaat sebelum aku meninggalkan Surabaja. Sebelumnja telah terdjadi pembitjaraan jang hangat karena apa jang menamakan dirinja kaum intelligensia, jang mendjauhkan diri dari saudara-saudaranja rakjat biasa, merasa terhina djika memakai blangkon, tutup kepala jang biasa dipakai orang jawa dengan sarung, atau petji jang biasa dipakai oleh tukang betjak dan rakjat-djelata lainnja. Mereka lebih menjukai buka tenda daripada memakai tutup kepala jang merupakan pakaian sesungguhnja dari orang Indonesia. Ini adalah tjara dari kaum terpeladjar ini mengedjek dengan halus terhadap kelas-kelas jang lebih rendah.

Orang-orang ini bodoh dan perlu beladjar, bahwa seseorang tidak akan dapat meminpin rakjat banjak djika tidak menjatukan diri dengan mereka. Sekalipun tidak seorang djuga jang melakukan ini diantara kaurn terpeladjar, aku memutuskan untuk rnempertalikan diriku dengan sengadja kepada rakjat-djelata. Dalam pertemuan selandjutnja kuatur untuk memakai petji, pikiranku agak tegang sedikit. Hatiku berkata-kata. Untuk memulai suatu gerakan jang djantan seperti ini setjara terang-terangan memang memerlukan keberanian. Sambil berlindung di belakang tukang-sate didjalanan jang sudah mulai gelap dan menunggu kawan-kawan seperdjoangan jang berlagak tinggi lewat semua dengan buka tenda dan rapi, semua berlagak seperti mereka itu orang Barat kulit putih, aku ragu-ragu untuk sedetik. Kemudian aku bersoal dengan diriku sendiri, ,,Djadi pengikutkah engkau, atau djadi pemimpinkah engkau?” —,,Aku pemimpin,” djawabku menegaskan— ,,Kalau begitu, buktikanlah,” kataku lagi pada diriku. ,,Hajo madju. Pakailah petjimu. Tarik napas jang dalam! Dan masuk SEKARANG!!!” Begitulah kulakukan. Setiap orang memandang heran padaku tanpa kata-kata. Di saat itu nampaknja lebih baik memetjah kesunjian dengan buka bitjara, ,,Djanganlah kita melupakan demi tudjuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakjat dan bukan berada di atas rakjat.” Mereka masih sadja memandang. Aku membersihkan kerongkongan. ,,Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia. Petji jang memberikan sifat chas perorangan ini, seperti jang dipakai oleh pekerdja-pekerdja dari bangsa Melaju, adalah asli kepunjaan rakjat kita. Namanja malahan berasal dari penakluk kita. Perkataan Belanda ‘pet’ berarti kupiah. ‘Je’ maksudnja ketjil. Perkataan itu sebenarnja ‘petje’. Hajolah saudara-saudara, mari kita angkat- kita punja kepala tinggi-tinggi dan memakai petji ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” Pada waktu aku melangkah gagah keluar dari kereta-api distasiun Bandung dengan petjiku jang memberikan pemandangan jang tjantik, maka petji itu sudah mendjadi lambang kebangsaan bagi para pedjoang kemerdekaan. Kalau sekarang petji itu bagiku lebih rnerupakan sebagai lambang untuk pertahanan diri. Sesungguhaja, kepalaku kian hari semakin botak. Karena orang Islam diharuskan mentjutji rarnbutnja setelah dia berhubungan dengan seorang perempuan, maka kawan-kawan menggangguku, ,,Hei Sukarno, itu barangkali jang membikin Bung botak.” Apapun alasannja, aku gembira karena telah mempunjai pandangan ke depan 44 tahun jang lalu untuk membikin petji ini begitu hebat, sehingga masjarakat sekarang menganggap tidak pantas djika membuka petji di muka umum. Pak Tjokro mempunjai seorang kawan lama di Bandung. Dan orang ini telah sering mendengar tentang pemuda jang rnendapat perlindungan dari Pak Tjokro.

Ketika aku pindah dari Djawa Timur ke daerah Djawa Barat ini, Pak Tjokro telah mengusahakan tempatiku menginap di rumah tuan Hadji Sanusi. Aku pergi lebih dulu tanpa Utari untuk mengatur tempat dan melihat-lihat kota, rumah mana jang akan mendjadi tempat tinggal kami selama empat tahun begitulah menurut. Perkiraanku di waktu itu. Aku merasa hawanja dingin dan wanitanja tjantik-tjantik. Kota Bandung dan aku dapat saling menarik dalam waktu jang singkat. Seorang laki-laki jang sudah setengah baja jang memperkenalkan dirinja sebagai Sanusi datang sendiri mendjemputku dan membawaku kerumahnja. Dengan segera aku mengetahui, bahwa perdjalanan pendahuluan ini tidaklah sia-sia. Sekalipun aku belum memeriksa kamar, tapi djelas bahwa ada keuntungan tertentu dalam rumah ini. Keuntungan jang utama sedang berdiri di pintu masuk dalam sinar setengah gelap, bentuk badannja nampak djelas dikelilingi oleh tjahaja-lampu dari belakang.

Perawakannja ketjil, sekuntum bunga merah jang tjantik melekat disanggulnja dan suatu senjuman jang menjilaukan-mata. Ia isteri Hadji Sanusi, Inggit Garnasih. Segala pertjikan api, jang dapat memantjar dari seorang anak duapuluh tahun dan masih hidjau tak berpengalaman, menjambar-njambar kepada seorang perempuan dalam umur tigapuluhan jang sudah matang dan berpengalaman. Di saat pertama aku melangkah melalui pintu masuk aku berpikir, ,,Aduh, luar-biasa perempuan ini.” Aku sadar, lebih baik aku tjepat-tjepat berhenti mengingatnja. Karena itu ingatan kepada njonja-rumah itu kubilangkan dari pikiranku —untuk sementara— kemudian menjuruh datang Utari dan memusatkan pikiran pada persoalan masuk Sekolah Teknik Tinggi mengedjar gelar Insinjur— bukan untuk merusak perkawinan orang. Di waktu sekarang kami mempunjai Universitas Indonesia di Djakarta, Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta, Universitas Airlangga di Surabaja, Universitas Lambung Mangkurat di Kalimantan dan berlusin-lusin universitas penuh-sesak menurut kemampuannja. Akan tetapi pada waktu aku memasuki Sekolah Teknik Tinggi kami hanja 11 orang anak Indonesia. Aku termasuk salah-seorang dari 11 orang jang berrnuka hitam, terapung-apung kian-kemari dalam Lautan kulit-putih berarnbut merah, berdjerawat dan bermata hidjau seperti kutjing. Seperti dugaan kami, anak-anak Belanda tidak mau tahu dengan kami di dalam campus itu. Kalaupun rnereka memberi perhatian kepada kami, itu hanja untuk membusukkan kami atau menjorakkan, ,,Hei kamu, anak inlander bodoh, mari sini.” Aku tidak tahu kekuatan apa jang ada padaku. Aku hanja tahu, bahwa sekalipun aku tidak mengutjapkan sepatah kata, kehadiranku sadja sudah tjukup

untuk menutup mulut orang-orang jang menghina, lalu menghentikan perintah-perintahnja. Kami membanting-tulang di Sekolah. Pekerdjaan rumah banjak sekali. Kuliah-kuliah jang diberikan enarn hari dalam seminggu ditambah dengan udjian tertulis setiap triwulan selama sebulan penuh, sungguh-sunggah rasanja seperti akan mematahkan tulang-punggung karena bertekun. Waktuku tidak banjak untuk Utari.

Akupun tidak banjak mempunjai persamaan dengan dia. Selagi aku beladjar ilmu pasti, ilmu alam dan mekanika, jang bernama isteriku itu berada di pekarangan belakang bermain dengan kawan-kawan perempuannja. Selagi aku mempidatoi perkumpulan pemuda diwaktu malam, baji jang telah kukawini bergelut dengan seorang anak, kemenakan njonja Inggit. Kami menempuh djalan masing-masing. Dia masih hidjau sekali. Sifat pemalunja terlalu berkelebihan, sehingga djalang berbitjara denganku, kalaupun ada. Kami tidur berdampingan di satu tempat-tidur, tapi setjara djasmaniah kami sebagai kakak beradik. Di

Bandung dia djatoh sakit. Sementara dia terbaring dengan pajah aku merawatnja. Berkali-kali aku melap tubuhnja jang panas dengan alkohol, dari udjung kepala sampai ke udjung djari-kakinja, namun tak sekalipun aku mendjamahnja. Ketika ia sudah pulih kembali antara kamipun tidak terdapat perhubungan djasmani.

Kami bahkan dengan setulus hati tidak mengidamkan satu sama lain dalam arti tjinta antara laki-laki dan dara jang sebenarnja. Maksudku, dia tidak mernbentjiku dan aku tidak membentjinja, akan tetapi ini bukanlah perkawinan jang lahir dari perasaan berahi jang menjala-njala. Tidak banjak kesempatan untuk menggunakan waktu bagi kesenangan diri, oleh karena seluruh djiwa dan ragaku segera penuh dengan berbagai kesukaran. Setelah tinggal di Bandung selama dua bulan, surat-kabar memuat berita-berita besar tentang kegiatan revolusioner jang terachir, aksi-pemogokan di Garut. Kedjadian ini dianggap sebagai persoalan afdeling, jaitu persoalan daerah. Pemerintah Kolonial sudah dibikin susah oleh pertumbuhan Nasionalisme jang pesat. Njamuk tjelaka jang baru mendengung-dengung di tahun 1908 dengan sembojan-sembojan politik tanpa kekerasan, sekarang telah mendjadi besar dan mengandung ratjun ketidak-puasan dengan gigitannja jang mematikan. Para pekerdja sudah diorganisir; rnereka menuntut hak; menuntut undang-undang perburuhan jang mendjamin djam-kerdja jang lebih pendek daripada 18 djam; menuntut upah jang pantas dan menuntut suatu masjarakat jang bekerdja tanpa ,,Exploitation de l’homme par l’homme”. Di Indonesia telah bertunas organisasi para pekerdja seperti Persatuan Buruh Gula dan Serikat Pekerdja Rumah Gadai.

Dalam djaman di mana orang Barat telah mengenal pemogokan sebagai hak dari serikat-serikat buruh untuk mentjoba memperbaiki nasibnja jang menjedihkan, maka pemerintah Hindia Belanda dalam usahanja untuk mematikan ,,sifat-radikal” dan ,,Komunisme”, sebagaimana mereka menamakannja, mengeluarkan undang-undang baru, Artikel 161. Jaitu larangan terhadap pemogokan. Hukum pidana bahkan sekarang menetapkan, bahwa barangsiapa jang menghasut seseorang untuk melakukan pemogokan diantjam dengan hukurnan enam tahun pendjara. Ini sangat menusuk hatiku pribadi, karena para pembesar berkejakinan bahwa pemogokan di Garut dipupuk oleh Sarekat Islam. Di hari itu djuga mereka menahan Tjokroaminoto. Keluarga Pak Tjokro sedang berada dalam kekurangan. Penderitaan mereka adalah penderitaanku djuga. Apa akal…… Apa akal….. Apakah aku akan madju terus dan memikirkan diri sendiri serta apa jang kuharapkan dapat tertjapai di hari esok? Ataukah aku akan mundur ke belakang dan memikirkan Pak Tjokro dan apa jang telah dikerdjakannja untukku di hari kemarin? Di hadapanku terentang djalan-raja berlapiskan emas jang menudju kepada idjazah sekolah tinggi. Di belakangku terhampar djalanan kembali menudju kamar jang gelap dan kehidupan jang suram. Soalnja adalah mana jang lebihpenting mana jang lebih mudah dapat dikorbankan oleh seorang anak Bumiputera? Gerbang menudju dunia putihkah? Atau mengorbankan kesetiaan kepada prinsipnjakah? Bagiku tidak ada kesangsiandjiwa. ,,Saja akan meninggalkan Bandung besok menudju Surabaja,” dengan tegas kusampaikan kepada njonja Inggit di dapur esok paginja. ,,Untuk berapa lama?” tanjanja. ,,Saja tidak tahu. Barangkali untuk selama-lamanja. Ini tergantung kepada lamanja hukuman Pak Tjokro. Apakah enam bulan atau dua puluh tahun, selama itu pula saja harus berbuat apa jang harus saja perbuat.” Ia menjediakan kopi tubruk, kopi hitam pekat jang tak dapat kutinggalkan, dan tangannja gemetar sedikit. ,,Dengan meninggalkan sekolah ada kemungkinan engkau melepaskan segala harapan untuk mentjapai tjita-tjitamu,” hanja itu utjapannja ,,Saja menjadari hal itu.

Saja djuga menjadari, bahwa Pak Tjokro mertuaku. Saja anak tertua dari keluarganja. Tapi soalnja bukan itu sadja, lebih lagi dari itu. Saja harus berbakti pada orang jang kupudja itu dan kepada prinsipku.” ,,Tapi isterinja jang baru tidak menulis surat kepadamu untuk minta bantuan,” ia mengemukakan. ,,Anaknja djuga tidak memberi kabar apa-apa tentang kesukaran mereka. Malahan tak seorangpun meminta engkau datang.

,,Saja harus pergi. Kurasakan dalam dadaku, bahwa itu mendjadi tugas saja ….Tidak ! Saja rasakan ini sebagai hak-istimewaku untuk bisa menjelamatkan mertjusuar ini jang telah menundjukkan djalan

kepadaku.” Aku memperhatikan bubuk kopi turun hingga ia mengendap ke dasar tjangkir. ,,Saja mendapat kabar, bahwa penahanan terhadap Pak Tjokro dua hari jang lalu itu tidak diduga samasekali. Belanda mendadak menggedor rumahnja ditengah malam buta dan menggiringnja dengan udjung bajonet kedalam tahanan. Dia tidak mendapat kesempatan untuk mengatur keluarga jang ditjintainja.

Dan tak seorangpun jang akan mengawasi mereka. ,,Djadi nampaknja djelas bagimu, bahwa dari semua pengikutnja jang djumlahnja-djutaan orang itu hanja engkau jang akan memikul kewadjiban itu diatas pundakmu?” ,,Ja, itu kewadjiban saja. Dia mengulurkan tangannja pada waktu saja memerlukan rumah dan tempat berteduh. Sekarang saja harus berbuat begitu pula kepadanja Mengedjar kehidupan sendiri, sementara orang jang sudah diakui keluarga berada dalam kesusahan bukanlah tjara orang Indonesia.”

,,Maksudmu,” katanja lunak, ,,Bahwa itu bukanlah tjara Soekarno.” Di pagi itu djuga aku rnelaporkan keberhentianku mengikuti kuliah. Presiden dari Sekolah Teknik Tinggi, Professor Klopper, rupanja kuatir terhadap tindakanku ini. ,,Sudah mendjadi kebiasaanmu, bahwa seluruh keluarga memberikan korban mereka untuk meneruskan pendidikan dari salah-seorang anggotanja jang berbakat, bukan?” ia menanjaku dengan ramah. ,,Ja, tuan. Saja kira, bahkan kelaparanpun tak dapat mentjegah keluarga saja mengadakan biaja jang perlu bagi pendidikan anaknja. Sebagai mantri-guru bapak membanting tulang seperti pekerdja lainnja. Ibu duduk berdjam-djam lamanja melukis kain batik sampai tengah malam hingga pelita dan pemandangan matanja mendjadi samar. Supaja dapat mengumpulkan dengan susah-pajah uang 300 rupiah untuk uang-kuliah setahun, orangtua saja baru-baru ini menambah orang bajar-makan. Kakak saja dan suaminja djuga membantu setiap bulan.” ,,Kalau di belakang hari,” Professor Klopper melandjutkan, ,,Engkau hanja ditempatkan sebagai pekerdja di lapangan, bagaimana engkau membajar kembali kepada orang-orang jang menjokongmu selama beladjar?” ,,Itu bukanlah kebiasaan kami,” aku menerangkam ,,Mereka akan marah kalau saja mentjoba jang demikian. Tjara kami sebaliknja. Kami harus selalu bersedia membantu orang jang pernah menolong kita di waktu ia memerlukannja. Itulah jang dinamakan gotong-rojong. Saling membantu. Dan karena itulah saja harus pulang.” Di hari berikutnja aku mengumpulkan isteriku, mengumpulkan segala harapan dan idamanku dan membawa semua ia pulang ke Surabaja. Supaja dapat membantu rumah-tangga aku bekerdja sebagai klerk di stasiun kereta-api. Kedudukanku adalah sebagai ,,Raden Sukarno,’- BKL. Der Eerste Klasse. Eerste Categorie.”

Sebagai seorang klerk kantor kelas satu golongan satu aku menelan uap dan asap selama tudjuh djam dalam sehari, karena kantorku jang tidak dimasuki hawa bersih berhadapan dengan rel dari pelataran stasiun jang menjedihkan. Tugas beratku jang utama adalah membuat daftar gadji untuk para pekerdja. Oleh karena bekerdja sehari penah, aku tidak punja kesempatan mengulangi peladjaran. Akan tetapi ada baiknja, karena tempat jang luar-biasa ramainja ini mendjadi tempat keluar-masuk kereta-api jang datang dari kota-kota lain seperti Madiun, Djogja, Malang, Bandung dan aku dapat berhubungan dengan massa pekerdja. Tak pernah aku menjia-njiakan kesempatan untuk menaburkan bibit Nasionalisme. Aku menerima 165 rupiah sebulan. 125 kuserahkan kepada keluarga Pak Tjokro. Di waktu mereka patah semangat dan bersusah hati, kubawa mereka menonton film dengan apa jang masih tersisa dari uangku jang 40 rupiah itu. Atau kubelikan barang barang ketjil seperti kartu-pos bergambar. Hanja ini jang dapat kuadakan, akan tetapi besar artinja bagi mereka. Kuberikan pakaianku untuk dipakai. Aku mendjaga disiplin mereka dengan pukulan sandal pada belakangnja. Aku mendjalankan segala tugas orangtua, sampai kepada menjunatkan Anwar. Aku sendiri mentjari obat, mentjari orang alim dan menjelenggarakan selamatannja. Bertahun-tahun kemudian, setelah Anwar mendjadi seorang tokoh politik, aku mengganggunja, ,,Nah, djangan kaulupakan, akulah jang menjunatkanmu.” Pada waktu Pak Tjokro didjatuhi hukuman karena persoalan politik, Belanda melarang anak-anaknja untuk melandjutkan sekolah. Djadi, Sukarnolah jang mengadjar mereka. Akupun mengadjar mereka menggambar. Untuk membeli kertas atau batu-tulis tidak ada uang, akan tetapi dinding rumah di Djalan Plambetan dipulas dengan kapur putih. Bukankah dinding putih baik untuk digambari? Maka kugambarkan dari luar kepala gambar persamaan, dan karikatur dari bintang film kesajanganku, Frances Ford. Terlepas dari persoalan apakah kami mendjadi tokoh- tokoh politik di masa-masa jang akan datang atau tidak, maka pada waktu itu sesungguhnjalah kami merupakan suatu rumahtangga jang terdiri dari anak-anak jang ketakutan dan lapar dalam arti jang murni. Dan Aku? Aku adalah jang paling besar, hanja itu. Pak Tjokro dibebaskan pada bulan April 1922, setelah tudjuh bulan meringkuk dalam tahanan. Bulan Djuli, pada waktu mulai tahun peladjaran baru setjara resmi, aku kembali ke Sekolah Teknik Tinggi dan kembali kepada njonja Inggit. Utari dan aku tidak dapat lebih lama menempati satu tempat-tidur, bahkan satu kamarpun tidak. Djurang antara kami berdua semakin lebar. Sebagai seorang jang baru kawin kasih sajangku kepadanja hanja sebagai kakak. Sebagai kepala rumahtangga dari Pak Tjokro perananku sebagai seorang bapak. Jang tidak dapat dibajangkan sekarang adalah peraaanku sebagai seorang suami. Aku telah memperhatikan, kalau engkau membelah dada seseorang termasuk aku sendiri maka akan terbatja dalam dadanja itu bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tertjapai apabila si isteri merupakan perpaduan dari pada seorang ibu, kekasih dan seorang kawan. Aku ingin di bui oleh teman hidupku. Kalau aku pilek, aku ingin dipidjitnja. Kalau aku lapar, aku ingin memakan makanan jang dimasaknja sendiri. Manakala badjuku kojak, aku ingin isteriku menarnbalnja. Dengan Utari keadaannja terbalik. Aku jang mendjadi orang tuanja, dia sebagai anak. Ia bukan idamanku, oleh karena tidak ada tarikan lahir dan dalam kenjataan kami tak pernah saling mentjintai. Sebagai teman seperdjuangan, orang jang demikian tidak sanggup menemaniku pada waktu tenagaku terpusat pada penjelamatan dunia ini, sedang dia sementara itu main bola-tangkap. Sudah mendjadi suatu kebiasaanku untuk menoleh kepada seorang wanita supaja hatiku dapat terhibur. Kalau harus diadakan pilihan antara wanita jang memiliki tangan jang tjantik dengan seorang jang memiliki hati jang lembut, maka aku seringkali tertarik pada jang terachir ini. Aku tidak lebih mengutarnakan hubungan lelaki-perempuan, akan tetapi aku memerlukan hati jang lembut dan dorongan jang besar dan mulia jang hanja dapat diberikan oleh hati seorang wanita. Inggit dan aku berada bersama-sama setiap malam. Aku adalah orang jang selalu bangun dan membatja. Inggitpun lambat pergi tidur karena harus menjiapkan makan untuk

hari berikutnja. Dia selalu ada di sekelilingku. Dia adalah njonja rumah. Aku orang bajar-makan. Kami berteduh dibawah atap jang sama. Aku melihatnja di pagi hari sebelum ia menggulung sanggulnja. Dia melihatku dalam pakaian pijama. Aku senantiasa makan bersama-sama dengan dia. Memakan makanan jang dimasaknja sendiri. Sajuran seperti lodeh, jaitu sajuran jang dimasak dengan santan pakai tjabe jang kusenangi atau ontjom jang djuga kusukai ataupun makanan lain jang chusus dibuatnja untuk menjenangkan

hatiku. Dia itulah bukan isteriku jang membereskan karnarku, melajaniku, memperhatikan pakaianku dan mendengarkan buah-pikiranku. Dialah orang jang bertindak sebagai ibu kepadaku, bukan Utari.

Tuan Sanusi orang jang sudah berumur dan sama-sekali tidak peduli terhadap isterinja. Seorang pendjudi dengan kegemarannja jang luar-biasa main biljar. Setiap malam ia berada di rumah bola untuk mentjobakan ketjakapannja. Pada praktekola mereka bertjerai di satu rumah. Rumah-tangga mereka tidak berbahagia.

Sebagai suami-isteri, mereka serumah, lain tidak. Lalu masuklah ke dalam lingkungan ini seorang muda jang bernafsu dan berapi-api. Ia sangat tertarik kepadanja. Ia melihat dalam diri perempuan itu seorang wanita jang sadar, bukan kanak-kanak, seperti jang satunja jang masih main kutjing-kutjingan diluar. Keberanian ini mulai bangkit. Aku seorang jang sangat kuat dalam arti djasmaniah dan dihari-hari itu belum ada televisi……hanja Inggit dan aku di rumah jang kosong. Dia kesepian. Aku kesepian. Perkawinannja tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan adalah wadjar, bahwa hal-hal jang demikian itu tumbuh. Inggit dan aku banjak mengalami saat-saat jang menjenangkan bersama-sama. Kami keduanja mempunjai perhatian jang sama. Dan barangkali djuga….. jah, kami keduanja bahkan sama mentjintai Sukarno.

Di samping hakekatnja sebagai seorang perempuan, diapun memudja Sukarno setjara menghambakan diri sama-sekali dan membabi-buta baik atau buruk, benar atau salah. Tidak lain dalam hidupnja ketjuali Sukarno serta segala apa jang mendjadi pikiran, harapan dan idaman Sukarno. Aku berbitjara dia mendengarkan. Aku berbitjara dengan sangat gembira; dia menghargai. Utari menjadari apa jang terdjadi, akan tetapi ia mengetahui, bahwa persatuan kami tidak akan membawa kebahagiaan. Karena ia tidak pernah mengenalku dalam arti suami-isteri jang sebenarnja, maka tidak timbul iri hati dari pihaknja. Hadji Sanusipun mengetahui apa jang sedang berkembang, akan tetapi perkawinannja sudah sedjak lama rusak. Aku tidak merasa bahwa aku merebutnja dari sang suami ataupun merusak suatu rumah-tangga jang berbahagia, sebagaimana jang dikatakan oleh madjalah-madjalah luar negeri. Tidak ada sesuatu jang akan dirusakkan. Bahkan Sanusi sendiripun tidak ada usaha untuk merebut hati isterinja lagi. Tanpa mendramakannja dengan teliti, kukira tentu ada bersembunji perasaan-perasaan bersalah. Aku tidak ingat betul, apakah aku mengalaminja sedemikian banjak ketika itu ataukah aku rnengeluarkannja sekarang sebagai usaha untuk menerangkan tindakan-tindakan itu. Akupun tidak tahu, bagaimana perasaan rakjatku mengenai Presidennja jang membitjarakan ini sarnpai sedemikian djauh. Aku tidak menghendaki mereka mendjadi malu. Anggaplah, karena peristiwa pertjintaan sedang tumbuh di waktu itu aku mentjoba menganalisa kedjahatannja. Dan aku tidak pernah berhenti menganalisanja. Kumaksud bukan affair Inggit sadja. Jang kumaksud adalah seluruh kehidupanku. Seakan aku menganalisa setjara abadi kekuatan-kekuatan jang ada dalam diriku. Dan kekuatan-kekuatan jang ada di sekelilingku. Otakku dan djiwaku selalu bernjala-njala dengan perdjuangan jang tak habis-habis antara jang baik dan jang djahat. Setelah enam bulan berada di Bandung aku sendiri rnembawa Utari pulang ke rumah bapaknja. ,,Pak,” kataku. ,,Saja mengembalikan Utari kepada bapak.” ,,Keputusan siapa ini?” tanja Pak Tjokro. ,,Saja, Pak. Sajalah jang ingin bertjerai. “Kemudian ia hanja bertanja, ,,Apakah dia menerima keputusanmu?” Aku mendjawab, ,,Ja. Dia sudah tentu susah karena, walaupun bagaimana, anak-anak gadis kita menganggap pertjeraian itu suatu kernunduran. Dia barangkali merasa sedikit bingung, sebab selama dua tahun kami kawin aku tak pernah menjentuhnja. Sebenarnja dia tidak ingin bertjerai, akan tetapi diapun menjadari bahwa djalan inilah jang paling baik bagi kami berdua.” Pak Tjokro mengangguk diam. ,,Pak, saja menunggu sampai bapak keluar dari tahanan untuk menjampaikan hal ini. Perkawinan kami sudah tidak baik dari permulaannja dan tidak akan baik untuk seterusnja. Tanpa pertjeraian tidak dapat dibina perkawinan jang berbahagia.” Pak Tjok menghargai apa jang kukatakan. Ia tidak menanjakan persoalan-persoalan pribadi. Dan setelah kedjadian ini Pak Tjokro sekeluarga dan aku selalu dalam hubungan jang baik. Hubungan kami tetap seperti sebelumnja. Apa jang kuutjapkan setjara resmi hanjalah, ,,Saja djatuhkan talak satu kepadarnu,” dan perkawinan kami berachir.

Djadi, tjara kami bertjerai ringkas sadja. Tidak melalui banjak prosedur. Dalarn agama Islam terdapat tiga tingkatan pertjeraian. Talak satu masih membuka djalan untuk rudjuk kembali dalarn tempo 100 hari. Talak dua, tingkat jang lebih kuat dari jang pertama, mengulangi maksud untuk bebas dari isterirnu, akan tetapi masih mernbuka kesempatan sedikit sekiranja masih ingin bergaul dengan dia.

Tingkat terachir adalah untuk menjatakan, ,,Saja tjeraikan engkau.” Setelah talak tiga ini djatuh, hubungan perkawinan sudah diputuskan dengan resmi dan si suami tidak dapat mengawini kembali isterinja itu, ketjuali djika susteri kawin dulu sementara dengan laki-laki lainja. Hukurn Islam tidak mengizinkan perempuan mentjeraikan lakinja. Pun tidak dapat menolak untuk ditjeraikan. Tentu sadja kalau suaminja sangat kedjam dan ia mengadu kepada Kadi, ,,Suami saja memukul saja,” atau kalau dia bersumpah, ,,Dia tidak pernah datang kepada saja dan menurut kenjataan dia tidak pernah mempergauli saja selama berbulan-bulan,” dan memohon kepada Kadi supaja mengizinkannja bertjerai atas alasan jang tertentu itu, maka Kadi itu dapat mentjeraikannja. Hakim agama ini mempunjai kekuasaan untuk memberi izin guna meringankan keadaan ini menurut Nabi Muhammad s.a.w. Hukum-Hukum Islam diadakan dipadang-pasir. Dan di mana di padang-pasir orang bisa mentjari ahli hukum atau Surat Pertjeraian? Itulah sebabnja mengapa kami tidak mempunjai aturan seperti di Barat. Djadi, di tahun 1922, aku hanja menjerahkan pengantinku jang masih kanak-kanak itu kepada bapaknja, dan itulah seluruhnja.

Aku kembali ke Bandung dan kepada tjintaku jang sesungguhnja. Suatu malam, setelah kami bersama-sama selama satu tahun, aku mengusulkan. Ini adalah usul jang sangat sederhana. Kami hanja berdua seperti biasa dan aku berkata pelahan, ,,Aku mentjintaimu.” Dia. ,,Akupun begitu,” keluar tjepat dari mulutnja. Aku ingin mengawinimu” kubisikkan. ,,Akupun ingin mendjadi isterimu,” dia membalas berbisik. ,,Apakah menurut pendapatmu kita akan rnendapat kesulitan?”,,Tidak,” katanja lunak. ,,Aku akan bitjara dengan Sanusi besok.” Sanusi mau bekerdja-sama. Dalam tempo jang singkat Inggitpun bebas. Tidak terdjadi adegan jang serarn seperti di lajar-putih. Kukira dia merasa, bahwa inilah djalan jang paling baik ditempuh. Setelah itu Inggit, dia dan aku senantiasa dalam hubungan jang baik. Kenjataannja, tidak lama kemudian dia kawin lagi. Dalam waktu jang singkat Utaripun kawin dengan Bachrum Salam, kawan sama-sama bajar-makan di rumah Pak Tjokro. Mereka memperoleh delapan orang anak dan ketika buku ini ditulis mereka masih mendjadi suami-isteri. Djadi nampak kedua belah pihak tidak begitu merasa luka. Inggit dan aku kawin ditahun 1923. Keluargaku tak pernah menjuarakan satu perkataan mentjela ketika aku berpindah dari isteriku jang masih gadis kepada isteri lain jang selusin tahun lebih tua daripadaku. Apakah mereka menekan perasaannja karena perbuatanku, ataupun merasa malu kepada Pak Tjokro, aku tak pernah – mengetahuinja. Inggit jang bermata besar dan memakai geIang di tangan itu tidak mempunjai masa lampau jang gemilang. Dia sama-sekali tidak terpeladjar, akan tetapi intellektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Jang kuhargai adalah kemanusiaannja. Perempuan ini sangat mentjintaiku. Dia tidak memberikan pendapat-pendapat. Dia hanja memandang dan menungguku, dia mendorong dan memudja. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu jang tidak bisa diberikan oleh buku. Dia memberiku ketjintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri. Ia memberikan segala apa jang kuperlukan jang tidak dapat kuperoleh semendjak aku meninggalkan rumah ibu. Psychiater akan mengatakan bahwa ini adalah pentjarian kembali kasih-sajang ibu.

Mungkin djuga, siapa tahu. Djika aku mengawininja karena alasan ini, maka ia terdjadi setjara tidak sadar. Dia, waktu itu dan sekarangpun masih seorang perempuan jang budiman. Pendeknja, kalau dipikirkan setjara sadar, maka perasaan-perasaan jang dibangkitkannja padaku tidak lain seperti pada seorang kanak-kanak. Inggit dalam masa selandjutnja dari hidupku ini sangat baik kepadaku. Dia adalah ilhamku. Dialah pendorongku. Dan aku segera memerlukan semua ini. Aku sekarang sudah mendjadi mahasiswa di tingkat kedua. Aku sudah kawin dengan seorang perempuan jang sangat kuharapkan dengan perasaan berahi. Aku sekarang sudah melalui umur 21 tahun. Masa djedjakaku sudah berada di belakangku. Tugas hidupku merentang di depanku. Pikiran embryo jang dipupuk oleh Pak Tjokro dan mulai menemukan bentuk di Surabaja tiba-tiba petjah mendjadi kepompong di Bandung dan dari keadaan chrysalis berkembanglah seorang pedjuang politik jang sudah matang. Dengan Inggit berada di sampingku aku melangkah madju memenuhi amanat menudju tjita-tjita.

Bab 6

Marhaenisme

 

AKU baru berumur 20 tahun ketika suatu ilham politik jang kuat menerangi pikiranku. Mula-mula ia hanja berupa kuntjup dari suatu pemikiran jang mengorek-ngorek otakku, akan tetapi tidak lama kemudian ia mendjadi landasan tempat pergerakan kami berdiri. Di kepulauan kami terdapat pekerdja-pekerdja jang bahkan lebih miskin daripada tikus-geredja dan dalam segi keuangan terlalu menjedihkan untuk bisa bangkit di bidang sosial, politik dan ekonomi. Sungguhpun demikian masing-masing mendjadi madjikan sendiri. Mereka tidak terikat kepada siapapun. Dia mendjadi kusir gerobak kudanja, dia mendjadi pemilik dari kuda dan gerobak itu dan dia tidak mempekerdjakan buruh lain. Dan terdapatlah nelajan-nelajan jang bekerdja sendiri dengan alat-alat—seperti tongkat-kail, kailnja dan perahu— kepunjaan sendiri. Dan begitupun para petani jang mendjadi pemilik tunggal dari sawahnja dan pemakai tunggal dari hasilnja.

Orang-orang sematjam ini meliputi bagian terbanjak dari rakjat kami. Semua mendjadi pemilik dari alat produksi mereka sendiri, djadi mereka bukanlah rakjat proletar. Mereka punja sifat chas tersendiri. Mereka tidak termasuk dalam salah satu bentuk penggolongan. Kalau begitu, apakah mereka ini sesungguhnja? Itulah jang mendjadi renunganku berhari-hari, bermalam-malam dan berbulan-bulan. Apakah sesungguhnja saudaraku bangsa Indonesia itu? Apakah namanja para pekerdja jang demikian, jang oleh ahli ekonomi disebut dengan istilah ,,Penderita Minimum”? Di suatu pagi jang indah aku bangun dengan keinginan untuk tidak mengikuti kuliah—ini bukan tidak sering terdjadi. Otakku sudah terlalu penuh dengan soal-soal politik, sehingga tidak mungkin memusatkan perhatian pada studi.

Sementara mendajung sepeda tanpa tudjuan—sambil berpikir—aku sampai di bagian selatan kota Bandung, suatu daerah pertanian jang padat dimana orang dapat menjaksikan para petani mengerdjakan sawahnja jang ketjil, jang masing-masing luasnja kurang dari sepertiga hektar. Oleh karena boberapa hal perhatianku tertudju pada seorang petani jang sedang mentjangkul tanah miliknja. Dia seorang diri. Pakaiannja sudah lusuh. Gambaran jang chas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakjatku. Aku berdiri di sana sedjenak memperhatikannja dengan diam. Karena orang Indonesia adalah bangsa jang ramah, maka aku mendekatinja. Aku bertanja dalam bahasa Sunda, ,,Siapa jang punja semua jang engkau kerdjakan sekarang ini?”

Dia berkata kepadaku, ,,Saja, djuragan.” Aku bertanja lagi, ,,Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?” ,,0, tidak, gan. Saja sendiri jang punja.”

,,Tanah ini kau beli?” ,,Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun.”

Ketika ia terus menggali, akupun mulai menggali………aku menggali setjara mental. Pikiranku mulai bekerdja. Aku memikirkan teoriku. Dan semakin keras aku berpikir, tanjaku semakin bertubi-tubi pula.

,,Bagairnana dengan sekopmu? Sekop ini ketjil, tapi apa-ka’il kepunjaanmu djuga?” ,,Ja, gan.”

,,Dan tjangkul?”

,,Ja, gan.”

,,Badjak?”

,,Saja punja, gan.”

,,Untuk siapa hasil jang kaukerdjakan?”

,,Untuk saja, gan.”

,,Apakah tjukup untuk kebutuhanmu?”

Ia mengangkat bahu sebagai membela diri. ,,Bagaimana sawah jang begini ketjil bisa tjukup untuk seorang isteri dan empat orang anak?”

,,Apakah ada jang didjual dari hasilmu?” tanjaku.

,,Hasilnja sekedar tjukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnja untuk didjual.”

,,Kau mempekerdjakan orang lain?”

,,Tidak, djuragan. Saja tidak dapat membajarnja.”

,,Apakah engkau pernah memburuh?”

,,Tidak, gan. Saja harus membanting-tulang, akan tetapi djerih-pajah saja semua untuk saja.” Aku menundjuk ke sebuah pondok ketjil, ,,Siapa jang punja rumah itu?”

,,Itu gubuk saja, gan. Hanja gubuk ketjil sadja, tapi kepunjaan saja sendiri.”

“Djadi kalau begitu,” kataku sambil menjaring pikiranku sendiri ketika kami berbitjara, “Semua ini engkau punja?”

“Ja, gan.”

Kemudian aku menanjakan nama petani muda itu. Ia menjebut namanja. ,,Marhaen.” Marhaen adalah nama jang blasa seperti Smith dan Jones. Disaat itu sinar ilham menggenangi otakku. Aku akan memakai nama itu untuk rnenamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu! Semendjak itu kunamakan rakjatku rakjat Marhaen. Selandjutnja di hari itu aku mendajung sepeda berkeliling mengolah pengertianku jang baru. Aku memperlantjarnja. Aku mempersiapkan kata-kataku dengan hati-hati. Dan malamnja aku memberikan indoktrinasi mengenai hal itu kepada kumpulan pemudaku. ,,Petani-petani kita mengusahakan bidang tanah jang sangat ketjil sekali.

Mereka adalah korban dari sistim feodal, di mana pada mulanja petani pertama diperas oleh bangsawan jang pertama dan seterusnja sampai ke anak-tjutjunja selama berabad-abad. Rakjat jang bukan petanipun mendjadi korban daripada imperialisme perdagangan Belanda, karena nenek-mojangnja telah dipaksa untuk hanja bergerak di bidang usaha jang ketjil sekedar bisa memperpandjang hidupnja. Rakjat jang mendjadi korban ini, jang meliputi hampir seluruh penduduk Indonesia, adalah Marhaen.” Aku menundjuk seorang tukang gerobak, ,,Engkau……. engkau jang disana. Apakah engkau bekerdja di pabrik untuk orang lain?” ,,Tidak,” katanja.,,Kalau begitu engkau adalah Marhaen.” Aku menggerakkan tangan kearah seorang tukang sate. ,,Engkau…… engkau tidak punja pembantu, tidak punja madjikan engkau djuga seorang Marhaen.

Seorang Marhaen adalah orang jang mempunjai alat-alat jang sedikit, orang ketjil dengan milik ketjil, dengan alat-alat ketjil, sekedar tjukup untuk dirinja sendiri. Bangsa kita jang puluhan djuta djiwa, jang sudah dimelaratkan, bekerdja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerdja untuk dia. Tidak ada penghisapan tenaga seseorang oleh orang lain. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktek.” Perkataan ,,Marhaenisme” adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami. Begitupun nama tanah-air kami harus mendjadi lambang. Perkataan ,,Indonesia” berasal dari seorang ahli purbakala bangsa Djerman bernama Jordan, jang beladjar di negeri Belanda. Studi chususnja mengenai Rantaian Kepulauan kami. Karena kepulauan ini setjara geografis berdekatan dengan India, ia namakanlah ,,Kepulauan dari India”. Nesos adalah bahasa Junani untuk perkataan pulau-pulau, sehingga mendjadi Indusnesos jang achirnja mendjadi Indonesia.

Ketika kami merasakan perlunja untuk menggabungkan pulau-pulau kami rnendjadi satu kesatuan jang besar, kami berpegang teguh pada nama ini dan mengisinja dengan pengertian-pengertian politik hingga iapun mendjadi pembirnbing dari kepribadian nasional. Ini terdjadi di tahun 1922-1923. Dalam tahun-tahun inilah, ketika kami sebagai bangsa jang dihinakan diperlakukan seperti sampah di atas bumi oleh orang jang menaklukkan kami. Karni tidak dibolehkan apa-apa. Ditindas di bawah tumit pada setiap kali, bahkan kami dilarang mengutjapkan perkataan ,,lndonesia”. Telah terdjadi sekali di tengah berapi-apinja pidatoku, kata ,,lndonesia” melompat dari mulutku.

,,Stop……..stop………”perintah polisi. Mereka meniup peluitnja. Mereka memukulkan tongkatnja. ,,Dilarang sama-sekali mengutjapkan perkataan itu ……….. hentikan pertemuan ” Dan pertemuan itu dengan segera dihentikan. Di Surabaja aku tak ubah seperti seekor burung jang mentjari-tjari tempat untuk bersarang. Akan tetapi di Bandung aku sudah mendjadi dewasa. Bentuk fisikku berkembang dengan sewajarnja. Bintang matinee Amerika jang mendjadi idaman di djaman itu adalah Norman Kerry dan, supaja kelihatan lebih tua dan lebih ganteng, aku memelihara kumis seperti Kerry. Tapi sajang, kumisku tidak melengkung ke atas pada udjung-udjungnja seperti knmis bintang itu. Dan isteriku menjatakan, bahwa Charlie Chaplinlah jang berhasil kutiru. Achirnja usahaku satu-satunja untuk meniru seseorang berachir dengan kegagalan jang menjedihkan dan semua pikiran itu kemudian kulepaskan segera dari ingatan. Di tahun 1922 aku untuk pertamakali mendapat kesukaran. Ketika itu diadakan rapat besar di suatu lapangan terbuka di kota Bandung. Seluruh lapangan menghitam oleh manusia. Ini adalah rapat Radicale Concentratie, suatu rapat raksasa jang diorganisir oleh seluruh organisasi kebangsaan sehingga wakil-wakil dari setiap partai jang ada dapat berkumpul bersama untuk satu tudjuan, jaitu memprotes berbagai persoalan sekaligus.

Setiap pemimpin berpidato. Dan aku, aku baru seorang pemuda. Hanja mendengarkan. Akan tetapi tiba-tiba terasa olehku suatu dorongan jang keras untuk mengutjapkan sesuatu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Mereka semua membitjarakan omong-kosong.

Seperti biasa mereka meminta-minta. Mereka tidak menuntut. Naiklah tangan jang berapi-api dari Sukarno, mertjusuar dari Perkumpulan Pemuda, untuk minta izin ketua agar diberi kesempatan berpidato di hadapan rapat. ,,Saja ingin berbitjara,” aku berteriak. ,,Silakan,” ketua berteriak kembali. Di sana ada P.I.D., Polisi Rahasia Belanda, jang bersebar di segala pendjuru. Tepat di mukaku berdiri seorang polisi bermuka merah mengantjam dan berbadan besar. Ini adalah alat jang berkuasa jaitu kulit-putih. Hanja dia sendiri jang dapat menjetopku. Dia seorang dirinja, dapat membubarkan rapat. Dia seorang dirinja, dengan kekuasaan jang ada padanja dapat mentjerai-beraikan pertemuan kami dan mendjebloskanku kedalam tahanan. Akan tetapi aku masih muda, tidak mau peduli dan penuh semangat. Djadi naiklah aku ke mimbar dan mulai berteriak, ,,Mengapa sebuah gunung seperti gunung Kelud meledak? Ia meledak oleh karena lobang kepundannja tersumbat Ia meledak oleh karena tidak ada djalan bagi kekuatan-kekuatan jang terpendam untuk membebaskan dirinja. Kekuatan-kekuatan jang terpendam itu bertumpuk sedikit demi sedikit dan………..DORRR. Keseluruhan itu meletus. ,,Kedjadian ini tidak ada bedanja dengan Gerakan Kebangsaan Kita. Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan untuk mentjari djalan keluar bagi perasaan-perasaan kita jang sudah penuh, maka saudara-saudara, njonja-njonja dan tuan-tuan, suatu saat akan terdjadi pula ledakan dengan kita.. Dan rnanakala perasaan kita meletus, Den Haag akan terbang ke udara. Dengan ini saja menantang Pemerintah Kolanial jang membendung perasaan kita. Dari sudut mataku aku melihat Komisaris Polisi itu menudju ke depan untuk mentjegahku terus berbitjara, akan tetapi aku begitu bersemangat dan menggeledek terus. ,,Apa gunanja kita puluhan ribu banjaknja berkumpul di sini djikalau jang kita kerdjakan hanja menghasilkan petisi? Mengapa kita selalu merendah diri memohon kepada ‘Pemerintah’ untuk meminta kebaikan hatinja supaja mendirikan sebuah sekolah untuk kita? Bukankah itu suatu Politik Berlutut? Bukankah itu suatu politik memohon dengan mendatangi Jang Dipertuan Gubernur Djendral Hindia Belanda, jang dengan rnemakai dasi hitam menerima delegasi jang membungkuk-bungkuk dan menundjukkan penghargaan kepadanja dan menjerahkan kepada pertimbangannja suatu petisi? Dan merendah diri memohon pengurangan padjak? Kita merendah diri….memohon, merendah diri memohon……… Inilah kata-kata jang selalu dipakai oleh pemimpin-pemimpin kita.

,,Sampai sekarang kita tidak pernah mendjadi penjerang. Gerakan kita bukan gerakan jang mendesak, akan tetapi gerakan kita adalah gerakan jang meminta-minta. Tak satupun jang pernah diberikannja karena kasihan. Marilah kita sekarang mendjalankan politik pertjaja pada diri sendiri dengan tidak mengemis-ngemis.

Hajo kita berhenti mergemis. Sebaliknja, hajo kita berteriak, ,,Tuan Imperialis, inilah jang karni TUNTUT!” Kemudian, polisi-polisi jang mahakuasa dan mahakuat ini, jang punja kekuasaan untuk menghentikan rapat ini, bertindak. Mereka menjetop rapat dan menjetopku. Heyne, Kepala Polisi Kota Bandung, sangat marah. Sambil menjiku kanan-kiri melalui rakjat jang berdiri berdjedjal-djedjal, ia melompat ke atas mimbar, menarikku ke bawah dan mengumumkan, ,,Tuan Ketua, sekarang saja menjetop seluruh pertemuan. Habis. Tamat. Selesai. Tuan-tuan semua dibubarkan. Sernua pulang sekarang. KELUAR !”

Begitu pertamakali Sukarno membuka mulutnja, ia segera harus berhubungan dengan hukum. Dengan tjepat aku mendjadi buah-tutur orang dan setiap orang mengetahui nama Sukarno. Aku memperoleh inti pengikut jang kuat. Akan tetapi, sajang, akupun mengembangkan pengikut jang banjak di antara polisi Belanda. Kemanapun aku pergi mereka ikuti. Maka mendjalarlah dari mulut ke mulut: ,,Di Sekolah Teknik Tinggi ada seorang pengatjau. Awasi dia.”

Dengan satu pidato si Karno—jang pendiam, jang suka menarik diri dan ditjintai membuat musuh-musuh djadi geger dan selama 20 tahun kemudian aku tak pernah ditjoret dari daftar hitam mereka. Prestasiku jang pertama ini menimbulkan kegemparan hebat, sehingga aku segera dipanggil ke kantor Presiden universitas.

,,Kalau engkau ingin melandjutkan peladjaran di sini,” Professor Klopper memperingatkan, ,Engkau harus bertekun pada studimu. Saja tidak keberatan djika seorang mahasiswa mempunjai tjita-tjita politik, akan tetapi haruslah di ingat bahwa ia pertama dan paling utama memenuhi kewadjiban sebagai seorang mahasiswa. Engkau harus berdjandji, mulai hari ini tidak akan ikut-tjampur dalam gerakan politik. “Aku tidak berdusta kepadanja. Aku menerangkan persoalanku dengan djudjur. ,,Professor, apa jang akan saja djandjikan ialah, bahwa saja tidak akan melalaikan peladjaran-peladjaran jang tuan berikan dalam kuliah.” ,,Bukan itu jang saja minta kepadamu.” ,,Hanja itu jang dapat saja djandjikan, Professor.

Akan tetapi djandji ini saja berikan dengan sepenuh hati. Saja berdjandji dengan kesungguhan hati untuk menjediakan lebih banjak waktu pada studi saja.” Ia sangat baik mengenai hal ini. ,,Apakah kata-katamu dapat saja pegang, bahwa engkau akan berhenti berpidato dalam rapat umum selama masih dalam studi?” ,,Ja, Professor,” aku berdjandji, ,,Tuan memegang utjapan saja jang sungguh-sungguh. “Dan djandji ini kupegang teguh. Berbitjara di hadapan massa bagiku lebih daripada segala-galanja untuk mana aku hidup.

Oleh karena aku tidak dapat berbitjara membangkitkan semangat rakjat djelata dalam keadaan sesungguhnja maka kulakukanlah ini dalam chajalan. Pada suatu malam rumah Inggit jang disediakan djuga untuk bajar-makan penuh dan kami terpaksa membagi tempat. Aku membagi tempat-tidurku dengan seorang peladjar. Di tengah malam aku diserang oleh suatu desakan untuk berpidato dengan nafsu jang bernjala-njala, seakan-akan aku berbitjara di hadapan 10.000 orang jang bersorak-sorai dengan gegap-gempita. Sambil berdiri tegak aku menganggap tempat-tidurku sebagai mimbar dan aku mulai menggegapgeletar. ,,Engkau tahu apakah Indonesia?” Aku berteriak ke punggung temanku setempat-tidur. ,,Indonesia adalah pohon jang kuat dan indah ini. Indonesia adalah langit jang biru dan terang itu. Indonesia adalah mega putih jang lamban itu. Indonesia adalah udara jang hangat ini.” ,,Saudara-saudaraku jang tertjinta, laut jang menderu memukul-mukul ke pantai di tjahaja sendja, bagiku adalah djiwanja Indonesia jang bergerak dalam gemuruhnja gelombang samudra. Bila kudengar anak-anak ketawa, aku mendengar Indonesia. Manakala aku menghirup bunga-bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah-air kita bagiku.”Setelah beberapa djam mendengarkan perkataanku jang membakar hati, Djoko Asmo lebih memerlukan tidur daripada mendengarkan golakan perasaanku. Djam dua tengah malam dia tertidur njenjak di tengah-tengah pidatoku jang mentjatjau. Aku kehabisan tenaga sama-sekali sehingga di tengah pidato pembelaanku jang bersemangat akupun terhempas lena. Esok paginja kami baru tahu, bahwa kami lupa mematikan lampu. Kelambu kami hampir hangus sama-sekali. Lampu itu menjala sepandjang malam sampai mendjilat ke bagian bawah dan kami kedua-duanja hampir kelemasan oleh udara dan asap jang hebat. Tapi untunglah. Kami tidak turut terbakar. Terpikir olehku, kalau seseorang hendak mendjadi Djuru selamat daripada bangsanja di kemudian hari untuk membebaskan rakjatnja, haruslah ia menjelamatkan dirinja sendiri lebih dulu. Aku masih terlalu banjak mentjurahkan waktu untuk pemikiran politik, djadi tak dapatlah diharapkan akan mendjadi mahasiswa jang betul-betul gemilang. Kenjataan bahwa aku masih dapat melintasi batas nilai sedang sungguh mengherankan. Siapa jang beladjar? Bukan aku. Tidak pernah. Aku mempunjai ingatan seperti bajangan gambar dan dalam pada itu aku terlalu sibuk memompakan soal-soal politik ke kepalaku, sehingga tidak tersisa waktuku untuk membuka buku sekolah. Dewi dendamku adalah ilmu pasti. Aku tidak begitu kuat dalam ilmu pasti.

Menggambar arsitektur bagiku sangat menarik, akan tetapi kalkulasi bangunan dan komputasi djangan tanja. Kleinste Vierkanten atau jang dinamakan Geodesi, sematjam penjelidikan tanah setjara ilrnu pasti di mana orang mengukur tanah dan beladjar membaginja dalam kaki-persegi, dalam semua ini aku gagal. Untuk udjian ilmu pasti kuakui, bahwa aku bermain tjurang. Tapi hanja sedikit. Kami semua bermain tjurang dengan berbagai djalan. Ambillah misalnja peladjaran menggambar konstruksi bangunan. Aku kuat dalam peladjaran ini. Dalam waktu udjian dosen berdjalan pulang-balik di antara medja-medja memperhatikan setiap orang. Segera setelah ia berada di bagian lain dalam ruangan ketika menghadapkan punggungnja pada kami, salah-seorang jang berdekatan mendesis, ,,Ssss, Karno, buatkan bagan untukku, kau mau ?” Aku bertukar kertas dengan dia. dengan terburu-buru membuat gambar jang kedua dan dengan tjepat menjerahkan kembali kepadanja. Kawan-kawanku membalas usaha ini dalam peladjaran Kleinste Vierkanten kalau Professor membuat tiga pertanjaan di papan-tulis dan hanja memberi kami waktu 45 menit untuk mengerdjakannja. Kawan-kawan menempatkan kertasnja sedemikian rupa di sudut bangku, sehingga aku dapat dengan mudah menjalin djawabannja. Sudah tentu aku mentjontoh dari mahasiswa jang lebih pandai dalam ilmu pasti.

Tjara ini bukanlah semata-mata apa jang dinamakan orang berbuat tjurang. Di Indonesia ini adalah wadjar djika digolongkan dalam apa jang kami sebut kerdja-sama jang erat. Gotong-rojong. Alasan mengapa aku gagal dan hanja memperoleh nilai tiga adalah karena pada suatu kali sang Professor melakukan taktik litjik terhadap kami. Ia mengedjutkan kami dengan udjian lisan, di mana kami menempuhnja satu persatu. Hanja Professor dan seorang mahasiswa jang ada dalam ruangan. Aku karenanja djatuh. Semua kuliah diadjarkan dalam bahasa Belanda. Aku berpikir dalam bahasa Belanda. Bahkan sekarangpun aku memaki-maki dalam bahasa Belanda. Kalau aku mendoa ke hadirat Tuhan Jang Maha Kuasa, maka ini kulakukan dalam bahasa Belanda. Kurikulum kami disesuaikan menurut kebutuhan masjarakat pendjadjahan Belanda. Pengetahuan jang kupeladjari adalah pengetahuan teknik kapitalis. Misalnja, pengetahuan tentang sistim irigasi. Jang dipeladjari bukanlah tentang bagaimana tjaranja mengairi sawah dengan djalan jang terbaik. Jang diberikan hanja tentang sistem pengairan tebu dan tembakau. Ini adalah irigasi untuk kepentingan Imperialisme dan Kapitalisme. Irigasi dipeladjari tidak untuk memberi makan rakjat banjak jang kelaparan, akan tetapi untuk membikin gendut pemilik perkebunan. Peladjaran kami dalam pembuatan djalan tidak mungkin dapat menguntungkan rakjat. Djalan-djalan jang dibuat bukan melalui hutan dan antar-pulau sehingga rakjat dapat berdjalan atau bepergian lebih mudah. Kami hanja diadjar merentjanakan djalan-djalan tambahan sepandjang pantai dari pelabuhan ke pelabuhan, djadi pabrik-pabrik dengan demikian dapat mengangkut hasilnja setjara maksimal dan komunikasi jang tjukup antara kapal-kapal jang berlajar. Ambillah ilmu pasti. Universitas manapun tidak memberi peladjaran rantai-ukuran. Kami diberi. Ini adalah sebuah pita jang pandjangnja 20 meter jang hanja dipakai oleh para pengawas di perkebunan-perkebunan.

Di ruangan bagan, kalau kami membuat rentjana kota teladan, kamipun harus menundjukkan tempat kedudukan ,,Kabupaten”, jaitu tempat tinggal Bupati jang mengawasi rakjat desa membanting tulang. Di minggu terachir ketika diadakan pelantikan aku mempersoalkan ini dengan Rector Magnificus dari Sekolah Teknik Tinggi ini, Professor Ir. G. Klopper M.E. ,,Mengapa kami diisi dengan pengetahuan-pengetahuan jang hanja berguna untuk mengekalkan dominasi Kolonial terhadap kami?” tanjaku. ,,Sekolah Teknik Tinggi ini,” ia menerangkan, ,,didirikan terutama untuk memadjukan politik Den Haag di Hindia.

Supaja dapat mengikuti ketjepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saja merasa perlu untuk mendidik lebih banjak insinjur dan pengawas jang berpengalaman.” ,,Dengan perkataan lain, kami mengikuti perguruan tinggi ini untuk memperkekal polilik Imperialisme Belanda disini?” ,,Ja, tuan Sukarno, itu benar,” ia mendjawab. Dan begitulah, sekalipun aku harus mempersembahkan seluruh hidupku untuk menghantjurkan kekuasaan Kolonial, rupanja aku harus berterima-kasih pula kepada mereka atas pendidikan jang kuterima.

Dengan dua orang kawan bangsa Indonesia jang berhasil bersama-sama denganku, maka pada tanggal 25 Mei 1926 aku memperoleh promosi dengan gelar ,,Ingenieur”. Idjazahku dalam djurusan teknik sipil menentukan, bahwa aku adalah seorang spesialis dalam pekerdjaan djalan-raja dan pengairan. Aku sekarang diberi hak untuk menuliskan namaku: Ir. Raden Soekarno. Ketika ia memberi gelar sardjana teknik kepadaku, Presiden universitas berkata, ,,Ir. Sukarno, idjazah ini dapat robek dan hantjur mendjadi abu disatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunja kekuatan jang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakjat, sekalipun sesudah mati.” Aku tak pernah melupakan kata-kata ini.

 

 

Bab 7

Bahasa Indonesia

 

DJANDJIKU sudah terpenuhi. Pendidikanku sudah selesai. Mulai saat ini untuk seterusnja tidak ada jang akan menghalang-halangiku mendjalankan pekerdjaan untuk mana aku dilahirkan. Semendjak aku berdiri di atas djambatan di Surabaja itu dan mendengarkan djeritan rakjatku, aku menjadari bahwa akulah jang harus berdjuang untuk mereka. Hasrat jang menjala-njala untuk membebaskan rakjatku bukanlah hanja ambisi perorangan. Djiwaku penuh dengan itu. Ia meliwati sekudjur badanku. Ia mengisi padat lubang hidungku. Ia mengalir melalui urat-nadiku. Untuk itulah orang mempersembahkan seluruh hidupnja. Ia lebih daripada hanja sebagai kewadjiban. Ia lebih daripada panggilan djiwa. Bagiku ia adalah satu ……….kejakinan.

Menurut para mahaguru thesisku tentang konstruksi pelabuhan dan djalanan-air ditambah dengan teoriku tentang perentjanaan kota mempunjai ,,nilai penemuan dan keaslian jang begitu tinggi”, sehingga untukku disediakan djabatan sebagai assisten dosen. Aku menolaknja. Djuga ditawarkan pekerdjaan pemerintahan kota. Inipun kutolak.

Salah-seorang mahaguru, Professor Ir. Wolf Schoemaker, adalah seorang besar. Ia tidak mengenal warna-kulit. Baginja tidak ada Belanda atau Indonesia. Baginja tidak ada pengikatan atau kebebasan. Dia hanja menundukkan kepala kepada kemampuan seseorang. ,,Saja menghargai ketjakapanmu,” katanja. ,,Dan saja tidak ingin ketjakapan ini tersia-sia. Engkau mempunjai pikiran jang kreatif. Djadi saja minta supaja engkau bekerdja dengan pemerintah. “Sungguhpun aku keberatan, ia menjerahkanku kepada Direktur Pekerdjaan Umum jang meminta kepadaku untuk merentjanakan suatu projek untuk perumahan Bupati. Insinjur kepalanja sudah tentu seorang Belanda jang tidak mengenal sama-sekali kehidupan orang Indonesia dan kebutuhannja. Akan tetapi oleh karena aku tidak menghendaki pekerdjaan ini, kusampaikan kepadanja pendapatku tentang rentjana arsitekturnja, ,,Maafkan saja, tuan, konsepsi tuan didasarkan pada semangat pedagang rempah-rempah Belanda. Setiap orang Belanda merentjanakan setjara teknis salah. Persil-persil di Bandung hanja 15 meter lebar dan 20 meter kedalam dan rumah-rumahnja sempit. Kota Bandung direntjanakan seperti kandang-ajam. Bahkan djalannja sempit, karena ia dibuat menurut tjara berpikir Belanda jang sempit. Sama sadja dengan projek jang tuan rentjanakan. Ia tidak mempunjai ‘Schwung’.

“Karena aku telah menolak pekerdjaan jang diberikan itu, aku merasa wadjib memberi pendjelasan kepada Professor Schoemaker, ,,Tuan telah menjatakan, bahwa saja dalam ruang-lingkup jang ketjil memiliki daja tjipta.

Jah, saja ingin mentjipta,” kataku dengan hebat. ,,Akan tetapi untuk saja sendiri. Saja tidak jakin dikemudian hari akan mendjadi pembangun rumah. Tudjuan saja ialah untuk mendjadi pembangun dari suatu bangsa. ,,Politik usang dari Gerakan Kebangsaan kami, jaitu mengadakan kerdja-sama dengan pemerintah dengan tjara mengemis-ngemis, hanja menghasilkan djandji-djandji jang tidak ditepati.

Dengan usaha saja, kami baru-baru ini memulai politik non-kooperasi. Ini didasarkan pada kehendak pertjaja pada diri sendiri dan di bidang ekonomi terlepas dari bantuan negara asing.” Kawanku itu mendengarkan dengan tenang, kemudian berkata, ,,Anak muda, hendaknja bakatmu dipergunakan setjara maksimal. Kalau engkau berdiri sendiri, ini akan memakan waktu bertahun-tahun untuk bisa madju. Hanja orang-orang Belanda jang berpangkat tinggi atau pegawai pemerintahlah jang bisa berhasil mengadakan biro arsitek. Dan mereka tentu keberatan untuk mempekerdjakan seorang muda jang tidak berpengalaman dan djuga kebetulan berada paling atas dalam daftar-hitam polisi, karena dianggap sebagai pengatjau. Usul saja ini adalah permulaan jang baik untukmu.” Pandangannja itu memang baik. ,,Professor, saja menolak untuk bekerdja-sama, supaja tetap bebas dalam berpikir dan bertindak. Kalau saja bekerdja dengan pemerintah, setjara diam-diam saja membantu politik penindasan dari rezim mereka jang otokratis dan monopolistis itu. Pemuda sekarang harus merombak kebiasaan untuk mendjadi pegawai kolonial segera setelah memperoleh gelarnja. Kalau tidak begitu, kami tidak akan merdeka selama-lamanja.”

,,Djangan terima pekerdjaan djangka lama, kalau sekiranja perasaan tidak-senangmu begitu kuat,” ia mempertahankan, ,,Akan tetapi buatlah satu rumah ini sadja untuk Bupati. Tjobalah kerdjakan………… Kerdjakanlah atas permintaan saja.” Aku melakukan sebagaimana jang dimintanja. Pekerdjaan ini sangat berhasil dan aku dibandjiri dengan permintaan untuk mengerdjakan karja teknik sematjam itu untuk pedjabat-pedjabat lain. Sungguhpun bantuan uang dari keluargaku sudah tidak ada lagi semendjak aku selesai dan sekalipun aku tidak mempunjai djalan jang njata untak membantu isteriku, aku menolaknja. Aku membuat rentjana Kabupaten hanja karena sangat menghargai dan menghormati Professor itu. Akan tetapi ini adalah jang pertama dan terachir aku bekerdja untuk Pemerintah. Kemudian, ketika Departemen Pekerdjaan Umum menawarkan kedudukan tetap kepadaku, aku menolaknja dengan alasan bahwa aku memperdjuangkan non-kooperasi. Aku sangat memerlukan uang dan pekerdjaan.

Aku sudah tidak mempunjai harapan sama-sekali untuk memperoleh kedua-duanja ini ketika aku mendengar lowongan di sekolah Jajasan Ksatrian jang diselenggarakan oleh pemimpin kebangsaan Dr. Setiabudi. Mereka mentjari seorang guru jang akan mengadjar dalam dua mata peladjaran. Jang pertama adalah sedjarah, untuk mana aku sangat berhasrat besar. Mata peladjaran jang lain? Ilmu pasti! Dan dalam segala segi-seginja lagi! Djadi sebagaimana telah kutegaskan dengan segala kedjudjuran jang pahit, kalau ada mata-peladjaran jang sama-sekali tidak bisa kuatasi, maka itulah dia ilmu pasti. Akan tetapi aku tidak mempunjai pilihan lain.

Guru jang ditugaskan untuk melakukan tanja-djawab bertanja, ,,Ir. Sukarno, tuan adalah insinjur jang beridjazah, djadi tentu tuan ahli dalam ilmu pasti, bukankah begitu?” “Oh, ja tuan,” aku menjeringai meretjik kepertjajaan. — ,,Ja, tuan. Ja, betul. Saja menguasainja.” ,,Baiklah, tuan dapat mengadjar ilmu pasti?” tanjanja.

,,Mengapa tidak,” aku membohong. ,,Saja menguasai betul ilmu pasti. Menguasainja sungguh- sungguh. Ini mata-peladjaran jang saja senangi.” Inggit dan aku sudah kering sama sekali, tidak mempunjai apa-apa lagi.

Apa jang dapat kami suguhkan kepada tamu hanja setjangkir teh entjer tanpa gula. Djadi, apa jang harus kukatakan kepadanja? Bahwa aku sama-sekali tidak dapat mengadjar ilmu pasti? Bahwa sesungguhnja aku gagal dalam peladjaran itu?

Kalau demikian, tentu aku tidak akan memperoleh pekerdjaan itu. Temanku, Dr. Setiabudi, datang sendiri kepadaku dan sekali lagi bertanja, ,,Bagaimana pendapatmu sesungguhnja, bisakah engkau mengadjar?” Dan kuulangi dengan suara jang tergontjang dan tersinggung, ,,Apakah saja bisa mengadjar? Tentu saja bisa mengadjar. Tentu sadja saja bisa. Sudah pasti.” ,,Ilmu pasti djuga?” ,,Ja, ilmu pasti djuga. “Aneh, kenjataannja aku menghadapi kesukaran djustru dalam peladjaran sedjarah. Kelasku berdjumlah 30 orang

murid, termasuk Anwar Tjokroaminoto.

Tak seorangpun memberiku petundjuk dalam tjara mengadjar. Djadi aku mentjobakan tjaraku sendiri. Sajang, aku tidak berhasil mendekati metode jang resmi. Dalam peladjaran sedjarah aku mempunjai gajaku sendiri. Aku tidak menjesuaikan sama-sekali teori bahwa anak-anak harus diadjar setjara kenjataan. Angan-anganku ialah hendak menggerakkan mereka supaja bersemangat. Aku lebih berpegang pada pengertian sedjarah daripada mengadjarkan nama-nama, tahun dan tempat. Aku tak pernah memusingkan kepala tentang tahun berapa Columbus menemukan Amerika, atau tahun berapa Napoleon gagal di Waterloo atau hal-hal lain jang sama remehnja seperti apa jang biasanja mereka adjarkan di sekolah. Kalau seharusnja aku memperlakukan murid-muridku sebagai anak-anak jang masih ketjil, jang kemampuannja dalam mata-peladjaran ini terpusat pada mengingat fakta-fakta, maka aku berfalsafah dengan mereka. Aku memberikan alasan mengapa ini dan itu terdjadi. Aku memperlihatkan peristiwa-peristiwa sedjarah setjara sandiwara. Aku tidak memberikan pengetahuan setjara dingin dan kronologis. Ooo tidak, Sukarno tidak memberikan hal sematjam itu. Itu tidak bisa diharapkan dari seorang orator jang berbakat dari lahirnja. Aku mengajunkan tanganku dan mentjobakannja. Kalau aku bertjerita tentang Sun Yat Sen, aku betul-betul berteriak dan memukul medja.

Sudah mendjadi aturan dari Departemen Pengadjaran Hindia Belanda, sekolah-sekolah dikundjungi oleh penilik-penilik sekolah pada waktu-waktu tertentu. Pada waktunja jang tepat seorang penilik sekolah datang mendengarkan peladjaran sedjarahku. Dia duduk dengan tenang dibelakang kelas untuk memperhatikan.

Selama dua djam aku mengadjar dengan tjara jang menurut pikiranku paling baik, sementara mana aku menjadari bahwa dia mendengarkan dengan saksama. Setjara kebetulan peladjaran kali ini berkenaan dengan Imperialisme. Karena aku sangat menguasai pokok persoalan ini, aku mendjadi begitu bersemangat sehingga aku terlompat-lompat dan mengutuk seluruh sistimnja. Dapatkah engkau membajangkan? Di hadapan penilik sekolah bangsa Belanda jang memandang padaku dengan wadjah tidak pertjaja, aku sungguh-sungguh menamakan Negeri Belanda sebagai ,,Kolonialis jang terkutuk ini”! Ketika peladjaran dan kisahku kedua-duanja selesai, penilik sekolah itu menjatakan dengan seenaknja bahwa menurut pendapatnja sesungguhnja aku bukan pengadjar jang terbaik jang pernah dilihatnja dan bahwa aku tidak mempunjai masa depan jang baik dalam pekerdjaan ini. Ia berkata kepadaku, ,,Raden Sukarno, tuan bukan guru, tuan seorang pembitjara!” Dan inilah achir daripada karierku jang singkat sebagai guru. 26 Djuli 1926 aku membuka biro teknikku jang pertama, bekerdjasama dengan seorang teman sekelas, Ir. Anwari. Aku tak pernah lagi mendapat kesempatan untuk memasuki Ruang Keilmuan. Kehidupan segera memikulkan beban di atas pundakku dan melemparkan aku ke atas tumpukan sampah dan ke dalam pondok-pondok jang botjor dan gojah. Kehidupan melemparkan daku ke pasar-pasar.

Kehidupan membuangku ke hutan-hutan, kekampung-kampung dan sawah-sawah. Aku tidak mendjadi guru. Aku mendjadi djuru chotbah. Mimbarku adalah pinggiran djalan. Kumpulanku? Massa rakjat menggerumut jang sangat merindukan pertolongan. Di tahun 1926 aku mulai mengchotbahkan nasionalisme terpimpin. Sebelum itu aku hanja memberikan kepada pendengarku kesadaran nasional lebih banjak daripada jang mereka ketahui sebelumnja. Sekarang aku tidak sadja mengojak-ojak mereka untuk bangun, akan tetapi aku memimpin mereka. Aku menerangkan, bahwa sudah datang waktunja untuk mendjelmakan suatu masjarakat baru jang demokratis sebagai ganti feodalisme jang telah bertjokol selama berabad-abad. Aku berkata kepada para pendengarku, ,,Kita tidak lagi akan membiarkan diri kita setjara patuh mengikuti tjara hidup jang akan membawa kita kepada kehantjuran kita sendiri. Kehidupan jang terdiri dari kelas-kelas, kasta-kasta dan jang punja dan tidak punja menimbulkan perbudakan.

Di dalam kehidupan modern manusia berdjoang untuk meninggikan harkat kehidupan rakjat. Mereka jang tidak menghiraukan hal ini akan dibinasakan oleh rakjat banjak dan oleh bangsa-bangsa jang berdjoang untuk memperoleh haknja. ,,Kita memerlukan persamaan hak. Kita telah mengalami ketidaksamaan selama hidup kita. Mari kita tanggalkan pemakaian gelar-gelar. Walaupun saja dilahirkan dalam kelas ningrat, saja tidak pernah menjebut diriku raden dan saja minta kepada saudara-saudara mulai dari saat ini dan untuk seterusnja supaja saudara-saudara djangan memanggil saja raden.

Mulai dari sekarang djangan ada seorangpun menjebutku sebagai Tedaking Kusuma Rembesing Madu — ‘Keturunan Bangsawan’. Tidak, aku hanja tjutju dari seorang petani. Feodalisme adalah kepunjaan masalah jang sudah dikubur. Feodalisne hukan kepunjaan Indonesia di masa jang akan datang.” Sementara aku mendidik para pendengarku untuk menghabisi sistim feodal, aku melangkah selangkah madju, ialah ke bidang bahasa. Dalam bahasa Djawa sadja terdapat 13 tingkatan jang pemakaiannja tergantung pada siapa jang dihadapi berbitjara, sedang kepulauan kami mempunjai tidak kurang dari 86 dialek sematjam itu. ,,Sampai sekarang,” kataku, ,,bahasa Indonesia hanja dipakai oleh kaum ningrat. Tidak oleh rakjat biasa. Nah, mulai dari hari ini menit ini mari kita berbitjara dalam bahasa Indonesia.

,,Hendaknja rakjat Marhaen dan orang bangsawan berbitjara dalam bahasa jang sama. Hendaknja seseorang dari satu pulau dapat berhubungan dengan saudara-saudaranja di pulau lain dalam bahasa jang sama. Kalau kita, jang beranak-pinak seperti kelintji, akan mendjadi satu masjarakat, satu bangsa, kita harus mempunjai satu bahasa persatuan. Bahasa dari Indonesia Baru.” Sebelurn ini, seorang Djawa dari golongan rendah tidak boleh sekali-kali menanjakan kepada orang Djawa jang lebih tinggi deradjatnja, ‘Apakah engkau memanggil saja?’ Dia tidak akan berani mengutjapkan begitu sadja perkataan ,,engkau” kepada orang jang lebih atas.

Seharusnja ia memakai perkataan ,,kaki tuan” atau ,,kelom tuan”. Dia harus mengutjapkan, ,,Apakah kelom tuan memanggil saja? “Tingkatan perhambaan sematjam inipun dinjatakan dengan gerak. Aku menundjuk dengan djari telundjukku, akan tetapi orang jang lebih rendah tingkatnja di hadapanku akan menundjuk dengan ibu-djari. Keramahan jang demikian itu memberikan kepada si pendjadjah suatu sendjata rahasia jang membantu melahirkan suatu bangsa ,,tjatjing” dan ,,katak” seperti mereka menamakannja.

Kamipun disebut sebagai ,,rakjat jang paling pemalu di dunia.” Bertahun-tahun kemudian aku tergila-gila pada seorang Puteri jang muda dan tjantik dari salah-satu kraton di Djawa, akan tetapi penasehat-penasehatku menjatakan, bahwa aku sebagai orang jang telah bergabung dengan rakjat-djelata tidak mungkin mengawininja. Sekalipun hatiku luka, mereka menundjukkan bagaimana aku telah memimpin pemberontakan melawan feodalisme, djadi tidak bisa sekarang memasuki golongan itu. Dan berachirlah hubungan ini dengan suatu kisah pertjintaan setjara platonis. Di kalangan kaum bangsawan di Djawa seorang isteri tidak pernah kehilangan deradjatnja jang tinggi. Kalau ia mengawini seorang lelaki jang lebih rendah deradjatnja, suaminja harus mengadjukan permohonan untuk berbuat sesuatu. Bahkan untuk bertjintaan dengan isterinja sendiri, si suami jang boleh djadi bergelar raden, terlebih dulu harus meminta idzin dari isterinja. Mungkin maksudnja baik. Akan tetapi, aku tidak dapat melihat Sukarno dalam kedudukan jang demikian.

Di djaman Feodal kami tidak mempunjai bentuk panggilan jang luas seperti Mister, Mistres, Miss atau jang dapat mentjakup seluruh lapisan dan tingkat seseorang. Ketika aku memaklumkan Bahasa Indonesia, kami memerlukan suatu rangkaian sebutan jang lengkap jang dapat dipakai setjara tidak berobah-robah antara tua dan muda, kaja dan miskin, Presiden dan rakjat tani. Di saat itulah kami mengembangkan sebutan Pak atau Bapak, Bu atau Ibu dan Bung jang berarti saudara. Di djaman Revolusi Kebudajaan inilah aku mulai dikenal sebagai Bung Karno. Tahun 1926 adalah tahun di mana aku memperoleh kematangan dalam tiga segi. Segi jang kedua adalah dalam kepertjajaan. Aku banjak berpikir dan berbitjara tentang Tuhan. Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakjatnja beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannja orang Islam. Pada waktu aku melangkah ragu melalui permulaan djalan jang menudju kepada kepertjajaan, aku tidak melihat Jang Maha-Kuasa sebagai Tuhan kepunjaan perseorangan. Menurut djalan pikiranku maka kemerdekaan bagi seseorang meliputi djuga kemerdekaan beragama. Ketika konsep keagamaanku meluas, ideologi dari Pak Tjokro dalam pandanganku semakin sempit dan semakin sempit djuga. Pandangannja tentang kemerdekaan untuk tanah-air kami semata-mata ditindjau melalui lensa mikroskop dari agama Islam. Aku tidak lagi menoleh kepadanja untuk beladjar. Djuga kawan-kawannja tidak lagi mendiadi guruku. Sekalipun aku masih seorang pemuda, aku tidak lagi mendjadi penerima. Aku sekarang sudah mendjadi pemimpin. Aku mempunjai pengikut. Aku mempunjai reputasi. Aku sudah mendjadi tokoh politik jang sederadjat dengan Pak Tjokro.

Dalam hal ini tidak terdjadi pemutusan tiba-tiba. Ini terdjadi lebih mirip dengan pemisahan diri setjara pelahan sedikit demi sedikit. Sekalipun antara Pak Tjokro dan aku terdapat perbedaan jang besar di bidang politik, akan tetapi antara kami tetap terdjalin hubungan jang erat. Orang Asia tidak menemui kesukaran untuk membedakan ideologi dengan peri-kemanusiaan. Ketika seorang nasionalis bernama Hadji Misbach menjerang Pak Tjokro setjara serampangan dalam suatu kongres, kuminta supaja dia minta ma’af kepada kawan lamaku itu. Hadji Misbach kemudian menjatakan penjesalannja. Menentang seseorang dalam bidang politik tidaklah berarti bahwa kita tidak mentjintainja setjara pribadi. Bagi kami, jang satu tidak ada hubungannja dengan jang lain. Hal ini tidak dapat diselami oleh pikiran orang Barat, tapi ini senada dengan mentalita orang Timur. Misainja sadja, kusebut Pak Alimin dan Pak Muso. Kedua-duanja sering bertindak sebagai guruku dalam politik ketika aku tinggal dirumah Pak Tjokro. Kemudian mereka berpindah kepada Komunisme, pergi ke Moskow dan belakangan ditahun 1948, setelah aku mendjadi Presiden, mengadakan pemberontakan Komunis dan usaha perebutan kekuasaan.

Mereka merentjanakan kedjatuhanku. Akan tetapi orang Djawa mempunjai suatu peribahasa, ,,Gurumu harus dihormati, bahkan lebih daripada orangtuamu sendiri.” Ketika Pak Alimin sudah terlalu amat tua dan sakit, aku mengundjunginja. Lalu surat-surat kabar mengotjeh, ,,Hee, lihat Sukarno mengundjungi seorang Komunis! “Ja, Pak Alimin telah mentjoba mendjatuhkanku. Akan tetapi dia adalah salah-seorang guruku di hari mudaku. Aku berterima-kasih kepadanja atas segala jang baik jang telah diberikannja kepadaku. Aku berhutang budi kepadanja. Jang sama beratnja untuk dilupakan ialah kenjataan, bahwa dia adalah salah-seorang perintis kemerdekaan. Seseorang jang berdjuang untuk pembebasan tanah-airnja—tak pandang bagaimana perasaannja terhadapku kemudian—berhak mendapat penghargaan dari rakjatnja dan dari Presidennja. Sama djuga halnja dengan Pak Tjokro. Sampai di hari aku akan menutup mata untuk selama-lamanja aku akan tetap menulis namanja dengan hati jang lembut. Dalam bidang politik Bung Karno adalah seorang Nasionalis. Dalam kepertjajaan Bung Karno seorang jang beragama. Akan tetapi Bung Karno mempunjai kepertjajaan jang bersegi tiga. Dalam bidang ideologi, ia sekarang mendjadi sosialis. Kuulangi bahwa aku mendjadi sosialis. Bukan Komunis. Aku tidak mendjadi Komunis. Masih sadja ada orang jang berpikir bahwa Sosialisme sama dengan Komunisme. Mendengar perkataan sosialis mereka tidak dapat tidur. Mereka melompat dan memekik, ,,Haaa, saja sudah tahu! Bahwa Bung Karno seorang Komunis!” Tidak, aku bukan Komunis. Aku seorang SosiaIis. Aku seorang Kiri. Orang Kiri adalah mereka jang menghendaki perubahan kekuasaan kapitalis, imperialis jang ada sekarang. Kehendak untuk menjebarkan keadilan sosial adalah kiri. Ia tidak perlu Komunis. Orang kiri bahkan dapat bertjektjok dengan orang Komunis. Kiriphobi, penjakit takut akan tjita-tjita kiri, adalah penjakit jang kutentang habis-habisan seperti Islamophobi. Nasionalisme tanpa keadilan sosial mendjadi nihilisme.

Bagaimana suatu negeri jang miskin menjedihkan seperti negeri kami dapat menganut suatu aliran lain ketjuali haluan sosialis? Mendengar aku berbitjara tentang demokrasi, seorang pemuda menanjakan apakah aku seorang demokrat. Aku berkata, ,,Ja, aku pasti sekali seorang demokrat.” Kemudian dia berkata, ,,Akan tetapi menurut pandangan saja tuan seorang sosialis.” ,,Saja sosialis, djawabku. Ia menjimpulkan semua itu dengan, ,,Kalau begitu tentu tuan seorang sosialis demokrat.” Mungkin ini salah satu djalan untuk menamaiku. Orang Indonesia berbeda dengan bangsa lain didunia. Sosialisme kami adalah sosialisrne jang dikurangi dengan pengertian rnaterialistisnja jang ekstrim, karena bangsa Indonesia adalah bangsa jang terutama takut dan tjinta kepada Tuhan. Sosialisme kami adalah suatu tjampuran. Kami menarik persamaan politik dari Declaration of Independence dari Amerika.

Kami menarik persamaan spirituil dari Islam dan Kristen. Kami menarik persamaan ilmiah dari Marx. Ke dalam tjampuran jang tiga ini kami tambahkan kepribadian nasional: Marhaenisme. Kemudian kami memertjikkan ke dalamnja Gotong-rojong jang mendjadi djiwa, inti daripada bekerdja bersama, hidup bersama dan saling bantu-membantu. Kalau ini ditjampurkan semua, maka hasilnja adalah Sosialisme Indonesia. Konsepsi-konsepsi ini, jang dimulai semendjak tahun duapuluhan dan tak pernah aku menjimpang daripadanja, tidak termasuk begitu sadja dalam penggolongan sesuai dengan djalan pikiran orang Barat, tetapi memang orang harus mengingat, bahwa aku tidak mempunjai djalan pikiran Barat. Merubah rakjat sehingga mereka tergolong dengan baik dan teratur ke dalam kotak Barat tidak mungkin dilakukan. Para pemimpin jang telah mentjoba, gagal dalam usahanja. Aku selalu berpikir dengan tjara mentalita Indonesia. Semendjak dari sekolah menengah aku telah mendjadi pelopor. Dalam hal politik aku tidak berpegang kepada salah-satu tjontoh. Mungkin inilah jang menjebabkan, mengapa aku djadi sasaran dari demikian banjak salah-pengertian.

Aliran politikku tidak sama dengan aliran orang lain. Tapi di samping itu latar belakangkupun tidak bersamaan dengan siapapun djuga. Nenekku memberiku kebudajaan Djawa dan Mistik. Dari bapak datang Theosofisme dan Islamisme. Dari ibu Hinduisme dan Buddhisme. Sarinah memberiku Humanisme. Dari Pak Tjokro datang Sosialisme. Dari kawan-kawannja datang Nasionalisme. Aku menambah renungan-renungan dari Karl Marxisme dan Thomas Jeffersonisme. Aku beladjar ekonomi dari Sun Yat Sen. Aku beladjar kebaikan dari Gandhi. Aku sanggup mensynthese pendidikan setjara ilmu modern dengan kebudajaan animistik purbakala dan mengambil ibarat dari hasilnja mendjadi pesan-pesan pengharapan jang hidup dan dapat dihirup sesuai dengan pengertian dari rakjat kampung.

Hasil jang keluar dari semua ini dinamakan orang—dalam istilah biasa—Sukarnoisme. Aku tumbuh dari Sarekat Islam, akan tetapi belum menukarnja dengan partai lain jang formil. Apa jang disebut organisasi politikku di tahun 1926 adalah pertumbuhan dari Bandung Studenten Club jang disponsori oleh universitas, agar para mahasiswa dapat bermain bridge atau biljar. Ia didirikan untuk pesta-pesta dan kegembiraan. Anak Bumiputera dibolehkan masuk club itu akan tetapi, setelah mengikutinja, aku menjadari bahwa kami tidak dapat mendjadi anggota pengurus. ,,Saja tidak dapat menerima keadaan sematjam itu,” kataku, ,,Saja akan keluar dari perkumpulan ini.” Seperti di Modjokerto, setiap orang main ikut-ikutan dengan pemimpin. Pada waktu Sukarno keluar dari Bandung Studenten Club ini, anak Indonesia lainnjapun mengikutinja. Dengan lima orang anak Indonesia aku mendirikan Perkumpulan Studi. Aku memilih bahan batjaan jang bernilai seperti ,,Handelingen der Tweede Kamer van de Staten Generaal” (Kegiatan Tweede Kamer dari Staten Generaal Negeri Belanda) dari perpustakaan. Dan kami setjara berganti-ganti membatjanja seminggu seorang. Pada setiap penutupan lima mingguan sekali kami mengadakan pertemuan—biasanja dirumahku — dan duduk sepandjang malam memperdebatkan pokok-pokok dari strategi jang ada di dalamnja. Orang selalu dapat mengetahui, kapan Bung Karno mempeladjari buku itu. Kalimat-kalimat jang perlu, diberi bergaris di bawahnja. Paragraf-paragraf diberi lingkaran. Siapa sadja jang membatjanja setelah itu dapat melihat dengan mudah aliran pikiranku. Kutuliskan kritik-kritikku di pinggir pinggir halaman. Aku memberi tanda halaman-halaman jang kusetudjui dan memberi tjatatan di bawah halaman-halaman jang tidak kusetudjui.

Tadinja segar dan bersih dari rak perpustakaan, djilid-djilid jang berharga itu kemudian tidak lagi bersih sesudah itu. Ke dalam Algemeene Studiclub ini hinggaplah intellektuil-intellektuil muda bangsa Indonesia, banjak jang baru sadja kembali dari Negeri Belanda dengan idjazah kesardjanaannja jang gilang-gemilang di tangan mereka. Pertukaran buah-pikiran dalam bidang politik jang aktif adalah kegiatan kami jang pokok.

Tjabang-tjabang dari Studieclub ini tumbuh di Solo, Surabaja dan kota lainnja di Djawa. Kami kemudian menerbitkan madjalah perkumpulan — Suluh Indonesia Muda -— dan, sebagaimana dapat diduga, Ketua Sukarno adalah penjumbang tulisan jang pertama. Karena aku begitu terikat dalam soal-soal politik sehingga kurang memikirkan soal-soal lain, maka biro teknikku merosot sehingga ia mati sama-sekali. Pikiranku terlalu sangat tertudju kepada segi jang dalam dari kehidupan ini daripada memikirkan jang tidak berarti, sehingga di malam terang bulan jang penuh gairah aku bahkan lebih memikirkan isme daripada memikirkan Inggit.

Pada waktu muda-mudi jang lain menemukan kasihnja satu sama lain, aku mendekam dengan ,,Das Kapital”. Aku menjelam lebih dalam dan lebih dalam lagi. Djadi aku mendekati achir daripada windu jang ketiga. Sewindu adalah suatu djangka waktu jang lamanja delapan tahun. Tahun 1901 sampai 1909 adalah windu dengan pemikiran kanak-kanak. 1910 sampai 1918 adalah windu pengembangan. 1919 sampai 1927 windu untuk mematangkan diri. Aku sudah siap sekarang.

 

 

Bab 8

Mendirikan P.N.l.

 

WAKTUNJA sudah tepat bagiku untuk mendirikan partaiku sendiri. Ada dua faktor. Di tahun 1917 dinasti dari Hohenzollern terpetjah-petjah di Djerman, Franz Josef djatuh, Czar Alexander gojah. Serpihan-serpihan dari mahkota-mahkota dunia jang telah dibinasakan itu melajang-lajang melalui telinga Ratu Wilhelmina dan geledek dari revolusi jang berdekatan menggulung-gulung melalui pekarangannja. 1917 membawa pemberontakan Bolsjewik dari Lenin dan lahirnja Uni Soviet. Bela Kun memimpin suatu pemberontakan di Hongaria. Buruh Djerman mendirikan Republik Weimar. Di sebelah kanan Negeri Belanda dan di sebelah kirinja menganga djurang chaos. Sedang ia sendiri setelah tiga tahun peperangan hantjur dalam segi materiil dan spirituil. Karena hubungan antara Negeri Belanda dan Hindianja terputus akibat gangguan peperangan dan perhubungan laut jang hampir sama-sekali tidak ada, maka bagian terbesar dari kekajaannja—kekajaan jang berasal dari anak-tirinja Indonesia—punah. Pun di bidang politik ia lumpuh. Kebutuhannja jang besar menjebabkan kekosongan jang serius, jang segera diisi oleh ketidak-puasan dan kekatjauan. Untuk melengkapi nasib sialnja, maka seorang Sosialis bernama Dr. Pieter Jelles Troelstra mengadakan gerakan revolusioner proletariat.

Pertama perang, kemudian timbulnja revolusi, menjebabkan negeri Belanda mendjadi lemah. Digerakkan oleh peristiwa-peristiwa ini nasionalisme di Hindia Belanda tumbuh bagai bisul-bisul. Orang Belanda menjadari, bahwa mereka harus melunakkan hati penduduknja jang berkulit sawo-matang di sepandjang katulistiwa, oleh karena Belanda sudah tjukup banjak menghadapi kesukaran di pekarangan muka rnereka sendiri, hal mana tidak memberi kemungkinan untuk bisa memadamkan pemberontakan bila berkobar di Indonesia. Hindia adalah gabusnja tempat Belanda mengapung Dengan segala daja-upaja mereka perlu membelenggu terus ,,saudara-saudara” mereka jang berkulit sawo-matang setjara patuh. Karena negeri di balik pematang itu terlalu lemah untuk menggunakan kekuatan, maka udara dari peristiwa-peristiwa dunia membawa mereka kepada Djandji Nopember sebagai djalan untuk menenangkan keadaan. Di bulan Nopember tahun 1918 Gubernur Djendral, Graaf van Limburg Stirum, mendjandjikan kepada kami hak-hak politik jang lebih luas, kebebasan jang lebih besar, kemerdekaan untuk mengadakan rapat-rapat umum, hak bersuara di Dewan Rakjat.

Segera kami menjadari, bahwa Negeri Belanda tidak mempunjai maksud untuk menepatil djandji-djandji jang terkenal busuk dan pendek umurnja itu. Dalam setahun Belanda mengchianati kami dengan mengangkat Gubernur Djendral Dirk Fock, jang paling reaksioner dari segala djaman. Setjara perbandingan maka rezim-rezim sebelumnja adalah moderat. Akan tetapi Fock sikapnja lebih menindas dan mengurangi hak-hak jang telah pernah diberikan. Ia menekan, mengedjar-ngedjar dan mengadakan undang-undang jang mengurangi kebebasan apapun djuga jang kami peroleh sebelumnja. Kalau seseorang mengeluarkan tjelaan, sekalipun ,,tersembunji”, dapat menjebabkannja masuk pendjara. Dengan perkataan lain, kalau engkau seorang diri dalam sebuah gua dan utjapanmu jang mengigau dalam pengasingan itu dilaporkan kepada polisi, engkau dapat didjatuhi hukuman enam tahun. Engkau bahkan-bahkan masuk pendjara karena berbitjara dalam mimpi! Pemerintahan ini memberikan peluang bagi pemakaian ,,Undang-undang Luar-biasa”, jang menjebabkan demikan banjak saudara kami laki-laki dan perempuan dikirim ke tempat-tempat jang membikin berdiri bulu-roma. Undang-undang itu memberi kekuasaan untuk menginternir atau mengeksternir seorang Bumiputera masuk pendjara atau pengasingan tanpa diadili terlebih dulu. Pada waktu Negeri Belanda memperoleh kekuatan, maka keadaan semakin memburuk. Fock jang keterlaluan itu digantikan oleh De Graeff jang lebih djahat lagi. Waktunja sudah datang untuk mendesakkan nasionalisme. Tapi bagaimana?

Kami tidak mempunjai satu partaipun jang kuat. Sarekat Islam petjah dua. Pak Tjokro tetap memegang kendali dari bagian jang sudah lemah, sedang bagian jang lain merobah namanja mendjadi Sarekat Rakjat. Dengan dalih perselisihan maka Komunisme menjusup kedalam Sarekat Rakjat. Dalam tahun 1926 mereka merentjanakan dan mendjalankan ,,Revolusi Fisik Besar untuk Kemerdekaan dan Komunisme”.

Pemberontakan ini menemui kegagalan jang menjedihkan. Belanda menindasnja dengan serta-merta dan lebih dari 2.000 pemimpin diangkut dengan kapal ke pelbagai tempat pengasingan. 10.000 orang lagi dipendjarakan. Akibat selandjutnja adalah chaos. Serekat Rakjat dinjatakan terlarang. Mereka jang memilih Sarekat Rakiat sekarang tidak punja apa-apa. Mereka jang semakin tidak puas dengan Tjokropun tidak punja apa-apa Tidak ada lagi inti gerakan nasional jang kuat. Dalam pada itu aku sudah menemukan pegangan dalam bidang politik. Pada setiap tjangkir kopi tubruk, di setiap sudut di mana orang berkumpul nama Bung Karno mendjadi buah-mulut orang. Kebentjian umum terhadap Belanda dan kepopuleran Bung Karno memperoleh tempat jang berdampingan dalam setiap buah-tutur.

Pada tanggal empat Djuli 1927, dengan dukungan dari enam orang kawan dari Algemeene Studieclub, aku mendirikan P.N.I., Partai Nasional Indonesia. Rakjat sudah siap. Bung Karno sudah siap. Sekarang tidak ada jang dapat menahan kami—ketjuali Belanda. Tudjuan daripada P.N.I. adalah kemerdekaan sepenuhnja — SEKARANG. Bahkan pengikut-pengikutku jang paling setia gemetar oleh tudjuan jang terlalu radikal ini, oleh karena organisasi-organisasi sebelumnja selalu menjembunjikan sebagian dari tudjuannja, supaja Belanda tidak mengganggu mereka. Denganku, tidak ada jang perlu disembunjikan, tanpa tedeng aling-aling. Dalam perdebatan di ruangan jang tertutup, beberapa orang mentjoba menggelintjirkanku dari rel itu. ,,Rakjat belum lagi siap,” kata mereka.,,Rakjat SUDAH siap,” djawabku dengan tadjam. ,,Dan mendjadi sembojan kitalah: ‘Indonesia merdeka SEKARANG.’ Kukatakan ‘Indonesia merdeka SEKARANG.”,,Ini tidak mungkin dilakukan, Bung,” mereka memotong ,,Tuntutan Bung Karno terlalu keras. Kita akan dihantjurkan sebelum mulai.

Memang massa rakjat mendengarkan Bung Karno, mengikuti Bung Karno setjara membabi-buta, akan tetapi Indonesia merdeka SEKARANG adalah terlalu radikal. Pertama kita harus mentjapai persatuan nasional terlebih dahulu.”,,Kita tidak bersatu. Betul. Kita terlalu banjak mempunjai ideologi. Setudju. Kita harus memperoleh persatuan nasional. Ja. Akan tetapi kita tidak lagi berdjalan pelahan-lahan. 350 tahun sudah tjukup perlahan! “Mereka mentjoba menerangkan pandangannja jang hebat. ,,Pertama kita harus mendidik rakjat kita jang djutaan. Mereka belum dipersiapkan supaja dapat mengendalikan diri sendiri. Kedua, kita harus memperbaiki kesehatan mereka supaja dapat berdiri tegak. Lebih baik kalau segala sesuatu sudah lengkap dan selesai terlebih dahulu.” ,,Satu-satunja saat kalau segala sesuatu sudah lengkap dan selesai ialah bilamana kita sudah mati,” aku berteriak. ,,Untuk mendidik mereka setjara pelahan akan memakan waktu beberapa generasi. Kita tidak perlu menulis thesis atau membasmi malaria sebelum kita memperoleh kemerdekaan. Indonesia merdeka SEKARANG!

Setelah itu baru kita mendidik, memperbaiki kesehatan rakjat dan negeri kita. Hajolah kita bangkit sekarang.” ,,Tentu Belanda akan menangkap kita.” ,,Belandapun akan mempunjai respek sedikit terhadap kita. Sudah mendjadi sifat manusia untuk meludahi jang lemah, akan tetapi sekalipun kita menghadapi lawan jang gagah berani, setidak-tidaknja kita merasa bahwa dia pantas mendjadi lawan.” Aku memandang diriku sebagai seorang pemberontak. Kupandang P.N.I. sebagai tentara pemberontak.

Di tahun 1928 aku mengusulkan, agar semua anggota memakai pakaian seragam. Usulku ini menimbulkan polemik jang hebat. Seorang wakil jang setia dari Tegal berdiri dan menjatakan, ,,Ini tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Seharusnja kita memakai sarung tanpa sepatu atau sandal. Hendaklah kita kelihatan seperti orang-orang revolusioner sebagaimana kita seharusnja.” Aku tidak setudju. ,,Banjak orang jang kaki-ajam, akan tetapi mereka bukan orang jang revolusioner. Banjak orang jang berpangkat tinggi memakai sarung, tapi mereka bekerdja dengan sepenuh hati untuk kolonialis. Jang menandakan seseorang itu revolusioner adalah bakti jang telah ditunaikannja dalam perdjoangan. Kita adalah suat” tentara, saudara-saudara.

,,Selandjutnja saja mengandjurkan untuk tidak memakai sarung, sekalipun berpakaian preman. Pakaian jang kuno ini menimbulkan pandangan jang rendah. Di saat orang Indonesia memakai pantalon, di saat itu pula ia berdjalan tegap seperti setiap orang kulit-putih. Akan tetapi begitu ia memasangkan lambang feodal di sekeliling pinggangnja ia lalu berdjalan dengan bungkukan badan jang abadi. Bahunja melentur ke muka. Langkahnja tidak djantan. Ia beringsut dengan merendahkan diri. Pada saat itupun ia bersikap ragu dan sangat hormat dan tunduk.” ,,Sungguhpun begitu,” Ali Sastroamidjojo S.H. membalas, jang ketika itu mendjadi ketua Tjabang P.N.I. dan kemudian di tahun limapuluhan mendjadi Dutabesar Indonesia jang pertama di Amerika Serikat, ,,Sarung itu sesuai dengan tradisi Indonesia.” ,,Tradisi Indonesia di masa jang lalu—betul,” aku meledak, ,,Akan tetapi tidak sesuai dengan Indonesia Baru dari masa datang.

Kita harus melepaskan diri kita dari pengaruh-pengaruh masa lampau jang merangkak-rangkak seperti pelajan, djongos dan orang dusun jang tidak bernama dan tidak berupa. Mari kita tundjukan bahwa kita sama progressif dengan orang Belanda. Kita harus tegak sama tinggi dengan mereka. Kita harus memakai pakaian modern.” Ali berdiri lagi. ,,Untuk memperoleh pakaian seragam perlu biaja jang besar, sedangkan kita tidak punja uang.” ,,Kita akan usahakan pakaian jang paling murah,” aku menjarankan. ,,Tjukup dengan badju lengan pendek dan pantalon. Supaja kita kelihatan gagah dan tampan tidak perlu biaja jang besar. Kita harus berpakaian jang pantas dan kelihatan sebagai pemimpin.” Ada jang memihak kepadaku. Sebagian lagi menjokong Ali. Aku kalah.

Sungguhpun demikian keinginan untuk berpakaian seragam ini tidak pernah hilang dari pikiranku. Dan begitulah, setelah mengambil sumpah sebagai Presiden di tahun 1945 aku mulai memakai uniform. Pers asing kemudian mengeritikku. Mereka mengedjek. Uhhh, Presiden Sukarno memakai kantjing dari emas. Uhhh! Dia pakai uniform hanja untuk melagak.” Tjobalah pertimbangkan, aku seorang ahli ilmu djiwa massa. Memang ada pakaianku jang lain. Akan tetapi aku lebih suka memakai uniform setiap muntjul di hadapan umum, oleh karena aku menjadari bahwa rakjat jang sudah dindjak-indjak kolonialis lebih senang melihat Presidennja berpakaian gagah. Taruhlah Kepala Negaranja muntjul dengan badju kusut dan berkerut seperti seorang wisatawan dengan sisi topinja jang lembab dan penuh keringat, aku jakin akan terdengar keluhan keketjewaan. Rakjat Marhaen sudah biasa melihat pakaian sematjam itu dimana-mana. Pemimpin Indonesia haruslah seorang tokoh jang memerintah. Dia harus kelihatan berwibawa. Bagi suatu bangsa jang pernah ditaklukkan memang perlu hal-hal jang demikian itu. Rakjat kami sudah begitu terbiasa melihat orang-orang asing kulit-putih mengenakan uniform jang hebat, jang dipandangnja sebagai lambang dari kekuasaan. Dan merekapun bagitu terbiasa melihat dirinja sendiri pakai sarung, seperti ia djadi tanda dari rasa rendah-diri.

Ketika aku diangkat mendjadi Panglima Tertinggi, aku menjadari bahwa rakjat menginginkan satu tokoh pahlawan. Kupenuhi keinginan mereka. Pada mulanja aku bahkan memakai pedang emas di pinggangku. Dan rakjat kagum. Sebelum orang lain menjebunja, akan kukatakan padamu lebih dulu. Ja, aku tahu bahwa aku kelihatan lebih pantas dalam pakaian seragam. Akan tetapi terlepas daripada kesukaan akan pakaian netjis dan rapi, kalau aku berpakaian militer maka setjara mental aku berpakaian dalam selubung kepertjajaan.

Kepertjajaan ini pindah kepada rakjat. Dan mereka memerlukan ini. 1928 adalah tahun propaganda dan pidato. Bandung kubagi dalam daerah-daerah politik: Bandung Utara, Bandung Selatan, Bandung Timur, Barat, Tengah, daerah sekitar dan sebagainja. Di tiap daerah itu aku berpidato sekali dalam seminggu, sehingga aku diberi djulukan sebagai ,,Singa Podium”. Kami tidak mempunjai pengeras-suara, karena itu aku harus berteriak sampai parau. Di waktu sore aku memekik-rnekik kepada rakjat jang menjemut di tanah-lapang. Di malam hari aku membakar hati orang-orang jang berdesak-desak sampai berdiri dalam gedung pertemuan. Dan di pagi hari aku menarik urat leher dalam gedung bioskop jang penuh sesak dengan para pentjinta tanah-air. Kami pilih gedung bioskop untuk pertemuan pagi, oleh karena pada djam itu kami dapat menjewanja dengan ongkos murah. Lalu berdatangan pulalah para pedjoang kemerdekaan dari segala pendjuru pulau Djawa ke Bandung untuk mendengarkan aku berpidato. Seorang laki-laki mengadakan perdjalanan dari Sumatra Selatan untuk mendengarkan pidato dari Singa Podium jang, katanja, ,,sungguh-sungguh menjentuh tali-hati setiap orang seperti pemain ketjapi”. Kenjataan ini adalah kesan jang sangat luar-biasa baginja, oleh karena ia tidak mempunjai uang. Aku terpaksa memindjam uang segobang untuk membelikannja nasi. Keadaan kami terlalu melarat, sehingga uang sepeserpun ada harganja. Aku tidak punja uang supaja dapat membantunja sekalipun hanja sekian. Akan tetapi kesetiaan dari patriot utama ini patut dihargai. Setelah dua tahun ia kukirim kembali untuk mendjalankan tugas di daerahnja sendiri. Kamaruddin ini mendjadi salah-seorang kawan seperdjoanganku jang akrab sekarang. Masa ini djamannja kerdja keras.

Djaman jang memberikan kegembiraan sebesar-besarnja jang pernah kualami. Membikin kerandjingan massa rakjat sampai mereka mabuk dengan anggurnja ilham adalah suatu kekajaan jang tak ternilai bagiku, untuk mana aku mempersembahkan hidup ini. Bagiku ia adalah zat hidup. Apabila aku berbitjara tentang negeriku, semangatku berkobar-kobar. Aku mendjadi perasa. Djiwaku bergetar. Aku dikuasai oleh getaran-djiwa ini dalam arti jang sebenar-benarnja dan getaran ini mendjalar kepada orang-orang jang mendengarkan. Sajang, di antara pendengarku semakin banjak anggota polisi. Mereka selalu berada di mana sadja, kalau aku berpidato dan menguraikan siasatku dengan teliti. Memang ada tjara-tjara untuk mengelabui orang-orang asing sehingga mereka tidak bisa menangkap setiap insiniasi. Engkau dapat menggunakan peribahasa daerah atau menjatakan suatu pengertian dengan gerak. Rakjat mengerti. Dan mereka bersorak.

Di djaman kami, kami tidak membalas dendam kepada polisi. Taruhlah kami dapat berbuat sedemikian, akan tetapi hasilnja djauh lebih menjenangkan dengan mempermainkannja. Kalau aku berhadapan dengan wadjah baru jang mengikutiku dari belakang setelah selesai berpidato, sikapku selalu ramah. Aku tidak pernah membesarkan suara dan mengeledek, ,,Hee, apa-apaan kamu mengikuti aku, ha?” Tidak pernah sekasar itu.

Dengan senjum jang menjenangkan aku seenaknja membiarkannja melakukan pengedjaran di belakangku dalam teriknja sinar matahari menudju salah satu daerah pesawahan di pinggir kota. Dari pesawat-terbang maka daerah pesawahan dengan petak-petak ketjil kelihatan menghampar bagai selimut jang ditambal-tambal.

Dan pematang-pematang jang mengelilingi tiap petak merupakan dinding penahan air supaja tetap tinggal dalam petak itu dan menggenangi benih. Kubiarkan orang itu mengikuti djedjakku ke pinggir daerah pesawahan, kuletakkan sepeda di atas rumput dan berlari sepandjang pematang ke rumah seorang kawan.

Karena tiba-tiba timbul dalam pikiranku hendak mengundjunginja. Sudah tentu aku memilih kawan jang tinggal tjukup djauh dari djalan dan kira-kira setengah mil melalui pematang sawah. Aku tahu betul, bahwa orang Belanda jang gemuk dan goblok itu tidak boleh meninggalkan sepeda mereka di pinggir djalan kalau tidak ada jang mendjaga. Dan adalah tugas kewadjiban mereka untuk tidak membiarkan lawan seperti Bung Karno lepas dari pandangannja. Djadi, apa akal orang Belanda terkutuk itu?

Tiada akal mereka lain selain memikul sepeda jang berat itu, lalu berdjalan dengan terhunjung-hunjung merentjahi air sawah atau meniti pematang jang ketjil itu sebisa-bisanja. Memandangi orang-orang ini berkeringat, memusatkan tenaga dan terhunjung-hunjung itu memberikan kegembiraan kepadaku jang tak ada taranja. Tjobalah bajangkan ketegangan dari masa ini. Kami adalah pelopor-pelopor revolusi. Bersumpah untuk menggulingkan Pemerintah. Dan Sukarno—mendjadi duri jang paling besar. Setiap hari tadjuk-rentjana menentangku dan tak pernah terluang waktu barang sedjam di mana aku tidak dikedjar-kedjar oleh dua orang detektif atau beberapa orang mata-mata sematjam itu. Aku mendjadi sasaran utama bagi Belanda. Mereka mengintipku seperti berburu binatang liar. Mereka melaporkan setiap gerak-gerikku. Sangat tipis harapanku agar bisa luput dari intipan ini. Kalau para pemimpin dari kota lain datang, aku harus mentjari tempat

rahasia untuk berbitjara. Seringkali aku mengadakan pertemuan penting di bagian belakang sebuah mobil dengan merundukkan kepala. Dengan begini polisi tidak dapat mendengar atau melihat apa jang terdjadi.

Kami harus mendjalankan tjara penipuan jang demikian itu. Aku memikirkan siasat gila-gilaan untuk membikin bingung polisi. Tempat lain jang kami pergunakan untuk pertemuan ialah rumah pelatjuran. Aduh, ini luar-biasa bagusnja.

Hanja semata-mata untuk memenuhi kepentingan tugasku. Kemana lagi seseorang jang dikedjar-kedjar harus pergi, supaja aman dan bebas dari ketjurigaan dan di mana kelihatannja seolah-olah kepergiannja itu tidak untuk menggulingkan pemerintah? Tjoba……. dimana lagi? Djadi berapatlah kami di sana, di tempat pelatjuran, sekitar djam delapan dan sembilan malam, jaitu waktu jang tepat untuk itu. Kami pergi sendiri-sendiri atau dalam kelompok ketjil. Setelah memperoleh kebulatan kata kami bubar, seorang melalui pintu depan, dua orang lagi melalui pintu samping, aku mengambil djalan belakang dan seterusnja. Selalu pada hari berikutnja aku harus berurusan dengan Komisaris Besar Polisi, Albrechts. Setelah memeriksa tentang gerak-gerikku ia menjerang ,,Sekarang dengarlah, tuan Sukarno, kami tahu dengan pasti, bahwa tuan ada di sebuah rumah pelatjuran semalam. Apakah tuan mengingkarinja?” ,,Tidak, tuan” djawabku dengan suara rendah sambil memandang seperti orang jang berdosa, hal mana sepantasnja bagi orang jang sudah kawin. ,,Saja tidak dapat berdusta kepada tuan. Tuan mengetahui saja, saja kira.” Kemudian ia menarik mulutnja ke bawah ke dekat mulutku dan bersuara seperti menjalak, ,,Untuk apa? Kenapa tuan pergi kesana?” Lalu kudjawab, ,,Apa maksud tuan? Bukankah saja seorang lelaki? Bukankah umur saja lebih dari 16 tahun?” ,,Nah,” ia meringis, memandang kepadaku dekat-dekat. ,,Kami tahu. Apa tuan pikir kami bodoh? Lebih baik terus-terang. Tuan dapat mentjeritakan kepada kami mengapa tuan ke sana. Apa alasannja?” ,,Jaaahhh, dugaan tuan untuk apa saja kesana?” Kataku agak kemalu-maluan. ,,Untuk bertjintaan dengan seorang perempuan, itulah alasann ja.” ,,Saja akan buat laporan lengkap mengenai ini.” ,,Untuk siapa? Isteri saja?”,,Tidak, untuk Pemerintah,” dia membentak. ,,O,” kataku terengah mengeluarkan keluhan jang bersuara, .,Baiklah.” Pelatjur

adalah mata-mata jang paling baik di dunia.

Aku dengan segala senang hati mengandjurkan ini kepada setiap Pemerintah dalam gerakan P.N.I.-ku di Bandung terdapat 670 orang dan mereka adalah anggota jang paling setia dan patuh daripada anggota lain jang pernah kuketahui. Kalau menghendaki mata-mata jang djempolan, berilah aku seorang pelatjur jang baik. Hasilnja mengagumkan sekali dalam pekerdjaan ini. Tak dapat dibajangkan betapa bergunanja mereka ini. Jang pertama, aku dapat menjuruh mereka menggoda polisi Belanda. Djalan apa lagi jang lebih baik supaja melalaikan orang dari kewadjibannja selain mengadakan pertjintaan jang bernafsu dengan dia ‘kan?

Dalam keadaan jang mendesak aku menundjuk seorang polisi tertentu dan membisikkan kepada bidadariku, ,,Buka kupingmu. Aku perlu rahasia apa sadja jang bisa kaubudjuk dari babi itu.” Dan betul-betul ia memperolehnja. Polisi-polisi jang tolol ini tidak pernah mengetahui, dari mana datangnja keterangan jang kami peroleh. Tak satupun anggota partai jang gagah dan terhormat dari djenis laki-laki dapat mengerdjakan tugas ini untukku! Masih ada prestasi lain jang mengagumkan dari mereka ini. Perempuan-perempuan latjur adalah satu-satunja di antara kami jang selalu mempunjai uang. Mereka mendjadi penjumbang jang baik apabila memang diperlukan. Anggota-anggotaku ini bukan sadja penjumbang jang bersemangat, bahkan mendjadi penjumbang jang besar. Sokongannja besar ditambah lagi dengan sokongan tambahan. Aku dapat menggunakannja lebih dari itu. Sudah tentu tindakanku ini mendapat ketjaman hebat karena memasukkan para pelatjur dalam partai. Sekali lagi Ali jang berbitjara. ,,Sangat memalukan,” keluhnja. ,,Kita merendahkan nama dan tudjuan kita dengan memakai perempuan sundal—kalau Bung Karno dapat mema’afkan saja memakai nama itu. Ini sangat memalukan.” ,,Kenapa?” aku menentang. ,,Mereka djadi orang revolusioner jang terbaik. Saja tidak mengerti pendirian Bung Ali jang sempit.” ,,Ini melanggar susila”, katanja menjerang. ,,Apakah Bung Ali pernah menanjakan alasan mengapa saja mengumpulkan 670 orang perempuan latjur?” tanjaku kepadanja. ,,Sebabnja ialah karena saja menjadari, bahwa saja tidak akan dapat madju tanpa suatu kekuatan. Saja memerlukan tenaga manusia, sekalipun tenaga perempuan. Bagi saja persoalannja bukan soal bermoral atau tidak bermoral. Tenaga jang ampuh, itulah satu-satunja jang kuperlukan.” ,,Kita tjukup mempunjai kekuatan tanpa mendidik wanita-wanita ini,” Ali memprotes. ,,P.N.I. mempunjai tjabang-tjabang di seluruh tanah-air dan semuanja ini berdjalan tanpa anggota seperti itu. Hanja di Bandung kita melakukan sematjam ini.” ,,Dalam pekerdjaan ini maka gadis-gadis pesanan—pelatjur atau apapun nama jang akan diberikan kepadanja—adalah orang-orang penting,” djawabku. ,,Anggota lain dapat kulepaskan. Akan tetapi melepaskan perempuan latjur — tunggu dulu. Ambillah misalnja Mme. Pompadour—dia seorang pelatjur. Lihat betapa masjhurnja dia dalam sedjarah. Ambil pula Theroigne de Merricourt, pemimpin besar wanita dari Perantjis. Lihat barisan-roti di Versailles. Siapakah jang memulainja? Perempuan-perempuan latjur. “Kupu-kupu malam ini jang djasanja diperlukan untuk mengambil bagian hanja di bidang politik, ternjata memperlihatkan hasil jang gilang-gemilang pun di bidang lain.

Mereka memiliki daja-penarik seperti besi berani. Setiap hari Rabu tjabang partai mengadakan kursus politik dan anggota-anggota dari kaum bapak akan datang berdujun-dujun apabila dapat melepaskan pandang pada tentaraku jang tjantik-tjantik itu. Djadi, aku tentu harus mengusahakan supaja mereka datang setiap minggu. Tidak sadja musuh-musuhku jang datang bertamu kepada gadis-gadis itu guna memenuhi kebutuhannja, akan tetapi dari anggota kami sendiripun ada djuga. Dan mendjadi tanggung-djawab jang paling besarlah untuk membasmi anasir-anasir dalam partai—baik laki-laki maupun perempuan—jang tidak bisa menjimpan rahasia. Kamipun harus membasmi tjutjunguk-tjutjunguk—jaitu orang jang dibajar untuk memata-matai partainja sendiri. Setiap tempat mempunjai tjutjunguk-tjutjunguk. Untuk mejakinkan, apakah agen-agen kami djudjur dan dapat menutup mulutnja, kami mengudji mereka. Selama enam bulan sampai setahun gadis-gadis pelatjur itu mendjadi ,,Tjalon Anggota”. Ini berarti bahwa, sementara kami memberi bahan dan mengawasinja, mereka tetap sebagai tjalon. Kalau sudah diangkat mendjadi mata-mata jang diakui ketjakapannja, maka itu tandanja kami sudah jakin ia dapat dipertjaja penuh. Sebagai perempuan djalanan seringkali mereka harus berurusan dengan hukum dan dikenakan pendjara selama tudjuh hari atau denda lima rupiah. Akan tetapi aku mendorongnja supaja mendjalani hukum kurungan sadja.

Suatu kali diadakan razzia dan seluruh kawanan dari pasukan Sukarno diangkat sekaligus. Karena setia dan patuh kepada pemimpinnja, maka ketika hakim meminta denda mereka menolak, ,,Tidak, kami tidak bersedia membajar.” Keempatpuluh orangnja dibariskan masuk pendjara. Aku gembira mendengarnja, oleh karena pendjara adalah sumber keterangan jang baik. Tambahan lagi, ada baiknja untuk masa jang akan datang sebab mereka sudah mengenal para petugas pendjara. Kemudian kusampaikanlah instruksi jang kedua untuk didjalankan nanti setelah bebas. Misalkan setelah itu armadaku mentjari sasarannja di suatu malam.

Umpamakan pula di saat jang bersamaan kepala rumah pendjara sedang berdjalan-djalan makan angin menggandeng isterinja. Pada waktu ia melalui salah seorang bidadari pilihanku ini, si gadis harus tersenjum genit kepadanja dan menegur dengan merdu, ,,Selamat malam” sambil menjebut nama Belanda itu. Beberapa langkah setelah itu tak ragu lagi tentu ia akan berpapasan dengan gadisku jang lain dan diapun akan menjebut namanja dan meraju. ,,Hallo…….Selamat malam untukmu.” Isterinja akan gila oleh teguran ini. Muslihat ini termasuk dalam perang urat-sjaraf kami.

Di djaman P.N.I. ini orang telah mengakuiku sebagai pemimpin, akan tetapi keadaanku masih tetap melarat. Inggit mentjari penghasilan dengan mendjual bedak dan bahan ketjantikan jang dibuatnja sendiri di dapur kami. Selain itu kami menerima orang bajar-makan, sekalipun rumah kami di Djalan Dewi Sartika 22 ketjil sadja. Orang jang tinggal dengan kami bernama Suhardi, seorang lagi Dr. Samsi jang memakai beranda muka sebagai kantor akuntan dan seorang lagi kawanku Ir. Anwari. Kamar tengah mendjadi biro arsitek kami. Sewa rumah seluruhnja 75 rupiah sebulan. Uang makan Suhardi kira-kira 35 rupiah. Kukatakan ,,kira-kira” oleh karena selain djumlah itu aku sering memindjam beberapa rupiah ekstra. Bahkan Inggit sendiripun memindjam sedikit-sedikit dari dia. Adalah suatu rahmat dari Tuhan Jang Maha Pengasih, bahwa kami diberi-Nja nafkah dengan djalan jang ketjil-ketjil. Kalau ada kawan mempunjai uang kelebihan beberapa sen, tak ajal lagi kami tentu mendapat suguhan kopi dan peujeum. Sekali aku mendjandjikan kepada Sutoto kawan sekelas, bahwa aku akan mentraktirnja, oleh karena ia sering mengadjakku minum. Di sore berikutnja ia datang bersepeda untuk berunding dengan pemimpinnja. Rupanja ia kepanasan dan pajah setelah mendajung sepedanja dengan tjepat selama setengah djam. Dan pemimpin dari pergerakan nasional terpaksa menjambutnja dengan, ,,Ma’af, Sutoto, aku tidak dapat bertindak sebagai tuan-rumah untukmu. Aku tidak punja uang.” Kemudian Sutoto mengeluh, ,,Ah, Bung selalu tidak punja uang.” Selagi kami duduk-duduk dengan muka suram di tangga depan, seorang wartawan lewat bersepeda. ,,Heee, kemana?” aku memanggil. ,,Tjari tulisan untuk koranku,” ia berteriak mendjawab. ,,Aku akan buatkan untukmu.” ,,Berapa?” tanjanja mengendorkan djalan sepedanja. ,,10 rupiah!” Wartawan itu seperti hendak mempertjepat djalan sepedanja. ,,Oke, lima rupiah.” Tidak ada djawaban. Aku menurunkan tawaranku. ,,Dua rupiah bagaimana? Akan kuberikan padamu. Pendeknja tjukuplah untuk bisa mentraktir kopi dan peujeum. Setudju?” ,,Setudju!” Kawanku itu menjandarkan sepedanja ke dinding rumah dan sementara dia dan Sutoto duduk di samping aku menulis seluruh tadjuk. Tambahan lagi dengan pena. Tak satupun jang kuhapus, kutjoret atau kutulis kembali. Begitu banjak persoalan politik jang tersimpan di otakku, sehingga selalu ada sadja jang akan ditjeritakan. 15 menit kemudian kuserahkan kepadanja 1.000 perkataan. Dan dengan seluruh uang bajaranku itu aku membawa Sutoto dan Inggit minum kopi dan menikmati penjeum. Bagi kami kemiskinan itu bukanlah sesuatu jang patut dimalukan.

Akan kutjeriterakan padamu, bagaimana kami hidup di tahun-tahun duapuluhan. Pada achir liburan Natal saudara J.A.H. Ondang, seorang kawan, datang ke rumah di larut malam. ,,Bung,” katanja. ,,Aku dalam kesulitan. Apa Bung mau menolongku?” ,,Tentu, akan kutolong, Bung”, aku tersenjum. ,,Ketjuali kalau perlu uang djangan tanja padaku, karena kami sendiripun butuh uang.” ,,Dengarlah,” ia menerangkan, ,,Aku pulang dalam libur ini dan kembali ke sini dua hari lebih tjepat daripada dugaan semula. Rupanja njonja tempatku bajar-rnakanpun pergi berpakansi dan dia belum pulang. Aku tidak bisa masuk ke rumah.” ,,Ke hotel sadja,” saranku. ,,Tidak bisa. Aku tidak sanggup membajarnja. Isi kantongku tjuma dua rupiah. Itulah seluruh milikku. Aku sesungguhnja tidak mau mengganggu Bung, akan tetapi hanja Bung satu-satunja jang kukenal baik di Bandung ini. Apa bisa aku bermalam disini?” ,,Boleh sadja, tjuma rumah kami jang ketjil ini sudah penuh. Kalau tidak keberatan sekamar dengan kami laki-isteri dan kalau mau tidur di tikar, ja, dengan senang hati kami terima Bung menginap disini.” Bukan main! Dia berterima-kasih. Selama tiga malam ia tinggal dengan kami. Kami saling bantu-membantu di hari-hari ini. Seringkali kami mendapat tamu. Para simpatisan jang berada dalam pengawasan polisi ketika masih beladjar di Negeri Belanda, dengan diam-diam diselundupkan ke tanah-air dan dibawa ke rumahku untuk minta pertimbangan.

Kadang-kadang bermalam di tempat kami orang jang membawa ,,Indonesia Merdeka” jang terlarang, jaitu berkala jang ditjetak oleh kawan-kawan di Negeri Belanda, dan tidak boleh beredar di tanah-air. Karena itu kawan-kawan di Amsterdam menggunting artikel-artikel jang penting dan menjisipkannja ke dalam madjalah jang tidak terlarang. Dengan djalan demikian banjak bahan keterangan jang dapat dikirimkan pulang-pergi melalui samudra luas. Pada tanggal 28 Oktober tahun ’28 Sukarno dengan resmi mengikrarkan sumpah chidmat: ,,Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Di tahun 1928 untuk pertama kali kami menjanjikan lagu Kebangsaan ,,Indonesia Raya”. Dan di tahun 1928 itu pulalah aku didakwa di depan Dewan Rakjat. Gubernur Djendral jang menjatakan kegiatanku sebagai persoalan jang serius memperingatkan, bahwa ia ,,sangat menjesalkan sikap non-kooperasi dari P.N.I.,” jang katanja ,,mengandung unsur-unsur jang bertentangan dengan kekuasaan Belanda.” Bulan Desember 1928 aku berhasil mengadakan suatu federasi dari partaiku sendiri—Partai Nasional Indonesia—dengan semua partai-partai utama jang berhaluan kebangsaan. Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia ini, jang disingkat P.P.P.K.I., memungkinkan kami bergerak dengan satuan kekuatan jang lebih besar daripada jang pernah terdjadi sebelumnja. Dan badan inipun memberikan kemungkinan bahaja jang lebih besar pula kepadaku sebagai ketua daripada jang pernah kuhadapi sebelumnja. Maka mulailah Pemerintah Hindia Belanda mengadakan pengawasan jang tak kenal ampun terhadap P.N.I. dan P.P.P.K.I. Pengaruh dari utjapan-utjapanku jang sanggup menggerakkan rakjat-banjak merupakan antjaman jang njata bagi Belanda. Apabila Sukarno berpidato, rakjat tentu berkumpul seperti semut.

Dengan tuntutanku kami selenggarakanlah kegiatan bersama di seluruh pulau. Rapat-rapat jang diadakan pada umumnja dikendalikan oleh pembitjara-pembitjara dari P.N.I. dalam mana Sukarno mendjadi tokoh penarik jang paling banjak diminta. Pemerintah Hindia Belanda mendjamin apa jang dinamakannja kemerdekaan berbitjara, asal pertemuan itu diselenggarakan ,,di dalam ruangan dan tidak dapat didengar dari luar” dan asal rapat diadakan ,,di bawah satu atap dan dibatasi oleh empat dinding” dan asal jang mendengarkan ,,di atas umur 18 tahun”. Merekapun menghendaki, supaja setiap pengundjung memperlihatkan surat undangan. Djadi, kami tjetaklah sendiri undangan itu dan dengan diam-diam membagikannja pada waktu orang masuk. Uang untuk biaja diterima dari orang-orang jang tidak dikenal. Seperti misalnja dari amtenar bangsa Indonesia jang bersimpati dan setjara diam-diam menjerahkan sumbangannja kepada kami.

Untuk mengadakan rapat umum di lapangan terbuka kami harus minta izin dari Pemerintah seminggu sebelumnja. Aturan jang menggelikan ini patut dihargai oleh karena kami dapat minta izin untuk mengutuk pemerintah. Aku teringat akan peristiwa di suatu hari Minggu di Madiun. Seperti biasanja kalau Bung Karno berbitjara, lapangan rapat begitu sesak sehingga ada di antaranja jang djatuh pingsan. Di bagian depan, di atas kursi jang keras dengan sandarannja jang tegak kaku, duduklah empat orang inspektur polisi. Sudah mendjadi kebiasaanku untuk memanaskan hadirin terlebih dulu dengan pidato orang lain sebelum tiba giliranku. Kalau aku akan berbitjara selama satu djam, maka pembitjara sebelumku hanja berpidato lima menit. Apabila aku berbitjara pendek sadja, orang jang berpidato sebelumku mengambil waktu 45 menit. Ali djuga hadir. Kutanjakan kepadanja, apakah dia akan menjampaikan pidato pokok. ,,Tidak Bung, tidak!”, djawabnja menolak.

,,Bung tahu saja baru keluar dari pendjara. Saja harus mendjaga gerak-gerik saja. Kalau tidak begitu, polisi akan bertindak lagi. Biarlah saja duduk sadja dan mendengarkan Bung Karno. Terlalu berbahaja kalau saja bangkit dan berbitjara, sekalipun hanja mengutjapkan beberapa perkataan.” Lautan manusia menunggu giliranku. Mereka menunggu dengan hati berdebar-debar. Aku duduk dengan tenang di atas panggung, mendo’a’ seperti masih kulakukan sekarang sebelum mulai berpidato. Ketua memperkenalkanku, aku meminum air seteguk dan melangkah menudju mimbar. ,,Saudara-saudara,” kataku. ,,Di sebelah saja duduk salah-seorang dari saudara kita jang baru sadja keluar dari pendjara, tidak lain karena ia berdjoang untuk tjita-tjita. Tadi dia menjampaikan kepada saja keinginannja untuk menjampaikan beberapa pesan kepada saudara-saudara.” Rakjat gemuruh menjambutnja. Ali sendiri hampir mau mati. Mata hari menjinarkan panas jang menghanguskan akan tetapi Ali berkeringat lebih daripada itu. Aku tidak mau mendjerumuskannja kedalam kesukaran. Akan tetapi setjara psychologis hal ini penting buat jang hadir, supaja mereka melihat wadjah salah-seorang dari pemimpinnja jang telah meringkuk dalam pendjara karena memperdjuangkan kejakinannja dan masih sadja mau mentjoba lagi. Dengan hati jang berat Ali bangkit. Ia mengutjapkan beberapa patah kata Ialu duduk kembali dengan segera. Keempat inspektur polisi itu tidak mau melepaskan pandangannja dari wadjah Ali. Kemudian aku berdiri dan mengambil-alih ketegangan dari Ali dan menggelorakan semangat untuk berontak. ,,Sendjata imperialisme jang paling djahat adalah politik ,,Divide et Impera”. Belanda telah berusaha memetjah-belah kita mendjadi kelompok jang terpisah-pisah jang masing-masing membentji satu sama lain.

Kita harus mengatasi prasangka kesukuan dan prasangka kedaerahan dengan menempa suatu kejakinan, bahwa suatu bangsa itu tidak ditentukan oleh persamaan warna kulit ataupun agama. Ambillah misalnja Negara Swiss. Rakjat Swiss terdiri dari orang Djerman, orang Perantjis dan orang Italia, akan tetapi mereka ini semua bangsa Swis. Lihat bangsa Amerika jang terdiri dari orang-orang jang berkulit hitam, putih, merah, kuning. Demikian djuga Indonesia, jang terdiri dari berbagai matjam suku. ,,Sedjak dunia terkembang, para pesuruh dari Jang Maha-Pentjipta telah mengetahui bahwa hanja dalam persatuanlah adanja kekuatan.

Mungkin saja ini seorang politikus jang berdjiwa romantik, jang terlalu sering memainkan ketjapi daripada idealisme. Ketika orang Israel memberontak terhadap Firaun, siapakah jang menggerakkan kesaktian? Jang menggerakkan kesaktian itu adalah Musa. Nabi Musa ‘alaihissalam. Beliaupun bertjita-tjita tinggi. Dan apakah jang dilakukan oleh Nabi Musa? Nabi Musa telah mempersatukan seluruh suku mendjadi satu kekuatan jang bulat.

,,Nabi Besar Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam pun berbuat demikian. Nabi Besar Muhammad adalah seorang organisator jang besar. Beliau mempersatukan orang-orang jang pertjaja, mendjadikannja satu masjarakat jang kuat dan setjara gagah-perwira melawan peperangan peperangan, pengedjaran-pengedjaran dan melawan penjakit dari djaman itu. ,,Saudara-saudara, apabila kita melihat suatu gerakan di dunia, mula-mula kita lihat timbulnja perasaan tidak senang. Kemudian orang bersatu didalam organisasi. Lalu mengobarkan revolusi! Dan bagaimana pula dengan pergerakan kita? Pergerakan kitapun demikian djuga.

Maka oleh karena itu, saudara-saudara, marilah kita ikuti djedjak badan kita jang baru, jaitu P.P.P.K.I., jang meliputi seluruh tanah-air. Hajolah kita bergabung mendjadi keluarga jang besar dengan satu tudjuan jang besar: menggulingkan Pemerintah Kolonial. Melawannja bangkit bersama-sama dan……… ”Inspektur Polisi jang memakai tongkat memukulkan tongkatnja sambil berteriak, ,,Stop…. Stop…..” Kemudian keempat-empatnja melompat dari tempat-duduk mereka. Rakjat jang sudah tegang pikirannja berada dalam suasana berbahaja karena polisi mengantjamku dan mereka seperti hendak menjerang keempat inspektur itu ketika seorang memandjat ke atas panggung dan berlari ke belakang sambil bersiul minta bantuan. Lima menit kemudian muntjullah sebuah bis membawa 40 orang polisi bersendjata lengkap. Aku ditarik ke belakang panggung, turun tangga menudju ke djalanan dan diiringkan ke kantor polisi. Setelah mendapat peringatan jang sungguh-sungguh aku dibebaskan lagi. ,,Djangan mentjari perkara, tuan Sukarno. Kalau terdjadi sekali lagi, kami akan giring tuan ke dalam tahanan. Tuan akan meringkuk di belakang djeradjak-besi untuk waktu jang lama. Mulai sekarang ini djagalah langkah tuan. Tuan tidak akan begitu bebas lagi lain kali “Malam itu Inggit mendapat suatu bajangan mimpi. Ia melihat polisi berpakaian seragam menggeledah rumah kami. Penglihatan ini datang lagi kepadanja dengan kekuatan jang sama persis sampai jang seketjil-ketjilnja selama lima malam berturut-turut. Di hari jang kelima aku harus pergi ke Solo untuk menghadiri rapat umum. Dengan sedih ia mengikutiku sampai ke pintu depan. Wadjahnja berkerut dan tegang. Sewaktu aku pergi, suatu firasat telah menjekap batinja. Ia memanggil nama-kecilku dengan lembut. ,,Kus,” katanja lunak, ,,Djangan pergi………djangan kau pergi.”

 

 

Bab 9

Masuk Tahanan

 

SEPANDJANG hari dan malam senantiasa melekat di kepala kami antjaman masuk pendjara. Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana telah dinjatakan, bahwa: ,,Seseorang jang kedapatan mengeluarkan perasaan-perasaan kebentjian atau permusuhan setjara tertulis maupun lisan—atau seseorang jang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan-kegiatan jang menghasut untuk mengadakan pengatjauan atau pemberontakan terhadap pemerintah Belanda, dapat dikenakan hukuman setinggi-tingginja tudjuh tahun pendjara.” Dengan semakin pesatnja pertumbuhan dari P.P.P.K.I., maka pengawasan terhadap Sukarno semakin diperkeras pula. Aku sudah mendapat peringatan dan aku menjadari sungguh-sungguh akibat dan peringatan ini. Semua orang revolusioner bertindak demikian. Ini adalah bagian dari peperangan hebat jang kami djalankan. Dalam perdjalanan ke Solo dengan salah seorang wakil dari P.N.I., Gatot Mangkupradja, aku menjinggung soal ini. ,,Bung, setiap agitator dalam setiap revolusi tentu mengalami nasib masuk pendjara,” aku menegaskan. ,,Di suatu tempat, entah dengan tjara bagaimana, suatu waktu tangan besi dari hukum tentu akan djatuh pula di atas pundakku. Aku mempersiapkanmu sebelumnja.” ,,Apakah Bung Karno takut?” tanja Gatot. ,,Tidak, aku tidak takut,” djawabku dengan djudjur. ,,Aku sudah tahu akibatnja pada waktu memulai pekerdjaan ini. Akupun tahu, bahwa pada satu saat aku akan ditangkap. Hanja soal waktu sadja lagi. Kita harus siap setjara mental.” ,,Kalau Bung, sebagai pemimpin kami, sudah siap, kamipun siap.” katanja.

,,Seseorang hendaknja djangan melibatkan dirinja ke dalam perdjuangan mati-matian, djika ia sebelumnja tidak insjaf akan akibatnja. Musuh akan mengerahkan segala alat-alatnja berulang-ulang kali supaja dapat terus-menerus memegang tjengkeramannja jang mematikan. Tapi, sekalipun berabad-abad mereka mendjerumuskan puluhan ribu rakjat masuk bui dan masih sadja melemparkan kita ke dalam pembuangan di tempat-tempat jang tidak berpenduduk, djauh dari masjarakat manusia, saatnja akan tiba pada waktu di mana mereka akan musnah dan kita memperoleh kemenangan. Kemenangan kita adalah suatu keharusan sedjarah—tidak bisa dielakkan.” ,,Kata-kata itu memberikan keberanian padaku, Bung Karno.” kata Gatot. ,,Dalam perdjalanan di atas gerobak-sampah menudju ke tiang-gantungan, Pemimpin Revolusi Perantjis berkata kepada dirinja sendiri: ‘Aurlace, Danton Toujours de l’audace’. Ia terus-menerus mengulangi kata-kata itu: ‘Beranikan dirimu, Danton. Djangan kau takut!’ Karena ia jakin, bahwa perbuatan-perbuatannja akan dilukis dalam sedjarah dan tantangan terhadapnjapun merupakan saat jang bersedjarah.

Dia tidak pernah meragukan akan datangnja kemenangan jang terachir dan gilang-gemilang. Djadi, akupun begitu.” ,,Ada di antara pedjuang kita jang selalu keluar masuk bui setjara tetap,” kata Gatot menerangkan. ,,Seorang pemimpin jang di Garut. Dia sudah masuk 14 kali. Pembesar di sana menamakannja sebagai pengatjau. Dalam djangka waktu enam tahun dia meringkuk selama enam bulan di dalam pendjara, setelah itu bebas selama dua bulan, lalu masuk selama enam bulan dan keluar lagi tiga bulan, kemudian delapan bulan di belakang djeradjak besi. Setelah itu dia bebas lagi selama satu setengah tahun dan hukumannja jang terachir adalah dua tahun.” Kami berangkat dengan taksi. Supir kami, Suhada, tergolong sebagai simpatisan. Dia sudah terlalu tua untuk dapat mengikuti kegiatan kami. Dia turut dengan kami tjuma untuk mendengarkan dan menjaksikan sadja. Sedjak permulaan perdjalanan Suhada tidak membuka mulutnja, tapi kini dia bertanja dengan ramah, ,,Berapa banjak saudara-saudara kita jang meringkuk dalam pembuangan?” Aku tidak perlu berpikir mendjawabnja. Aku tahu djumlahnja di luar kepala. ,,Lebih dari duaribu dibuang di Tanah Merah, di tengah-tengah hutan Boven Digul di Nieuw Guinea jang keadaannja masih seperti di Djaman Batu. Dan pada waktu pembawa-pembawa obor kemerdekaan ini diusir masuk ke dalam hutan lebat, mereka pergi dengan tersenjum. Ketika mereka tidak mau mundur setapakpun dari kejakinannja, maka 300 orang di antaranja dibawa ke tempat jang lebih menjedihkan, jaitu kamp konsentrasi di Tanah Tinggi. Di situ bertaburanlah kuburan mereka.

Dari jang 300 orang itu hanja 04 orang jang masih hidup.”,,Pengorbanan seperti itu telah pula terdjadi di pulau Muting dan pulau Banda,” kataku melandjutkan. ,,Tapi ingatlah, tidak ada pengorbanan jang sia-sia. Ingatkah engkau tentang keempat pemimpin jang digantung di Tjiamis?” Mereka menganggukkan kepala. ,,Salah seorang dari mereka berhasil menjusupkan surat kepadaku di malam sebelum mendjalani hukumannja. Surat itu berbunji: ‘Bung Karno, besok saja akan mendjalani hukuman gantung. Saja meninggalkan dunia jang fana ini dengan hati gembira, menudju tiang-gantungan dengan kejakinan dan kekuatan batin, oleh karena saja tahu bahwa Bung Karno akan melandjutkan peperangan ini jang djuga merupakan peperangan kami. Teruslah berdjuang, Bung Karno, putarkan djalannja sedjarah untuk semua kami jang sudah mendahului sebelum perdjuangan itu selesai.” Keadaan dalam mobil mendjadi sunji. Tak seorangpun jang hendak mengutjapkan sesuatu. Suhada terus mengemudikan kendaraan dengan air mata berlinang. Satu-satunja suara ialah denjutan djantung kami jang menderap-derap serentak dalam satu pukulan irama. Di Solo dan dekat Djogjakarta kami mengadakan beberapa rapat umum. Malam itu aku berbitjara untuk pertamakali tentang ,,Perang Pasifik” jang akan berkobar. Tahun ini adalah 1929. Setiap orang mengira aku ini gila. Dengan darahku jang mengalir tjepat karena golakan perasaan jang gembira dan hampir tak tertahankan, keluarlah dari mulutku utjapan jang sekarang sudah terkenal: ,,Imperialis, perhatikanlah! Apabila dalam waktu jang tidak lama lagi Perang Pasifik menggeledek dan menjambar-njambar membelah angkasa, apabila dalam waktu jang tidak lama lagi Samudra Pasifik mendjadi merah oleh darah dan bumi di sekelilingnja menggelegar oleh ledakan-ledakan bom dan dinamit, maka di saat itulah rakjat Indonesia melepaskan dirinja dari belenggu pendjadjahan dan mendjadi bangsa jang merdeka.” Utjapan ini bukanlah ramalan tukang-tenung, iapun bukan pantulan daripada harapan berdasarkan keinginan belaka. Aku melihat Djepang terlalu agressif. Bagiku, apa jang dinamakan ramalan ini adalah hasil daripada perhitungan berdasarkan situasi revolusioner jang akan datang. Rapat ini bubar pada waktu tengah malam. Kami bermalam di rumah Sujudi, seorang pengatjara dan anggota kami di Djogja jang tinggal pada djarak kurang dari dua kilometer dari situ. Kami memasuki tempat-tidur pada djam satu. Djam lima pagi, ketika dunia masih gelap dan sunji, kami terbangun oleh suara jang keras. Ada orang menggedor pintu. Aku terbangun begitu tiba-tiba, sehingga pada detik itu aku mengira ada tetangga jang berkelahi. Gedoran itu masih terus terdengar. Ia semakin lama semakin keras, semakin lama semakin mendesak gedoran ini diiringi oleh suara jang kasar di sekitar rumah Sujudi.

,,Inikah rumah tempat pemimpin revolusioner menginap?” satu suara bertanja. ,,Jah, inilah tempatnja,” suara garang jang lain mendjawab. Kemudian lebih banjak suara terdengar meneriakkan perintah-perintah. ,,Kepung rumah ini—halangi pintu—.” Sementara itu bunji jang meremukkan dari pukulan gada di pintu…………… semakin lama semakin keras, kian lama kian tjepat.

Dengan gemetar aku menjadari, bahwa inilah saatnja. Nasibku sudah pasti. Gatot Mangkupradja jang pertama pergi ke pintu. Ia membukanja dan masuklah seorang inspektur Belanda dengan setengah lusin polisi bangsa Indonesia. Kami menamakannja ,,reserse”. Semua berpakaian seragam. Semua memegang pistol di tangan. Mereka ini adalah pemburu. Kami binatang buruan. Rentak sepatu jang menundjukkan kekuasaan terdengar menggema ke seluruh daerah sebelah-menjebelah, rentak sepatu pada waktu mereka menderap sepandjang rumah. Orang kulit-putih jang bertugas itu berteriak, ,,Di mana kamar tempat Sukarno tidur?” Kamarku sebelah-menjebelah dengan kamar Sujudi. Ketudjuh orang itu berbaris melalui kamar Sujudi dan terus ke kamarku.

Aku keluar dari tempat-tidur dan berdiri di sana dengan pakaian pijama. Aku tenang. Sangat tenang. Aku tahu, inilah saatnja. Inspektur itu berhadap-hadapan denganku dan berkata, ,,Atas nama Sri Ratu saja menahan tuan.” Aku telah mempersiapkan diri selalu untuk menghadapi kesulitan. Betapapun, pada waktu tiba saatnja timbul djuga perasaan jang tidak enak. ,,Kenakan pakaian tuan,” ia memerintahkan. ,,Dan ikut dengan saja.” Ia berdiri dalam kamar itu dan menungguku berpakaian. Aku tidak diizinkan membawa barangku. Bahkan tas dengan pakaian penggantipun tidak boleh. Hanja jang lekat di badanku. Di luar, dengan senapan dalam sikap sedia, berdiri 50 orang polisi mengepung rumah dengan sekitarnja dan djalan jang menudju ke sana. Tiga buah mobil telah siap. Jang tengah adalah kendaraan chusus di mana kami, pendjahat-pendjahat jang berbahaja, dimasukkan dan diiringkan ke kantor polisi. Ke dalam mobil itu dimasukkan pula Gatot dan supir taksi itu, jang sama-sekali tidak bersalah dalam menghasut rakjat. Kesalahannja hanjalah karena ia terlalu mentjintai.

Ia mentjintai negerinja, dan ia mentjintai pemimpinnja. Suhada dibebaskan segera, akan tetapi sementara itu mereka mentjatat namanja, karena orang inipun kelihatan seperti pendjahat besar di mata mereka. Beberapa tahun kemudian ia meninggal. Permintaannja jang terachir ialah, ,,Tolonglah, saja ingin mempunjai potret Bung Karno di dada saja.” Permintaannja itu dipenuhi. Ia lalu melipatkan tangannja jang kerisut memeluk potretku dan kemudian berlalu dengan tenang. Dengan pendjagaan jang kuat, diiringkan di kiri-kanan oleh sepeda motor dan dengan sirene meraung-raung dan lontjeng berdentang-dentang,

Sukarno, Gatot dan sopir tua itu dibawa ke Mergangsan, pendjara untuk orang gila. Kami diperiksa satu demi satu dan dimasukkan ke dalam sel. Ketika pintu besi terkuntji rapat di muka kami, seluruh dunia kami tertutup. Kami berada dalam kesunjian. Segala sesuatu terdjadi begitu tjepat, sehingga kami tidak punja kesempatan untuk menjelundupkan sepatah kata kepada pengikut kami. Tidak seorangpun jang mengetahui di mana kami berada. Mereka bahkan tidak memberi kesempatan kepadaku untuk mengadakan kontak dengan Inggit. Tidak ada pertjakapan. Kami tidak diperbolehkan apa-apa. Sekalipun demikian, apa hendak dikata. Kami tahu apa artinja ini dan masing-masing tenggelam dengan pikirannja sendiri. Apa jang terlintas dalam pikiranku ialah, bahwa aku tidak memperoleh firasat. Tidak ada tanda-tanda bahaja.

Aku dengan mudah tertidur malam itu tanpa mengalami sesuatu sensasi, bahwa pada tanggal 9 Desember 1929 bagi kami akan mendjadi hari nahas. Semua ini mengedjutkanku. Seluruh gerakan telah mereka rentjanakan dengan baik. Djam dua siang kami diberi nasi. Sebelum dan sesudah itu tidak ada hubungan dengan seorangpun. Setelah satu hari satu malam penuh esok paginja seperti di pagi sebelumnja tepat djam lima polisi datang. Mereka tidak berkata apa-apa. Pun tidak menjampaikan kemana kami akan dibawa.

Begitupun tentang apa jang akan diperbuat terhadap kami. Dua buah kendaraan membawa kami ke stasiun. Empat orang polisi dengan uniform dan pistol duduk di tiap kendaraan itu. Pengangkutan ini direntjanakan sampai kepada menit dan detiknja. Begitu kami sampai, sebuah kereta-api hendak berangkat. Kami diperintahkan naik. Sebuah gerbong istimewa telah tersedia buat kami. Pintu-pintu pada kedua udjungnja dikuntji, setiap djendela ditutup rapat. Kami dilarang berdjalan-djalan atau berdiri untuk maksud apapun djuga. Kalau kami akan pergi ke belakang seorang sersan mengiringkan kami. Dengan diapit oleh polisi duduklah kami ditempat jang berhadap-hadapan. Selama 12 djam tidak boleh buka mulut. Satu-satunja jang dapat kukerdjakan sehari penah ialah memandangi Belanda jang pandir itu. Djam tudjuh malam kami diperintahkan turun di Tjitjalengka jang letaknja 30 kilometer dari Bandung. Mereka dengan sengadja menurunkan kami di situ untuk menghindarkan ketegangan jang mungkin timbul. Di sana satu pasukan barisan pengawal telah menantikan kami. Lima Komisaris, dua pengendara sepedamotor, setengah lusin inspektur beserta arak-arakan kami jang terdiri dari sedan-sedan hitam meluntjur ke Bandung. Perdjalanan itu tidak lama. Kami hanja sempat menggetar gugup sesaat ketika sampai di rumah kami jang baru. Di depannja tertulis: Rumah Pendjara Bantjeuj.

 

Bab 10

Pendjara Bantjeuj

 

BANTJEUJ adalah pendjara tingkat rendah. Didirikan diabad kesembilanbelas, keadaannja kotor, bobrok dan tua. Di sana ada dua matjam sel. Jang satu untuk tahanan politik, satu lagi untuk tahanan pepetek. Pepetek — sebangsa ikan jang murah dan mendjadi makanan orang jang paling miskin — adalah nama djulukan untuk rakjat djelata.

Pepetek tidur di atas lantai. Kami tahanan tingkat atas tidur di atas pelbed besi jang dialas dengan tikar rumput setebal karton. Makanannja makanan pepetek nasi merah dengan sambal. Segera setelah aku masuk, rambutku dipotong pendek sampai hampir botak dan aku disuruh memakai pakaian tahanan berwarna biru pakai nomor di belakangnja.

Rumahku adalah Blok F. Suatu petak jang terdiri dari 36 sel menghadap ke pekarangan jang kotor. 32 buah masih tetap kosong. Mulai cari udjung maka empat buah nomor jang berturut-turut telah terisi. Aku tinggal di nomor lima. Gatot tudjuh. Esok paginja Maksum dan Supriadinata, dua orang wakil P.N.I. lainnja, dimasukkan berturut-turut ke nomor sembilan dan sebelas.

Penahanan kami bukanlah keputusan jang mendadak. Ia telah dipersiapkan dengan baik—sampai kepada sel-selnja. Berbulan-bulan sebelum kami ditangkap, kawan-kawan di Negeri Belanda telah menulis, ,,Hati-hatilah. Pemerintah Belanda lebih mengetahui tentang kegiatanmu daripada jang kau ketahui sendiri. Tidak lama lagi engkau akan ditangkap.”

Sebagaimana kuketahui dari Maskun dan Supriadinata, jang ditangkap di Bandung pada saat jang bersamaan denganku, di minggu pagi itu telah diadakan penggeledahan di seluruh Djawa. Ribuan orang telah ditahan, termasuk 40 orang tokoh P.N.I., dengan dalih bahwa Pemerintah telah mengetahui tentang rentjana pemberontakan bersendjata jang katanja akan diadakan pada permulaan tabun 1930. Ini bohong. Ini adalah tipu-muslihat, agar dapat mengeluarkan perintah segera untuk menangkap Sukarno. Malam itu kereta-api didjaga, stasiun-stasiun bis dikepung, milik perseorangan disita dan diadakan penjergapan setjara menjeluruh dan serentak di rumah-rumah dan kantor-kantor kami di seluruh Djawa dan Sumatra.

Usaha untuk memperingatkanku gagal. Polisi menjelidiki di mana aku berada. ,,Di mana Sukarno?” tanja mereka ketika datang memeriksa rumah Ali Sastroamidjojo di Solo di mana aku bermalam di hari sebelumnja. Ali meneruskan berita ini, akan tetapi pada waktu ia mengadakan hubungan dengan Djogja, kepadanja telah disampaikan, ,,Terima-kasih atas peringatan itu. Mereka telah membawa Bung Karno sepuluh menit jang lalu.”

Gatot, Maskun, Supriadinata dan aku dipisahkan sama-sekali dan masjarakat luar. Tidak boleh menerima tamu. Tidak ada hubungan. Tak seorangpun jang dapat kami lihat, termasuk tahanan jang lain. Tak seorangpun jang dapat mendekati kami. Setelah beberapa hari datang seorang penjelidik chusus dan berlangsunglah pemeriksaan. Ia menanjaku minggu demi minggu selama tiga bulan. Aku tidak mengerti, mengapa dia begitu susah-susah. Persoalannja sudah tjukup djelas. Ini bukan perkara perampokan, dalam hal mana mereka harus menjiasati di mana barang-barang rampokan itu disembunjikan. Ini bukan perkara kedjahatan, di mana mereka harus mengetahui sebab-sebabnja. Mereka tahu apa jang kami lakukan dan mengapa kami melakukannja.

Selku lebarnja satu setengah meter—separonja sudah terpakai untuk tidur— dan pandjangnja betul-betul sepandjang peti-majat. Ia tidak berdjendela tempat mendjenguk dan tidak berdjeradjak supaja bisa mengintip keluar. Tiga buah dinding dari kuburanku adalah semen mulai dari lantai sampai ke loteng. Pendjara Belanda di djaman kami tidak dapat disamakan dengan pendjara jang bisa disaksikan di lajar-putih di mana pendjahat didjebloskan ke dalam sel jang luas berdjeradjak besi, pakai lampu dan masuk udara dari segala pendjuru. Pintu kami terbuat dari besi hitam padat dengan sebuah lobang ketjil. Lobang ini ditutup dari luar. Pendjaga dapat melihat ke dalam, akan tetapi ia tertutup buat kami. Tepat setinggi mata ada sebuah tjelah tempat mengintip lurus keluar. Dari tjelah itu aku tidak mungkin melihat arah ke bawah, ke atas ataupun ke samping. Pun tidak mungkin melihat daerah sekitar itu seluruhnja ataupun melihat mata lain jang mengerdip kepadamu dari balik pintu besi di seberangnja. Sesungguhnja tiada jang terlihat selain tembok dan kotoran. Tempat itu gelap, lembab dan melemaskan. Memang, aku telah lebih seribu kali menghadapi hal ini semua dengan diam-diam djauh dalam kalbuku sebelum ini akan tetapi ketika pintu jang berat itu tertutup rapat di hadapanku untuk pertama kali, aku rasanja hendak mati. Pengalaman jang meremukkan. Aku adalah seorang jang biasa rapi dan pemilih. Aku adalah seorang jang suka memuaskan perasaan. Aku menjukai pakaian bagus, makanan enak, mentjintai sesuatu dan tak dapat menahankan pengasingan, kekotoran, kekakuan, penghinaan-penghinaan kedji jang tak terhitung banjaknja dari kehidupan tawanan. Aku berdjingkat di udjung djari kaki mengintip melalui tjelah itu dan berbisik, ,,Engkau terkurung, Sukarno. Engkau terkurung.”

Hanja tjitjaklah jang mendjadi kawanku selama berada di Bantjeuj. Binatang ketjil jang abu-abu kehidjauan itu dapat berobah warna menurut keadaan sekitarnja. Ia sering terlihat merangkak di sepandjang loteng dan dinding kalau hari sudah mulai gelap. Di daerah beriklim panas binatang-binatang ini merupakan penangkis njamuk tjiptaan alam. Mungkin orang lain tidak menjukai binatang ini dan tidak menganggapnja lutju, tapi bagiku ia adalah tjiptaan Tuhan jang paling mengagumkan selama aku berada dalam tahanan.

Makanan kami diantarkan kesel. Djadi apabila tjitjak-tjitjakku berkumpul, akupun memberinja makan. Kuulurkan sebutir nasi dan menantikan seekor tjitjak ketjil merangkak dari atas loteng. Tentu ia akan merangkak turun di dinding, mengintip kepadaku dengan mata seperti butiran mutiara, kemudian melompat dan memungut nasi itu, lalu lari lagi. Aku tetap duduk di sana menantikannja dengan tenang tanpa bergerak dan, lima menit kemudian ia datang lagi dan aku memberikan butiran nasi jang lain. Ja, aku menjambutnja dengan senang hati dan mendjadi sangat terpikat kepada binatang ini. Dan aku sangat bersjukur, karena masih ada machluk hidup jang turut merasakan pengasinganku ini bersama-sama.

Jang paling menekan perasaan dalam seluruh penderitaan itu adalah pengurungan. Seringkali djauh tengah malam aku merasa seperti dilak rapat dalam kotak ketjil berdinding batu jang begitu sempit, sehingga kalau aku merentangkan tangan, aku dapat menjentuh kedua belah dindingnja. Dan aku tidak dapat menahankannja. Rasanja aku tidak dapat bernapas. Kupikir lebih baik aku mati.

Ketika keadaan ini semakin terasa menekan, suatu perasaan gandjil menjusupi diriku. Ada saat-saat di mana badanku terasa membesar melebihi daripada biasa. Suatu perasaan mentjekam diriku, djauh samasekali daripada keadaan normal. Aku berbaring di atas tempat tidurku jang keras dan memedjamkan mata. Tapi keras, tertutup keras. Dengan pelahan, karena bajangan pikiran jang kuat, aku merasa tangan kananku membesar. Ia semakin besar …….. besar ……… besar……. besar ……..besar …….. lebih besar daripada selku sendiri. Ia mengembang dan mengembang, dan membinasakan dinding sel. Tangan kanan adalah lambang kekuatan, namun apakah ini sebagai pertanda daripada hari-depanku atau tidak, aku tidak mengerti. Aku hanja tahu, bahwa hal ini datang menguasai diriku di saat aku berada dalam keadaan sangat tertekan. Dan kemudian ia menjusut lagi setjara pelahan ……… pelahan …….. pelahan sekali sampai ia mentjapai ukuran jang biasa lagi. Kadang-kadang di malam itu djuga ia muntjul kembali. Aku tak pernah melihat, akan tetapi aku merasakannja.

Aku mengalami suatu bajangan jang lain. Pendjara Bantjeuj terletak dipusat kota, tidak di luar, di tengah-tengah tempat jang lapang. Di sana tidak ada burung. Sekalipun demikian, djauh di tengah malam, bila semua sudah senjap ketjuali pikiranku, dan di saat Gatot, Maskun dan Supriadinata sudah tidur njenjak semua, aku mendengar burung perkutut di atas atap kamarku. Kudengar burung-burung itu bersiul dan rnenjanji, begitu djelas seakan ia hinggap di pangkuanku. Tak seorangpun pernah mendengarnja, ketjuali aku. Dan aku sering mendengarnja.

Setelah empatpuluh hari, aku diizinkan untuk pertama-kali bertemu dengan Inggit. Sampai saat itu tiada hubungan apapun djuga. Bahkan suratpun tidak. Kami bertemu di ruang tamu. Djaring kawat memisahkan kami. Pendjaga-pendjaga berdiri di sekeliling menuliskan segala jang kami utjapkan. Kami boleh berbahasa Indonesia atau Belanda, dan tidak boleh dalam bahasa daerah. Kami tidak boleh saling berpelukan. Itu terlarang. Dan jang kedua, bukanlah mendjadi kebiasaan orang Timur. Isteriku hanja memandang ke dalam mataku dan dengan seluruh kasih jang dapat ditjurahkannja ia berkata, ,,Apa kabar?” Aku tersenjum dan berkata, ,,Baik, terimakasih.” Apa lagi jang dapat kuutjapkan? Demikian banjak jang harus ditjurahkan, sehngga apa lagi jang dapat kuutjapkan? Dalam lima menit jang diberikan kepada kami, kami membitjarakan bajangan gaib jang diperolehnja. lnggit senantiasa mendjadi djimat bagiku. Kemana sadja aku pergi, dia turut. Akan tetapi kali ini adalah jang pertama kali ia tidak ikut denganku.

Baru sekarang setelah dalam tawanan ia menerangkan, ,,Aku tinggal di minggu itu karena aku kuatir, kalau-kalau polisi-polisi jang kulihat dalam bajangan itu betul-betul datang dan menggerebek rumah. Memang itulah jang terdjadi. Persis seperti jang kulihat dalam bajanganku itu.”

Pendjaga memberi isjarat supaja berbitjara lebih keras. ,,Apakah hidupmu terdjamin?” tanjaku. ,,P.N.I. memberiku uang dan kawan-kawanmu djuga mengirimi uang dan oleh-oleh kalau mereka datang mendjengukku. Djangan susahkan tentang diriku. Bagaimana keadaanmu?” Bagaimana keadaanku? Dari mana aku akan mulai bertjeritera kepadanja. Kami terlalu saling mentjintai satu sama lain untuk bisa rnemikul bersama-sama beban jang berat dalam hati kami. Aku tidak ingin dia turut merasakan detik-detik jang berat dalam siksaan dan iapun tidak ingin aku turut merasakan kesusahannja. Kami berbitjara bagai dua orang asing di tengah djalan. Aku ingin menahannja. Aku ingin meneriakkan bahwa aku mentjintainja dan perlakuan terhadap kami tidak adil sama-sekali. Akan tetapi dengan nada jang hambar tiada bergaja-hidup aku bersungut, ,,Semua baik. Aku tidak mengeluh.”

Pengawas pendjara di Bantjeuj orang Belanda semua. Di tingkat jang lebih rendah, jaitu mereka jang sebenarnja memegang kuntji, adalah orang-orang Indonesia. Blok dari sel kami jang terpisah di djaga chusus oleh seorang sipir jang tugasnja semata-mata mengawasi kami. Bung Sariko baik sekali terhadapku. Ia mengakui tawanan jang istimewa ini sebagai pemimpin politiknja. Ia adalah pendjagaku, akan tetapi dalam hatinja ia mengakui bahwa aku pelindungnja. Setjara diam-diam semua petugas pendjara berpihak kepadaku. Selalu mereka berbuat sesuatu untukku. Sarikolah jang pertama-tama membuka djalan dengan memberiku rokok, buku-buku dan membawa berita bahwa Iskaq, bendahara kami, telah ditahan. Setelah memperlihatkan kesungguhannja, di suatu pagi ia berbisik, ,,Bung, kalau hendak menjampaikan pesan ke dalam atau ke luar, katakanlah. Saja akan bertindak sebagai perantara. Inilah tjara saja untuk menjumbangkan tenaga.”

Surat-kabar tidak dibolehkan sama-sekali. Di saat itu keinginanku untuk memperolehnja melebihi daripada segala sesuatu di dunia ini, ,,Surat-kabar, Bung,” aku berbisik kembali. ,,Tjarikanlah saja suratkabar.” Di hari berikutnja aku berada di kamar-mandi mentjutji di bak. Pada waktu mengambil handuk aku dapat merasakan ada surat-kabar dilipatkan ke dalamnja. Di hari selandjutnja ketika makananku diantarkan ke dalam, sebuah suratkabar diselipkan di bawah piring.

Aku memikirkan suatu akal, sehingga kami semua dapat membatjanja. Aku berhasil memperoleh benang-djahit dan pada djam enam, sebelum dikurung untuk malam hari, aku merentangkan benang halus itu di tanah sepandjang empat sel, sehingga ia merentang dari pintuku ke pintu Supriadinata. Kalau aku sudah selesai membatja suratkabar itu, kuikatkan ia ke udjung benang, mengintai keluar, ragu-ragu sebentar untuk melihat apakah ada orang jang datang, kemudian berteriak, ,,Vrij.” Ini sebagai tanda bahwa blok kami tertutup dan tidak ada pendjaga berdiri di posnja saat itu. Kemudian aku memanggil ,,Gatot!” sebagai tanda untuk Gatot supaja menarik benangnja. Dengan menariknja setjara hati-hati surat-kabar itu sampai ke pintunja dan kemudian menariknja melalui bawah pintu. Begitupun tjaranja untuk Maskun dan Supriadinata. Kalau sekiranja pendjaga kami melihat benang itu di tjahaja sendja, ia melengah. Sarikopun memberitahu kepadaku kapan akan diadakan pemeriksaan. Kalau sel kami kotor pada waktu pengawas kami lewat untuk memeriksa, kami mendjadi sasaran hukuman. Djam lima tigapuluh setiap pagi tugas kami jang pertama ialah membersihkan sel dan mengosongkan kaleng tempat buang-air. Aku selalu kuatir terhadap Maskun, karena dia jang paling muda dan agak serampangan. Kuperingatkan dia. ,,Maskun, kau harus melatih diri untuk kebersihan, karena engkau bisa djadi korban pertjuma karena ini.” Ia menjeringai, ,,Bung terlalu hati-hati dengan segala sesuatu dan ini disebabkan karena Bung orang tua. Bung sudah 28 tahun. Alasanku bersifat lebih serampangan karena aku baru 21. Masih muda!” ,,Baiklah, anak-muda pengatjau,” djawabku kepadanja. ,,Baik kita lihat siapa jang dapat hukuman siapa jang tidak.”

Pada pemeriksaan selandjutnja tidak lama setelah itu Maskun dihukum tiga hari di tempat. Ini berarti, bahwa dia tidak dapat membatja buku dan rekreasi. Ia terpaksa tinggal terasing dalam kamarnja. Untuk mentjegah hal ini djangan terdjadi lagi aku memikirkan satu tanda. Perhubungan hanja dapat dilakukan dengan bunji, karena kami tidak dapat saling melihat. Kami menggunakan tanda-tanda ketokan. Misalkan aku mendapat berita, bahwa esok paginja akan diadakan pemeriksaan mendadak. Aku mengetok pada daun pintu besi jang

menggetar tok……tok. Dua ketokan berat berarti, ,,Besok pengawas datang, djadi bersihkan selmu.”

Ada di antara petugas bangsa Belanda jang merasa, bahwa kami tidak patut dipersalahkan melakukan kedjahatan, karena mentjintai kemerdekaan. Merekapun bersikap rarnah kepada kami. Di samping itu, ia mau melakukan sesuatu asal diberi uang. Apa sadja. Bahkan tidak perlu diberi banjak-banjak. Mula-mula aku menjangka, bahwa mereka sangat takut pada djabatannja untuk mau menerima suap, tapi ternjata mereka ini termasuk dalam djenis jang rendah, jang mau mengchianati prinsip-prinsip mereka dengan sangat murah. Seharga sebotol bir.

Ketika aku berhadapan dengan seorang jang baik hati, aku menerangkan, ,,Saudara, saja bekerdja untuk rakjatku. Itulah satu-satunja kedjahatanku. Mengapa saudara mendjaga saja begitu teliti? Tjobalah melengah sedikit.” Terkadang ini berhasil, terkadang tidak. Tapi kebanjakan ada hasilnja. Itulah sebabnja mengapa aku berkawan dengan pengawas bui bernama Bos. Tuan Bos adalah seorang Belanda jang baik tapi goblok. Aku tak pernah mentjoba mempengaruhi pikirannja dalam pandangan politik. Aku sudah tjukup bersjukur dapat mempergunakannja kadang-kadang untuk suatu kesenangan. Pada suatu hari Bos datang dengan menjeret-njeretkan kakinja ke tempatku jang gelap dan aku dapat melihat sebelah matanja bengkak seperti balon. ,,Hee, Bos,” aku berteriak, ,,Kenapa matamu? Bengkak dan biru!”

Ia berdiri disana terhujung-hujung dan memegang mata jang sakit itu. ,,Oooooohhh,” ia mengeluh kesakitan, ,,Pernah kau lihat jang keterlaluan begini. Oooohhhh, aku sakit sekali. Rasanja sakit sekali.” Orang jang malang itu betul-betul sangat menderita. ,,Katakanlah, Bos.” kataku. ,,Kenapa kau?” Ia mengintip kepadaku dengan matanja jang satu lagi dan mengeluh, ,,Oooohhhh, ooooohhh, Sukarno, kenapa aku! Tiga hari jang lalu aku bertjintaan dengan seorang pelatjur. Dan pada waktu aku selesai aku menghapus badanku dengan sapu-tangan.” ,,Apa hubungannja dengan matamu?” ,,Ja, tentu sadja ada hubungannja, kumasukkan saputanganku kembali ke dalam kantong sewaktu sudah selesai. Beberapa djam kemudian, tanpa berpikir, aku mengeluarkan saputanganku lagi dan menggosok mataku dengan itu. Nah, inilah hasilnja. Gadis itu tentu tidak bersih dan mataku infeksi, jang berasal dari gadis itu. Dan sekarang……sekarang……kaulihat aku ini!!”

,,Aah, kasihan. Bos, kasihan, kasihan,” kataku seperti ajam berkotek. ,,Aku merasa kasihan padamu.” Dan memang sesungguhnja aku kasihan kepadanja. Aku tawanannja. Dia berkelujuran di luar, telah melepaskan hawa-nafsunja pada seorang perempuan latjur, sedang aku dikurung dalam sel jang dingin dan tak pernah diberi kesempatan sekalipun memegang tangan isteriku…..dan aku….kasihan kepadanja.

Ketika Bos menjusup pergi sambil mengeluh dan merintih, aku gembira, karena Bos tidak mengatakan padaku bahwa gadis itu adalah salah-seorang anggota partaiku. Hal jang demikian dapat meruntuhkan persahabatan kami. Ketika aku tak dapat lebih lama lagi menelan kesepian, kegelapan dan keadaan kotor, maka aku mulai bermain dengan Gatot. Aku berhasil mendapat buku wajang. Wajang ini adalah bentuk seni jang paling populer di Indonesia. Dengan menggunakan bentuk-bentuk dari kulit jang memberikan bajangan pada lajar-putih maka dalang menggambarkan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana, kisah-kisah Hindu klasik dari masa lampau. Ini adalah drama keramat dari Indonesia.

Gatot kusuruh membatja buku ini. Aku sudah hafal semua kisah-kisah itu. Semendjak ketjil aku mengagumi tjerita wajang. Sewaktu masih di Modjokerto aku menggambar-gambar wajang di batu-tulisku. Di Surabaja aku tidak tidur semalam suntuk sampai djam enam esok paginja mendengarkan dalang mentjeritakan kisah-kisah jang mengandung peladjaran dan sedikit bersamaan dengan dongeng kuno di Eropa. Setelah Gatot dengan tekun mempeladjari buku itu, aku menjuruhnja, ,,Sekarang letakkan buku itu dan tjeritakan kembali dengan suara keras apa jang sudah kau batja tanpa melihat ke buku.”

,,Djadi Bung meminta aku memerankan bagian-bagiannja?” ,,Ja,” aku berteriak kembali. ,,Djadi dalang.” Pertjakapan kami dilakukan dengan suara keras sekali, karena sel kami terpisah empat meter djauhnja dan setiap satu meter dibatasi oleh dinding-batu jang padat. Gatot mulai. Aku mendengarkan sambil menahan napas, sehingga ia sampai pada bagian jang mengisahkan pahlawan kegemaranku, Gatotkatja. ,,Gatotkatja lalu berhadapan dengan Buta,” teriak Gatot. ,,Dia kalah dalam pertarungan dan dia djatuh. Gatotkatja dikalahkan sementara.” ,,Ja,” aku berteriak jakin. “Tapi itu hanja untuk sekali. Dia akan bangkit lagi. Dia akan menang sekali lagi. Engkau tidak bisa membiarkan pahlawan djatuh. Tunggulah saatnja.” Gatot Mangkupradja melandjutkan, menguraikan pertempuran. Achirnja ia sampai pada: ,,Gatutkatja sudah bangkit lagi. Gatutkatja sudah berdiri. Dia membunuh Buta itu.”

Oooooo! Aku gembira! Aku berteriak tak terkendalikan. ,,Haaa! Aku tahu itu. Bukankah sudah kukatakan? Seorang pahlawan jang hanja mau mengerdjakan jang baik tidak pernah kalah untuk selama-lamanja.” Kelakuan kami dengan melakonkan wajang ini tidak hanja menjenangkan dan menghiburku, akan tetapi ia djuga meringankan perasaan dan memberi kekuatan pada diriku. Bajangan-bajangan hitam di kepalaku melebur bagai kabut dan aku bisa tidur pulas dengan rasa puas akan kejakinanku, bahwa jang baik akan mengungguli jang djahat.

 

 

Bab 11

Pengadilan

 

16 DJUNI 1930, berita surat-kabar tentang pidato Gubernur Djendral pada pembukaan sidang Dewan Rakjat memuat pengurnuman bahwa ,,Sukarno akan dihadapkan di muka pengadilan dengan segera.” Tanggalnja sudah ditetapkan untuk pengadilan ini. Hanja tiga minggu sebelum aku bertemu dengan pembela-pembelaku jang kupilih sendiri: Sujudi S.H., ketua P.N.I. tjabang Djawa Tengah, jaitu tuan rumah di mana aku ditangkap; Sartono S.H., seorang rekan dari Algemeene Studieclub jang lama dan tinggal di Djakarta dan mendjadi Wakil Ketua jang mengurus soal keuangan partai; Sastromuljono S.H., seorang kawan dan patriot jang tinggal di Bandung. Tidak dengan bajaran. Dan memang tidak ada uang untuk membajar. Para pembelaku bahkan menanggung pengeluaran mereka masing-masing.

Dalam pertemuanku jang pertama dengan Sartono aku mengatakan, ,,Terlintas dalam pikiran saja bahwa mendjadi kewadjibankulah untuk mempersiapkan pembelaanku sendiri.”

,,Bung maksud dari segi politik?” ,,Ja, sedang tanggung-djawab Bung mempersiapkan segi juridisnja.” Ia kelihatan memikirkan soal itu. ,,Saja tahu,” ia mengerutkan dahi, ,,bahwa dalam kedudukan Bung sebagai Ketua Partai, bagian Propaganda Politik, tak seorangpun jang sanggup mempersiapkan pokok-pokok persoalan seperti Bung. Akan tetapi menurut pendapat Bung, apakah prosedur ini lazim dalam pengadilan?”

Aku memandang dalam ke mata kawanku jang kelihatan suram memikirkan soal ini. Ia kelihatan seperti memerlukan lebih banjak bantuan daripada jang kuperlukan. Aku menempatkan sebelah tanganku ke atas bahunja untuk menjenangkan hatinja. ,,Sartono,” kataku, ,,bukan maksud saja untuk membanggakan diri saja. Akan tetapi ketika saja masuk bui, begitulah jang kuputuskan. Kalau sudah nasib saja untuk menahankan siksaan, biarkanlah saja. Bukankah lebih baik Sukarno menderita untuk sementara daripada

Indonesia menderita untuk selama-lamanja?”

,,Saja masih berpikir apakah ini djalan jang paling baik agar Bung bebas dari tuntutan hukum,” katanja dengan sedih. Ia tahu dan aku tahu, bahwa aku takkan bisa bebas. Kami di zinkan untuk bertemu antara empat mata di suatu ruangan tersendiri selama satu djam dalam seminggu. Tiada seorangpun jang mendengarkan kami, djadi akulah jang pertama harus mengadjak untuk membitjarakan apa jang terselip dalam pikiran kami berdua. ,,Bung tahu betul,” aku mulai dengan lunak, ,,bahwa semuanja hanja akan berpura-pura sadja.

Berita bahwa kepada saja sudah didjatuhkan hukuman, telah menetes dari kawan-kawan kita di Negeri Belanda. Sekalipun informasi jang demikian tidak dikirimkan kepada saja, tapi saja tahu bahwa pengadjuan ke depan pengadilan ini hanja sandiwara sadja. Bung pun tahu. Mereka harus menghukum kita. Terutama saja. Saja adalah biang-keladinja.”

,,Ja,” keluhnja, ,,Saja sudah membatja berita pers di surat-kabar.” ,,Seperti misalnja kepala berita harian ‘Sukarno PASTI dihukum’ dan ‘Tidak mungkin membebaskan Sukarno dari tuntutan kata para pembesar.’ Saja tahu. Sajapun membatjanja.” Sartono membuka katjamatanja, membersihkannja lalu memakainja kembali. ,,Semendjak tanggal 29 Desember suasana hangat dari masjarakat di sini dan di Negeri Belanda tidak henti-hentinja

menghasut,” aku menjatakan, ,,Kedua negeri ini menoleh padaku untuk buka suara. Aku tidak dapat menjerahkan hal ini kepada orang lain. Ja, memang ada Bung dan pehasehat-penasehat lainnja, akan tetapi saudara-saudara mempunjai segi-segi hukumnja sendiri untuk diadjukan. Tinggal dua minggu lagi ke depan pengadilan.”

,,Saja tjepat-tjepat datang kemari, segera setelah mendengar kabar,” ia minta maaf, ,,Akan tetapi polisi mempersulit persoalannja. Nampaknja untuk beberapa waktu seakan-akan saja sendiri berada dalam bahaja penahanan.”

Aku melihat kepadanja dengan mata berlinang karena terimakasih. ,,Sartono, saja menghargai segala usahamu. Namun, tjara ahli hukum bekerdja tidak menjimpang dari ketentuan hukum. Dia sangat terikat untuk mendjalankan hukum. Suatu revolusi melemparkan hukum jang ada dan madju terus tanpa menghiraukan hukum itu. Djadi sukar untuk merentjanakan suatu revolusi dengan ahli hukum. Kita memerlukan getaran perasaan kemanusiaan. Inilah jang akan saja kemukakan.” Aku menjediakan kertas dari rumah. Tinta dari rumah. Sebuah kamus dari perpustakaan pendjara.

Pekerdjaan ini sungguh meremukkan tulang-punggung. Aku tidak punja medja untuk dapat bekerdja dengan enak. Selain daripada tempat-tidur, satu-satunja perabot jang ada dalam selku adalah sebuah kaleng tempat buang-air. Kaleng jang menguapkan bau tidak enak itu adalah perpaduan dari tempat buang-airketjil dan tempat melepaskan hadjat-besar. Ia terbagi dua untuk masing-masing keperluan itu. Perkakas jang buruk ini tingginja sekira dua kaki dan lebar dua kaki. Setiap pagi aku harus menjeretnja dari bawah tempat-tidur, kemudian mendjindjingnja ke kakus dan membersihkan kaleng itu.

Malam demi malam dan tak henti-hentinja selama sebulan setengah aku mengangkat kaleng itu ke atas tempat-tidur. Aku duduk bersila dan rnenempatkannja di hadapanku. Ia kualas dengan beberapa lapis kertas sehingga tebal dan aku mulai menulis. Dengan tjara begini aku

bertekun menjusun pembelaanku jang kemudian mendjadi sedjarah politik Indonesia dengan nama ,,lndonesia Menggugat’. Dalam buku ini aku mengungkapkan setjara terperintji penderitaan jang menjedihkan dari rakjatku sebagai akibat penghisapan selama tiga setengah abad di bawah pendjadjahan Belanda. Thesis tentang kolonialisme ini, jang kemudian diterbitkan dalam selusin bahasa di beberapa negara dan jang diguratkan dengan kata jang bernjala-njala, adalah hasil penulisan di atas kaleng tempat-buangair jang bertugas ganda itu.

18 Agustus 1930, setelah delapan bulan meringkuk dalam tahanan. perkara ini dihadapkan di muka pengadilan. Setjara formil aku dituduh melanggar Pasal 169 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan menjalahi pasal 161,171 dan 153. Ini adalah ‘de Haatzaai Artikelen’ jaitu pasal-pasal pentjegah penjebaran rasa bentji. Setjara formil aku dituduh ,,mengambil bagian dalam suatu organisasi jang mempunjai tudjuan mendjalankan kedjahatan di samping…….. usaha menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda…………”

Gedung pengadilan jang terletak di Djalan Landraad penuh sesak oleh manusia. Udara di dalam terasa menjesakkan. Langit-langit papan jang berwarna suram bahkan menambah pekatnja kesuraman dari udara jang melemaskan dalam ruang pengadilan itu. Ketika aku memulai pidatoku tiada satupun terdengar suara. Tiada satupun jang bergerak. Tiada gemerisik. Hanja putaran lembut dari kipas-angin di atas kepala terdengar merintih. Sambil berdiri di atas bangku-pesakitan jang ditinggikan aku menghadap ke medja-hidjau hakim dan aku mulai berbitjara. Aku berbitjara berdjam-djam. Pokok-pokok dakwaan terhadap Belanda kukemukakan menurut jang sesungguhnja. Setelah hampir mendekati achir, ketenanganku jang biasa melebur mendjadi pernjataan keketjewaan. Aku teringat kembali ketika terpaksa berhenti sebentar dan berusaha menguasai pikiranku. Kemudian aku mempersihkan kerongkonganku lalu mentjetuskan perasaan. ,,Pengadilan menuduh kami telah mendjalankan kedjahatan. Kenapa? Dengan apa kami mendjalankan kedjahatan, tuan-tuan Hakim jang terhormat? Dengan pedang? Dengan bedil? Dengan bom? Sendjata kami adalah rentjana, rentjana untuk mempersamakan pemungutan padjak, sehingga rakjat Marhaen jang mempunjai penghasilan maksimum 60 rupiah setahun tidak dibebani padjak jang sama dengan orang kulit-putih jang mempunjai penghasilan minimum 9.000 setahun.

,,Tudjuan kami adalah exorbitante rechten, hak-hak luarbiasa dari Gubernur Djendral, jang singkatnja setjara peri-kemanusian tidak lain daripada pengatjauan jang dihalalkan. Satu-satunja dinamit jang pernah kami tanamkan adalah suara djeritan penderitaan kami. Medan perdjoangan kami tak lain daripada gedung-gedung pertemuan dan surat-suratkabar umum.

,,Tidak pernah kami melanggar batas-batas jang ditentukan oleh undang-undang. Tidak pernah kami mentjoba membentuk pasukan serdadu-serdadu rahasia, jang berusaha atas dasar nihilisme. Kami punja modus operandi ialah untuk menjusun dan menggerakkan kekuatan kami dalam tjara-tjara jang legal.

,,Ja, kami memang kaum revolusioner. Kata ‘revolusioner’ dalam pengertian kami berarti ‘radikal’, mau mengadakan perobahan dengan lekas. Istilah itu harus diartikan sebagai kebalikan kata ‘sabar’, kebalikan kata ‘sedang’. Tuan-tuan Hakim jang terhormat, sedangkan seekor tjatjing kalau ia disakiti, dia akan menggeliat dan berbalik-balik. Begitupun kami. Tidak berbeda daripada itu. ,,Kami mengetahui, bahwa kemerdekaan memerlukan waktu untuk mentjapainja. Kami mengetahui bahwa kemerdekaan itu tidak akan tertjapai dalam satu helaan nafas sadja. Akan tetapi kami masih sadja dituduh, dikatakan ‘menjusun suatu komplotan untuk mengadakan revolusi berdarah dan terluka, agar kami dapat merebut kemerdekaan penuh di tahun 30′. Djikalau ini memang benar, penggeledahan massal jang tuan-tuan lakukan terhadap rumah-rumah kami akan membuktikan satu tempat persembunjian sendjata-sendjata gelap. Tapi, tidak sebilah pisaupun jang dapat diketemukan.

,,Golok. Bom. Dinamit. Keterlaluan! Seperti tidak ada sendjata jang lebih tadjam lagi daripada golok, bom dan dinamit itu. Semangat perdjoangan rakjat jang berkobar-kobar akan dapat menghantjurkan manusia lebih tjepat daripada ribuan armada perang jang dipersendjatai lengkap. Suatu negara dapat berdiri tanpa tank dan meriam. Akan tetapi suatu bangsa tidak mungkin bertahan tanpa kepertjajaan. Ja, kepertjajaan, dan itulah jang kami punjai. Itulah sendjata rahasia kami. ,,Baiklah, tentu orang akan bertanja, ‘Akan tetapi sekalipun demikian, bukankah kemerdekaan jang engkau perdjoangkan itu pada suatu saat akan direbut dengan pemberontakan bersendjata?’

,,Saja akan mendjawab: Tuan-tuan Hakim jang terhormat, dengan segala kedjudjuran hati kami tidak tahu bagaimana atau dengan apakah langkah terachir itu akan dilakukan. Mungkin djuga Negeri Belanda achirnja mengerti, bahwa lebih baik mengachiri kolonialisme setjara damai. Mungkin djuga kapitalisme Barat akan runtuh.

,,Mungkin djuga, seperti sudah sering saja utjapkan, Djepang akan membantu kami. Imperialisme bertjokol di tangan bangsa kulit-kuning maupun di tangan bangsa kulit-putih. Sudah djelas bagi kita akan kerakusan keradjaan Djepang dengan menaklukkan semenandjung Korea dan mendjalankan pengawasan atas Manchuria dan pulau-pulau di Lautan Pasifik. Pada suatu saat jang tidak lama lagi Asia akan berada dalam bahaja penjembelihan besar-besaran dari Djepang. Saja hanja mengatakan, bahwa ini adalah kejakinan saja djikalau ekor daripada naga raksasa itu sudah memukul-mukul ke kiri dan ke kanan, maka Pemerintah Kolonial tidak akan sanggup menahannja.

,,Oleh karena itu, siapakah jang dapat menentukan terlebih dulu rentjana kemerdekaan dari negeri kami, djikalau kita tidak tahu apa jang akan terdjadi dalam masa jang akan datang. Jang saja ketahui, bahwa pemimpin-pemimpin P.N.I. adalah pentjinta perdamaian dan ketertiban. Kami berdjoang dengan kedjudjuran seorang satria. Kami tidak menginginkan pertumpahan darah. Kami hanja menghendaki kesempatan untuk membangun harga diri daripada rakjat kami. ,,Saja menolak tuduhan mengadakan rentjana rahasia untuk mengadakan suatu pemberontakan bersendjata. Sungguhpun begitu, djikalau sudah mendjadi Kehendak Jang Maha-Kuasa bahwa gerakan jang saja pimpin akan memperoleh kemadjuan jang lebih pesat dengan penderitaan saja daripada dengan kebebasan saja, maka saja menjerahkan diri dengan pengabdian jang setinggi-tingginja ke hadapan Ibu lndonesia dan mudah-mudahan ia menerima nasib saja sebagai pengorbanan jang harum-semerbak di atas pangkuan persadanja.

Tuan-tuan Hakim jang terhormat, dengan hati jang berdebar-debar saja, bersama-sama dengan rakjat dari bangsa ini siap sedia mendengarkan putusan tuan-tuan Hakim!”

Ketika aku dibawa kembali ke rumah pendjara, wakil penuh dari Pemerintah menundjukkan keramahannja dengan mengulurkan tangan kepadaku. Esok paginja sebuah surat-kabar menulis tentang kedjadian ini dengan djudul ,,Meester ir. Kievet de Jonge kelihatan berdjabatan tangan dengan pengatjau kotor”. Sesudah tiap sidang jang banjaknja 19 kali itu, maka ada seorang Belanda jang berani memuat tulisan-tulisan di suratkabarnja Het Indische Volk mengenai perlakuan jang sungguh-sungguh tidak adil terhadapku. Dengan semakin hangatnja tadjuk rentjana jang dibuatnja, maka kerut dahi rekan-rekannja semakin dalam. Mr. J.E. Stokvis banjak kehilangan kawan karena persoalanku. Di malam akan didjatuhkan putusan pengadilan, enam orang kawan tanpa pemberitahuan terlebih dulu pergi ke rumah Dr. Sosrokartono, seorang ahli kebatinan jang sangat dihormati di Bandung. Kemudian ditjeritakan kepadaku, bahwa keenam orang itu ingin menenangkan pikirannja dan sungguhpun hari sudah lewat malam, mereka datang djuga ke rumah ahli kebatinan itu, tanpa ada perdjandjian terlebih dulu. Sesampai di sana seorang pembantu membukakan pintu dan menjampaikan, ,,Pak Sosro sudah menunggu-nunggu” dan mengiringkan mereka masuk, di mana telah tersedia dengan rapi enam buah korsi dalam setengah lingkaran.

Kawan-kawanku itu tentu heran. Dengan tidak bertanja terlebih dulu akan maksud kedatangan mereka, ahli kebatinan itu hanja mengutjapkan tiga buah kalimat: ,,Sukarno adalah seorang Satria. Pedjoang seperti Satria boleh sadja djatuh, akan tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunja tidak lama lagi.”

Di hari berikutnja Gatot Mangkupradja, Maskun, Supriadinata dan Sukarno didjatuhi hukuman. Hukuman Sukarno jang paling berat. Aku dikenakan empat tahun kurungan dalam sel dengan ukuran satu setengah kali dua seperempat meter. Empat tahun lamanja aku tidak melihat matahari. Pembela-pembelaku naik banding ke Rand van Justitie, akan tetapi pengadilan tinggi ini tetap berpegang kepada keputusan hukuman. Tidak lama setelah itu kami dipindahkan ke dalam lingkungan dinding tembok jang tinggi dari pendjara Sukamiskin.

 

 

Bab 12

Pendjara Sukamiskin

 

DELAPAN bulan lamanja aku berada dalam penahanan keras. Jang dapat kulihat hanja pendjaga selku. Kalau tawanan-tawanan lain tidak ada lagi di pekarangan, aku baru dibawa keluar sarangku selama setengah djam pagi dan sekali lagi setengah djam di waktu sore. Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk berbitjara dengan Gatot. Belanda dengan sengadja memisahkan kami.

Aku tidak pernah mendapat perlakuan jang kedjam. Sesungguhnja aku selalu diperlakukan terlalu baik. Kalau tadinja pedjabat pemerintah selalu mentjatat segala gerak-gerikku, maka sekarang petugas pendjara selalu mendjaga supaja aku tidak mengadakan protes terhadap segala sesuatu. Perlakuan jang berlebih-lebiban demikian itu sama sadja hebatnja dengan kekedjaman, oleh karena jang terachir ini masih memberi kesempatan untuk berhubungan dengan manusia. Karena mereka kuatir aku akan berhubungan dengan kawan-kawan senasib dan merusakkan tjara mereka berpikir, aku dipekerdjakan dekat Direktur pendjara. Dengan demikian pendjagaan terhadap diriku lebih diperkuat. Aku dipekerdjakan di pertjetakan dimana aku membanting-tulang memeras keringat dalam puluhan rim kertas untuk didjadikan buku-tjatatan. Aku menjeret kertas itu mengempanja, memuat dan membongkar mesin-penggaris dan potong jang besar dan penuh gemuk itu. Mulai dari matahari terbit aku membuat garis diatas kertas. Sehari penuh, hari berganti hari, kerdjaku tidak lain dari membuat garis-garis itu. Pekerdjaan jang membosankan untuk orang seperti Sukarno. Sehari-hari hanja membuat garis.

Di waktu djam makanpun dianggap terlalu berbahaja untuk mentjampurkan ,,Sukarno orang berbahaja” dengan orang Indonesia lainnja. Aku ditjampurkan dengan orang Belanda hukuman tingkat tinggi, seperti mereka jang dihukum karena penggelapan uang djabatan atau korupsi. Satu-satunja jang dapat kubitjarakan dengan Belanda kelas tinggi ini adalah mengenai makanan atau keadaan tjuatja. Para petugas tetap mendjaga agar aku tidak membitjarakan soal-soal politik.

Di Sukamiskin aku membiasakan diri makan tjepat. Bahkan sekarangpun, kalau aku mengadakan djamuan makan kenegaraan, aku sudah selesai makan sebelum setengah dari para tetamuku dilajani. Tjoba pikir, kami semuanja ada kira-kira 900 orang. Kamar-makan jang berukuran ketjil itu hanja mempunjai 25 medja kaju, masing-masing memuat sepuluh orang. Kami makan setjara bergiliran. Gong berbunji, setiap orang masuk dengan membawa piring aluminium, tempat sajur alumimum, tjangkir dan sendok. Enam menit kemudian kelompok ini berbaris menudju kran-air di luar untuk mentjutji alat makannja dan sementara itu rombongan 250 orang jang lain berbaris masuk. Enam menit kemudian rombongan jang lain lagi. Tak ubahnja seperti membuat barang dalam pabrik sadja setjara berurutan.

Kami mandi menurut waktu. Aku diberi waktu enam menit untuk rnembersihkan seluruh badan, penuh dengan minjak dari kepala sampai ke kaki jang melekat di tangan, kaki dan pipi. Setiap enam menit giliran jang lain. Dan kami ada setengah lusin orang jang berebut air di bawah satu pantjoran.

Banjak kebiasaan-kebiasaan siang dan malam dalam bui masih terbawa-bawa olehku dalam 35 tahun ini. Aku sudah terbiasa berbaring di atas tempat jang keras dan tipis, begitupun sekarang Sebagai Kepala Negara aku tidak tidur di atas alas sutera dan kasur empuk. Sesungguhnja aku sering turun dari tempat-tidur jang enak dan menggeletak di atas lantai. Aku lebih enak tidur dengan tjara begitu.

Setelah beberapa bulan dalam pengasingan ini, aku dibolehkan menerima kue dan telor dari luar. Makanan ini mula-mula diperiksa dengan teliti oleh pendjaga. Sungguhpun demikian, berita masih dapat lolos dengan pengiriman makanan ini, oleh karena sebelum masuk tahanan aku sudah mengatur tanda-tanda, sehingga djikalau terdjadi sesuatu jang tak dapat dihindarkan, maka orang jang paling dekat kepadaku masih dapat mengadakan hubungan. Dalam hal kabar buruk Inggit mengirimkan telor-asin. Ini terdjadi beberapa kali. Akan tetapi jang kuketahui hanjalah bahwa ada kabar buruk. Hanja itu. Dan ini pulalah jang membikinku

seperti orang gila, karena tidak mengetahui bala apa jang telah menimpa. Rupanja sudah mendjadi sifat manusia untuk bertahan terhadap kesulitan. Inilah saat-saat jang menjiksa diriku. Isteriku diberi kelonggaran untuk berkundjung hanja dua kali dalam seminggu dan surat-suratku selalu diteliti. Djadi, saluran informasi jang paling banjak bagiku adalah buku-buku agama jang diperkenankan dibawa dari luar. Aku mengakali suatu tjara dengan menggunakan lobang-lobang djarum. Umpamakan Inggit mengirimiku Quran pada tanggal 24 April. Aku harus membuka Surah 4 halaman 24 dan dengan udjung-djari aku meraba dengan teliti. Di bawah huruf-huruf tertentu terdapatlah bintik bekas lobang djarum. Tjaranja seperti huruf braille. Di bawah huruf A terasa bintik ketjil. Di bawah huruf N sebuah bintik lagi dan seterusnja. Dengan djalan demikian aku dapat mengetahui isi berita di hari-hari selandjutnja.

Kalau isteriku membawakan telor biasa, aku meneliti kulitnja terlebih dulu sebelum memakannja. Satu tusukan peniti berarti ,,kabar baik”. Dua tusukan ,,seorang kawan ditangkap”. Tiga tusukan berarti ,,Penjergapan besar-besaran. Semua pemimpin ditangkap”. Ibu dan bapakku tidak pernah datang. Mereka tidak akan sanggup memandangi sia nak-sajang terkurung dalam kandang jang sempit, jang pandjangnja hanja limabelas ubin dan lebar duabelas ubin itu. Mereka tidak akan sanggup melihat aku dikeluarkan seperti binatang jang digiring untuk diangin-anginkan. Kakakku Sukarmini datang dua kali, ia bekerdja dengan semangat jang bernjala-njala untuk P.N.I. Kami menggunakan gerakan tangan atau lain-lain sebagai tanda pemberitaan. Kalau ia menarik telinganja, menjilangkan djarinja aku mengerdipkan mata, ataupun menggerakkan salah-satu tangan jang kelihatannja kosong sadja atau menggerakkan mukanja, semua ini membawa artinja sendiri-sendiri. Ia bisa banjak berbitjara dengan djalan ini.

Ketika pertama-kali melihatku ia surut memandangi wadjahku. Selain dari berat badanku jang semakin berkurang, iapun kaget melihat kulitku. Dua kali ia datang, dua kali pula ia memberikan komentar jang sama.

,,Karno, kau sudah djadi hitam!”

,,Memang,” aku tersenjum lesu. ,,Aku sudah djauh lebih hitam dari biasa.”

,,Kenapa begitu?” ia berteriak. ,,Kau diapakan oleh mereka?”

,,Tidak diapa-apakan, tapi aku jang mernbikin kulitku begini.” djawabku. ,,Dua kali dalam sehari kami diberi kesempatan keluar sel selama beberapa menit. Ada jang menggunakan kesempatan ini untuk berdjalan-djalan atau gerak-badan atau bermain seperti main bola. Ada lagi jang duduk-duduk berteduh di bawah pohon.”

,,Kau bagaimana!” tanjanja.

,,Aku berbaring-baring di tanah untuk meresapkan ke dalam tubuhku chasiat dari sinar matahari jang membakar.”

,,Aku tak pernah melihatmu berdjemur begitu.” ,,Memang selama ini tidak. Sebetulnja aku pusing karena terlalu banjak tjahaja matahari. Tapi aku harus mengeringkan tubuhku. Sel itu sangat dingin, gelap dan lembab, djadi inilah satu-satunja djalan untuk memanaskan tulang-tulangku jang di dalam sekali.”

Kekedjaman jang paling hebat jang dapat rnengganggu pikiran manusia adalah pengasingan. Sungguh hebat akibatnja! la dapat menggontjangkan dan membelokkan kehidupan orang. Aku menjaksikan kedjadian-kedjadian jang memilukan hati Aku menjaksikan kawan setahanan mendjadi gila karena sjahwatnja. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat mereka melakukan ,,onani”. Pemuasan nafsu terhadap diri sendiri. Aku mengetahui dan telah menjaksikan akibat jang menakutkan daripada pengasingan terhadap laki-laki jang normal. Di hadapanku laki-laki melakukan pertjintaan dengan laki-laki lain. Seorang Belanda jang tjerdas dan potongan orang gede-gede membanting-tulang seperti budak di bagian benatu pendjara. Aku sedang berada dekatnja ketika pendjaga pendjara menjampaikan kepadanja bahwa ia akan dipindahkan bekerdja ke tempat jang lebih tjotjok dengan pembawaan mentalnja daripada pekerdjaan membudak jang telah dilakukannja begitu lama. ,,Kami akan pindahkan tuan besok,” kata pendjaga itu. ,,Mulai dari sekarang tuan tidak perlu lagi membungkuk di bak-uap dan tangan tuan tidak akan mengelupas lagi dalam air jang mendidih. Karena kelakuan tuan jang baik, tuan diberi pekerdjaan ringan di rumah-obat.” Belanda itu mendjadi takut. Mulutnja bergerak gugup. ,,0 tidak, teriaknja sambil menggapai tangan pendjaga itu. ,,Tidak……… tidak…… ach, tidak. Djangan aku dipindahkan ke sana.”

Pendjaga jang keheranan itu menjangka orang tahanan itu salah dengar. ,,Tuan tidak mengerti,” kata pendjaga mengulangi. ,,Ini suatu keringanan. Keringanan untuk mengerdjakan jang lebih mudah.”

,,Djangan…….. djangan,” orang tahanan itu membela pendiriannja. ,,Pertjajalah padaku, aku tidak mau keuntungan ini. Kuminta dengan sangat, biarkanlah aku bekerdja di bagian benatu. Biar bekerdja keras.”

,,Kenapa?” tanja pendjaga tidak pertjaja.

,,Karena,” bisiknja, ,,Tempatnja tertutup di sini dan aku selalu dilingkungi orang sepandjang waktu. Di sini aku bisa berhubungan rapat dengan orang-orang di sekelilingku. Sedang di rumah-obat aku tak mendapat kesempatan ini dan tidak akan bisa menggeser pada laki-laki lain. Djangan……. djangan pindahkan aku ke sana. Inilah akibat pengurungan terhadap manusia.

Sungguh banjak persoalan homoseksuil di antara orang kulit-putih. Seorang Belanda berambut keriting, dengan pundaknja jang lebar dan sama seperti laki-laki lain jang bisa dilihat di mana-mana, telah didjatuhi hukuman empat tahun kerdja berat. Kedjahatannja, karena bermain-main dengan anak-anak muda. Tapi walaupun dihukum berkali-kali untuk menginsjafkannja, namun nampaknja ratusan anak laki-laki jang berada di sekelilingnja adalah satu-satunja obat bagi penjakitnja, wallahu’alam. Hukumannja telah habis dan di pagi ia meninggalkan pendjara, kukira dia bisa baik lagi.

Sebulan kemudian dia menonton bioskop. Dia duduk di bangku depan dikelilingi oleh delapan atau sembilan anak-anak muda. Orang kulit-putih berambut pirang dan berbadan besar duduk di kelas kambing jang disediakan untuk orang Bumiputera tentu mudah diketahui orang. Terutama kalau perhatiannja tidak terpusat kepada film. Djadi, kembalilah ia mengajunkan langkah menudju bui. Pendjara bukanlah obatnja. Ia kembali keselnja jang lama sebelum keadaannja berobah.

Djenis manusia jang begini berkumpul di suatu tempat di kota. Suatu hari terdjadi ribut-ribut di sebuah hotel dan polisi datang. Seorang pemuda kedapatan terbaring di lantai di salah-satu kamar menangis dan mendjerit. Ia dalam keadaan telandjang dan mendjadi apa jang disebut pelatjur. Langganannja adalah tiga orang Belanda berbadan tegap dan kekar. Apakah jang mendjadi sebab dari kegemparan ini? Anak pelatjur itu kemudian menerangkan sambil tersedu-sedu, ,,Mula-mula jang satu itu dari Korps Diplomatik ingin dengan

saja, lalu kawannja. Sekarang jang ketiga mau dengan saja lagi. Saja tjapek. Saja katakan, saja tidak sanggup lagi dan apa tindakannja? Dia memukul saja!”

Orang kulit-putih itu dimasukkan ke sel di bawahku. Di sini ia berusaha lagi menawarkan kegemarannja itu. Pada waktu tidak ada orang di sekelilingku, kutanjakan hal ini kepadanja. ,,Kenapa?” tanjaku. ,,Kenapa engkau mau bertjinta denganku?” Dan ia mendjawab, ,,Karena di sini tidak ada perempuan.”

Aku mengangguk, ,,Memang benar. Aku sendiri djuga menginginkan kawan perempuan, tapi bagaimana bisa……….” Kemudian ia menambahkan, ,,Jah, apalah perempuan itu kalau dibandingkan dengan lelaki?” ,,Ooooh,” kataku terengah. ,,Kau sakit!”

Sudah tidak ragu lagi bahwa, kehidupan dalam kurungan menghantjurkan, merobek-robek kehendak jang normal daripada daging. Ja, bahkan Kitab Indjil menjatakan, bahwa seorang laki-laki akan melekat pada isterinja. Aku senang berada dalam usia jang masih muda dan berkembang dalam kehidupan ini; seorang jang kuat dan perasa ketika pintu-besi menutup di belakangku. Badanku ditawan, tapi semangatku mendjerit-djerit di dalam. Urat-sjarafku berteriak-teriak oleh siksaan di kesunjian malam. Keinginan biasa untuk memuaskan diri jang dimiliki oleh laki-laki atas karunia Tuhan jang Maha-Pemurah, tidak padam-padamnja, hanja disebabkan oleh karena seorang hakim memukulkan palu dan berkata, ,,Perkara ditutup!”

Setiap hari Natal orang-orang dari Bala Keselamatan menjumbangkan makanan jang dibungkus untuk orang tahanan jang diserahkan oleh lelaki dan perempuan berpakaian sopan jang tidak akan membangkitkan berahi kami orang kurungan. Di minggu terachir tahun 1930 seorang perempuan tua djelek-kotor lagi gemuk jang berumur lebih dari 60 tahun terhujung-hujung masuk selku menjampaikan kemurahan hatinja. Ia memberikan roti Natal. Aku sadar bahwa aku berada dalam keadaan parah, ketika wanita gemuk seperti babi itu kelihatan indah di ruang-mataku. Selama satu saat dalam perdjoangan batin, maka dalam pikiranku ia

adalah wanita paling tjantik jang pernah kudjumpai.

Aku dikurung dengan sungguh-sungguh di Sukamiskin dengan perlakuan jang sama dengan pelanggar hukum berkebangsaan Belanda, supaja aku tidak ,,meratjuni” udara masjarakat tahanan Indonesia. Sukamiskin adalah tempat bagi pendjahat-pendjahat besar dan terbagi dalam tiga kelas. Mereka jang terkena satu tahun pendjara, termasuk Gatot, Maskun dan Supriadinata.

Kemudian terdapat kelas untuk hukuman dari satu sampai sepuluh tahun dan kelompok jang terbesar mendjalani hukuman lebih dari sepuluh tahun. Ada seorang pembunuh jang satu medja denganku, akan tetapi dia hanja dikenakan duapuluh tahun. Dan tidak dikenakan seumur hidup, karena jang dibunuhnja hanja seorang Indonesia. Jang seorang lagi dihukum 15 tahun bersama-sama dengan saudaranja karena perampokan bersendjata dan melakukan kekedjaman di luar peri-kemanusiaan.

Nomor selku 233. Menaiki tangga-besi di tingkat kedua di sudut. Seluruh blok itu dikosongkan buatku. Tetanggaku jang terdekat adalah seorang pembunuh jang merampas seorang wanita, kemudian membunuhnja dengan tiga orang anaknja. Kawanku jang paling rapat ialah seorang Indo, bapaknja Belanda totok dan ibunja seorang Indonesia dari Priangan. Setiap kali mendekatiku ia selalu mentjoba memperlihatkan keramahannja. ,,Kawan” ini jang sangat sajang kepadaku dihukum karena membunuh ajahnja jang selalu menjiksa ibunja.

Di Sukamiskin njawa manusia tidak ada harganja, karena ia bisa melajang untuk memperoleh sebungkus rokok. Setiap orang berada dalam kekurangan dan memerlukan begitu banjak, sehingga orang dapat menjuruh penggal musuhnja hanja dengan menjodorkan dua batang rokok dan membisikkan, ,,Kelihatan orang di sana itu jang pakai tanda di kuduknja? Bunuh dia dan ini bagianmu.” Pertjakapan selandjutnja tidak perlu. Dengan djawaban ,,Baik” jang gembira orang itu lalu berdjalan-djalan mendekati sasarannja dan menanamkan pisau ke dalam perut orang jang dimaksud. Sukamiskin penuh dengan orang jang kehilangan semangat hidup sebagai tahanan. Ada seorang jang dikenakan 53 tahun pendjara. Orang seperti dia ini tidak akan rugi apa-apa kalau membunuh seorang kawan dalam kurungan. Terutama kalau dia bisa memperoleh barang mewah dengan tjara itu. Begitulah lingkungan di mana putera sang fadjar berada.

Para pembelaku mentjoba meminta, agar aku mendjalani hukuman di luar dinding tembok itu seperti djuga orang hukuman jang lain, akan tetapi permohonan ini ditolak. Hindia Belanda tidak keberatan memberi kesempatan kepada Jack si Tukang Bunuh untuk mendjalani hukuman di luar, akan tetapi untuk Singa Podium hal ini terlalu berbahaja.

Ternjata bahwa masuk bui di suatu saat sama sadja dengan jang lain. Otakku menderita kekurangan darah. Kepalaku lekas sekali penuh dan selalu lelah. Sekalipun mereka mentjoba untuk menghantjurkan otak kami sampai tak seorangpun jang mempunjai kemauan sendiri, namun aku tidak mau mentalku dirobek-robek oleh pendjara. Bagaimanapun djuga aku membikin hari-hariku sendiri. Orang dapat melakukan hal ini kalau kuat mentalnja. Djikalau orang menggantungkan tjita-tjitanja setinggi bintang-bintang di langit. Aku memaksakan diriku untuk menjadari bahwa tjita-tjita jang besar datangnja pada saat-saat jang sepi, lalu aku mentjoba membuktikan kebenaran dari kata-kata mutiara, ,,Tjita-tjita jang besar dapat membelah dinding pendjara.”

Ketika membangkitkan diri setjara mental, aku tidak sadja mendjadi biasa dengan keadaanku, akan tetapi djuga kupergunakan keadaan itu untuk menjusun rentjana-rentjana di masa jang akan datang. Aku bahkan dapat berkata, bahwa aku berkembang dalam pendjara. Ketetapan hatiku semakin kuat. Ruang pendjara adalah ruang sekolahku.

Karena dilarang membatja buku-buku jang berbau politik, maka aku mulai mendalami Islam. Pada dasarnja bangsa kami adalah bangsa beragama. Kami adalah rakjat jang tahu akan kewadjiban kami terhadap Tuhan. Ini dapat disaksikan di Bali, di mana seni dan tradisi sama-sekali dipersembahkan kepada Jang Maha Kuasa. Kalau orang berdjalan-djalan di kampung-kampung di Djawa Barat, akan terdengar rakjat menjanjikan ajat-ajat Al-Quranul-karim di sore hari. Di Djawa Tengah berdiri sebuah monumen dari kehidupan kerohanian jang tinggi dari nenek-mojang kami. Jaitu tjandi Prambanan sebagai lambang dari puntjak peradaban Hindu. 50 kilometer dari situ mendjulang tjandi Borobudur, tjandi Buddha jang terbesar di seluruh dunia.

Orang mendjumpai mesdjid dan geredja di setiap kampung. Bangsa Indonesia semendjak lahirnja mengabdi kepada Tuhan. Tidak mendjadi soal djalan kepertjajaan mana jang ditempuh, kami mengakui bahwa hanja kekuasaan Divina Providensia-lah jang dapat melahirkan kami melalui abad-abad penderitaan. Kami adalah bangsa jang hidup dari pertanian dan siapakah jang menumbuhkan segala sesuatu? Al Chalik, Jang Maha Pentjipta. Kami terima ini sebagai kenjataan hidup.

Djadi aku adalah orang jang takut kepada Tuhan dan tjinta kepada Tuhan sedjak dari lahir dan kejakinan ini telah bersenjawa dengan diriku. Aku tak pernah mendapat didikan agama jang teratur karena bapak tidak mendalam di bidang itu. Aku menemukan sendiri agama Islam dalam usia 15 tahun, ketika aku menemani keluarga Tjokro mengikuti organisasi agama dan sosial bernama Muhammadijah. Gedung pertemuannja terletak di seberang rumah kami di Gang Peneleh. Sekali sebulan dari djam delapan sampai djauh tengah malam 100 orang berdesak-desak untuk mendengarkan peladjaran agama dan ini disusul dengan tanja-djawab.

Sungguhpun aku asjik mendengarkan, tapi belumlah aku menemukan Islam dengan betul-betul dan sungguh-sungguh sampai aku masuk pendjara. Di dalam pendjaralah aku mendjadi penganut jang sebenarnja. Tak pernah orang meragukan adanja Jang Maha Esa kalau orang bertahun-tahun lamanja terkurung dalam dunia jang gelap. Seseorang merasa begitu dekat kepada Tuhan pada waktu ia mengintip melalui lobang ketjil dalam selnja dan melihat bintang-bintang, kemudian merunduk di sana selama berdjam-djam dalam kesunjian jang sepi memikirkan akan suatu jang tidak ada batasnja dan segala sesuatu jang ada. Pengasingan jang sepi mengurung seseorang sama-sekali dari dunia luar. Karena pengasingan jang sepi inilah aku semakin lama semakin pertjaja. Tengah malam kudapati diriku dengan sendirinja bersembahjang dengan tenang.

Kepadamu kukatakan, saudara-saudaraku jang membatja buku ini—harapanku, sebagai usaha untuk dapat memahami Sukarno sedikit lebih baik—lima kali sehari aku sudjud setjara lahir dan batin dalam mengadakan hubungan dengan Maha Pentjipta. Mungkinkah orang seperti itu djadi Komunis? Di manapun aku berada di dunia ini aku sudjud menghadap ke Ka’bah di saat datangnja waktu Subuh, Lohor, Asar, Magrib dan Isa—dan menjembahNja.

Segala sesuatu kudjawab dengan ,,Insja Allah” — kalau Tuhan menghendaki. Tanjalah, ,,Hei Sukarno, apakah engkau pergi ke Bogor minggu ini?” Aku akan mendjawab, ,,Insja Allah. Kalau Tuhan mengizinkan, saja pergi.” Mungkinkah orang jang demikian dapat mendjadi seorang Komunis? Aku sungguh-sungguh mulai menelan Al Quran di tahun 28. Jaitu, bila aku terbangun aku membatjanja. Lalu aku memahami Tuhan bukanlah suatu pribadi. Aku menjadari.

Tuhan tiada hingganja, meliputi seluruh djagad. Maha Kuasa. Maha Ada. Tidak hanja di sini atau di sana, akan tetapi di mana-mana. Ia hanja satu—Tuhan ada di atas puntjak gunung, di angkasa, di balik awan, di atas bintang-bintang jang kulihat setiap malam. Tuhan ada di Venus, dalam radius dari Saturnus. Ia tidak terbagi-bagi di matahari dan di bulan. Tidak. Ia berada di mana-mana, di hadapanku, di belakangku, memimpinku, mendjagaku. Ketika kenjataan ini hinggap dalam diriku, aku insjaf bahwa aku tidak perlu takut-takut lagi, karena Tuhan tidak lebih djauh daripada kesadaranku. Aku hanja perlu memandjat ke dalam hatiku untuk menemuiNja. Aku menjadari bahwa aku senantiasa dilindungi-Nja untuk mengerdjakan sesuatu jang baik. Dan bahwa Ia memimpin setiap langkahku menudju kemerdekaan.

Suatu malam, djauh di larut malam, sambil bersudjud aku membisik kepada-Nja, ,,Tuhan,” aku mendo’a, ,,setiap manusia dapat mendjadi seorang pemimpin asal sadja dari keluarganja sendiri. Akan tetapi saja mengetahui bahwa Engkaulah Gembala jang sesungguhnja. Saja insjaf bahwa satu-satunja suara kemanusiaan adalah Kata dari Tuhan. Mulai dari hari ini dan seterusnja saja telah bersiap memikul tanggung-djawab dari segala apa jang saja kerdjakan—tidak sadja terhadap bangsa Indonesia, tapi sekarang djuga terhadap-Mu.”

Orang Belanda memandang kami, orang Islam, sama dengan penjembah berhala. Dalam bahasa Indjil kami adalah ,,keturunan jang sesat dan hilang”, kata mereka. Jah, penjembah berhala atau tidak, aku seorang Islam jang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali jang tertinggi dari Vatikan. Bahkan Presiden dari Irlandiapun mengeluh padaku bahwa ia hanja memperoleh satu.

Dalam pendjaraku aku mempeladjari semua agama untuk melihat apakah aku ini termasuk salah seorang jang ,,sesat dan hilang”. Kalau ia lebih baik untukku, aku akan mengambilnja. Kupeladjari agama Kristen pada Pendeta Van Lith. Aku terutama menaruh perhatian pada ,,Chotbah di atas Bukit”. Inspirasi Jesus menjemangati orang-orang sjahid jang mula-mula, karena itu mereka berdjalan menudju kematiannja sambil menjanjikan Zabur pudjian untukNja, karena mereka tahu ,,Kami meninggalkan Keradjaan ini, akan tetapi kami akan memasuki Keradjaan Tuhan”. Aku berpegang teguh pada itu. Aku membatja dan membatja kembali Indjil. Perdjandjian Lama dan Perdjandjian Baru tidak asing lagi bagiku. Aku seringkali mengulang mempeladjarinja.

Kemudian aku membatja Al Quran. Dan hanja setelah meneguk pikiran-pikiran Nabi Muhammad s.a.w. aku tidak lagi mentjari-tjari buku sosiologi untuk memperoleh djawaban atas bagaimana dan mengapa segala-galanja ini terdjadi. Aku memperoleh seluruh djawabannja dalam utjapan-utjapan Nabi. Dan aku sangat puas.

Untunglah aku telah menemukan Tuhan dan djadilah Ia kawan jang paling kusajangi dan kupertjajai bilamana aku menderita pukulan jang hebat. Suatu pendjara tak obahnja bagai sebuah djala ikan. Ia mempunjai lobang-lobang. Melalui salah-satu lobang datanglah berita? bahwa P.N.I.—anak jang dilahirkan dan aku sebagai bapaknja, kuasuh dan besarkan sehingga dewasa—telah terpetjah mendjadi dua dan persatuan terpetjah-belah. Aku tak sanggup mendengarnja. Untuk inilah kiranja aku dipendjarakan, untuk inilah kiranja aku harus mengalami penahanan jang keras. Aku sudah sanggup melalui siksaan batin, penghinaan dan pengasingan, karena aku senantiasa dapat melhat di ruang mataku tudjuan jang sutji. Tapi sekarang—keadaan ini melebihi kekuatanku. Aku melakukan sesuatu jang tidak biasa kulakukan dalam hidupku. Aku menangis.

Aku tidak menangis pada waktu ditangkap. Aku tidak mentjutjurkan airmata ketika aku dipendjarakan. Aku tidak patah hati ketika anak kuntji berputar dan rnengurungku dari dunia bebas. Pun tidak barangkali kalau aku merasa tertekan dan menjesal terhadap diriku sendiri dalam liang kuburku. Akupun tidak meratap bila menerima kabar bahwa orangtuaku sakit. Akan tetapi ketika aku mendengar partaiku petjah dan kesempatan ketjil bagi tanah-airku semakin menipis, kukatakan padamu saudara, aku tak dapat menerimanja. Aku meratap seperti anak ketjil.

Namun tak sekalipun aku mempunjai pikiran untuk menjerah. Tidak pernah. Kekalahan tak pernah memasuki pikiranku. Aku hanja mendoa, ,,Insja Allah, saja akan mempersatukannja kembali.” Sementara itu, ,,Indonesia Menggugat” telah tersebar ke seluruh pengadilan di Eropa dan banjak protes resmi datang dari ahli-ahli hukum. Pengadilan Austria mengemukakan bahwa, karena tuduhan terhadapku tidak pernah dibuktikan, maka putusan hukuman terhadap Sukarno sangat tidak berperikemanusiaan.

Para ahli-hukum Belandapun mengeluarkan pendapatnja. Seorang professor hukum di Djakarta, karena kaget oleh kekerasan itu, mengeluarkan pendapatnja dalam sebuah madjalah. Ia dipanggil setelah itu oleh Direktur Kehakiman jang marah kepadanja dan menegurnja karena telah berani menentang keputusan Agustus dari Sri Ratu di muka umum. Demikian banjak tekanan telah dilakukan, baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga Gubernur Djendral merobah hukumanku mendjadi dua tahun.

Sesaat sebelum aku dibebaskan, ada sebuah tulisan dengan djudul ,,Saja Memulai Kehidupan Baru” jang menguraikan tentang diriku dan disebarkan setjara luas. Di pagi hari tanggal 31 Desember 1931, pada waktu aku dalam pakaian preman untuk pertama-kali selama dua tahun, Direktur Pendjara mengiringkanku ke pintu keluar dan bertanja, lr. Sukarno, dapatkah tuan menerima kebenaran dari kata-kata ini? Apakah tuan betul-betul akan memulai kehidupan baru?” Sambil memegang dengan tangan kananku tiang pintu menudju kemerdekaan, aku mendjawab, ,,Seorang pemimpin tidak berobah karena hukuman. Saja masuk pendjara untuk memperdjoangkan kernerdekaan, dan saja meninggalkan pendjara dengan pikiran jang sama.”

 

 

Bab 13

Keluar Dari Pendjara

 

BELANDA telah mendjalankan daja-upaja untuk mentjegah agar kebebasanku djangan menimbulkan pawai dari rakjat. Di mana-mana diawasi oleh pasukan patroli. Agar tertjapai maksud tersebut, maka djalanan di sekeliling rumahpun dikosongkan. Aku telah menjampaikan supaja bertindak lebih bidjaksana menghadapi ini dan tidak mengadakan penjambutan setjara besar-besaran. Sungguhpun demikian Inggit dan beberapa ratus pengikut jang setia berbaris dengan rapi di pinggir djalan pada djam tudjuh pagi jang tjerah, ketika aku mengachiri tugasku dengan masjarakat Belanda.

Sudah mendjadi kebiasaan orang Indonesia untuk mengadakan selamatan, apabila seseorang keluar dari pendjara. Bukan maksudku sebagai kebiasaan orang Indonesia bila keluar dari pendjara sadja. Jang kumaksud, segala kedjadian—seperti dalam hal perkawinan, kenaikan kedudukan, anak lahir, ja, malah keluar dari pendjarapun—ditandai oleh suatu pesta-kedamaian. Karena itu penjesuaian diriku kepada masjarakat ramai hampir tidak dapat dilakukan setjara berangsur-angsur. Dari kakus jang gelap dan sepi langsung melompat ke rumah Inggit, tempat bajar-makan jang ribut.

Peristiwa itu menggembirakan sekali dan aku dikuasai oleh perasaan haru. Akan tetapi harus kuakui, di saat itu jang pertama-tama kuinginkan bukanlah pesta jang gembira atau alas tempat-tidur sutera jang mentereng maupun mandi jang enak, tak satupun dari kesenangan itu. Jang pertama-tama kuinginkan adalah seorang perempuan. Akan tetapi walaupun bagaimana, rupanja kehendak ini terpaksa mengalah dulu. Karena soal-soal sekunder lebih mendesak ke muka. Ratusan orang datang menjerbu siang dan malam hendak melihat wadjahku. Di malam itu, kawanku Bung Thamrin menjatakan kepadaku, ,,Mata Bung Karno menjinarkan tjahaja baru.”

,,Tidak,” djawabku. ,,Mata saja menondjol karena saja semakin kurus. Kalau muka kurus, mata kelihatan tjekung.”

,,Tidak,” ia menegaskan., Mata Bung djadi sangat besar. Biar gemuk sekalipun dia tetap bersinar menjalanjala. Saja melihat ada tjahaja baru di dalamnja.”

,,Entahlah,” djawabku, ,,Saja hanja merasa bahwa saja betul-betul dikuasai oleh suatu semangat.”

Pidatoku jang paling terkenal jang pernah kuutjapkan selama hidupku adalah pidato jang kusampaikan di malam berikutnja. Aku berangkat ke Surabaja dengan kereta ekspres untuk menjampaikan kepada Kongres Indonesia Raya supaja mereka tetap membulatkan tekad, oleh karena Bung Karno sekarang sudah kembali lagi dan sudah siap untuk berdjoang di sisi mereka dan untuk mereka. Dengan mata jang berlinang-linang, aku mengachiri pidato itu dengan menjatakan ,,Ketjintaanku terhadap tanah-air kita jang tertjinta ini belumlah padam. Pun tidak ada maksudku untuk sekedar membikin roman dan bersjair,. Tidak. Tekad saja hendak berdjoang. Insja Allah, di satu saat kita akan bersatu kembali.”

Menghukum Sukarno berarti menghukum seluruh pergerakan. Belanda mengetahui hal ini. Ketika aku masuk pendjara Sukamiskin, P.N.I. dengan resmi dinjatakan sebagai partai terlarang. Kemudian, wakil-wakilku mendirikan Partai Indonesia, jang disingkat Partindo, akan tetapi pergerakan itu tetap tidak berdaja. Kegiatannja terbatas, djarang mengadakan pertemuan-pertemuan dan kalaupun diadakan, sedikit sekali dikundjungi orang, karena tidak adanja tokoh jang mendjadi lambang kekuatan. Karena tidak adanja kepemimpinan jang kuat dan bersifat menentukan, maka dua orang tokoh berpendidikan Negeri Belanda jaitu Sutan Sjahrir dan Hatta, tidak menjetudjui tjara-tjara bergerak dari kawan-kawan seperdjoangannja. Maka timbullah pertentangan antara pengikut Hatta dengan pengikut Sukarno. Akibatnja adalah perpetjahan jang tak dapat dihindarkan. Aku memerintahkan Maskun dan Gatot, jang dibebaskan beberapa bulan sebelumku, untuk membenteng djurang jang timbul itu. Mereka tak sanggup. Maskun lalu mengirimkan pesan ke dalam pendjara, ,,Saja terlalu muda. Saja tidak dapat melakukannja.” Gatot kemudian memberi kabar lagi, ,,Kami berdua terlalu ketjil untuk dapat melakukan pekerdjaan ini. Lebih baik kami tunggu empat bulan lagi sampai Bung Karno keluar.”

Segera setelah aku keluar dari pendjara, ketika anggota-anggotaku jang lama meminta supaja aku memasuki Partindo, aku menolak. ,,Tidak,” kataku dengan tegas. ,,Pertama saja harus berbitjara dengan Hatta dulu. Saja ingin mendengar isi-hatinja.” Mereka menjatakan kepadaku, ,,Rakjat akan mengikuti ke mana Bung Karno pergi. Apakah mungkin Bung mengikuti Pendidikan Nasional Indonesia, partai dari Bung Hatta?”

,,Tidak ada pikiranku untuk mengikuti salah satu pihak, saja lebih tjondong untuk menempa kedua-duanja kembali mendjadi satu. Dua partai adalah bertentangan dengan kejakinanku untuk persatuan. Perpetjahan ini hanja menguntungkan pihak lawan.”

Aku bertemu dengan pihak jang bertentangan di rumah Gatot tidak lama setelah aku bebas. ,,Baiklah saudara-saudara, sekarang apa sesungguhnja jang mendjadi perbedaan pokok kita,” kataku ketika kami bertemu pertama-kali.

Dengan tjara Bung Karno, partai tidak akan bisa stabil,” Hatta mengemukakan, seorang jang berlainan sama-sekali denganku dalam sifat dan pembawaan. Bung Hatta adalah seorang ahli ekonomi dalam segi dagang dan pembawaannja. Saksama, tidak dipengaruhi oleh perasaan, pedantik. Seorang lulusan Fakultas Ekonomi di Rotterdam, tjara berpikirnja masih sadja menurut buku-buku, mentjoba menerapkan rumus-rumus ilmiah jang tidak dapat dirobah ke dalam suatu revolusi. Seperti biasa ia langsung memasuki pokok persoalan tanpa omong-iseng setjara berolok-olok sebelumnja. ,,Pada waktu Bung Karno dengan ketiga orang kawan kita lainnja masuk pendjara, seluruh pergerakan bertjerai-berai. Saja mempunjai ide untuk mengadakan suatu inti dari organisasi jang akan melatih kader jang digembleng dengan tjita-tjita kita.”

,,Apa gunanja kader ini? Bukankah lebih baik kita mendatangi langsung rakjat-djelata dan membakar hati mereka, seperti selama ini telah saja kerdjakan?”

,,Tidak,” katanja. ,,Konsepsi saja kita mendjalankan perdjoangan melalui pendidikan praktis untuk rakjat, ini lebih baik daripada kita bekerdja atas dasar daja penarik pribadi dari satu orang pemimpin Dengan djalan demikian, kalau para pemimpin atasan tidak ada, partai akan tetap berdjalan dengan pimpinan bawahan jang sudah sadar betul-betul untuk apa kita berdjoang. Dan menurut gilirannja, mereka akan menjampaikan tjita-tjita ini kepada generasi jang akan datang, sehingga untuk seterusnja banjak tenaga jang akan melandjutkan tjita-tjita kita. Kenjataannja sekarang, kalau tidak ada pribadi Sukarno maka tidak ada partai. Ia terpetjah sama-sekali oleh karena tidak adanja kepertjajaan rakjat kepada partai itu sendiri Iang ada hanja kepertjajaan terhadap Sukarno.” ,,Mendidik rakjat supaja tjerdas akan memerlukan waktu bertahun-tahun, Bung Hatta. Djalan jang Bung tempuh baru akan tertjapai kalau hari sudah kiamat,” kataku.

,,Kemerdekaan tidak akan tertjapai selagi saja masih hidup” katanja mempertahankan. ,,Tapi setidaktidaknja tjara ini pasti. Pergerakan kita akan terus berdjalan selama bertahun-tahun.”

,,Siapakah jang akan djadi pimpinan Bung? Bukukah? Kepada siapakah djutaan rakjat akan berpegang? Kepada kata-katakah? Tidak seorangpun dapat digerakkan oleh kata-kata. Kita tidak mungkin memperoleh kekuatan dengan kata-kata dalam buku peladjaran. Belanda tidak takut pada kata-kata itu. Mereka hanja takut kepada kekuatan njata, jang terdiri dari rakjat jang menggerumutinja seperti semut. Mereka tahu, bahwa dengan djalan mentjerdaskan rakjat kekuasaan mereka tidak akan terantjam. Memang dengan mentjerdaskan rakjat kita terhindar dari pendjara, akan tetapi kita djuga akan terhindar dari kemerdekaan.”

,,Rakjat akan mentertawakan Bung Karno kalau masuk pendjara sekali lagi,” djawab Hatta. ,,Rakjat akan mengatakan: Itu salahnja sendiri. Kenapa Sukarno selalu mempropagandakan Indonesia Merdeka, sedang dia tahu bahwa Belanda akan menjetopnja. Dia itu gila. Djadi perdjoangan untuk kemerdekaan masih akan memakan wakru bertahun-tahun lagi. Rakjat harus dididik dulu ke arah itu.”

Hatta tidak berkisar setapakpun dan dengan hati jang tawar aku meninggalkan pertemuan jang berlangsung selama beberapa djam itu Perbedaan kami seperti siang dan malam, dan Hatta sama-sekali tidak berobah pendiriannja. Masih aku mentjoba untuk menghilangkan keretakan ini. Selama beberapa bulan aku mentjoba. Pada pertemuan kami selandjutnja Hatta mengatakan, ,,Saja hendak memberikan djandji kepada para pengikut kita. Kalau Belanda menghalang-halangi generasi kita ini untuk bergerak—dan tiap gerakan selandjutnja daripada para pemimpin nasionalis tentu akan mendapat balasan jang demikian—maka tak usahlah generasi kita ini bergerak lagi. Sebagai gantinja kita mengadjar para intellektuil jang muda-muda jang pada satu saat akan menggantikan kita untuk meneruskan adjaran-adjaran kita dan jang nanti di belakang hari akan membawa kita kepada kemerdekaan. lni adalah djandji kepada tanah-air kita. Ia merupakan soal prinsip. Soal kehormatan.”

Aku tak pernah mengerti sama-sekali perkara tetek-bengek setjara intellektuil jang chajal ini. Hatta dan Sjahrir tak pernah membangun kekuatan. Apa jang mereka kerdjakan hanja bitjara. Tidak ada tindakan, hanja bersoal-djawab. Aku mentjoba usaha jang terachir. ,,lni adalah peperangan,” kataku. ,,Suatu perdjoangan untuk hidup. Ini bukanlah soal keteguhan pendirian dengan generasi jang akan datang ataupun suatu kehormatan bagi sisa dari pergerakan, sehingga tingkatan jang lebih bawah dapat memegang tegah prinsip-prinsip jang telah dikurangi setelah para pemimpin mereka masuk bui. Kehormatan tidaklah pada tempatnja dalam perdjoangan mati-matian ini. Ini adalah semata-mata persoalan kekuatan. Di saat Bung Hatta dan Sjahrir madju terus dengan usaha pendidikan pada waktu itu pula kepala saudara-saudara akan dipukul oleh musuh.

,,Politik adalah machtsvorming dan machtsaanwending—pembentukan kekuatan dan pemakaian kekuatan. Dengan tenaga jang terhimpun kita dapat mendesak musuh kepodjok dan kalau perlu menjerangnja. Mempersiapkan teori dan membuat keputusan kebidjaksanaan penting jang berasal dari buku-buku tidaklah praktis. Saja kuatir, Hatta, saudara berpidjak di atas landasan revolusioner jang chajal.”

Pada tahun-tahun duapuluhan, antara kami telah terdapat keretakan ketika aku mendjadi eksponen-utama dari non-kooperasi, sedang dia sebagai eksponen-utama dengan pendirian bahwa kerdja-sama dengan Pemerintah tidak mendjadi halangan untuk mentjapai tudjuan. Hatta dan aku tak pernah berada dalam getaran-gelombang jang sama. Tjara jang paling baik untuk melukiskan tentang pribadi Hatta ialah dengan mentjeritakan tentang kedjadian di suatu sore, ketika dalam perdjalanan ke suatu tempat dan satu-satunja penumpang lain dalam kendaraan itu adalah seorang gadis jang tjantik. Di suatu tempat jang sepi dan terasing ban petjah. Djedjaka Hatta adalah seorang jang pemerah muka apabila bertemu dengan seorang gadis. Ia tak pernah menari, tertawa atau menikmati kehidupan ini.

Ketika dua djam kemudian supirnja kembali dengan bantuan ia mendapati gadis itu berbaring enak di sudut jang djauh dalam kendaraan itu dan Hatta mendengkur di sudut jang lain. Ah, susah orangnja. Kami tak pernah sependapat mengenai suatu persoalan.

Pada tanggal 28 Djuli 1932, aku memasuki Partindo dan dengan suara bulat terpilih sebagai ketua. Pergerakan ini hidup kembali. Sebagai pemimpin partai aku mendapat 70 rupiah sebulan. Dan sebagai Pemimpin Besar Revolusi di masa jang akan datang, aku memperoleh kemadjuan dalam segala hal. Pun dalam menonton film. Sekarang aku duduk di muka lajar-putih. Maskun dan aku djuga mendapat penghasilan sedikit dalam memimpin bersama-sama koran partai, ,,Fikiran Rakjat”, jang diselenggarakan di rumahku. Kemudian ada lagi orang jang bajar-makan.

Sudah tentu orang-orang seperti Maskun tidak bajar. Bagaimana aku bisa minta uang-makan daripadanja? Dia kawanku. Aku bahkan memperkenalkannja kepada isterinja. Kuingat betul di hari perkawinannja akupun mengadakan pidato politik. Penganten baru ini tidak berbulan madu ketjuali mungkin di bawah pohon kaju di suatu tempat, karena segera setelah perkawinan mereka tinggal dengan Inggit dan aku. Bukanlah mendjadi kebiasaan anak gadis Indonesia untuk berteriak bila orang mengadakan pertjintaan dengan gadis itu. Dan karena kami tidak mempunjai kasur di hari-hari itu, djadi tidak ada jang akan berderak-derik. Karena itu, sungguhpun kamar kami hanja dipisahkan oleh dinding bilik, kami tidak terganggu satu sama lain.

Dengan Ir. Rooseno aku mendirikan biro arsitek lagi. Kami mengalami masa jang sulit dengan biro arsitek ini, karena orang lebih menjukai arsitek Tionghoa atau Belanda dan tidak akan menemui kesulitan dengan kedua bangsa ini. Sewa kantor kami 20 rupiah. Telpon 71/2 rupiah. Djadi setidak-tidaknja kami harus mendapatkan 271/2 rupiah setiap bulan. Akan tetapi seringkali kami tidak menerimanja. Penghasilan Rooseno jang terutama didapatnja dari mengadjar. Oleh karena kantongnja selalu lebih penuh daripada kami, kebanjakan pengeluaran kami terpaksa bergantung kepadanja.

Sekali sebulan aku muntjul untuk menanjakan bagian keuntunganku. Karena aku mentjukupi kebutuhanku dari kantongnja, aku akan bertanja, ,,Berapa kau berutang padaku?” Dan dia akan mendjawab, ,,Bagian Bung 15 rupiah.” Kataku, ,,Baik.” Aku tidak pernah memeriksanja. Apa jang dikatakannja aku pertjaja sadja.

Kami mengadakan pembagian kerdja jang adil dan tjukup beralasan. Rooseno mendjadi insinjur-kalkulatornja. Dia mengerdjakan soal-soal detail. Dia jang membuat perhitungan dan kalkulasi dan mengerdjakan perhitungan ilmu pasti jang sukar itu. Sebagai arsitek seniman aku mengatur bentuk-bentuk jang baik dari gedung-gedung. Sudah tentu tidak banjak perlu diatur, akan tetapi sekalipun demikian ada beberapa buah rumah jang kurentjanakan sendiri dan sekarang masih berdiri di Bandung. Rentjanaku bagus-bagus. Tidak begitu ekonomis akan tetapi indah.

Aku tidak begitu memikirkan benda-benda duniawi seperti uang. Hanja orang-orang jang tidak pernah menghirup apinja nasionalisme jang dapat melibatkan dirinja dalam soal-soal biasa seperti itu. Kemerdekaan adalah makanan hidupku. Ideologi. Idealisme. Makanan daripada djiwaku. Inilah semua jang kumakan. Aku sendiri hidup dalam kekurangan, akan tetapi apa salahnja? Mendajungkan partaiku dan rakjatku setjara bersama-sama ke pulau harapan, untuk itulah aku hidup.

Sesuai dengan tjita-tjita dari P.N.I., partaiku jang lama, tentang bagaimana seharusnja seorang pemimpin berpakaian, maka anggota-anggota mengumpulkan uang untuk mengadakan pakaian untukku. Ganti kain katun atau linnen, Sukarno tiba-tiba diberi kain shantung ganti kemedja-sport dengan leher terbuka, Sukarno mulai memakai dasi jang bagus. Pergerakan kami begitu pertjaja padaku, sehingga pakaian ini diusahakan mereka setjara sukarela. Aku teringat badju suteraku jang pertama. Pembelinja bernama Saddak. O. dia sungguh-sungguh memudjaku. Ini seperti jang dikatakan oleh Indjil, ,,Jang kaja djiwanja membantu jang miskin dalam satu persaudaraan jang besar.” Aku memberi mereka keberanian. Mereka memberiku pakaian—atau uang. Di pagi hari aku keluar dari pendjara sebagai seorang bebas, seorang laki-laki jang belum pernah kulihat sebelumnja, menggenggamkan kepadaku dengan begitu sadja uang empatratus rupiah, lain tidak karena aku tidak mempunjai uang. Pada waktu sekarang orang ini, jang bernama Dasaad , adalah seorang kapitalis-sosialis jang paling kaja di Indonesia dan kawanku jang rapat. Akan tetapi, pada waktu ia menjodorkan redjeki jang ketjil itu kepadaku, ia tak mengharapkan akan memperolehnja kembali. Seingatku ia tak pernah menerima uang itu kembali. Aku masih sadja memindjam-mindjam kepadanja.

Dalam masa ini aku menjadari untuk lebih berhati-hati dengan utjapan-utjapanku. Pengaruhku terhadap rakjat sudah tumbuh sedemikian, sehingga kalau aku berkata, ,,Makan batu”, mereka akan memakannja. Kukira ini timbul disebabkan karena apa jang kuutjapkan dengan keras sesungguhnja adalah apa jang mereka sendiri pikirkan dan rasakan dalam hati-sanubarinja. Aku merumuskan perasaan-perasaan jang tersembunji dari rakjatku mendjadi istilah-istilah politik dan sosial, jang tentu akan mereka utjapkan sendiri kalau mereka dapat. Aku menggugat jang tua-tua untuk mengingat kembali akan penderitaan-penderitaannja dan melenjapkan penderitaan-penderitaan itu. Aku menggugat para pemuda untuk memikirkan nasib mereka sendiri dan bekerdja keras untuk masa depan. Aku mendjadi mulut mereka.

Sebagai pemuda aku mula-mula mengisap kata-kata jang tertulis dari negarawan-negarawan besar di dunia, kemudian kuminum utjapan-utjapan dari para pemimpin besar dari bangsa kami, lalu menggodok semua ini dengan falsafah dasar jang digali dari hati rakjat Marhaen. Sukarno, Telinga Besar dari rakjat Indonesia, lalu mendjadi Bung Karno, penjambung lidah rakjat Indonesia. Aku berbitjara kapan sadja dan di mana sadja. Di dalam dan di luar. Di bawah teriknja sinar matahari dan di musim hudjan. Pada suatu kali air hudjan sudah sampai ke mata-kakiku dan oleh karena banjak tempat jang tidak bisa ditempuh, maka aku baru sampai djam tiga pada rapat jang seharusnja diadakan mulai djam sembilan pagi. Rakjat jang sudah bertjerai-berai berkerumun lagi, berdiri dengan berpajung daun pisang dan lain-lain jang dapat dipakai sebagai pelindung kepala. Pada suatu saat tjuatja demikian buruknja, sehingga sekalipun pakai djas-hudjan aku basah-kujup oleh air jang mentjutjur dari langit. Di waktu itulah aku mengadjak, ,,Nah, sekarang, untuk memanaskan badan kita bagaimana kalau kita menjanji bersama-sama?”

Di sela-sela petir jang menggemuruh terdengarlah satu suara mengikutiku. Kemudian jang lain. Lalu ratusan suara berpadu. Dan tidak lama antaranja menggemalah 20.000 suara mendjadi satu paduan jang gembira. Di lapangan terbuka jang sederhana ini di Djawa Tengah maka njanjian-njanjian rakjat mengikat kami mendjadi satu, ikatannja lebih erat daripada rantai besi. Ketika hudjan semakin reda, aku mengachiri wedjanganku. Tak seorangpun jang meninggalkan tempat itu.

Salah seorang pengikut kemudian setelah itu memberikan komentarnja, ,,Ini adalah suatu kedjadian jang tidak dapat dilakukan oleh orang semata-mata. Bakat jang demikian itu terletak antara Bung dan alam.” Kusampaikan kepadanja, ,,Sebabnja ialah karena ini bukanlah kemauan saja pribadi untuk memperdjoangkan kemerdekaan. Ia adalah kemauan Tuhan. Saja mendjalankan kata-kata Tuhan. Untuk pekerdjaan inilah saja dilahirkan.”

Pada waktu sekarang, orang-orang anti-Sukarno tertawa mengedjek bahwa segala sesuatu diatur terlebih dulu untuk Sukarno sebelum ia memperlihatkan diri. Aku hanja mengatakan, memang benar bahwa rakjat berdjedjal-djedjal di kiri-kanan djalan kalau Bapak akan berpidato. Djuga adalah benar, bahwa orang dapat memaksa seseorang untuk berdiri akan tetapi ia tidak akan dapat dipaksa untuk tersenjum dengan penuh kepertjajaan atau memandang dengan perasaan kagum atau melambai kepadaku dengan gembira. Aku meminta kepada manusia umumnja untuk menjelidiki muka-muka jang menengadah dari rakjatku kalau aku berpidato. Mereka melihat tersenjum kepadaku. Mendo’akan, menjintaiku. Ini semua tidak dapat dipaksakan oleh pemerintah.

Pemerintah tidak dapat memaksa mereka untuk berbuat demikian seperti pemerintah Hindia Belanda tidak dapat menjuruh mereka BERHENTI tersenjum kepadaku di masa tahun-tahun tiga-puluhan. Dengan tiba-tiba semangat nasional mendjalari seluruh tanah-air. Dengan tiba-tiba keinginan merdeka menular kembali. Aku berpidato di Solo di mana puteri-puteri dari kraton jang tjantikjantik pada keluar untuk mendengarkanku. Wanita-wanita jang dipingit, dimuliakan dan jang halus ini begitu tertarik sehingga salah seorang jang hamil memukul-mukul perutnja berkali-kali dan mendengungkan, ,,Saja ingin seorang anak seperti Sukarno.” Mendadak aku mendapat ilham. Aku menjerahkan kepada mereka beberapa petji dan meminta mereka berkeliling dalam lautan manusia itu mengumpulkan uang untuk pergerakan kami. Ah, Bung, sungguh menggemparkan.

Aku malahan mentjaplok terhadap Belanda. Seorang pemuda bernama Paris mendjadi muridku dan pindah sama-sekali kepihak kita. Pada kesempatan lain aku mengadakan rapat di Gresik Djawa Timur. Patih di tempat itu djuga hadir. Sebagai seorang pedjabat kolonial, adalah mendjadi kewadjibannja jang tak dapat disangkal lagi untuk memeriksaku dengan saksama dan melaporkan kegiatanku. Orang jang sangat baik hati ini berdiri mendengarkan pidatoku dengan sungguh-sungguh dan dengan seluruh hatinja. Tanpa berpikir dia lupa pada dirinja sendiri dan dengan bersemangat turut bersorak dan bertepuk mendengarkan pidatoku. Di antara orang banjak itu terdapat djuga Van der Plas, Direktur Urusan Bumiputera. Dan itulah kami. Kamilah orang Bumiputera. Pekerdjaan Van der Plas adalah untuk mengawasi orang-orang jang mengawasi kami—termasuk patih itu. Patih itu seketika djuga diperhentikan. Timbullah pertengkaran jang hebat di dalam Dewan Rakjat. Thamrin mentjoba untuk mempertahankannja. Dia mengemukakan alasan, ,,Apa salahnja dia turut bersorak? Bukankah dia orang Indonesia? Mengapa dia harus dilarang untuk bertepuk dan bersorak? Mengapa dia harus kehilangan djabatan tanpa diberi kesempatan untuk mempertahankan diri ?”

Thamrin mentjoba dengan gagah-berani, sekalipun demikian patih itu tetap kehilangan djabatannja. Ini adalah djabatan jang penting dan dia orang jang penting. Orang jang baik-hati ini mempunjai anak dan isteri jang harus ditanggungnja. Akupun susah memikirkannja. Polisi mulai memperkeras djaring-djaring mereka. Surat-suratkabar ketika itu penuh dengan berita pemberontakan di atas kapal Zeven Provincien, jaitu sebuah kapal-perang jang para opsirnja terdiri dari Belanda dan orang-bawahannja orang-orang Indonesia. Belanda, karena mengetahui tentang tjaraku mempergunakan suatu keadaan. Pada waktunja, mengeluarkan larangan untuk mengadakan pembitjaraan setjara terbuka mengenai peristiwa ini, takut kalau hal ini akan merangsang rakjat untuk bangkit dan memberontak. Persoalanku adalah, bagaimana tjaranja untuk menerangkan situasi itu dengan baik dalam pidato berikutnja.

Tangan polisi sudah gatal-gatal untuk melemparkanku keluar panggung. Mereka tegang dan gelisah. Kamipun tegang dan gelisah. Kami mengatur atjara sehingga aku mendjadi pembitjara pertama. Ini maksudnja untuk membikin bingung polisi, jang tentu tidak akan menjangka bahwa aku akan memberanikan diri untuk menggelorakan lima menit pertama dari rapat tersebut. Dengan djalan ini, sekalipun mereka akan menghentikan rapat kami, aku telah menjampaikan pesan-pesanku dan rakjat tentu sudah akan puas melihatku. Djadi, berdirilah aku dan langsung berbitjara tentang peristiwa kapal Zeven Provincien itu. Polisi langsung bertindak terhadapku. Dan pertemuan itu segera ditutup. Aku kembali lagi ke tempat di mana aku berada. Nomor satu dalam daftar-hitam mereka, seperti aku takkan lepas-lepas dari daftar itu. Para pembesar mengeluarkan perintah tentang barang siapa jang membatja ,,Fikiran Rakjat” atau memakai petji akan dikenakan tahanan. Kemudian aku menulis brosur jang bernama ,,Mentjapai Indonesia Merdeka”. Brosur tersebut dianggap sangat menghasut, sehingga ia dirampas dan dinjatakan terlarang segera setelah ia mulai beredar. Banjak jang disita. Rumah-rumah digeledahi. Kumpulan jang terdiri dari lebih dari tiga orang dikepung. Perangkap diperkeras. Tanggal satu Agustus kami mengadakan pertemuan pimpinan di rumah Thamrin di Djakarta. Pertemuan ini selesai sudah lewat tengah malam. Ketika aku turun rumah menudju djalan raja, di sana sudah berdiri seorang Komisaris Polisi, menungguku dengan tenang di depan rumah. Kedjadian ini adalah pengulangan kembali dari penangkapan jang terdahulu. Dia rnengutjapkan kata-kata jang sama, ,,Tuan Sukarno, atas nama Sri Ratu saja menangkap tuan.”

Bab 14

Masuk Kurungan

 

Tepat delapan bulan sampai kepada hari-harinja aku sudah berada lagi dalam tahanan. Penahanan kembali ini tidak disebabkan oleh satu kedjadian jang chusus. Kesalahanku tjuma oleh karena aku tidak menutup mulutku jang besar sebagaimana mereka harapkan setelah aku keluar dari pendjara. Komisaris itu membelebab kepadaku. ,,Tuan Sukarno, tuan tidak bisa berobah. Tidak ada harapan tingkah-laku tuan bisa baik lagi. Menurut tjatatan kami, tuan hanja beberapa djam sadja sebagai orang bebas ketika tuan naik kereta-api menudju Surabaja, lalu tuan kembali bikin katjau lagi dan sedjak waktu itu tidak berhenti-henti bikin ribut. Djadi djelas sekarang bagi Pemerintah Sri Ratu bahwa tuan senantiasa mendjadi pengatjau.”

,,Kemana tuan bawa saja?” tanjaku. ,,Masuk tahanan.” ,,Di Bandung lagi?”

,,Sekarang tidak. Sekarang ini tuan kami tahan di Hopbiro Polisi di sini.”

Di kantor Polisi mereka tidak mengurungku. Kepadaku hanja ditundjukkan sebuah bangku pandjang dan membiarkanku di sana. Aku bertanja hepada perwira pengawas,

,Tuan, apakah bisa saja memanggil isteri saja?” Dia tidak mendjawab.

,,Dapatkah saja menjampaikan `pesan kepada pembela saja?” Ia masih tidak mendjawab.

,,Bolehkah saja bertemu dengan salah seorang anggota Volksraad atau salah seorang pemimpin dari partai saja?” Tidak ada djawaban. Dia hanja menarik korsi ke medjanja dan menulis, terus menulis suatu dokumen jang berisi tidak kurang dari seribu halaman dakwaan kepadaku. Karena aku seorang djahat jang begitu berbahaja, mereka tidak membiarkanku seorang diri. Polisi jang bersendjata lengkap mengawalku di bangku itu.

Aku nongkrong di sana berdjam-djam lamanja. Dan aku mulai memikir. Selama saat-saat jang tegang dalam kehidupan orang, seringkali pikiran manusia memusatkan diri kepada soal-soal jang paling tidak berarti atau matjam soal-soal jang kelihatannja tidak ada sangkut-pautnja. Ia seakan-akan mendjadi pintu pengaman daripada tabi’at manusia untuk mengeluarkan tekanan ketakutan jang bertjokol dalam airinja. Di sini aku mendjadi seorang jang kalah dua kali. Apakah jang akan terdjadi terhadap diriku? Apakah aku hanja akan didjebloskan ke dalam pendjara? Apakah mereka melemparkanku ke tempat pengasingan? Atau menggantungku? Apakah sesungguhnja? Apa? Dalam usia 32 tahun maka seluruh kehidupanku ini sudah menjelesaikan lingkarannja.

Satu-satunja jang dapat kulihat dalam pikiranku hanjalah permainan bulutangkis dan bolanja jang terbang kian kemari menurut kemauan dari para pemainnja. Nehru jang telah sebelas kali keluar-masuk pendjara pada suatu waktu menjamakan dirinja dengan bola bulutangkis. Sambil duduk di sana aku berkata pada diriku sendiri. ,,Tidak Karno, engkau lebih menjerupai sebuah ranting dalam unggun kajubakar jang sedang menjala.” ,,Kenapa begitu?” Aku bertanja pada diriku sendiri. ,,Karena,” datang djawabnja, ,,ranting itu turut mengambil bagian dalam menjalakan api jang berkobar-kobar, akan tetapi di balik itu iapun dimakan oleh apa jang hebat itu. Keadaan ini sama dengan keadaanmu. Engkau turut mengambil bagian dalam mengobarkan apinja revolusi, akan tetapi……….”

Pertjakapan dengan diriku sendiri terputus dengan tiba-tiba. Djelas bahwa aku sesungguhnja dapat disamakan dengan sepotong kaju-bakar, karena tiba-tiba—achirnja—nampaknja akupun dimakan oleh djilatan api jang menggelora itu dalam mana aku turut mengambil bagian sebagai kaju pembakarnja. Aku menghilangkan pikiran ini dari ingatanku dan mentjoba memikirkan soal jang lain. Tidak lama kemudian aku dikuasai oleh kelelahan, lalu tertidur di atas bangku kaju jang keras itu. Ketika tjahaja di luar masih keabu-abuan, mereka memasukkanku ke dalam kereta-api. Tempat selandjutnja adalah Sukamiskin. Tetapi mereka tidak perasa. Aku tidak dimasukkan ke dalam selku jang lama.

Mereka mengurungku dalam sebuah sel chusus, dibuat di tengah-tengah ruangan besar jang telah dikosongkan. Disitulah aku terkurung di sebuah sel sempit dalam ruangan jang besar. Dan seorang diri. Delapan bulan lamanja aku hidup seperti seorang pertapa jang bisu. Kemudian mulai lagi pemeriksaan. Tjara bekerdjanja adalah demikian, mula-mula orang ditahan, dihudjani dengan ribuan pertanjaan. lalu dikirim djauh-djauh—untuk tidak kembali lagi. Sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam undang-undang luar-biasa, maka tidak perlu lagi diadakan pemeriksaan menurut hukum atau pengesahan hukuman. Dengan hanja membuat keputusan sendiri untuk pembuangan, maka Gubernur Djendral memerintahkan ribuan manusia untuk dibuang djauh-djauh untuk hilang begitu sadja tak tentu rimbanja. Nampaknja Sukarno akan mengalami nasib jang demikian itu. Dengan tidak diadili terlebih dulu hukuman sudah didjatuhkan kepadaku. Aku akan dibuang ke salahsatu pulau jang paling djauh. Berapa lamakah?

Hingga semangatku dan djasadku mendjadi busuk. Aku akan menghadapi pembuangan ini. Setelah pendjara, maka langkah selandjutnja akan menjusul setjara otomatis. Sikapnja seakan-akan mereka sudah tjukup baik hati terhadapku dengan membebaskanku boberapa bulan jang lalu. Dan aku membalas kebaikan mereka dengan berbuat hal-hal jang tidak baik seperti dahulu. Nampaknja mirip seperti aku tak tahu berterimakasih. Djam lima-tigapuluh disuatu pagi aku dimasukkan tjepat-tjepat kedalam kereta akspres dan dikurung dalam kamar jang ketjil dari salah-satu gerbong jang sengadja dikosongkan. Dua orang berpakaian seragam mengawalku. Seorang di dalam. Seorang lagi di luar pintu. Sungguhpun aku tidak melihat tanda-tanda kehadiran orang lain, kepadaku disampaikan bahwa keluargakupun ada dalam kereta-api itu. Keluargaku jang baru bertambah terdiri djuga dari Ibu Amsi, mertuaku, dan Ratna Djuami, jaitu kemenakan Inggit jang masih ketjiil dan mendjadi anak angkat kami. Menurut kebiasaan kami pengambilan anak angkat tidak memerlukan pengesahan. Ia berarti bahwa seseorang tinggal denganmu dan engkau mentjintainja.

Sesampai di Surabaja keluargaku dipisahkan ke hotel sedangkan aku disimpan lagi di antara empat dinding tembok selama dua hari dua malam berada di sana. Disinilah bapak dan ibu bertemu dengan si anak tersajang, untuk mana mereka telah membina harapan-harapan jang begitu besar. Inilah pertamakali mereka melihatku di belakang djeradjak-besi dan aku kelihatan tidak banjak menjerupai Karno, pradjurit-pahlawan besar dari Mahabharata itu. Pengalaman ini sangat menjajat hati mereka, hingga mereka hampir tak sanggup memandangi keadaanku. Kedjadian ini sudah lebih dari tigapuluh tahun jang lalu, akan tetapi rasa pedih jang meremukkan dari pertemuan kami itu masih tetap melekat dalam djiwaku sampai sekarang.

,,O, Karno…….. anakku Karno,” bapakku tersedu-sedu, mentjurahkan seluruh kepiluan hatinja, ,,Apa jang dapat kulakukan mengenai dirimu? Apa jang dapat kami kerdjakan untukmu? Pertama, engkau meringkuk beberapa tahun dalam tahanan, jang menjebabkan kesedihan hati kami jang amat sangat. Dan sekarang lagi engkau dibuang djauh-djauh keluar Djawa.

“Pipikupun basah dengan airmata, akan tetapi aku berusaha untuk tersenjum sedikit. ,,Akan kuberikan segala sesuatu, Pak, sekiranja saja mendapat kedudukan jang baik, jang akan memberikan kegembiraan kepada orangtuaku sebagaimana sepantasnja dengan pendidikan jang diberikan kepada saja. Akan tetapi, rupanja Tuhan tidak menghendakinja.”

Sementara airmata mengalir di wadjahnja jang manis ibuku jang lembut hati itu membisikkan, ,,Sudah suratan takdir bahwa Sukarno menjusun pergerakan jang menjebabkan dia dipendjarakan, lalu dibuang dan kemudian dia akan membebaskan kita semua. Sukarno tidak lagi kepunjaan orangtuanja. Karno sudah mendjadi kepunjaan rakjat Indonesia. Kami mau tidak mau menjesuaikan diri dengan kenjataan ini.”

Kami hanja diizinkan bertemu selama tiga menit. Aku tjukup lama dibawa keluar sel untuk mendjabat tangan bapak dan mentjium ibu. Kami merasa takut kalau pertemuan ini akan memisahkan kami untuk selama-lamanja, kami takut kalau perpisahan jang tergesa-gesa ini adalah detik jang terachir kami dapat saling memandangi wadjah satu sama lain.

Hari berikutnja, dengan roda-roda jang mentjiut melalui tikungan, aku dilarikan ke pelabuhan dimana orang telah berdjedjal-djedjal di pinggiran djalan untuk melambaikan utjapan selamat djalan dengan bendera-bendera Merah-Putih dari kertas jang mereka buat sendiri. Dengan didampingi dikiri-kanan oleh dua orang reserse, aku dibawa naik ke atas kapal barang dan ditahan di kamar kelas dua di sebelah kandang ternak. Delapan hari kemudian kami sampai ketempat tudjuan: Pulau Bunga, pulau jang terpentjil.

 

 

Bab 15

Pembuangan

 

ENDEH, sebuah kampung nelajan telah dipilih sebagai pendjara terbuka untukku jang ditentukan oleh Gubernur Djendral sebagai tempat di mana aku akan menghabiskan sisa umurku. Kampung ini mempunjai penduduk sebanjak 5.000 kepala. Keadaannja masih terbelakang. Mereka djadi nelajan. Petani kelapa. Petani biasa.

Hingga sekarangpun kota itu masih ketinggalan, ia baru dapat ditjapai dengan djip selama delapan djam perdjalanan dari kota jang terdekat. Djalan rajanja adalah sebuah djalanan jang tidak diaspal jang ditebas melalui hutan. Di musim hudjan lumpurnja mendjadi bungkah-bungkah. Dan apabila matahari jang menghanguskan memantjar dengan terik, maka bungkah-bungkah itu mendjadi keras dan terdjadilah lobang dan aluran baru. Endeh dapat didjalani dari udjung ke udjung dalam beberapa djam sadja. Ia tidak mempunjai telpon, tidak punja telegrap. Satu-satunja hubungan jang ada dengan dunia luar dilakukan dengan dua buah kapal pos jang keluar-masuk sekali sebulan. Djadi, dua kali dalam sebulan kami menerima surat-surat dan surat-kabar dari luar.

Di dalam kota Endeh terdapat sebuah kampung jang lebih ketjil lagi, terdiri dari pondok-pondok beratap ilalang, bernama Ambugaga. Djalanan Ambugaga itu sangat sederhana, sehingga daerah rambahan di mana terletak rumahku tidak bernama. Tidak ada listrik, tidak ada air-leding. Kalau hendak mandi aku membawa sabun ke Wola Wona, sebuah sungai dengan airnja jang dingin dan di tengah-tengahnja berbingkah – bingkah batu. Di sekeliling dan sebelah-menjebelah rumah ini hanja terdapat kebun pisang, kelapa dan djagung.

Di seluruh pulau itu tidak ada bioskop, tidak ada perpustakaan ataupun matjam hiburan lain. Dalam segala hal maka Endeh, di Pulau Bunga jang terpentjil itu, bagiku mendjadi udjung dunia.

,,Kenapa, ja? Kenapa disini?” Inggit bertanja.

,,Pulau Muting, Banda atau tempat jang djelek seperti itu, ke tempat-tempat mana rakjat kita diasingkan, tidak akan lebih baik daripada ini,” keluhku dengan berat ketika kami memeriksa rumah jang gelap dan kosong di malam hari kami sampai di sana. ,,Di waktu Belanda mendapat akal untuk mengadakan pembuangan, mula-mula orang kita dibuang keluar Indonesia. Tapi, kemudian mereka menjadari, biar kemanapun kita dieksternir, kita dapat menjusun kekuatan untuk melawan mereka. Belanda achirnja memutuskan untuk mengasingkan para pemberontak di dalam negeri sadja, di mana mereka langsung dapat mengawasi kita.

,,Kenapa dipilih Flores?” Inggit mengulangi ketika membuka kerandjang buku, satu-satunja kekajaan pribadiku jang kami bawa. ,,Kebanjakan para pemimpin diasingkan ke Digul.”

,,Itu makanja,” kuterangkan sambil mengeluarkan buku-buku sekolah jang kubawa, sehingga setiap pagi dan malam aku dapat mengadjar Ratna Djuami di rumah. ,,Di Digul ada 2.600 orang jang dibuang. Tentu aku akan memperoleh kehidupan jang enak di sana. Dapatkah kau bajangkan, apa jang akan diperbuat Sukarno dengan 2.600 pradjurit jang sudah disiapkan itu? Aku akan merobah muka Negeri Belanda dari New Guinea jang terpentjil itu.”

Inggit tidak pernah mengeluh. Sudah mendjadi nasibnja dalam kehidupan ini untuk memberiku ketenangan pikiran dan memberikan bantuan dengan kasih mesra, bukan menambah persoalan. Akan tetapi aku djuga dapat merasakan, bahwa dia susah. Bukan mengenai dirinja sendiri. Dia susah mengenai diriku. Memang terasa lebih berat untuk memandang seseorang jang ditjintai kena siksa daripada mengalami sendiri siksaan itu. Sungguh pedih bagi seorang isteri untuk menjaksikan suaminja direnggutkan dari kekuatan hidupnja, dari tjita-tjitanja, dari kegembiraan hidupnja, bahkan direnggutkan sedikit dari kelaki-lakiannja. Aku mendjadi seekor burung elang jang telah dipotong sajapnja. Setiap kali Inggit memandangiku, setiap kali itu pula setetes darah menitik dari uratnja.

Aku tidak pernah mengeluh tentang kesedihanku kepada Inggit. Kalau ada, kami djarang membitjarakan soal jang rumit dari hati ke hati. Sekalipun hatiku sendiri gelap dengan keputus-asaan, namun aku mentjoba menggembirakan hatinja. Aku selalu memperlihatkan wadjah jang baik, sehingga wadjah itu tidak menundjukkan apa jang sesungguhnja tergurat dalam hatiku.

Ach, saat jang sangat tidak menjenangkan bagiku. Kedua reserse jang mengantarku menjerahkanku dari kapal seperti menjerahkan muatan ternak jang lain. Pada waktu kapal mereka mengangkat sauh, kedua orang dengan siapa aku hanja boleh berbitjara, di luar keluargaku, sudah pergi. Setiap orang menjingkir daripadaku. Endeh kembali mendjadi pendjaraku, hanja lebih besar dari jang sudah-sudah. Di sini bukan sadja aku tidak bisa mendapat kawan, akan tetapi aku malahan kehilangan satu orang jang turut dengan kami. Mertuaku, Ibu Amsi jang baik dan tersajang itu meninggal di atas pangkuanku. Akulah jang membawanja kekuburan. Ia menderita sakit arterio-sclerosis. Pada suatu malam ia pergi tidur. Esok paginja ia tidak bangun-bangun. Keesokan harinja tidak bangun. Di hari berikutnjapun tidak. Aku menggontjang-gontjang badannja dengan keras, akan tetapi di pagi tanggal 12 Oktober 1935, setelah lima hari dalam keadaan tidur, ia pergi dengan tenang dalam keadaan belum sadar. Aku sangat lekat kepada orang tua ini. Di bulan-bulan pertama jang sangat menjiksa, di tempat pembuangan itu di kala batin kami dirobek-robek tak kenal ampun setiap djam setiap detik, di waktu itu tidak satupun perkataan jang tidak enak keluar antara mertuaku dan aku sendiri. Bagaimana kami dapat tinggal bersama dengan rukun adalah karena kami orang baik-baik. Aku djuga sedikit, barangkali. Ibu Amsi lebih sederhana lagi daripada anaknja. Ia tidak bisa tulis-batja. Tapi ia seorang wanita besar. Aku mentjintainja setulus hati.

Dengan tanganku sendiri kubuat kuburannja. Aku sendiri membangun dinding kuburan itu dengan batu tembok. Aku seorang diri mentjari batu-kali, memotong dan mengasahnja untuk batu-nisan. Di pekuburan kampung jang sederhana melalui djalanan sempit djauh di tengah hutan berkumpullah beberapa gelintir manusia untuk memberikan penghormatannja jang terachir. Ini adalah kemalanganku jang pertama. Dan, terasa berat.

Satu-satunja manusia jang tinggal, dengan siapa aku dapat berbitjara, adalah Inggit. Di suatu malam ketika kami duduk berdua di beranda ketjil, hanja berdua — seperti biasanja — Inggit mengalihkan pandangannja sebentar dari djahitannja untuk mengungkapkan, ,,Tidak mungkin orang-orang di sini tidak mengenalmu. Mereka tentu sudah membatja tentang dirimu atau melihat gambarmu di surat-kabar. Sudah pasti banjak orang sini jang sudah mengenalmu. Sudah pasti banjak.”

,,Mereka tahu siapa aku, baiklah. Kalau sekiranja mereka tidak pernah mendengar tentang diriku, tentu Belanda tidak mendjalankan tindakan pengamanan untuk merahasiakan kedatangan kita. Rakjat tidak tahu samasekali kedatangan Sukarno. Bahkan pegawai pemerintahanpun tidak tahu kapan kita sampai di sini.”

Aku mengerti kemana tudjuan Inggit. Ia ingin memperoleh djawaban, mengapa setiap orang menjingkir, seperti aku ini hama penjakit. ,,Orang-orang jang terkemuka di sini, tidak mengatjuhkanku, bukan karena tidak kenal. Akan tetapi djustru karena mereka mengenalku,” kataku. ,,Orang-orang terpandang di sini terdiri dari orang Belanda, amtenar-amtenar bangsa kita dan orang-orang jang memerintah seperti Radja. Mereka samasekali tidak mau tahu denganku. Bahkan mereka tidak mau terlihat bersama-sama denganku. Aku tentu akan menjebabkan mereka kehilangan kedudukannja.”

,,Lagi pula, negeri ini terlalu ketjil,” bisiknja.

,,Jah,” aku mengangguk dengan lesu, ,,negeri ini terlalu ketjil!”

Kami keduanja membisu, akan tetapi bau dari pokok persoalan itu masih sadja mengapung dengan berat dalam ruangan itu, seperti bau wangi-wangian jang murah. Akulah pertama memetjah kesunjian jang pekat itu.

,,Orang tinggi-tinggi ini adalah alat. Boneka Belanda. Mereka tidak mau mendekat, ketjuali untuk memata-mataiku. Bahkan kaum keluarganja dilarang untuk berkenalan denganku. Dan mereka tidak mau melanggarnja, karena takut masuk daftar hitam Belanda. Setiap orang merasa takut.”

Inggit menambahkan, ,,Kudengar adik Radja tertarik pada pergerakan kebangsaan, sampai Belanda mengusirnja dari sekolah di Surabaja. Kemudian dia dipulangkan kemari, sehingga tidak dapat lagi mempeladjari politik.”

,,Itulah jang kumaksud,” kataku. ,,Mana mungkin ia djadi kawanku. Dia berada di sini karena alasan jang sama denganku — sebagai hukuman.”

,,Tapi rakjat biasapun menjingkir dari kita,” Inggit menegaskan dengan suara ketjil.

,,Aku tahu.”

,,Djadi bukan karena kita tidak mau kenal.”

,,Tidak. Bukan karena kita tidak mau kenal.”

Inggit sedang mendjahit badju kebaja untuk dia sendiri. Sambil meletakkan djahitannja ia memandang kepadaku.

,,Tjoba,” aku merenung dengan keras, ,,di Sukamiskin badanku dikurung. Di Flores semangatku berada dalam kurungan. Di sini aku diasingkan dari masjarakat, diasingkan dari orang-orang jang dapat mempersoalkan tugas hidupku. Orang di sini jang mengerti, takut untuk berbitjara. Mereka jang mau berbitjara, tidak mengerti. Inilah maksud jang terutama dari pembuangan ini. Baiklah! Kalau begitu keadaannja, aku akan bekerdja tanpa bantuan orang-orang terpeladjar jang tolol ini. Aku akan mendekati rakjat djelata jang paling rendah. Rakjat-rakjat jang terlalu sederhana untuk bisa memikirkan soal politik. Rakjat-rakjat jang tak dapat menulis dan jang merasa dirinja tidak kehilangan apa-apa. Dengan begini, setidak-tidaknja ada orang dengan siapa aku berbitjara.”

Aku membentuk masjarakatku sendiri dengan pemetik kelapa, supir, budjang jang tidak bekerdja — inilah kawan-kawanku. Pertama aku berkenalan dengan saudara Kota, seorang nelajan. Kukatakan padanja bahwa tidak ada larangan berkundjung ke rumahku. Dia datang ke rumahku. Kemudian dia membawa Darham tukang-djahit. Setelah itu aku datang ke tempat mereka. Dan begitulah mulanja.

Aku mendekat kepada rakjat djelata, karena aku melihat diriku sendiri di dalam orang-orang jang melarat ini. Seperti di pagi jang berhudjan dalam bulan Mei aku nongkrong seorang diri di sudut beranda jang ketjil itu. Ah, aku rnerasa kasihan terhadap diriku! Aku merindukan pulau Djawa, aku merindukan kawan-kawan untuk mentjintaiku. Merindukan hidup dan segala sesuatu jang dirampas dariku. Selagi duduk di sana aku melihat seorang lelaki lewat. Seorang diri. Dan basah-kujup. Tiba-tiba ia menggigil. Kukira belas-kasihku meliputi seluruh bangsa manusia, karena melihat orang itu menggigil akupun menggigil. Sungguhpun badanku kering, aku serta-merta merasa basah-kujup. Tentu, perasaan ini dapat diterangkan dengan pertimbangan akal, akan tetapi ia lebih daripada itu. Aku sangat perasa terhadap orang jang miskin — baik dia miskin harta maupun miskin dalam djiwanja.

Di samping kekosongan kerdja, kesepian dan ketiadaan kawan aku djuga menderita suasana tertekan jang hebat sekali. Flores adalah puntjak penganiajaan pada hari-hari pertama itu. Aku memerlukan suatu pendorong sebelum aku membunuh semangatku sendiri. Itulah sebabnja aku mulai menulis tjerita sandiwara. Dari 1934 sampai 1938 dapat kuselesaikan 12 buah. Karjaku jang pertama didjiwai oleh Frankenstein, bernama ,,Dr. Setan”. Peran utama adalah seorang tokoh Boris Karloff Indonesia jang menghidupkan majat dengan memindahkan hati dari orang jang hidup. Seperti semua karjaku jang lain, tjerita ini membawakan suatu moral. Pesan jang tersembunji di dalamnja adalah, bahwa tubuh Indonesia jang sudah tidak bernjawa dapat bangkit dan hidup lagi.

Aku menjusun suatu perkumpulan Sandiwara Kelimutu, dinamai menurut danau jang mempunjai air tiga warna di Pulau Bunga. Aku mendjadi direkturnja. Setiap tjerita dilatih malam hari selama dua minggu di bawah pohon kaju, diterangi oleh sinar bulan. Kami hanja mempunjai satu naskah, karena itu aku membatjakan setiap peran dan para pemainku jang bermain setjara sukarela mengingatnja dengan mengulang-ulang. Kalau orang dalam keadaan ketjewa, betapapun besarnja rintangan akan dapat disingkirkannja. Inilah satu-satunja napas kehidupanku. Aku harus mendjaganja supaja ia hidup terus. Kalau salah seorang tidak dapat memainkan perannja dengan baik, aku melatihnja sampai djauh malam. Aku malahan berbaring berkali-kali di lantai untuk memberi tjontoh kepada Ali Pambe, seorang montir mobil, bagaimana memerankan dengan baik seseorang jang mati. Untuk melatih anggota-anggota sehingga mentjapai hasil baik sungguh banjak kesukaran jang harus

ditempuh. Pada suatu kali, Ali Pambe memerankan djuru-bahasa dari bahasa Endeh ke bahasa Indonesia. Tetapi Ali butahuruf. Lidah Indonesianja masih kaku. Karena itu aku harus mengadjarnja dulu berbahasa Indonesia sebelum aku dapat mengadjarkan perannja.

Perkumpulan semua terdiri dari laki-laki oleh karena kaum wanita takut dituduh terlalu berani. Tjukup aneh, di Pulau Bunga jang terbelakang dan masih kuno itu ada suatu daerah— bernama Keo — di mana sampai sekarang anak-anak gadis diizinkan mengadakan hubungan djasmaniah dengan laki-laki. Dan jang paling baik di antara mereka — paling pandai dalam memuaskan laki-laki — itulah jang paling diidamkan untuk perkawinan. Dalam umur dua-puluhan gadis-gadis ini adalah jang kuberi istilah ,,djenis Afrika jang belum beradab, liar dan tidak dapat didjinakkan”. Bagiku perempuan dapat disamakan dengan benua. Dalam umur tigapuluh dia seperti Asia — berdarah panas dan menangkap. Dalam usia empatpuluh ia adalah Amerika — unggul dan djagoan. Sampai pada umur limapuluh tahun ia menjamai Eropa— laju dan berdjatuhan.

Lepas dari persamaan setjara ilmu bumi jang demikian, tak seorangpun wanita Pulau Bunga mau memegang peranan di atas panggung. Bahkan djuga tidak nenek-nenek jang sudah berumur enampuluh tahun jang mengingatkanku pada benua Australia — djustru terlalu djauh dari djalan jang ditempuh! Alasan jang pertama, kebiasaan wanita Islam selalu berada dalam bajangan. Jang kedua, wanita ini takut kepadaku. Dari itu, aku memetjahkan persoalan ini dengan hampir tidak menulis peran wanita. Dan kalaupun ada, ia dimainkan oleh laki-laki. Aku sendiri menjewa sebuah gudang dari geredja dan menjulapnja mendjadi gedung kesenian. Aku sendiri jang mendjual kartjisnja. Setiap pertundjukan berlangsung selama tiga hari dan kami bermain di hadapan 500 penonton. Ini adalah suatu kedjadian besar dalam masjarakat di sana. Orang-orang Belanda djuga membeli kartjis. Hasilnja dipergunakan untuk menutupi pengeluaran kami.

Aku membuat pakaian untuk keperluan ini. Aku menggambar dinding belakang panggung darurat, sehingga ia terlihat seperti hutan atau istana atau apa sadja jang hendak kami lukiskan. Aku membuat pita-pita reklame dari kertas dan menggantungkannja di tempat-tempat umum seperti pasar-malam. Aku membuat alat dan perabot kami. Aku melatih dua orang laki-laki dan dua wanita untuk menjanjikan kerontjong— lagu-lagu gembira — jang diperdengarkan di dalam waktu istirahat. Dan aku bersjukur atas usaha ini semua. Ia memberikan keasjikan padaku. Ia mengisi detik-detik jang suram ini.

Setelah tiap kali pertundjukan, kubawa para pemainku makan ke rumah. Ja, aku bekerdja keras sekali untuk menjelenggarakan sandiwara ini, dan untuk menjenangkan hati pemain-pemainnja. Ini besar artinja bagiku. Tidak ada jang dapat menghalang-halangiku bertindak. Aku mendjadi seorang penjelundup terkenal dan berpengalaman dan aku djuga berhasil memperoleh kelambu untuk kami. Dalam perusahaan pelajaran antarpulau awak kapalnja adalah orang-orang Indonesia dan semua mereka mendjadi simpatisan. Ketika terdengar bahwa Bung Karno memerlukan kelambu, seorang kelasi setjara pribadi menjelundupkan satu untukku dalam pelajaran selandjutnja. Tidak ada kesukaran dalam hal ini.

Di suatu pagi jang saju turunlah dari sebuah kapal jang akan menudju Surabaja seorang stokar berbadan tegap lagi kekar. Ia datang kepadaku didermaga jang penuh-sesak, seperti biasanja kalau kapal datang. Dengan diam-diam dia membisikkan kepadaku, ,,Bung, katakanlah kepada kami, kami akan menjelundupkan Bung Karno. Tidak ada orang jang akan tahu.”

,,Terimakasih, saudara. Lebih baik djangan,” aku memandang kepadanja dengan perasaan terirnakasih. ,,Memang seringkali terbuka djalan seperti jang saudara sarankan itu. Dan sering datang pikiran menggoda, untak lari setjara diam-diam dan kembaili bekerdja bagi rakjat kita.”

,,Kalau begitu mengapa tidak ditjoba sadja?” ia mendesak. ,,Kami akan sembunjikan Bung Karno dan membawa Bung ke tempat kawan-kawan. Kami djamin selamat.”

,,Kalau saja lari, ini hanja saja lakukan untuk memperdjoangkan kemerdekaan. Begitu saja mulai bekerdja, saja akan ditangkap lagi dan dibuang kembali. Djadi tidak ada gunanja.”

,,Apakah Bung Karno tidak bisa bekerdja setjara rahasia?”

,,Itu bukan tjaranja Bung Karno. Nilaiku adalah sebagai lambang di atas. Dengan tetap tinggal di sini rakjat Marhaen melihat, bagaimana pemimpinnja djuga menderita untuk tjita-tjita. Saja telah memikirkan budjukan hatiku untuk lari dan mempertimbangkan buruk-baiknja. Nampaknja lebih baik bagi Sukarno untuk tetap mendjadi lambang daripada pengorbanan menudju tjita-tjita.”

,,Sekiranja di suatu saat berobah pendirian Bung Karno, tak usah ragu. Sampaikanlah kepada kami.”

Aku merangkul kawanku itu kedadaku dan tanpa ragu-ragu mentjiumnja pada kedua belah pipinja.

,,Terimakasih, di satu masa kita semua akan merdeka, begitupun saja.”

,,Bung betul-betul jakin?” stokar itu bertanja.

Djawabanku chas menurut tjara Djawa. Aku mendjawab dengan kiasan. ,,Kalau ada asap di belakang kapal ini, tentu ada apinja. Kejakinan ini didasarkan pada pertimbangan akal. ‘llmu’ljakin. Kalau saja berdjalan di belakang kapal ini dan melihat api itu dengan mata kepala sendiri, maka kejakinanku berdasarkan penglihatan. ‘Ainu’Ijakin. Akan tetapi mungkin penglihatan saja salah. Kalau saja memasukkan tangan saja ke dalam api itu dan tangan saja hangus, maka ini adalah kejakinan jang sungguh-sungguh berdasarkan kebenaran jang tak dapat dibantah lagi. Maka dengan Hakku’ljakin inilah saja memahami, bahwa kita akan merdeka. ,,Belanda berbaris berdampingan dengan kedju dan mentega, sedang kita berbaris bersama-sama dengan mataharinja sedjarah. Di satu hari, betapapun djuga, kita akan menang. Dalam fadjar itu, saudara, saja tidak akan lari dengan diam-diam, akan tetapi saja akan berpawai keluar dari sini dengan kepala jang tegak.”

Dikurangi dengan padjak, maka hasilku dalam pembuangan ini dari pemerintah kurang dari sepuluh dollar seminggu. Lemari kami karenanja sering kosong. Karena itu aku mentjari uang tambahan dengan mendjualkan bahan pakaian dari sebuah toko tekstil di Bandung. Mereka memberikan komisi 10% pada setiap barang jang kudjualkan. Dengan mendjadjakannja dari rumah ke rumah membawa tjontoh, aku berkata, ,,Njonja, harga saja lebih murah dari toko-toko di sini. Apa njonja mau memesan sama saja?”

Kemudian kukirim poswisel ke toko ini dan setelah selang boberapa kapal kain itu datang. Lamanja sampai berbulan-bulan, akan tetapi satu hal jang ada padaku, jaitu waktu. Apa perlunja aku tjepat-tiepat? Aku malahan mendapat bagian jang ketjil dengan seorang pedagang sekutuku. Kami membuat harga rahasia antara kami berdua. Berapa lebih jang dia peroleh itu mendjadi bagiannja. Dengan djalan begini dia mendapat keuntungan sedikit dan akupun memperoleh bagianku sedikit.

Hendaknja djangan ada di antara kawan-kawanku di Djawa jang membanggakan diri, bahwa dia terus-menerus membantu kami dengan kiriman makanan dan pakaian selama masa ini. Ja, mungkin ada satu-dua, akan tetapi djarang sekali. Kalaupun ada kiriman jang datang, aku segera meneruskan sebagian besar dari isinja kepada kawan-kawan jang tidak beruntung di Digul. Ini kulakukan djuga kalau aku memperoleh sisa uang beberapa rupiah.

Sekalipun kami hanja punja uang sedikit, kami berhasil mentjukupi diri sendiri. Aku orang jang sederhana. Kebutuhanku sederhana. Misalnja, aku tidak minum susu atau minuman lain jang datang dari luar-negeri, pun tidak makan daging dari binatang berkaki empat. Makananku terdiri dari nasi, sajur, buah-buahan, terkadang ajam atau telor dan ikan asin kering sedikit. Sajuran diambil dari jang kutanam dipekarangan samping rumah. Ikan kudapat dari kawan-kawanku para nelajan.

Di Endeh aku dibatasi bergerak, djuga untuk menikmati kesenangan jang ketjil-ketjil. Aku dibolehkan pergi ke tepi pantai untuk menjaksikan kawan-kawanku para nelajan, akan tetapi tidak boleh naik perahu untuk berbitjara dengan mereka. Naik perahu dapat berarti melarikan diri. Aku djuga boleh berkeliaran dalam batas lima kilometer dari rumah. Akan tetapi lewat satu langkah sadja, aku djadi sasaran hukuman. Di kota ini ada delapan orang polisi, djadi sungguhpun berpakaian preman aku mengenal mereka itu. Di samping itu, hanja mereka jang memakai sepeda hitam dengan merek ,,Hima”. Jang terlalu djelas adalah bahwa mereka berada pada djarak jang tetap waktu mengiringkanku. Kalau seorang Belanda jang misterius selalu berada pada djarak 60 meter di belakangku, maka tahulah aku.

Aku teringat di suatu sore ketika seorang ,,preman” membuntutiku di djalan-raja jang djuga didjalani oleh angsa, kambing, kerbau dan sapi. Aku bersepeda melalui rumah-rumah panggung dan menudju ke sungai. Djalan menudju ke situ pendek, djadi dia lalu mendajung mengembus-ngembus hampir bahu-membahu denganku. Pada waktu dia berhenti di sana untuk mendjalankan mata-mata, dua ekor andjing melompat padanja sambil menjalak dan menggeram-geram. Pemaksa hukum jang tinggi kedjam ini karena kagetnja memandjat keatas sepedanja dan berdiri diatas tempat duduk dengan kedua belah tangannja berpegang erat ke pohon. Sungguhpun aku kepanasan dan dalam keadaan kotor di waktu itu, namun pemandangan ini lebih menjegarkan badanku daripada air sungai jang sedjuk.

Setelah itu aku memprotes kepada kepalanja, ,,Saja tidak peduli apakah anak-buah tuan ‘setjara rahasia’ membajangi saja, akan tetapi saja tidak ingin dia terlalu dekat.”

Orang itu menjampaikan penjesalannja. ,,Ma’af, tuan Sukarno. Kami menginstruksikan kepadanja untuk tetap berada dalam djarak 60 meter.”

Aku berada dalam pengawasan tetap. Di suatu sore aku mengadjar sekelompok pemuda menjanjikan lagu kebangsaan ,,Indonesia Raya”. Karena ia terlarang, untuk keamanan aku memilih suatu tempat di luar rumahku. Bukan karena aku akan kehilangan sesuatu, tidak, aku ingin melindungi anak-anak ini. Masih sadja ada orang jang melaporkan kedjahatan jang sungguh-sungguh ini. Saudara dari Radja lalu diperintahkan untuk memperoleh kepastian, kedjahatan apa jang telah dilakukan oleh Sukarno dengan tindakan pengkhianatannja merusak anak-anak dibawah umur. Dengan patuh dia menjuarakan akibat psychologis terhadap penduduk preman. Djawabnja adalah, ,,Tidak ada sama-sekali. Mereka tidak dibakar dengan semangat. Mereka bahkan tidak tahu apa arti ‘Indonesia Raya’.” Sekalipun demikian, aku dipanggil ke kantor polisi, diperiksa dengan keras dan didenda F5,-—jaitu dua dollar.

Pulau Bunga akan tetap kekal melekat dalam kenanganku, karena berbagai alasan. Di sinilah aku mendengar, bahwa Pak Tjokro telah pergi mendahului kami. Sebelum ia pergi, ketika masih dalam sakit keras, aku menulis surat kepadanja, ,,Bapak, sebagai patriot besar jang menghimpun rakjat kita dalam perdjoangan untuk kemerdekaan, tidak akan kami lupakan untuk selama-lamanja. Saja mendo’akan agar bapak segera sembuh kembali.” Berminggu-minggu kemudian, ketika kapal datang membawa surat-kabar kami, disampaikanlah suatu kisah tentang bagaimana Pak Tjokro sebelum menghembuskan napas memperlihatkan surat Sukarno kepada setiap orang. Aku menangis mengenang kawanku jang tertjinta itu.

Djuga terdjadi di Pulau Bunga, aku membersihkan diri dari segala tahjul. Selamanja aku pertjaja pada hari baik dan hari nahas, aku pertjaja pada djimat jang membawa rahmat dan djimat jang mempunjai pengaruh djahat. Di Bandung ada orang jang memberiku sebentuk tjintjin pakai batu. Dalam batu itu terlihat lobang berisi tjairan hitarn jang tidak pernah tenggelam. Seperti bidji ketjil jang mengapung dan selalu berada di atas. Seorang pengagum memberikan benda jang aneh ini kepadaku dengan utjapan, ,,Sukarno, semoga engkau tetap berada di atas seperti bidji jang mengapung ini.” Ia dinodai oleh kekuatan guna-guna, tapi aku mempertjajainja. Di waktu itu aku mempertjajai apa sadja, karena aku memerlukan segala kekuatan jang bisa kuperoleh.

,,Djangan lupa, Sukarno,” katanja, ,,Batu ini bukan sembarang batu. Dia membawa untung.”

Baiklah, aku pertjaja. Tidak lama setelah itu aku dibuang ke Pulau Bunga. Aku tidak begitu pertjaja lagi kepadanja. Demikianlah, ketika kujakinkan pada diriku sendiri, kepertjajaan jang kegila-gilaan ini harus dihentikan. Dan kukatakan pada diriku, ,,Engkau sudah melihat, penjakit tahjul jang djahat, akan tetapi mengapa engkau tidak pernah makan di piring retak, oleh karena engkau pertjaja bahwa bentjana akan menimpamu kalau engkau melakukannja?”

Harus kuakui bahwa ini benar. Suatu hari aku sengadja minta piring retak. Aku gemetar sedikit karena pikiran sudah tjukup ruwet tanpa menambah keruwetan itu dengan pelanggaran kepertjajaan jang kuat ini. Akan tetapi kuletakkan djuga piring itu di atas medja dan memandangnja. Kemudian aku berpidato kepada piring jang gandjil ini jang begitu berkuasa terhadap djiwaku. Kataku, ,,Hei engkau …………… engkau barang jang mati, tidak bernjawa dan dungu. Engkau tidak punja kuasa untuk menentukan nasibku. Kutantang kau. Aku bebas darimu. Sekarang aku makan dari dalammu.”

Beginilah tjaranja aku mengatasi tiap-tiap rasa takut jang mengganggu pikiranku. Aku hadapi rasa takut ini dengan tenang dan sedjak itu tidak takut lagi. Aaaah, masih sadja batu itu ada padaku. Aku sangat ingin mempunjai keberanian untuk melepaskan pembawa untung besar ini. Selagi berpikir keras tentang batu ini, kebetulan uang sedang tidak ada. Sudah mendjadi sedjarah dari Sukarno bahwa ia tak pernah punja uang, sedangkan ini adalah harta jang senantiasa diperlukannja. Sampai kini keadaannja sama sadja. Keadaanku sangat melarat ketika aku berkenalan dengan seorang saudagar kopra jang makmur di kota itu. Aku memutuskan untuk mendjual pembawa untung jang besar ini kepadanja.

Dan sebagai pendjual jang pandai kutawarkan batu itu dengan perkataan jang muluk-muluk.

,,Tjoba lihat,” kataku mengadu untung, ,,Saja punja barang jang susah didapat. Orang akan selalu beruntung besar dengan batu seperti ini, karena batu begini hanja ada satu-satunja. Tidak ada duanja di dunia.” Kebetulan utjapanku ini memang benar dan aku tidak rnembohong dan kebetulan pula aku sangat memerlukan uang dan ingin memperoleh sebanjak mungkin dari dia. Kemudian aku menekan gas jang terachir, ,,Dengarlah, begini. Saudara saja lihat adalah orang jang mempunjai sifat-sifat baik, maka dari itu saja menawarkan suatu kesempatan jang sangat istimewa. Kalau saudara menjerahkan seratus limapuluh rupiah, jang tidak berarti bagi saudara, saja akan berikan batu ini.”

,,Setudju,” teriaknja dan segera mengadakan pertukaran. Tjaraku melakukan djual-beli begitu berhasil, sehingga ia betul-betul takut aku akan merobah pendirian lagi. Dan dengan begitu berpindah tanganlah hartaku jang terachir itu, benda pembawa untung dan terdjamin

kekuatannja. Tidakkah aku harus berienma-kasih kepada Pulau Bunga, karena aku dibebaskan dari belenggu tahjul?

Di Endeh jang terpentjil dan membosankan itu banjak waktuku teriuang untuk berpikir. Di depan rumahku tumbuh sebatang pohon keluih. Djam demi djam aku lalu duduk bersandar di situ, berharap dan berkehendak. Di bawah dahan-dahannja aku mendo’a dan memikirkan akan suatu hari …………… suatu hari …………… Ia adalah perasaan jang sama seperti jang menguasai Mac Arthur di kemudian hari. Dengan menggetarnja setiap djaringan otot dalam seluruh tubuhku, aku menggetarkan kejakinanku, bahwa bagaimanapun djuga — di suatu tempat— disuatu hari — aku akan kembali. Hanja patriotisme jang berkobar-kobarlah dan jang masih tetap membakar panas dadaku di dalam, jang menjebabkan aku terus hidup.

Inggit selamanja menjakinkan padaku, bahwa dia merasakan di dalam tulang-tulangnja aku di satu hari akan mendjadi orang jang memegang peranan. Akan tetapi aku tidak pernah mempersoalkannja. Aku tidak pernah berbitjara tentang masa depan, aku hanja memikirkannja. Pada setiap djam aku dalam keadaan bangun aku memikirkannja.

Kukira, selama tiga setengah abad dibawah pendjadjahan Belanda dunia-luar hanja satu kali mendengar tentang negeri kami. Di tahun 1883 Krakatau, gunung kami jang terkenal itu, meletus. Ia memuntahkan batu, kerikil dan abu menempuh orbit jang mengelilingi bumi selama bertahun-tahun. Lama setelah itu, ketika langit di Eropah mendjadi merah, orang menundjuk kepada gunung Krakatau. Ini sama halnja denganku. Aku telah membikin ribut-ribut dan sekarang aku disuruh diam.

Ketika sekawanan kutjing berkandang dekat pohon keluih itu dan karena tempat itu tidak lagi tenang, aku lalu berdjalan-djalan ke dalam hutan. Aku mentjari tempat jang tenang dimana angin mendesirkan daun-daunan bagai bisikan, karena bisikan Tuhan ini terdengar seperti njanjian nina-bobok ditelingaku. Ialah njanjian dari pulau Djawaku jang tertjinta. Tempat pelarian menjendiri jang kugemari adalah dibawah pohon sukun jang menghadap ke laut. Sukun, sedjenis buah-buahan seperti avocado, adalah sematjam buah jang kalau dikupas, diiris pandjang-pandjang seperti ketimun, rasanja menjerupai ubi. Aku lalu duduk dan memandang pohon itu. Dan aku melihat pekerdjaan daripada Trimurti dalam agama Hindu. Aku melihat Brahma Jang Maha Pentjipta dalam tunas jang berketjambah di kulit kaju jang keabu-abuan itu. Aku melihat Wishnu Jang Maha Pelindung dalam buah jang londjong berwarna hidjau. Aku melihat Shiwa Jang Maha Perusak dalam dahan-dahan mati jang gugur dari batangnja jang besar. Dan aku merasakan djaringan-djaringan jang sudah tua dalam badanku mendjadi rontok dan mati di dalam.

Kemudian aku dihinggapi oleh penjakit kepala dan merasa tidak sehat sama-sekali. Tapi setiap pagi aku masih merangkak keluar tempat-tidur untuk duduk-duduk di bawah pohon sukun djauh dari rumah. Pohon sukun itu berdiri di atas sebuah bukit ketjil menghadapi teluk. Di sana, dengan pemandangan ke laut lepas tiada jang menghalangi, dengan langit biru jang tak ada batasnja dan mega putih jang menggelembung dan dimana sesekali seekor kambing jang sedang bertualang lewat sendirian, di sana itulah aku duduk melamun djam demi djam.

Terkadang terasa udara jang dingin di tepi pantai laut itu dan aku kedinginan. Seringkali aku merasa dingin, sedang keadaan udara tidak dingin sama-sekali. Tapi masih sadja aku duduk di sana. Suatu kekuatan gaib menjeretku ke tempat itu hari demi hari.

Aku memandangi samudra bergolak dengan hempasan gelombangnja jang besar memukul pantai dengan pukulan berirama. Dan kupikir-pikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinja. Pasang naik dan pasang surut, namun ia terus menggelora setjara abadi. Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir. Revolusi kami tidak mempunjai titik batasnja. Revolusi kami, seperti djuga samudra luas, adalah hasil tjiptaan Tuhan, satu-satunja Maha-Penjebab dan Maha Pentjipta. Dan aku tahu di waktu itu …………… aku harus tahu sekarang …………… bahwa semua tjiptaan dari Jang Maha Esa, termasuk diriku sendiri dan tanah-airku, berada dibawah aturan hukum dari Jang Maha Ada.

Di suatu hari aku tidak mempunjai kekuatan untuk duduk dibawah pohon itu seperti biasanja. Aku tak dapat bangun dari tempat-tidur. Jaitu di hari dokter menjampaikan, bahwa aku mendekati kematianku karena menderita malaria.

 

 

Bab 16

Bengkulu

 

KETIKA terdengar kabar di Djakarta, bahwa Sukarno dalam keadaan sakit keras, Thamrin lalu mengadjukan protes dalam Dewan Rakjat. Katanja, ,,Pemerintah harus bertanggung-djawab atas keselamatan diri Sukarno. Dia harus dipindahkan ke negeri jang lebih besar dan lebih sehat, dan keadaannja hendaklah mendapat perhatian jang lebih besar.”

,,Kita harus mentjari lebih dulu tempat lain dimana rakjatnja tidak berpolitik,” djawab ketua berlindung. ,,Ja, ja, dan jang djuga primitif dan terbelakang, sehingga ia tidak membangkitkan tantangan.

Ja, saja mengetahui semua itu. Akan tetapi saja memperingatkan kepada tuan sekarang, andaikata Sukarno mati, maka Indonesia dan seluruh dunia akan menuding kepada tuan sebagai orang jang bertanggung-djawab atas pembunuhan itu. Pulau Bunga adalah sarang malaria. Sukarno sakit pajah. Hidup-matinja sekarang terletak di tangan pemerintah Belanda. Dia harus dipindahkan. Dan dengan setjepat mungkin.”

Den Haag serta-merta mengambil tindakan. Hal ini kuketahui di suatu malam seminggu kemudian. Aku sedang berbaring dengan tenang di rumah ketika Darham, tukang djahit, tiba-tiba masuk dengan tjepat. la terengah-engah karena berlari.

,,Saja baru dari toko De Leeuw”, katanja dengan napas turun-naik.

,,Toko rempah-rempah itu dari sini ada satu kilometer djauhnja. Kau berlari sedjauh itu?” tanjaku.

,,Ja,” katanja masih terengah. ,,Bung Karno tentu tahu, toko itu kepunjaan Lie Siang Tek saudagar kopra jang sangat kaja.”

,,Ja, ja,” djawabku hendak mengetahui persoalannja, ,,tapi apa hubungannja sampai engkau berlari-lari ke sini?”

,,Orangnja tjukup kaja untuk dapat memiliki radio,” Darham melandjutkan tanpa menghiraukan ketidaksabaranku.

,,Tadi djam setengah delapan, sewaktu berbelandja, saja mendengar berita radio jang menjatakan bahwa Ir. Sukarno akan dipindahkan ke tempat lain.”

Kudengarkan berita itu dengan tenang. Sesungguhnja aku terdiam sebentar oleh karena bersjukur kepada Tuhan. Kemudian kutanjakan dengan segala ketenangan hati, ,,Kemana katanja?”

,,Bengkulu.”

,,Di Sumatera Selatan?”

,,Ja.”

,,Apakah disebutkan kapan?”

,,Tidak, hanja itu jang diumumkan.”

Ini terdjadi di bulan Februari 1938. Sudah hampir lima tahun aku tinggal di Pulau Bunga.

Di saat kami meninggalkan Endeh banjak orang datang untuk melepasku. Ada jang datang untuk mengutjapkan selamat djalan. Ada lagi jang mendo’akanku jang tidak baik. Jang lain lagi hanja sekedar untuk melihat-lihat sadja. Beberapa diantaranja malahan meminta untuk bisa ikut. Salah seorang dari mereka adalah pelajan kami. Selama dalam perdjalanan aku diasingkan. Riwu dengan tenang tidur di lantai dekat tempat-tidurku dan selalu berada di situ seperti seekor andjing jang memperlihatkan kesetiaannja.

Jang seorang lagi adalah Darham jang tidak mau ketinggalan. Dia membuatkan kemedja dan sepasang pijama berwarna kuning-gading sebagai hadiah perpisahan, tapi kemudian diapun berlajar bersama-sama dengan kami.

Belanda berusaha sebaik-baiknja mengelabui saat kedatangan kami, karena takut rakjat akan datang beramai-ramai. Dalam siaran radio diberitakan, bahwa kedatangan kami diharapkan djam empat sore, sedangkan di pagi hari itu sesungguhnja kami sudah sampai. Surabaja, pelabuhan jang biasa ramai, masih sepi seperti di kesunjian malam ketika kapal kami menurunkan sauh. Polisi menutup daerah tjerotjok, sehingga rakjat tidak dibolehkan berada di daerah sekitar itu. Ketika aku memidjakkan kaki ke anak-tangga jang paling bawah dan mengisi penuh dadaku dengan helaan napas pandjang jang pertama dari negeri kelahiranku jang tertjinta, pintu dari kendaraan jang telah menunggu terbuka dan aku dimasukkan ke dalam. Aku dilarikan dengan kereta-api malam menudju Merak, negeri jang paling udjung di Djawa Barat. Di sana, dengan setjara tjepat dan diam-diam, aku ditolakkan ke atas kapal dagang menudju Bengkulu.

Bengkulu adalah negeri jang bergunung-gunung dilingkungi oleh Bukit Barisan dan merupakan kota pedagang ketjil dan pemilik perkebunan ketjil. Di samping kembang raksasanja, Raflesia Arnoldi jang lebarnja sampai tiga kaki, negeri ini tidak mempunjai arti penting. Pun tidak dalam hal persahabatan. Daerah jang merupakan benteng Islam itu masih sangat kolot. Wanitanja menutupi badannja dengan rapi. Mereka djarang menemani suaminja. Pada waktu aku pertama menghadiri pertemuan kekeluargaan, aku bertanja, ,,Mengapa dipasang tabir untuk memisahkan perempuan dari laki-laki?” Tidak seorang djuga jang mendjawab, karena itu aku menjingkirkan penghalang itu. Tidak lama kemudian sebuah tabir memisahkanku dari penduduk kota itu.

Mesdjid kami keadaannja kotor, kolot dan tua. Aku kemudian membuat rentjana sebuah mesdjid dengan tiang-tiang jang tjantik, dengan ukiran timbul sederhana dan pagar tembok putih jang tidak ruwet dan kubudjuk mereka untuk mendirikannja. Orang tua-tua di kota itu tidak suka kepada orang jang menginginkan perobahan. Keluarlah utjapan-utjapan jang tidak enak diantara kami dan pada permulaan aku membuat musuh. Hal ini terasa olehku sangat pedih. Terutama karena aku begitu haus akan kawan.

Polisi keamanan tetap mengawasi rumahku siang-malam. Setiap tamu ditjatat namanja, esok harinja dipanggil menghadap untuk ditanjai, kemudian dibajangi oleh reserse. Sungguh diperlukan suatu heberanian untuk dapat memperlihatkan keramahan pada Sukarno. Kawanku jang satu-satunja adalah seorang kepala sekolah rakjat jang seringkali datang meskipun tahu bahwa ia ditandai oleh Pemerintah,— dan membawa seorang anak gadis tjilik jang selalu kupeluk di atas pangkuanku.

Aku tak pernah melupakan keramahannja ini. Pada waktu aku sudah mendjadi Presiden, kepadanja kutanjakan, ,,Apa jang dapat saja lakukan untuk saudara? Katakanlah keinginan saudara.” Temanku sedang mendekati adjalnja, tapi djawabnja hanja, ,,Tolonglah keluarga saja kalau saja pergi. Lindungilah anak gadis saja.” Pesannja ini kupenuhi sebaik-baiknja. Aku bahkan mentjarikan suami buat anaknja. Banjak baji jang dulu pernah kutimang di atas pangkuanku sekarang sudah mendjadi wanita-wanita tjantik dan kemudian orangtuanja datang kepadaku memohon, ,,Tolonglah, Pak, tolong pilihkan djodoh buat anak saja.” Aku telah mentjarikan isteri Hatta untuknja. Aku mentjarikan isteri kawanku Rooseno untuknja. Sekarang aku rnempunjai daftar terdiri dari anak gadis seperti itu. Dan aku adalah satu-satunja Kepala Negara jang djuga mendjadi tjalo dalam mengatur perkawinan, kukira.

Kebetulan dalam masa-masa itu perkawinanku sendiripun perlu diatur kembali. Kemungkinan disebabkan oleh tjara hidup orang Indonesia jang merasa tidak sernpurna kalau tidak memperoleh keturunan dari perkawinannja. Malahan kebanjakan dari orang Indonesia jang beristeri satu, anaknja segerobak. Setiap tahun djumlah djiwa kami bertambah dengan dua djuta lebih. Barangkali tidak ada hal lain jang dapat diperbuat oleh rakjat kami jang miskin. Barangkali djuga karena kami adalah bangsa jang bernafsu besar dan berdarah panas, dan mengisi malam-rnalam kami jang panas itu dengan berkasih-kasihan. Pada suatu kali Djendral Romulo menjatakan, ,,Saja kira dari seluruh bangsa Asia kami orang Filipinalah bangsa jang paling bagus.” Djawabku, ,,Mungkin djuga, akan tetapi di antaranja orang Indonesialah jang paling bernafsu!”

Di antara kami terdapat keluarga jang mempunjai 11, 13, 18 orang anak. Saudara perempuan bapakku melahirkan 23. Setiap orang mempunjai anak. Setiap orang, ketjuali Sukarno. Inggit tidak dapat melahirkan, karena itu sebagian dari diriku dan sebagian dari hidupku tetap dalam keadaan kosong. Kehendakku belum terpenuhi. Sudah hampir 20 tahun kami kawin. Namun masih belum memperoleh seorang putera. Terasa olehku, bahwa selama ini sudah begitu banjak kebahagiaan jang telah dirampas dari diriku …………… Mengapa keinginan inipun harus didjauhkan pula?

Ketika perasaan jang menekan ini mulai memukul-mukul dadaku selama 24 djam dalam sehari, kutjoba menghilangkannja dengan merapati anak-anak pada setiap kesempatan jang kuperoleh. Di Pulau Bunga aku mengambil dua orang anak angkat lagi—Sukarti, anak seorang pegawai berasal dari Djawa dan Jumir, anak keluarga djauh Inggit, jang pada waktu sekarang sudah mempunjai enam orang anak. Di Bengkulu aku memperlakukan anak orang lain seperti anakku sendiri. Tetangga kami, keluarga Soerjomihardjo, mempunjai seorang anak laki-laki berumur 10 tahun. Berdjam-djam lamanja aku menghabiskan waktu bersama-sama dengan Ahmad ini. Kalau ada anak Belanda meludahinja, akulah jang mengeringkan air-matanja dan menguatkan hatinja dengan kata-kata, ,,Ahmad, negeri ini kita punja. Di satu waktu kita djadi tuan di negeri kita sendiri. Di satu waktu kita bisa berbuat menurut kemauan kita, bukan menurut jang diperintahkan kepada kita. Djangan kuatir.”

Kemudian aku mendjadi seorang pendidik. Ketua Muhammadijah setempat, Pak Hassan Din, datang di suatu pagi dengan tidak memberi tahu lebih dulu, seperti jang telah mendjadi kebiasaan kami. ,,Di sini,” ia memulai, ,,Muhammadijah menjelenggarakan sekolah rendah agama dan kami sedang kekurangan guru. Selama di Endeh kami tahu Bung Karno telah mengadakan hubungan rapat dengan ‘Persatuan Islam’ di Bandung dan kami dengar Bung Karno sepaham dengan Ahmad Hassan, guru jang tjerdas itu. Apakah Bung bersedia pula membantu kami sebagai guru?”

,,Saja menganggap permintaan ini sebagai rahmat,” djawabku.

,,Tapi …………… ingatlah …………… djangan membitjarakan soal politik.”

,,Ah, tidak,” aku tersenjum menjeringai, ,,hanja saja akan menjinggung tentang Nabi Besar Muhammad jang selalu mengadjarkan ketjintaan terhadap tanah-air.”

Dalam kelasku terdapat Fatmawati, puteri dari Pak Hassan Din. Fatma berarti ,,Teratai”. Wati”: ,,kepunjaan”. Rambutnja jang seperti sutera di belah ditengah dan mendjurai ke belakang berdjalin dua. Fatmawati berasal dari keluarga biasa di Tjurup, sebuah kampung beberapa kilometer dari Bengkulu. Ia setahun lebih muda dari Ratna Djuami. Dan ketika ia mengikuti Ratna Djuami memasuki sekolah rumah tangga di Bengkulu— jang merupakan sekolah tertinggi jang ada di daerah itu — ia mentjari tempat tinggal. Dengan senang hati aku menjambutnja sebagai anggota keluarga kami.

Aku senang terhadap Fatmawati. Kuadjar dia main bulutangkis. Ia berdjalan-djalan denganku sepandjang tepi pantai jang berpasir dan, sementara alunan ombak jang berbuih putih memukul-mukul kaki, kami mempersoalkan kehidupan atau mempersoalkan Ketuhanan dan agama Islam. Dalam kesempatan jang demikian itulah ia menanjakan, ,,Mengapa orang Islam dibolehkan mempunjai isteri lebih dari satu?”

,,Di tahun 650 Nabi Muhammad s.a.w. mengembangkan Islam, kemudian mempertahankannja terhadap orang Arab dari suku Mekah, pun terhadap kaum keluarganja sendiri,” djawabku. ,,Sembojan jang dipakai di djaman itu ‘Pedang di satu tangan dan Al Quran di tangan jang lain’. Di antara laki-laki banjak terdapat korban.”

,,Ini berarti banjak djanda,” kata Fatmawati pelahan-lahan.

,,Pasti,” kataku, ,,Akan tetapi untuk menghindarkan hawa nafsu kehewanan atau perkelahian perempuan di antara mereka sendiri, maka Nabi menerima wahju dari Tuhan jang mengizinkan laki-laki mempunjai isteri sampai empat orang agar tertjapai suasana jang tenang. Tapi di Bali orang mendjalankan poligami jang tidak terbatas. Seorang pangeran jang sudah berumur 76 tahun belum lama ini mengawini isterinja jang ke-36. Umurnja 16.”

,,Usia jang tjotjok untuk perkawinan,” kata Fatmawati jang berumur limabelas setengah tahun mengemukakan pendapatnja.

Di Bante Pandjang arusnja di dalam deras sekali dan banjak terdapat ikan hiu. Orang tidak dibolehkan berenang di sana, akan tetapi ada sebuah batu-karang jang bersegi-tiga jang merupakan kolam. Pada waktu kami mengarunginja ia bertanja, ,,Tidak adilkah hukum Islam terhadap perempuan?”

,,Sebaliknja, adjaran Nabi menaikkan deradjat perempuan. Sebelum itu kedudukan perempuan seperti dalam neraka. Orang tua menguburkan anak-anak gadis hidup-hidup oleh karena dianggap tidak penting. Laki-laki hanja menjerahkan mas-kawin kepada si bapak dan membeli anak gadisnja untuk didjadikan isteri. Pada waktu sekarang perempuan tidak dibeli seperti membeli kambing. Perempuan sekarang mendjadi teman-hidup jang sama kedudukannja dalam perkawinan.

,,Hukum perkawinan di Asia disesuaikan menurut keadaan setempat. Disini lebih banjak djumlah perempuan daripada laki-laki. Perempuan jang kelebihan ini berhak atas kehidupan perkawinan, karena itu Islam memberi kesempatan kepada mereka untuk mendjadi isteri-isteri jang sjah dan terhormat dalam masjarakat. Akan tetapi di Tibet, di mana laki-laki lebih banjak daripada perempuan, mereka mempraktekkan polyandri. Inilah bukti penjesuaian hukum agama dengan hukum masjarakat di Timur.”

,,Bagaimana orang Barat mengatasinja?” ,,Seringkali orang Barat mempunjai njai. Kerugiannja, anak-anak jang mereka peroleh disingkirkan di masjarakat atau ditutup-tutup atau mendapat nama jang djelek seumur hidupnja. Dalam masjarakat kita anak dari isteri kedua dan selandjutnja mendapat kedudukan jang baik dan dihormati dalam masjarakat.”

Fatmawati bungkem sambil berdjalan sepandjang pantai, kemudian bertanja, ,,Perlukah seorang Islam mendapat persetudjuan dari isteri pertama sebelum mengawini isteri jang kedua?”

,,Tidak wadjib. Hal ini tidak disebut-sebut dalam Quran. Ini ditambahkan kemudian dalam Fiqh,……………”

,,…………… hukum-hukum jang ditambah oleh manusia ditahun-tahun 700 dan 800-an jang, menurut pertimbangan akal, didasarkan pada Al Quran dan Hadith, jaitu qijas.”

,,Benar” kataku tersenjum kepada muridku jang ketjil itu lagi tjerdas.

Dalam kehidupanku di Bengkulu pada masa itu aku memperoleh kedudukan sebagai orang tjerdik-pandai dari kampung. Orang datang, kepadaku untuk minta nasehat. Seperti misalnja persoalan kerbau kepunjaan seorang Marhaen jang dituntut oleh seorang pegawai. Marhaen. Itu mendjadi hampir putus asa, karena kerbau ini sangat besar artinja baginja. Ia datang padaku sebagai ,,Dukun”-nja. Aku menasehatkan kepadanja, ,,Adjukan persoalan ini ke pengadilan dan saja akan mendo’akan.” Tiga hari kemudian kerbau itu kembali. Ada lagi perempuan jang datang menangis-nangis kepadaku,

,,Saja sudah tudjuh bulan tidak haid.”

,,Apa jang dapat saja lakukan? Saja bukan dokter,” kataku.

,,Bapak menolong semua orang. Bapak adalah djuru-selamat kami. Saja pertjaja kepada bapak dan saja merasa sangat sakit. Tolonglah …………… tolonglah …………… tolonglah saja.”

Kepertjajaannja kepadaku luarbiasa, dan aku tidak dapat berbuat sesuatu jang akan menimbulkan keketjewaannja. Karena itu kubatjakan untuknja Surah pertama dari Quran ditambah dengan do’a jang maksudnja sama dengan ‘Bapak kami jang ada di sorga’. Kemudian perempuan itu sembuh dari penjakitnja. Tetanggaku, seorang pemerah susu, sangat membutuhkan uang. Dia jakin, bahwa dengan mengemukakan persoalannja itu kepadaku, bagaimanapun djuga akan dapat dipetjahkan. Memang ia benar. Aku keluar dan menggadaikan badjuku untuk memenuhi tiga rupiah enampuluh sen jang diperlukannja.

Djadi di mata orang kampung jang bersahadja itu lambat-laun aku dipandang seperti Dewa. Apa jang ditundjukkan Fatmawati kepadaku adalah pemudjaan kepahlawanan. Umurku lebih dari 20 tahun daripadanja dan ia memanggilku Bapak, pun untuk seterusnja. Bagiku ia hanja seorang anak jang menjenangkan, salah-seorang dari begitu banjak anak-anak jang mengelilingiku untuk menghilangkan kesepian jang djadi melarut dalam hatiku. Jang kuberikan kepadanja adalah kasih-sajang seorang bapak. Inggit tidak melihat hal itu dengan tjara jang demikian. Kami mempunjai radio di kamar belakang. Di suatu malam kawan-kawan mendengarkannja bersama-sama kami. Fatmawatipun datang mendengarkan. Ada tempat kosong di sebelahku di atas divan, djadi ia duduk dekatku. Malam itu djuga Inggit menjatakan, ,,Aku merasakan ada pertjintaan sedang menjala di rumah ini. Djangan tjoba-tjoba menjembunjikan. Seseorang tidak bisa membohong dengan sorotan matanja jang rnenjinar, kalau ada orang lain mendekat.”

,,Djangan begitu,” djawabku dengan bernafsu. ,,Dia itu tidak ubahnja seperti anakku sendiri.”

,,Menurut adat kita, perempuan tidak begitu rapat kepada laki-laki. Anak-anak gadis menurut kebiasaan lebih rapat kepada si ibu, bukan kepada si bapak. Hati-hatilah, Sukarno, supaja mendudukkan hal ini menurut tjara jang sepantasnja.”

Maka terdjadilah, kalau ada pertengkaran antara Fatmawati dengan Sukarti atau Ratna Djuami, Inggit selalu memihak kepada anak jang berhadapan dengan Fatmawati. Karena itu aku mau tidak mau berdiri di fihaknja. Lalu mendjulanglah suatu dinding pemisah jang tidak terlihat, antara kami, dan aku didesak memihak kepada Fatmawati.

Setelah dua tahun ia pindah ke rumah neneknja tidak djauh dari situ. Sungguhpun demikian kami masih sadja dalam satu lingkungan, karena bibinja kawin dengan kemenakanku dan adanja pesta-pesta, kemudian berkumpul bersama-sama di hari libur dan sebagainja.

Tahun berganti tahun dan Fatmawati tidak lagi anak-anak. Ia sudah mendjadi seorang perempuan tjantik. Umurnja sudah 17 tahun dan terdengar kabar bahwa dia akan dikawinkan. Isteriku sudah mendekati usia 53 tahun. Aku masih muda, kuat dan sedang berada pada usia jang utama dalam kehidupan. Aku menginginkan anak. lsteriku tidak dapat memberikannja kepadaku. Aku menginginkan kegembiraan hidup. Inggit tidak lagi memikirkan soal-soal jang demikian. Di suatu pagi aku terbangun dengan keringat dingin. Aku menjadari bahwa aku tentu akan kehilangan Fatmawati, sedangkan aku memerlukannja. Kemudian aku menjadari pula, bahwa aku berbalik kembali ke masa duapuluh tahun jang silam. Kembali ke tengah kantjah perdjoangan itu-itu djuga, perdjoangan antara baik dan djahat. Aku memikirkan tentang Ardjuna, pahlawan Mahabharata, jang bertanja kepada Dewa, Batara Krishna, ,,Hai, di mana engkau?” Maka Krishna mendjawab ,,Aku berada di dalam sang baju. Aku ada di dalam air. Aku berada di bulan. Aku ada di dalam sinarnja sang tjandra. Akupun ada dalam senjumnja gadis jang menjebabkan engkau tergila-gila.”

Kemudian aku bersoal dalam diriku sendiri, kalau di dalam senjuman indah dari gadis tjantik itu terdapat pula Tuhan apakah dengan mengagumi senjuman itu aku berdosa karena berbuat kedjahatan? Tidak. Kalau begitu, apabila aku mentjintai senjuman indah gadis tjantik itu, apabila senjum itu suatu pantjaran dari Tuhan dan Dia mentjiptakan gadis tjantik itu sedangkan aku hanja mengagumi tjiptaanNja itu, mengapalah dianggap dosa kalau aku memetiknja!

Sekali lagi, ini adalah peperangan kekal antara baik dan djahat, mentjoba memakan habis kesenangan ketjil jang kuperoleh di tengah-tengah kekosongan dalam hidupku. Ketika berdjalan-djalan di suatu sore, Fatmawati bertanja kepadaku, ,,Djenis perempuan mana jang Bapak sukai?”

Aku memandang kepada gadis desa ini jang berpakaian badju-kurung merah, dan berkerudung kuning diselubungkan dengan sopan. ,,Saja menjukai perempuan dengan keasliannja. Bukan wanita modern pakai rok pendek, badju ketat dan gintju bibir jang menjilaukan. Saja lebih menjukai wanita kolot jang setia mendjaga suaminja dan senantiasa mengambilkan alas kakinja. Saja tidak menjukai wanita Amerika dari generasi baru, jang saja dengar menjuruh suaminja mentjutji piring.”

,,Saja setudju,” dia membisikkan, mengintip kemalu-maluan padaku melalui bulu-mata jang merebah.

,,Dan saja menjukai perempuan jang merasa berbahagia dengan anak banjak. Saja sangat mentjintai anak-anak.”

,,Saja djuga,” katanja.

Minggu berganti bulan dan bulanpun silih berganti, perasaan tjoba-tjoba dalam hati bersemi mendjadi kasih. Walaupun bagaimana kutjoba sekuatku memadamkan hati muda jang sedang bergolak, karena rasa penghargaan jang besar terhadap Inggit. Tiada maksudku hendak melukai hatinja.

,,Ini semua kesalahanku,” dia mengulangi berkali-kali ketika mengemukakan persoalan ini di suatu malam jang tidak menjenangkan. ,,Inilah djadinja, kalau menaruh anak orang lain di rumah. Tapi aku tak pernah membajangkan akan kedjadian seperti ini. Dia seperti anakku sendiri.”

,,Aku sangat bersjukur mengenai kehidupan kita berdua,” aku menerangkan. ,,Selama ini kau djadi tulang-punggungku dan mendjadi tangan kananku selama separo dari umurku. Tapi bagaimanapun djuga, aku ingin merasakan kegembiraan mempunjai anak. Terutama aku berdo’a, di satu hari untuk memperoleh anak laki-laki.”

,,Dan aku tidak bisa beranak, itukah jang dimaksud?”

,,Ja,” aku mengakui.

,,Aku tidak bisa menerima isteri kedua. Aku minta tjerai.”

Kami tahu, bukanlah dia jang menentukan pilihan, akan tetapi aku merasa tidak enak memutuskan sendiri.

,,Aku tidak berrnaksud mentjeraikanmu,” kataku.

,,Aku tidak memerlukan kasihanmu,” bentaknja.

,,Tidak ada maksudku untuk menjingkirkanmu,” aku melandjutkan, ,,Adalah keinginanku untuk menempatkanmu dalam kedudukan jang paling atas dan keinginankulah supaja engkau tetap mendjadi isteri jang pertama, djadi memegang segala kehormatan jang bersangkut dengan ini dalam kebiasaan kita, sementara aku mendjalankan hukum agama dan hukum sipil dan mengambil isteri jang kedua untuk melandjutkan keturunanku.”

,,Tidak.”

,,Untuk kawin lagi adalah suatu keharusan bagiku, akan tetapi aku mengadjukan satu usul. Sekalipun aku tjinta terhadap Fatmawati, akan kulupakan dia kalau kaudapatkan perempuan lain jang menurut perkiraanmu lebih tjotjok untukku. Tundjuklah seorang jang tidak seperti anak lagi dan dengan demikian dapat membebaskanmu dari kebentjian jang kau rasakan sekarang.”

Airmata menggenangi mataku pada waktu aku bersoal dengan dia. ,,Kalau sekiranja aku mendjalani hidup jang normal dengan kegembiraan jang normal pula, mungkin aku dapat menerima kekosongan ini tanpa keturunan. Akan tetapi aku tidak mengalami selain daripada kemiskinan dan kesukaran-kesukaran hidup. Umurku sekarang sudah, 40. Dalam usia 28 aku sudah disingkirkan. Duabelas tahun dari masa muda seorang laki-laki kuhabiskan dalam kehidupan pengasingan. Di suatu tempat …………… dengan djalan apapun …………… tentu akan ada imbalannja. Kurasakan, bahwa aku tidak dapat menahankan djika jang inipun dirampas dariku.”

Ratna Djuami kembali ke Djawa untuk melandjutkan sekolahnja. Inggit dan aku boleh dikatakan kesepian. Hubungan kami tegang, akan tetapi ia kami landjutkan djuga. Aku tidak tahu apa jang harus diperbuat oleh karena itu kutjari keasjikan dengan bekerdja. Aku mengerdjakan rentjana rumah untuk rakjat. Aku mengadjar guru-guru Muhammadijah. Aku mengorganisir Seminar Alim-Ulama AntarPulau Sumatera-Djawa dan berhasil mengemukakan kepada mereka rentjana memodernkan Islam.

Akupun menerima tjalon menantu dari Residen sebagai murid dalam peladjaran bahasa Djawa, karena dia bekerdja sebagai asisten kebun di suatu perkebunan teh dan para pekerdjanja berasal dari Djawa. Dan di Bengkulu hanja Sukarno jang menguasai bahasa-daerah itu. Pemuda ini dan aku mendjadi sahabat karib.

Ketika Jimmy achirnja melangsungkan perkawinannja aku ditundjuknja untuk bertindak sebagai walinja, akan tetapi Residen itu rnenolak dengan minta maaf, dan mengatakan, ,,Tidak mungkin seorang tawanan-utama dari negeri ini mendjadi wali dalam perkawinan anak saja.” Sekalipun, demikian dia mengundangku menghadiri upatjara perkawinan itu.

Setelah satu tahun, dalam waktu mana aku tidak mau menerima pembajaran, Jimmy menghadiahkan kepadaku dua ekor Dachshaund. Aku sajang sekali kepada andjing-andjing itu. Ia kubawa tidur. Aku memanggilnja dengan mengetuk-ngetukkan lidahku. ,,Tuktuktuktuk” dan karena aku tidak pernah memberinja nama, lalu binatang-binatang ini dikenal sebagai ,,Ketuk Satu” dan ,,Ketuk Dua”.

Aku mentjoba mengalihkan pikiranku dari persoalan pribadi dengan memelihara hewan-hewan lain. Aku memperoleh 50 ekor burung gelatik dengan harga sangat murah. Kemudian kubeli sangkar jang besar dan menambahkan burung barau-barau sepasang, djadi dia tidak kesepian. Tapi kesenangan inipun tidak menjenangkan hatiku. Kulepaskan binatang-binatang ini. Aku tidak sampai hati melihat machluk jang dikurung dalam sangkar.

Karena sekumpulan binatang ini tidak memuaskan hatiku, aku berpindah pada pekerdjaan memperindah halaman belakang. Djalanan menudju kedjalan besar ditutupi dengan batu-karang. Aku mempekerdjakan dua orang kuli untuk mengangkatnja. Ketua organisasi pemuda setempat mengetahui apa jang kukerdjakan dan di suatu hari Minggu dia datang dengan selusin kawan-kawan dan dalam tempo dua djam mereka menjelesaikan segala-galanja.

Ketika pekerdjaan ini selesai, dan kepedihan dalam hati masih tetap bersarang, aku mengadakan kelompok perdebatan setiap malam Minggu. Kami mempersoalkan ,,Teori Evolusi Darwin” atau ,,Mana jang lebih baik, beras atau djagung — dan mengapa?” atau pokok pembitjaraan seperti ,,Apa pengaruh bulan terhadap tingkah-laku perempuan”. Aku menjusun pendapatku sambil berdebat. Terkadang aku pertjaja apa jang kuutjapkan, terkadang tidak. Terkadang aku hanja mentjoba untuk menjalakan api di bawah semangatku

sendiri. Aku djuga meminjaki otakku dengan menulis artikel. Karena ini terlarang, kupergunakan nama samaran Guntur atau Abdurrachman. Satu kesukaranku ialah karena aku tidak mengetik dan tulisanku jang sangat djelas dan mudah dibatja sudah diketahui orang. Tulisan tangan membukakan watak seseorang. Usaha untuk merobahnja sedikit masih memperlihatkan tulisan jang sarna, karena itu aku merobahnja sama-sekali dengan huruf tjetak atau menulisnja dengan tangan kiri.

Di bulan Mei 1940 Hitler menjerbu Negeri Belanda. Pemerintah segera memanggilku ke markas di Fort Marlborough, sebuah benteng dari batu dan besi menghadap ke sebuah tebing jang tjuram. Muka-muka mereka kelihatan suram. ,,Insinjur Sukarno,” mereka berkata. ,,Kami hendak memperingati kedjadian jang menjedihkan ini. Sebagai satu-satunja seniman di Bengkulu tuan ditundjuk untuk membuat tugu peringatan.”

,,Maksud tuan, setelah menguber-uber saja karena saja menghendaki kemerdekaan untuk rakjat saja, tiba-tiba sekarang meminta saja, sebagai tawanan tuan, untuk membuat tugu karena bangsa lain merebut kemerdekaan negeri tuan?”

,,Ja.”

Betapapun aku berhasrat hendak memuaskan selera seniku, namun apa jang kuperbuat hanjalah menumpukkan tiga buah batu, jang satu di atas jang lain. Dan itulah seluruhnja jang kukerdjakan. Untuk menjatakan pendapat Belanda itu dengan kata-kata manis: mereka djidjik melihatnja. Akan tetapi sebenarnja tidak timbul perasaanku untuk mentjiptakan suatu jang indah bagi mereka.

Menjinggung tentang peperangan, sewaktu masih di Bandung aku telah melihat lebih dulu pengaruh dari ketegangan-ketegangan di Eropa dan berkembangnja Hitlerisme. Pada pertengahan tahun-tahun tigapuluhan aku meramalkan bahwa Djepang akan mengikuti Hitler untuk melawan Inggris dan Amerika di Lautan Teduh dan bahwa dengan lindungan peristiwa ini Indonesia akan memperoleh kemerdekaannja. Sedjak dari waktu itu aku memperhitungkan, kapan perang Asia akan berkobar dan berapa lama perang itu berlangsung dan aku menjirnpulkan, bahwa mata-rantai jang lemah dari rantai imperialisme Djepang adalah Indonesia. Negeri kami jang terbentang luas adalah jang paling mudah untuk diputuskan. Lalu di Flores, di tahun 1938 aku meramalkan bahwa Indonesia akan mendesak ke depan dan memutuskan belenggunja dit ahun 1945. Aku bahkan menulis suatu tjerita sandiwara mengenai kejakinanku berdjudul ,,Indonesia ’45”. Sementara aku menunggu, menahankannja dengan sabar, aku gelisah dan takut.

Aku mendjadi pembantu tetap dari surat-kabar Anwar Tjokroaminoto. Tapi kini aku menulis dengan memakai namaku sendiri, karena walaupun hanja untuk sementara waktu, perasaanku membawaku ke satu pihak jang sama dengan Negeri Belanda. Di bulan Djuli 1941 aku menulis dalam ,,Harian Pemandangan” sebagai berikut:

,,Patriotisme tidak boleh disandarkan pada nasionalisme dengan pengertian kebangsaan jang sempit jang — seperti Italia dan Djerman — meletakkan kepentingan bangsa dan negeri di atas kepentingan kesedjahteraan manusia-manusia didalamnja. Saja berdo’a kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kefasikan untuk mempertjajai fasisme dalam menudju kemerdekaan.

,,Pemboman rumah-rumah, pembunuhan perempuan dan anak-anak, penjerangan terhadap negeri-negeri jang lemah, penangkapan orang-orang jang tidak bersalah, penjembelihan terhadap djutaan orang Jahudi, itulah ISME jang hendak berkuasa sendiri. Fasisme tidak mengizinkan adanja parlemen. Fasisme adalah usaha terachir untuk menjelamatkan kapitalisme.

,,Seluruh manusia harus membentji Hitler-Hitler dan Mussolini-Mussolini jang ada di permukaan bumi ini. Dan pandjinja tjita-tjita Indonesia haruslah Anti-Nazisme dan Anti-Fasisme. Hari ini saja mengangkat pena saja guna memuntahkan saja punja kebentjian terhadap penjakit ini jang mau tidak mau menjeret kita ke dalam peperangan dan bentjana besar. ,,Kebedjatan moral ini tidak sadja menghinggapi orang kulitputih. Akan tetapi Djepangpun dihinggapi oleh nafsu untuk memperoleh kekuasaan ini, jang memerlukan konsesi minjak. Batubara dan minjak-pelumas untuk armadanja dan jang menjebabkan rakjatnja lupa akan kesatriaan mereka dalam usahanja hendak mentjekamkan kukunja kepada saudara-saudaranja. ,,Djepang, itu naga pembawa-bentjana dengan keserakahan untuk mentjaplok dalam waktu jang tidak lama lagi akan terdjun kedalam peperangan buas jang membahajakan perdamaian dan keselamatan bangsa-bangsa Asia dalam perlombaannja melawan Barat. Laksana tiga ekor radja-singa berhadapan satu-sama-lain jang sudah siap untuk menerkam, Inggris siap di Singapura, Djepang mempersiapkan sendjata dalam lingkungan perbatasannja dan di kepulauan Mariana, Amerika dengan benteng-bentengnja di Hawaii, Guam, Manila, Pearl Harbour. ,,Saudara-saudara, waktunja sudah dekat, di saat mana air biru dari Samudra Pasifik akan mendjadi korban berdarah jang tidak ada tandingannja di dalam sedjarah dunia!”

Akan tetapi peperangan ini jang kuperhitungkan akan memenuhi seluruh harapan dan impianku masih djauh di depan. Djadi ketika itu aku menjimpannja dalam pikiranku sadja untuk mempersendjatai raga-ku melawan peperangan jang mengamuk-amuk di dadaku.

Di achir tahun 1941 aku mengawatkan Ratna Djuami dan tunangannja Asmara Hadi, seorang pengikut lamaku, untuk datang ke Bengkulu sehingga kami dapat mempersoalkan kehidupan pribadiku. Kami bertiga berdjalan-djalan sepandjang Bante Pandjang. ,,Kuharapkan kalian mengerti,” aku mengemukakan. ,,Aku ini hanja seorang manusia, Aku ingin kawin lagi. Tjobalah, bagaimana pendapatmu keduanja?”

Asmara Hadi menjatakan, ,,Setjara pribadi saja setudju dengan bapak. Saja mempersamakan bapak dengan Napoleon dan para pemimpin besar lainnja dalam sedjarah, jang— saja batja — setjara fisik sangat kuat. Akan tetapi, dilihat dari segi politik hal ini tidak baik. Sungguhpun bapak diasingkan djauh semendjak tahun 1934, bapak tetap mendjadi lambang kami. Rakjat mendo’akan agar bapak segera bangkit lagi dan memimpin mereka kembali. Dan rakjat tahu dari tulisan-tulisan bapak, bahwa waktunja sudah dekat. Apa kata rakjat nanti kalau bapak sekarang mentjeraikan ibu Inggit di waktu dia sudah tua dan jang setia mendampingi bapak selama masa pendjara dan pembuangan? Bagaimana djadinja nanti?”

,,Tjoba, Umi,” kataku sungguh-sungguh kepada Ratna Djuami, menjebutnja dengan nama ketjilnja. ,,Dapatkah kau memahami kepedihanku ?”

,,Saja sepaham dengan Asmara Hadi. Meskipun hati saja dapat merasakan kepedihan bapak, tapi saja rasa ini akan meruntuhkan bapak dalam bidang politik.”

,,Tapi engkau masih muda. Engkau hendaknja lebih mengerti daripada ibumu,” aku mempertahankan. ,,Dan engkau tidak usah kuatir tentang dirimu. Kalaupun aku mengawini Fatmawati, aku masih tetap mentjintaimu. Gelombang-gelombang jang berbuih putih ini akan mendjadi saksi.”

Sebelum diperoleh suatu keputusan, Djepang menjerbu Sumatra. Harinja adalah 12 Februari 1942.

Bab 17

Pelarian

 

JANG mendjadi sasaran pertama dari pendaratan, tentara Djepang adalah kota Palembang, Sumatera Selatan. Tentara Belanda mengundurkan diri. Dia tidak bertempur. Dia lari tunggang-langgang, Hanja untuk satu hal Belanda tidak lari, jaitu untuk mengawasi Sukarno. Belanda kuatir meninggalkanku, oleh karena Djepang sudah pasti akan menggunakan bakatku untuk melontarkan kembali segala dendam kesumat terhadap Negeri Belanda, dan dengan demikian djuga terhadap Pasukan Sekutu. Merekapun kuatir terhadap masa datang, kalau perang sudah selesai. Lepasnja Sukarno ke tali-hati rakjat jang sudah sangat bergetar, berarti bukan, mempermudah djalan untuk menguasai kembali kepulauan Hindia.

Mereka bahkan lebih menjadari daripadaku, bahwa di Djawa dan dimana-mana rakjat masih belum melupkan Sukano. Rakjat masih menempatkan Sukano di puntjak impian mereka. Boleh djadi ini disebabkan, karena tidak ada tokoh lain jang dapat menduduki tempat Sukarno di dalam hati rakjat. Semendjak aku dibuang, maka pergerakan kebangsaan telah bertjerai-berai. Semua pemimpin dimasukkan ke dalam bui atau diasingkan. Di tahun ’36 sebuah partai jang telah dilemahkan, jaitu Gerindo, bergerak kembali, akan tetapi tidak mempunjai tokoh jang mudah terbakar. Tidak ada pemberontakan rakjat. Apa jang dapat dilakukan oleh massa hanjalah mengingat-ingat kembali waktu jang telah silam. Dan ini memang mereka lakukan.

Selama masa aku dipisahkan dari rakjat, mereka hanja mengenang detik-detik jang memberi pengharapan dan kemenangan di bawah Singa Podium. Telah ternjata di dalam sedjarah agama dan politik, bahwa djika pihak lawan memerangi usaha seorang pemimpin dengan djalan pengasingan atau lain-lain, namanja akan semakin berurat-berakar dalam hati rakjat. Demikian pula halnja dengan Sukarno. Kepopuleranku di kalangan rakjat sampai sedemikian, sehingga nampaknja seolah-olah aku tidak pernah dipisahkan dari mereka itu.

Tersiarlah berita bahwa Djepang sudah bergerak menudju Bengkulu. Sehari sebelum ia menduduki kota ini dua orang polisi dengan tergopoh-gopoh datang ke tempatku.

,,Kemasi barang-barang,” perintahnja. ,,Tuan akan dibawa keluar.”

,,Kapan?”

,,Malam ini djuga. Dan djangan banjak tanja. Ikuti sadja perintah. Tuan sekeluarga akan diangkut tengah malam nanti. Setjara diam-diam dan rahasia. Hanja boleh membawa dua kopor ketjil berisi pakaian. Barang lain tinggalkan. Tuan akan didjaga keras mulai dari sekarang, djadi djangan tjoba-tjoba melarikan diri.”

Sukarti jang berumur delapan tahun itu dapat merasakan ketegangan jang timbul. Karena takut dia bergantung kepadaku dengan kedua belah tangannja. ,,Pegang saja, Oom,” bisiknja. Oom adalah paman dalam bahasa Belanda. Ketika polisi itu meneriakkan perintahnja, aku membelai kepala anak itu untuk. menenangkan hatinja. ,,Boleh saja bertanja kemana kami akan dibawa?” tanjaku.

,,Ke Padang. Tuan akan selamat, karena tentara kita dipusatkan di sana untuk membantu pengungsian. Ribuan pelarian preman dan militer diungsikan dari Padang, jaitu pelabuhan tempat pemberangkatan menudju Australia. ‘Dan djuga telah diatur untuk mengangkut tuan dengan kapal pengungsi jang terachir.”

,,Berapa lama kita di Padang?”

,,Hanja satu malam. Iring-iringan kapal sebanjak tudjuh buah sudah siap menanti dan akan berangkat di hari berikut setelah tuan sampai. Sekarang buru-buru. Kita berlomba dengan waktu.”

Kami mendapat kesempatan hanja beberapa djam untuk berkemas. Tidak ada waktu untuk takut atau bingung. Timbul pertanjaan dalam hati, apakah memang menguntungkan bagiku kalau aku disingkirkan dari pendudukan tentara Djepang. Ataukah suatu kerugian, djika tetap berada dalam tjengkeraman Belanda. Perasaanku katjau-balau. Meninggalkan kota Bengkulu berarti meninggalkan tempat pembuanganku. Mengingat akan hal ini aku gembira. Akan tetapi pergi ke Australia berarti menudju tempat pembuangan jang baru. Kalau ini kuingat, hatiku djadi susah. Sekarang ini, melebihi dari waktu-waktu jang lain, aku tidak ingin meninggalkan tanah-airku jang tertjinta. Bagaimana aku bisa membanting-tulang demi kemerdekaan negeriku dari tempat jang ribuan mil djauhnja.

Kedjadian-kedjadian susul-menjusul begitu tjepat, sehingga tidak tersisa waktu untuk berpikir. Aku hanja berhasil mentjuri waktu lima menit untuk diriku sendiri. Bengkulu kotanja ketjil dan dalam waktu lima menit aku menjelundup ke rumah paman Fatmawati, di mana seluruh keluarga gadis itu berkumpul bersama-sama untuk menguatkan hati mereka dalam menghadapi penjerbuan. Aku mengetuk pintunja dengan lunak dan berbitjara pelahan, ,,Saja Sukarno. Bukalah pintu. Saja datang untuk mengutjapkan perpisahan.”

Aku memperoleh kesempatan selama satu detik jang singkat berhadapan dengan Fatmawati. Kami berpegangan tangan dengan erat dan kataku kepadanja, ,,Hanja Tuhanlah Jang Maha Tahu apa jang akan terdjadi terhadap kita. Mungkin kita tidak akan dapat keluar dari peperangan ini dalam keadaan masih hidup. Mungkin djuga kita terdampar di bagian dunia jang berdjauhan. Akan tetapi kemanapun djalan jang akan kita tempuh, atau apapun jang akan terdjadi terhadapmu dan aku, di manapun kita terkandas, aku menjadari bahwa Tuhan akan memberkati kita dan memberkati ketjintaan kita satu sama lain. Insja Allah, entah kapan …………… entah dimana…………… kita akan berdjumpa lagi.”

Djam sebelas malam kami mendengar, bahwa musuh sudah berada di Lubuklinggau, kota penghubung djalan keretaapi Palembang — Bengkulu. Di tengah malam itu kepala polisi datang dengan diam-diam. Tidak djauh dari rumah kami di belakang semak-belukar dia menjembunjikan sebuah mobil pick-up. Di dalamnja empat orang polisi. Dalam tempo limabelas menit Inggit, Sukarti, aku sendiri, Riwu — pembantu kami berumur duapuluh tiga tahun jang dibawa dari Flores dan tidak mau ketinggalan — dan barang-barang kami semua

dipadatkan dalam kendaraan jang sesak itu.

Dekat rumahku ada dua buah pompa-bensin. Jang satu terletak di Fort Marlborough tidak djauh dari situ; jang satu lagi di pekaranganku sendiri, milik Pemerintah, di bawah serumpun pohon kelapa. Belanda mulai mendjalankan politik bumi-hangusnja. Begitu kami meninggalkan pintu depan, maka persediaan bensin dan minjak pelumas di Fort Marlborough terbang ke udara dengan ledakan jang hebat. Ini sebagai tanda bagi pendjaga kami untuk membakar pula drum-drum di rumahku. Tindakan ini mempunjai tudjuan berganda.

Di samping mentjegah, agar ia tidak djatuh ke tangan musuh, iapun memberikan kesenangan. Ledakannja dapat terdengar ke sekitar sampai bermil-mil dan sedjauh-djauhnja mata memandang di seluruh kota hanja kelihatan lautan api. Dalam lindungan keadaan inilah mereka melarikanku keluar kota Bengkulu. Untuk menghilangkan djedjak, polisi itu mengambil djalan ke arah selatan. Setelah djelas bahwa tidak ada orang jang mengikuti djedjak kami, mereka memutar haluan ke utara menudju Muko-Muko, sekira 240 kilometer dari Bengkulu di mana kami akan bermalam. Selama dalam perdjalanan kami harus mengarungi tigabelas buah sungai jang lebar berlumpur dan banjak buaja. Tidak ada djambatan sama-sekali. Kami menjeberanginja dengan rakit dan perahu jang dibuat oleh rakjat setempat. Di hari berikutnja djam lima sore rombongan jang kelelahan ini sampai di Muko-Muko. Kami bermalam disebuah rumah jang didjaga keras oleh polisi. Djam tiga pagi kami dibangunkan lagi.

,,Mari kita landjutkan perdjalanan,” gerutu salah-seorang jang bertugas. ,,Sekarang berangkat.”

,,Kenapa begini pagi?” tanjaku.

,,Rantau kita masih djauh dan hari ini harus sampai sedjauh mungkin sebelum matahari membakar kepala. Kalau siang sedikit, kita tidak akan tahan panasnja matahari.”

Sesampai di djalanan baru kami ketahui, bahwa pengiring kami dari Bengkulu sudah digantikan oleh enam orang pengawal bermuka kaku dari Muko-Muko. Selain dari membawa tempat-minum mereka menjandang senapan dan pistol. Ada lagi perobahan jang lain. Kendaraan kami sudah diganti dengan gerobak-sapi. Ia dimuat dengan persediaan makanan. Beras dan kaleng-kaleng. Melebihi persediaan untuk sehari. Tjukup untuk seminggu, kukira.

,,Perdjalanan selandjutnja kita tempuh dengan djalan-kaki,” kata seorang jang menjandang tempat-minum.

Isteriku mengangkat kepala karena kaget. ,,Djalan-kaki sampai ke Padang?”

,,Betul.”

,,Sedjauh tigaratus kilometer?” tanjanja kehabisan napas.

,,Ja, betul,” orang itu memotong. ,,Hajo kita djalan.”

,,Kenapa tidak dengan mobil sadja?” tanjaku, ketika kami menaikkan Sukarti dan barang ke atas gerobak.

,,Kita melalui hutan lebat, rapat dan susah didjalani. Satu-satunja tjara supaja sampai di Padang dengan menempuh djalan-setapak jang berkelok-kelok berliku-liku dan di beberapa tempat susah dilalui.”

Aku bisa tahan berdjalan kalau dibandingkan dengan jang lain, oleh karena aku selalu latihan. Akan tetapi Inggitlah jang menimbulkan kekuatiranku. ,,Djangan kuatir,” aku membudjuknja. ,,Polisi-polisi jang bebal inipun bukan pedjalan marathon, sama sadja dengan kau.”

Betapapun kekuatiran jang timbul, bagi kami tidak ada pilihan lain. Di belakang kami, tentara Djepang. Di depan, tentara Belanda. Di kiri-kanan kami enam orang polisi pakai senapan, mendampingi kami setiap saat siang dan malam. Djadi kami berdjalanlah. Terus berdjalan. Tak henti-hentinja berdjalan. Menempuh hutan jang lebat di sepandjang pantai Barat Sumatera Selatan. Aku memakai sepatu. Isteriku hanja pakai sandal terbuka seperti jang biasa dipakai oleh wanita Indonesia, dan tidak bisa diharapkan dapat meringankan perdjalanan berhari-hari melalui hutan rotan dan rumput liar jang kering dan menggores-gores kaki setinggi lutut bermil-mil djauhnja. Kaki Inggit letjet dan bengkak. Kadang-kadang ia naik gerobak-sapi itu. Akan tetapi djalannja tjuram dan achirnja bukan sapi itu jang menolong kami, akan tetapi akulah jang harus menolong sapi itu. Aku menariknja. Dan menolaknja. Seringkali binatang itu hanja berdiri sadja dan menantikan Sukarno menarik gerobak itu seorang diri.

Di tengah hutan jang demikian sesekali kami mendjumpai sebuah pondok jang terpentjil kepunjaan pemburu atau pentjari kajubakar. Djam enam sore kami berhenti di pondok seperti itu. Kami berada di tengah-tengah pesawangan, dan kalaupun disuruh berdjalan terus tak seorangpun diantara kami jang masih sanggup berdjalan. Kami terlalu lelah. Dan kaki bengkak-bengkak oleh gigitan serangga. Sukarti tidak memakai topi, badannja terbakar oleh terik matahari. Pondok itu berbentuk rumah-panggung, supaja terhindar dari antjaman binatang. Sekalipun demikian kami dapat mentjium adanja tamu-tamu jang tidak diundang. Seekor ular mendjalar melalui kaki. Tjitjak berkeliaran di atas atap. Dia tas lantai terhampar sehelai tikar kasar. Aku terkapar di atas tikar itu. Pahaku mendjadi bantal Inggit. Dan Sukarti menggolekkan kepalanja di atas badan ibunja. Bunji binatang buas di malam hari di sekeliling tempat pelarian kami membikin badan djadi dingin. Tetangga kami adalah harimau, beruang, kutjing-hutan, rusa, babi-hutan dan monjet tak terhitung banjaknja. Teriakan monjet jang membisingkan di atas pohon-pohon kaju tidak henti-hentinja. ,,Radja-hutan tidak akan menjerang, ketjuali kalau dia lapar,” tjerita polisi jang menjandang tempat-minum. Kami mendo’a, semoga binatang-binatang itu tidak mengingini kami. Sebagian besar dari keberanianku adalah berkat kawal-kehormatan kami jang berkeliling tidak lebih dari beberapa kaki djauhnja.

Di tengah malam Sukarti mengintip dipinggir teratak itu jang tidak berpintu. ,,Saja takut, Oom,” dia menggigil. ,,Oom tidak takut ?”

,,Ja, Karti,” bisikku menenangkan hatinja. ,,Oom takut. Tapi polisi ini membikin Oom berani.” Aku merangkak dengan Karti ke bagian pinggir dan mengintip ke bawah. ,,Kaulihat keenam orang itu? Di tengah malam sunjipun polisi mendjaga berganti-ganti pakai bedil. Polisi berdjaga-djaga. Mereka lebih takut lagi daripada kita kalau tidak menjelamatkan kita dari binatang buas. Sangat besar tanggung-djawab polisi untuk menjerahkan Sukarno hidup-hidup ke tangan pembesar di Padang. Karena itu mari, marilah kita tidur dan biarlah polisi mendjaga keselamatan kita. Ja?”

Di subuh itu kami sarapan dengan buah-buahan dari hutan, nasi dari persediaan jang dibawa oleh pengawal kami dan singkong sedikit. Hari masih gelap ketika kami kembali mengajunkan langkah. Mendjelang siang kami djumpai sebuah sungai mengalir. Mandilah kami dengan pakaian jang lekat di badan di air yang djernih dan sedjuk itu dan melepaskan dahaga sepuas-puas hati. Masuk sedikit lagi ke dalam semak-belukar, dikelilingi oleh sawah jang terhampar, ada sebuah dangau. Kami memasuki dangau itu untuk tidur-tiduran sekedar pelepas kelelahan. Kami dapat mendengar gemerisik binatang-liar pada dedaunan jang tidak bergerak dan kami melangkahi djedjak harimau jang tak terhitung banjaknja, namun satu-satunja binatang jang menghalangi djalan kami ialah siamang. Kami melihat siamang hampir sebesar orang-hutan berdiri tegak seperti manusia. Berdiri di atas kakinja jang belakang binatang-binatang itu mendekati kami, pada waktu kami lewat dengan langkah jang berat. Akan tetapi kami tidak diapa-apakan, selain daripada djantung kami jang memukul-mukul dada dengan keras.

Dengan menggunakan korek-api jang dibawa oleh polisi, kami memasak nasi dalam kaleng, memasukkan sajuran ke dalamnja dan menambahkan ikan jang ditangkap dari sungai. Ini dibagi di antara kami jang sepuluh orang. Makanan ini tidaklah mewah, tapi kami djuga tidak mati kelaparan karenanja. Inggit terlalu amat lelah, sehingga pada suatu kali ia makan sambil berdiri. ,,Aku terlalu tjapek,” ia mengeluh pandjang sambil bersandar lesu ke tebing suatu lurah jang sedang kami lalui. ,,Kalau aku duduk, takut nanti tidak bisa lagi berdiri.”

Di hari ketiga salah-seorang polisi Belanda menjerah karena putus asa dan kehabisan tenaga. Kami hanja memikirkan diri kami sendiri, tetapi, di samping matahari jang membakar, haus, kehabisan tenaga dan gangguan binatang, para pengiring kami harus pula mengawal kami. Mereka tidak ada melakukan tindakan jang kedjam terhadap kami. Sekalipun kami adalah orang tawanan dan orang jang menawan, kami semua sama merasakan pahit-getirnja perdjalanan. Tetapi djarang terdjadi pertjakapan. Tiada manusia jang lewat dan kami tidak merasakan kegembiraan. Aku sendiri berusaha untuk berolok-olok. Sudah mendjadi pembawaanku untuk selalu bergembira, betapapun suasananja. ,,Sekalipun ada penjerbuan, akan tetapi saja berterimakasih kepada saudara-saudara, karena sudah memperlihatkan daerah pedalaman ini kepada saja,” aku berolok-olok.

Seorang jang pendek dan botak tersenjum, ,,Selama empat tahun di Bengkulu apakah tuan tidak pernah melangkah keluar batas jang didjaga kuat untuk tuan?”

,,Ada, sekali. Saja membuat suatu tjerita sandiwara jang dipertundjukkan pada malam amal di suatu tempat di luar batas. Ini terdjadi tepat setelah Residen baru menggantikan pedjabat lama jang saja kenal baik. Orangnja sedjenis manusia jang menghamba kepada.peraturan. Saja bertanja kepadanja, ‘Tuan Residen, dapatkah tuan mengizinkan saja untuk pergi ke tempat ini jang terletak sedikit diluar batas?” ,,Untuk memutuskan sendiri mengenai persoalan jang sangat penting ini rupanja tidak mungkin baginja.

Karena itu dia bersusah-pajah mengirim telegram kepada Gubernur Djendral di Djawa. Lalu apa djawab Gubernur Djendral. Dia menelegram kembali, menjatakan kegembiraannja mendengar semua itu. Katanja, ‘Saja gembira mendengar bahwa Ir. Sukarno tidak lagi berpolitik dan memusatkan perhatiannja pada pertundjukan sandiwara? Apakah ini tidak menggelikan?!”

Polisi itu terpaksa tertawa menundjukkan penghargaan. Ketika Riwu meluntjur dari pohon kelapa dan membelah kelapa sehingga kami dapat menikmati airnja jang segar, aku mentjeritakan kisah Manap Sofiano, seorang pemain jang mendjalankan peran prima donna dalam pertundjukanku.

,,Suatu hari dia membeli piano dalam lelang dan menjampaikan kepada tukang-lelang, ‘Sukarno akan mendjamin pembajarannja.’ ‘O, baik,’ djawab orang itu setudju, ‘kalau tuan kawan dari Sukarno, baiklah.’

Tiga bulan kemudian Sofiano mengepak barang-barangnja hendak pindah. Sebelum dia pergi saja katakan, ‘Hee, tinggalkan dulu surat perdjandjian jang diketahui oleh kepala kampung dan jang menjatakan bahwa engkau berdjandji hendak membajarnja. Dengan begitu, kalau sekiranja kau lupa, saja mempunjai dasar jang sjah.’

,,Setelah berbulan-bulan tidak ada kabar-berita dari Sofiano, saja menulis surat kepadanja, ‘Sudah sampai waktunja. Bajar sekarang, kalau tidak, akan saja adjukan ke depan pengadilan.’ Sofiano kemudian membalas, ‘Saja tidak menjusahkan diri saja sendiri, akan tetapi saja mempunjai lima orang anak. Kalau saja masuk pendjara, mereka akan terlantar.’

,,Tentu saja tidak mau menjakiti anak-anak jang tidak bersalah, djadi apa lagi jang dapat saja lakukan? Saja kemudian membajar utang sedjumlah 60 rupiah itu. Di samping itu,” aku tersenjum meringis, ,,dia seorang pemain jang baik, sehingga saja dapat mema’afkan segala-galanja.”

Dengan pertjakapan ringan demikian ini aku mentjoba menaikkan semangat pasukan kami jang melarat itu. Di hari jang keempat kami terlepas dari daerah hutan dan menumpang bis menudju kota. Bertepatan dengan kedatanganku, kapal jang direntjanakan untuk mengangkut kami telah meledak mendjadi sepihan dekat pulau Enggano, tidak djauh dari pantai. Tentara Djepang berada dalam djarak beberapa hari perdjalanan di belakang kami. Angkatan laut Djepang sudah berada beberapa mil dari kami. Kota Padang diselubungi oleh suasana chaos, suasana bingung dan ragu. Hanja dalam satu hal orang tidak ragu lagi, jaitu bahwa Belanda penakluk jang perkasa itu sedang dalam keadaan panik. Para pedagang meninggalkan tokonja. Terdjadilah perampokan, penggarongan, suasana gugup. ,,Lihat,” kata seorang Belanda, jang tingginja satu meter delapan puluh lima, mengedjek ketika dia hendak lari membiarkan kami tidak dilindungi, ,Belum lagi kami pergi, kamu orang Bumiputera sudah tidak sanggup mengendalikan diri sendiri.”

Tentara Belanda mentjoba untuk mengangkutku dengan pesawat terbang, akan tetapi semuanja terpakai atau rusak. Persoalan Negeri Belanda sekarang bukan bagaimana menjelamatkan Sukarno. Persoalan Negeri Belanda sekarang adalah bagaimana menjelamatkan dirinja sendiri. Mereka seperti pengetjut, mereka lari pontang-panting. Belanda membiarkan kepulauan ini dan rakjat Indonesia djadi umpan tanpa pertahanan.

Tidak ada jang mempertahankannja, ketjuali Sukarno. Negeri Belanda membiarkanku tinggal. Ini adalah kesalahan jang besar dari mereka.

Sesampai di hotel aku mengatakan pada Inggit, ,,Kau, Riwu, dan Sukarti tinggal dulu di sini.”

Di mana-mana orang berlari dan berteriak dan membuat persiapan terburu-buru pada detik-detik terachir.

,,Kau mau kemana?” tanja Inggit gemetar ketakutan.

,,Kawanku Waworuntu tinggal disini. Aku harus mentjarinja dan berusaha mentjari tempat tinggal.”

Waworuntu menjambutku dengan tangan terbuka. Dia mernelukku. ,,Sukarno, saudaraku,” dia berteriak dan airmata mengalir ke pipinja. ,,Saja mendapat rumah bagus di sini dan banjak kamarnja, tapi saja sendirian sadja. Isteri saja dan anak-anak diungsikan dan tidak ada orang tinggal dengan saja. Bawalah keluarga Bung Karno ke sini …….. bawalah ke sini dan anggaplah ini rumah Bung sendiri.” Orang jang baik hati ini dengan kemauannja sendiri pindah dari kamar-tidurnja jang besar di depan di sebelah ruang-tarnu, dan mengosongkannja untuk Inggit dan aku.

Ini terdjadi beberapa hari sebelum Balatentara Keradjaan Dai Nippon menduduki Padang. Ketika aku berdjalan-djalan di sepandjang djalan aku menjadari, bahwa saudara-saudaraku jang terlantar, lemah, patuh dan tidak mendapat perlindungan perlu dikurnpulkan. Tidak ada seorangpun jang mengawasinja. Tidak seorangpun, ketjuali Sukarno. Tindakan-tindakan jang benar adalah usaha untuk memenuhi bakti kepada Tuhan. Aku menjadari, bahwa waktunja sudah datang lagi bagiku untuk terus madju dan mendjawab panggilan itu. Segera aku mengambil oper tampuk pimpinan.

Di sana ada suatu organisasi dagang setempat. Aku menemui ketuanja dan dia berusaha mengumpulkan orang-orangnja. Kemudian aku menjuruh Waworuntu ke satu djurusan dan Riwu ke djurusan lain untuk mengumpulkan jang lain. Diadakanlah rapat umum di lapangan pasar. Di sana aku membentuk Komando Rakjat jang bertugas sebagai pemerintahan sementara dan untuk mendjaga ketertiban.

,,Saudara-saudara,” aku menggeledek dalam pidatoku jang pertama semendjak sembilan tahun, ,,Saja minta kepada saudara-saudara untuk mematuhi tentara jang akan datang. Djepang mempunjai tentara jang kuat. Sebaliknja kita sangat lemah. Tugas saudara-saudara bukan untuk melawan mereka. Ingatlah, kita tidak mempunjai sendjata. Kita tidak terlatih untuk berperang. Kita akan dihantjur-leburkan, djikalau kita mentjoba-tjoba untuk melakukan perlawanan setjara terang-terangan.

,,Orang jang tidak bersendjata tidak mungkin melawan pradjurit-pradjurit jang puluhan ribu, akan tetapi sebaliknja ingatlah saudara-saudara, sekalipun semua tentara dari semua negeri di seluruh djagad ini digabung mendjadi satu tidak akan mampu untuk membelenggu satu djiwa jang tunggal, karena ia telah bertekad untuk tetap merdeka. Saudara-saudara, saja bertanja kepada saudara-saudara semua: Siapakah jang dapat membelenggu suatu rakjat djikalau semangat rakjat itu sendiri tidak mau dibelenggu?

,,Kita harus mentjari kemenangan jang sebesar-besarnja dari musuh ini. Maka dari itu, saudara-saudara, hati-hatilah. Rakjat kita harus diperingatkan supaja djangan mengadakan perlawanan. Walaupun bagaimana, hindarkanlah pertumpahan darah di saat-saat permulaan. Djangan panik. Saja ulangi: djangan panik. Ketentuan pertama jang diberikan oleh pemimpinmu adalah untuk mentaati orang Djepang. Dan pertjaja. Pertjaja kepada Allah Subhanahuwata’ala, bahwa Ia akan membebaskan kita.”

Rapat itu diachiri dengan do’a bersama jang kupimpim sendiri sebagai Imam. Orang Islam tidak dapat mengchotbahkan atau mengadibkan isi daripada do’a. Ia harus pasti. Kata demi kata. Sampai pada satu titik, disebabkan karena dadaku terlalu bergolak, aku lupa kata-kata dari ajat selandjutnja dan di hadapan ribuan orang jang menunggu-nunggu landjutannja aku mendesis kepada seorang Hadji jang duduk bersila dekat itu, ,,Ehh — apa lagi terusnja?”

Do’a itu berachir, rakjat bubar, aku kembali ke rumah Waworuntu dan menunggu. Aku tidak perlu lama menunggu. Seminggu kemudian mereka datang. Waktu itu djam empat pagi. Mungkin djuga djam lima. Aku berbaring di tempat-tidur, akan tetapi aku tidak tidur. Pikiranku tegang. Mataku njalang sama-sekali. Malam itu adalah malam jang sunji sepi. Tiada terdengar suara jang gandjil. Sesungguhnja, pun tidak terdengar suara jang biasa. Keluargaku tidur dengan tenang. Tiba-tiba mereka terbangun oleh bunji jang semakin

santer. Mula-mula menderu seperti guntur. Suara jang menggulung-gulung itu semakin keras, semakin keras, semakin keras lagi. Bunji jang menakutkan dan membikin badan djadi dingin-membeku adalah gunturnja kereta-kereta berlapis-badja dan tank-tank dan balatentara berdjalan-kaki berbaris memasuki kota Padang. Djepang sudah datang.

 

 

Bab 18

Djepang Mendarat

 

UDARANJA panas malam itu, akan tetapi aku berbaring di sana dengan badan gemetar. Aku melihat sambaran petir ini sebagai gemuruhnja pukulan genderang kebangkitan. Ia adalah tanda berachirnja suatu djaman. Esok paginja aku bangun di waktu subuh dan berdjalan dengan tenang sepandjang djalanan kota. Djepang membuka toko-toko dengan paksa tanpa ada jang mendjaga. Perbuatan ini menggerakkan hati rakjat untuk menjerbu isi toko-toko itu. Kesempatan pertama bagi rakjat jang miskin untuk menikmati kemewahan.

Dalam pada itu Djepang dengan tjerdik memerintahkan polisi Belanda untuk menertibkan keadaan di djalan-djalan, dengan demikian menambah kebentjian terhadap kekuasaan kulitputih. Di setiap djalanan Djepang disambut dengan sorak-sorai kemenangan.

,,Apa sebabnja ini!” tanja Waworuntu.

,,Rakjat bentji kepada Belanda. Lebih-lebih lagi karena Belanda lari terbirit-birit dan membiarkan kita tidak berdaja. Tidak ada satu orang Belanda jang berusaha untuk melindungi kita atau melindungi negeri ini. Mereka bersumpah akan bertempur sampai tetesan darah jang penghabisan, tapi njatanja lari ketakutan.”

,,Tjoba pikir,” kataku ketika kami melangkah pelahan. ,,Faktor pertama jang menjebabkan penjambutan jang spontan ini adalah adanja perasaan dendam terhadap tuan-tuan Belanda, jang telah dikalahkan oleh penakluk baru. Kalau engkau membentji seseorang tentu engkau akan mentjintai orang jang mendupaknja keluar. Di samping itu, tuan-tuan kulitputih kita jang sombong dan mahakuat itu bertekuk-lutut setjara tidak bermalu kepada suatu bangsa Asia. Tidak heran, kalau rakjat menjambut Djepang sebagai pembebas mereka.”

Waworuntu, kawan baik dan kawanku jang sesungguhnja, jang sekarang sudah tidak ada lagi, melihat tenang kepadaku.

,,Dan apakah Bung djuga menjambutnja sebagai pembebas?

,,Tidak! Saja tahu siapa mereka. Saja sudah melihat perbuatan mereka dimasa jang lalu. Saja tahu bahwa mereka orang Fasis. Akan tetapi sajapun tahu, bahwa inilah saat berachirnja Imperialisme Belanda. Pun seperti jang saja ramalkan, kita akan mengalami satu periode pendudukan Djepang, disusul kemudian dengan menjingsingnja fadjar kemerdekaan, di mana kita bebas dari segala dominasi asing untuk selama-lamanja.”

Di seberang djalan kami lihat serdadu Djepang memukul kepala seorang Indonesia dengan popor senapan.

,,Lalu maksud Bung akan memperalat Djepang” tanja Waworuntu dengan tjepat.

Kami terus berdjalan. Kami tidak dapat berbuat apa-apa.

,,Sudah tentu,” djawabku dengan suara redup. ,,Saja mengetahui semua tentang kekurang-adjaran mereka. Saja mengetahui tentang kelakuan orang Nippon di daerah pendudukannja — tapi baiklah. Saja sudah siap sepenuhnja untuk mendjalani masa ini selama beberapa tahun. Saja harus mempertimbangkan dengan akal kebidjaksanaan, apa jang dapat dilakukan oleh Djepang untuk rakjat kita.”

Kita harus berterimakasih kepada Djepang. Kita dapat memperalat mereka. Kalau manusia berada dalam lobang Kolonialisme dan tidak mempunjai kekuatan jang radikal supaja bebas dari lobang itu atau untuk mengusir pendjadjahan, sukar untuk mengobarkan suatu revolusi. Waworuntu memandangku, matanja terbuka lebar. Kebenaran kata-kata itu nampak meresap dalam hatinja.

,,Tjoba pikir, Bung,” kataku, ,,Keadaan chaos, suasana kebingungan dan perasaan jang menjala-njala ini, — ataupun perobahan ini sendiri — perlu sekali guna mentjapai tudjuan, untuk mana saja membaktikan seluruh hidupku.”

Kami terus berdjalan, bungkem. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Kemudian kawanku memberikan pendapat, ,,Mungkin rakjat kita akan selalu memandangnja sebagai pembebas dan tetap tinggal pro-Djepang, dan oleh sebab itu akan mempersulit usaha untuk melepaskan negeri kita dari tjengkeramannja.”

,,Tidak mungkin,” djawabku menerangkan. ,,Pandirlah suatu bangsa pendjadjah kalau mereka mengimpikan akan ditjintai terus atau mengchajalkan bahwa masjarakat jang terdjadjah akan tetap puas di bawah telapak dominasinja. Tidak pandang betapa lemah, mundur atau lalimnja pendjadjah jang lama dan tidak pandang betapa baiknja pendjadjah jang baru dalam tingkah-laku atau ketjerdasannja, maka rakjat jang sekali sudah terdjadjah selalu menganggap hilangnja dominasi asing sebagai pembebasan. Inipun akan terdjadi di sini.”

,,Kapan ini akan terdjadi?”

,,Kalau kita sudah siap,” kataku ringkas.

Aku tidak mengadakan gerakan. Aku hanja menunggu. Sehari kemudian, Kapten Sakaguchi, Komandan dari daerah Padang datang ke rumah Waworuntu dan memperkenalkan dirinja. Berbitjara dalam bahasa Perantjis, ia berkata, ,,Est-ce vous pouves parler Francais “

,,Oui,” djawabku. ,,Je sais Francais.”

,,Je suis Sakaguchi,” katanja.

“Bon,” kataku.

Bungkem sesaat, lalu, ,,Vous etes Ingenieur Sukarno, n’est-ce pa?”

,,Oui. Vous avez raison.”

Menundjukkan tanda-pengenal resminja ia menerangkan, ,,Saja anggota dari Sendenbu, Departemen Propaganda.”

,,Apakah jang tuan kehendaki dari saja?” aku bertanja dengan hati-hati.

,,Tidak apa-apa. Saja mengetahui bahwa saja perlu berkenalan dengan tuan dan begitulah saja datang. Hanja itu. Saja datang bukan menjampaikan perintah kepada tuan.”

Sakaguchi tersenjum lebar. Agaknja tidak perlu bagi seorang penakluk untuk bersikap begitu menarik hati karena itu aku bertanja, ,,Mengapa tuan djustru datang kepada saja?”

,,Menemui tuan Sukarno jang sudah terkenal adalah tugas saja jang pertama. Kami mengetahui semua mengenai tuan. Kami tahu tuan adalah pemimpin bangsa Indonesia dan orang jang berpengaruh.”

,,Itukah sebabnja tuan menemui saja disini, dan bukan meminta saja datang ke kantor tuan?”

,,Betul,” ia membungkuk. ,,Suatu kehormatan bagi kami untuk menghargai tuan sebagaimana mestinja. Tuan Sukarno terkenal di seluruh kepulauan ini.”

,,Boleh saja bertanja dari mana tuan mendapat keterangan ini?”

,,Tuan lupa, tuan Sukarno, sebelum perang banjak orang Djepang tinggal di sini dan banjak jang kembali ke sini dalam tentara Diepang.”

,,Oo.”

,,Kami mempunjai djaring mata-mata jang paling rapi. Kami mengetahui segala-galanja mengenai semua orang, begitu pula tempat-tempatnja. Segera setelah menduduki Bengkulu kami menjelidiki di mana tuan berada. Tindakan kami, jang pertama-tama ialah untuk datang kepada tuan.”

,,Dan tindakan jang kedua?”

,,Mendjaga tuan.”

Ketika tentara Djepang datang, Padang mengibarkan bendera Merah-Putih. Rakjat menjangka mereka ,,dibebaskan”. Setelah berabad-abad larangan, sungguh menggetarkan hati menjaksikan bendera kami Sang Merah-Putih jang sutji itu melambai-lambai dengan megahnja. Akan tetapi tidak lama, segera keluar pengumuman jang ditempelkan di pohon-pohon dan di depan toko-toko, bahwa hanjalah bendera Matahari-Terbit jang boleh dikibarkan. Serentak dengan kedjadian ini, jang terasa sebagai suatu tamparan, Djepang menguasai surat-suratkabar. “Pembebasan” kota Padang tidak lama umurnja.

Aku pergi ke kantor Sakaguchi dan minta agar perintah penurunan bendera itu diundurkan. ,,Perintah ini sangat berat untuk kami terima dan akan mempersulit keadaan,” kataku. ,,Kalau tidak dilakukan setjara sebidjaksana mungkin hal ini dapat memberi akibat jang serius untuk kedua belah pihak.”

Sakaguchi menundjukkan bahwa ia mengerti persoalan itu, akan tetapi memperingatkan. ,,Barangkali, tuan Sukarno, hendaknja djangan terlalu menunda-nunda hal ini.”

Ini adalah hari jang gelap bagi rakjat dan bagi Sukarno. Mula-mula aku pergi ke mesdjid dan aku sembahjang.

Kemudian dalam suatu rapat aku menginstruksikan kepada saudara-saudaraku tuntuk menurunkan bendera sampai ,,datang waktunja di mana kita dapat mengibarkan bendera kita sendiri, bebas dari segala dominasi asing.”

Setiap bendera turun ke bawah. Aku bentji kepada Hitler, akan tetapi kedjadian ini dengan tidak sadar mengingatkan daku pada salah satu utjapannja: Gross sein heisst es Massen bewegen können. Besarlah seseorang jang mampu menggerakkan massa untuk bertindak. Kalau bukan Sukarno jang berbitjara, mungkin mereka akan berontak, karena terlalu tiba-tiba seperti tersentak dari tidur mereka menjadari, bahwa putera-putera dari negara Matahari-Terbit bukanlah pahlawan-pahlawan sebagaimana mereka bajangkan. Dan aku kuatir akan terdjadinja pemberontakan. Kami adalah rakjat jang tidak berpengalaman untuk pada saat itu biasa menendang kekuatan jang terlatih baik seperti tentara Djepang.

Tiga hari kemudian Sakaguchi datang lagi. Sekali lagi kami berbitjara dalam bahasa Perantjis. Berbulan-bulan kemudian aku baru mengetahui, bahwa Sakaguchi pandai berbahasa Indonesia. ,,Monsicur Sukarno,” katanja ,,saja membawa pesan. Le Commandant de Bukittinggi memohon kehadiran tuan.”

“Memohon?” aku mengulangi.

,,Oui, Monsieur. Memohon.”

Dari sikap kapten Sakaguchi jang merendah djelaslah, bahwa ketakutan Belanda akan mendjadi kenjataan. Djepang akan mengusulkan agar supaja aku bekerdja dengan mereka. Komandan dari divisi jang kuat itu jang memasuki kota Padang di malam pendaratan adalah Kolonel Fujiyama, Komandan Militer kota Bukittinggi. Dialah jang minta disampaikan supaja ,,memohon” tuan Sukarno untuk datang. Tuan Sukarnopun datang.

Kami berangkat dengan kereta-api dan dengan tjepat tersiar kabar, bahwa Sukarno ada dalam kereta-api. Mereka jang berada dalam gerbong kami menjampaikan kepada gerbong-gerbong jang lain. Ketika berhenti di Padangpandjang setiap orang di pelataran stasiun mulai bersorak memanggil Sukarno. Gerbong kami diserbu orang, sehingga aku terpaksa mengeluarkan kepalaku di djendela dan berpidato dengan singkat untuk menenangkan rakjat. Tak satupun dari ini jang tidak berkesan pada Sakaguchi.

Djauhnja satu setengah djam perdjalanan kekota pegunungan jang sedjuk itu. Pusat dari Minangkabau ini terkenal dengan bendinja jang riang-menjenangkan dan digunakan sebagai alat angkutan di djalanan jang mendaki. Dan ia terkenal dengan rumah-adat bergondjong bewarna-warni, simbolik daripada seni-bangunan Minangkabau.

Bukittinggi adalah kota jang sangat penting. Letaknja strategis, dan hanja dapat ditjapai dari tiga djurusan, dan letaknja di daerah pegunungan itu sedemikian, sehingga penduduknja menguasai semua lalu-lintas keluar-masuk. Markas Kolonel Fujiyama, gedung besar bekas kepunjaan seorang Belanda jang kaja, pun terletak setjara strategis. Letaknja ketinggian di atas puntjak Lembah Ngarai, sebuah lembah jang dalam dengan bukitnja jang tinggi pada kedua belah sisinja berbentuk dinding-batu terdjal dan gundul mendjulang ke atas. Di bawah, di dalam lembah itu merentang seperti pita sebuah sungai jang dengan seenaknja mentjari djalannja sendiri. Di sekeliling ngarai itu tumbuh pepohonan dan tumbuhan menghidjau dengan lebat. Kalau orang memandang keluar, dari djendela rumah Fujiyama, beribu-ribu kaki djauhnja ke bawah terlihatlah suatu pemandangan indah jang sangat mengagumkan.

Di sanalah aku mengadakan pertemuan jang sampai sekarang tidak banjak orang mengetahuinja, akan tetapi sesungguhnja merupakan pertemuan jang maha-penting. Pertemuan jang sangat besar artinja. Pertemuan jang menentukan strategiku selandjutnja selama peperangan. Pertemuan jang sampai sekarang memberikan tjap kepadaku sebagai ,,kollaborator Djepang”. Komandan Fujiyama berbitjara dalam bahasanja. Di dalam ruangan itupun hadir seorang djurubahasa berkebangsaan Amerika jang dibawa mereka ke Singapura. ,,Tuan Sukarno,” kata Fujiyama sambil menjilakanku duduk. ,,Peperangan ini bertudjuan untuk membebaskan Asia dari penaklukan kolonialisme Barat.”

Aku menjadari, bahwa mereka sedang menduga isi hatiku dan aku memilih kata-kataku dengan hati-hati sekali. Setiap patah kata jang keluar dari mulutku akan mereka saring, mereka timbang-timbang dan mereka udji. Aku mengetahuinja. ,,Orang Djepang mempunjai satu sembojan jang berbunji, ‘Asia. Bebas’.

Benarkah ini?” tanjaku setelah beberapa saat.

,,Ja, tuan Sukarno,” sahutnja sambil menjodorkan rokok kepadaku. ,,Itu benar.”

Dengan lamban kuisap rokok itu dan kemudian berkata seperti tidak atjuh, ,,Dan apakah tuan bermaksud hendak berpegang pada sembojan itu?”

,,Ja, tuan Sukarno, kami akan berpegang pada sembojan itu,” katanja memandang kepadaku dengan teliti.

,,Jah, kalau begitu, apakah tuan berpendapat bahwa Indonesia adalah satu bagian dari Asia?”

,,Tentu, tuan Sukarno.”

Aku menarik napas pandjang. ,,Kalau demikian, saja dapat menarik kesimpulan bahwa tudjuan tuan djuga hendak membebaskan Indonesia, betulkah itu?”

Belum sampai satu debaran djantung antaranja, ,,Ja, tuan Sukarno. Tepat sekali.”

Sementara berlangsung pembitjaraan tingkat tinggi ini seorang pradjurit Djepang berperawakan ketjil beringsut menjuguhkan air teh. Sjarafku sangat tegang dan aku mentjarik-tjarik kuku djariku, suatu kebiasaanku kalau sedang gelisah. Kami menunggu sampai bunji mangkok teh jang gemerinting tidak terdengar lagi. Bahkan setelah pradjurit itu pergi, bunji gemerintjing seolah-olah masih sadja mengapung di udara jang hening. Setidak-tidaknja, dalam diriku. Gigiku dan tulang-belulangku semua gemerintjing. Hidup atau matinja tanah-airku tergantung kepada sukses atau tidaknja pembitjaraan ini. Setelah dia pergi, Fujiyama kemudian melandjutkan. ,,Di dalam rangka pengertian inilah kami ingin mengetahui, apakah tuan mempunjai keinginan untuk memberikan bantuan kepada tentara Dai Nippon.”

,,Dengan tjara bagaimana?”

,,Dalam memelihara ketenteraman.”

,,Bolehkah saja bertanja, bagaimana tjaranja saja seorang diri dapat memelihara ketenteraman untuk tentara Djepang?”

Panglima Tentara ke 25 dari Angkatan Darat Keradjaan Djepang ini tersenjum. Pada tingkatannja mereka banjak melakukan seperti ini. ,,Kami mengetahui, bahwa Sukarno sendirilah jang menguasai massa rakjat. Karena itu, tjara jang paling mudah untuk mendekati rakjat adalah mendekati Sukarno. Tugas kami bukanlah untuk mendekati rakjat Indonesia jang berdjuta-djuta. Tugas kami adalah untuk memenangkan satu orang Indonesia. Jaitu, tuan sendiri. Harapan kami agar tuan mendekati rakjat jang djutaan itu untuk kami.”

Sikapnja memperlihatkan dengan djelas, bahwa dia harus memenangkan Sukarno. Di luar, di djalanan rakjat kami tidak lagi bersorak-sorai begitu keras menjambut rakjatnja. Kegembiraan jang pertama sudah mulai luntur. Dia tahu, kalau dia berbalik menentangku dan melukaiku dengan salahsatu djalan, kalau dia mentjoba-tjoba memaksaku, seluruh rakjat akan bangkit melawannja. Djepang memerlukan tenagaku dan ini kuketahui. Akan tetapi akupun memerlukan mereka guna mempersiapkan negeriku untuk suatu revolusi. Ini tidak obahnja seperti permainan volley. Hanja jang dipertarungkan itu adalah kemerdekaan. Kolonel Fujiyama pertama memukul bola. Sekarang giliranku. Tuhan, aku mendo’a dalam hati, tundjukkanlah kepadaku, djalan jang benar.

,,Nah,” kataku. ,,Sekarang saja mengetahui apa jang tuan inginkan, saja kira tuan mengetahui keinginan saja.”

,,Tidak, tuan Sukarno, saja tidak tahu. Apakah sesungguhnja jang dikehendaki oleh rakjat Indonesia.?”

,,Merdeka.”

,,Sebagai seorang patriot jang mentjintai rakjatnja dan menginginkan kemerdekaan mereka, tuan harus menjadari bahwa Indonesia Merdeka hanja dapat dibangun dengan bekerdja-sama dengan Djepang,” ia membalas.

,,Ja,” aku mengangguk. ,,Sekarang sudah djelas dan terang bagi saja bahwa tali-hidup kami berada di Djepang…………… Maukah pemerintah tuan membantu saja untuk kemerdekaan Indonesia?”

,,Kalau tuan mendjandjikan kerdja-sama jang mutlak selama masa pendudukan kami, kami akan berikan djandji jang tidak bersjarat untuk membina kemerdekaan tanah-air tuan.”

,,Dapatkah tuan mendjamin bahwa, selama saja bekerdja untuk kepentingan tuan, saja djuga diberi kebebasan bekerdja untuk rakjat saja dengan pengertian, bahwa tudjuan saja jang terachir adalah di satu waktu…………… dengan salah-satu djalan………….. membebaskan rakjat dari kekuasaan Belanda — maupun Djepang ?”

,,Kami mendjamin. Pemerintah Djepang tidak akan menghalang-halangi tuan.”

Aku memandang kepadanja. Kami saling berpandangan. Saling menakar isi-hati satu sama lain.

,,Djadi, tuan Sukarno,” ia melandjutkan menjatakan pengakuannja dengan hati-hati. ,,Saja seorang penguasa pemerintahan. Negeri tuan adalah suatu bangsa dengan latar kebudajaan, keturunan, agama dan berbagai adat kebiasaan Djawa, Bali, Hindu, Islam, Buddha, Belanda, Melaju, Polynesia, Tiongkok, Filipina, Arab dan lain-lain. Negeri tuan terbentang luas. Perhubungan dari satu ke tempat lain sukar. Tugas saja adalah untuk mengendalikan daerah ini dalam keadaan tertib dan lantjar dengan segera. Tjara jang paling tepat ialah dengan memelihara ketenteraman rakjat dan mendjalankan segala sesuatu dengan harmonis. Untuk mentjapai tudjuan ini, kepada saja disampaikan bahwa saja harus bekerdja dengan Sukarno. Sebaliknja saja mendjandjikan kerdja-sama jang resmi dan aktif didalam bidang politik.”

Mau tidak mau aku harus mempertjajai orang jang berperawakan ketjil ini, oleh karena aku melihat kuntji persoalan ada di tangannja.

,,Baiklah,” kataku. ,,Kalau ini jang tuan djandjikan, saja setudju. Saja akan berikan bantuan saja sepenuhnja. Saja akan mendjalankan propaganda untuk tuan. Tapi hanja kalau ia berlangsung menurut garis menudju pembebasan Indonesia dan hanja dengan pengertian, bahwa sambil bekerdja-sama dengan tuan sajapun berusaha untuk memperoleh kemerdekaan bagi rakjat saja.”

,,Setudju,” katanja.

,,Djuga dengan pengertian bahwa djandji, dalam mana saja tetap tidak dikekang dalam usaha saja jang tidak henti-hentinja untuk nasionalisme, tidak hanja diketahui oleh tuan sendiri melainkan djuga oleh seluruh Komando Atasan.”

,,Pemerintah saja tentu akan diberitahu mengenai hal itu. Di atas dasar inilah kita bekerdja-sama, saling bantu-membantu satu sama lain.”

Sebagai kelandjutan dari pertemuan jang bersedjarah ini jang berlangsung selama dua djam, mereka menjadjikan sukiyaki. Inilah pertama kali aku mentjobanja. Dan rasanja enak sekali, kukira. Keinginan mereka untuk bersikap ramah-tamah tidak berachir sampai disini sadja. Aku tidak disuruh pergi, melainkan ditanjai kapan bermaksud hendak pulang. ,,Setelah menundjukkan bahwa aku sudah siap, aku diiringkan sampai di luar. Di sana Sakaguchi memandangku dengan muka berseri, ,,Izinkan kami untuk menjediakan kendaraan untuk tuan,” dan menundjuk kearah sebuah mobil Buick hitam berkilat.

Kendaraan seperti ini tidak banjak terdapat di Bukittinggi, djadi ini sudah pasti diambil dari seorang saudagar kaja dan di manapun ia berada disaat ini, tentu ia tidak dapat melakukan perdjalanan pakai kendaraan.

,,Buick ini adalah untuk tuan,” Sakaguchi membungkuk dengan hormat, ,,Diserahkan kepada tuan selama tuan menghendakinja.”

Kusampaikan padamu, kawan, aku sungguh-sungguh bangga. Inilah aku, baru sadja lepas dari pembuangan, sebuah Buick jang tjantik menantikanku. Sudah tentu ia tidak ada bensin. Isinja hampir tidak tjukup untuk dilarikan ke Padang. Mereka telah memberikan kehormatan kepadaku, mereka memberiku makan dan mereka telah memberiku kendaraan — akan tetapi tidak ada bensin. Kawan-kawan — dan mereka jang bukan kawanku, akan tetapi jang kuharapkan dapat memahami Sukarno lebih baik setelah membatja buku ini — ini adalah pertamakali aku mentjeritakan kisahku tentang bagaimana, bilamana dan dimana, dan mengapa aku mengambil keputusan untuk menjeret diriku berdampingan dengan Djepang. Boneka…………… pengchianat …………… aku tahu semua kata-kata itu.

Akan tetapi djika tidak dengan sjarat, bahwa mereka turut membantu dalam usaha mentjapai kebebasan negeriku, aku pasti takkan melakukannja. Sampai kepada detik ini hal ini tak pernah diterangkan sebagaimana mestinja. Dunia luar tidak mengerti. Mereka hanja tahu Sukarno seorang collaborator. Bagiku untuk menuntut lebih banjak lagi kebebasan-kebebasan politik, aku terpaksa mengerdjakan berbagai hal jang merobek-robek djantungku. Dengan hati jang berat aku melakukannja. Kalau aku tidak menepati djandjiku, mereka tidak akan menepati djandji mereka pula.

Di suatu pagi Sakaguchi datang kepadaku. Dia menjenangkan, akan tetapi keras. ,,Kami menghadapi persoalan beras jang rumit,” katanja dengan berkerut. ,,Nampaknja beras di Padang susah. Sebenarnja hampir tidak ada. Saja memberi peringatan kepada tuan, kalau orang Djepang tidak dapat beras, orang Indonesia tidak akan dapat apa-apa. Bukanlah keinginan kami untuk mengambil dengan kekerasan dari orang-orang jang mengendalikannja, oleh karena tindakan ini akan menimbulkan kekatjauan dan bertentangan dengan tjara kerdja-sama jang kita usahakan. Setidak-tidaknja tjara jang baik, jang sampai sekarang telah kita tjoba untuk melakukannja. Tentu ada djalan lain, tuan Sukarno, karena saja jakin tuan mengetahui. Saja menjarankan, supaja tuan mendesak rakjat kepala-batu agar berpikir sedikit.”

Aku segera minta bantuan saudagar-saudagar beras. Kuterangkan, bahwa aku memerlukan sekian ton dan segera! Jah, selama masih Sukarno jang memintanja, aku memperolehnja. Sebanjak jang kuminta dan setjepat jang kuingini. Memenuhi permintaanku berarti memetjahkan persoalan setiap orang. Djepang terhindar dari kelaparan. Bangsa Indonesia terhindar dari siksaan. Suatu krisis jang lain ialah mengenai kehidupan seks dari para pradjurit Djepang. Rupanja mereka tidak memperoleh apa-apa selama beberpa waktu. Ini adalah semata-mata persoalan mereka, akan tetapi mereka berada di tanah-airku. Perempuan jang mereka inginkan untuk dirusak adalah perempuan-perempuan bangsaku. Suku Minangkabau orang jang ta’at beragama. Perempuannja dididik dan dibesarkan dengan hati-hati sekali. Kuperingatkan kepada Fujiyama, ,,Kalau anak buah tuan mentjoba-tjoba berbuat sesuatu dengan anak-anak gadis kami, rakjat akan berontak. Tuan akan menghadapi pemberontakan besar di Sumatra.”

Aku menginsjafi, bahwa aku tidak dapat membiarkan tentara Djepang bermain-main dengan gadis Minang. Dan akupun menginsjafi, bagaimana sikap Djepang kalau persoalan ini tidak dipetjahkan, dan aku akan dihadapkan pada persoalan jang lebih besar lagi.

Kuminta pendapat seorang kiai. ,,Menurut agama Islam,” kataku memulai, ,,Laki-laki tidak boleh bertjintaan dengan gadis, kalau dia tidak bermaksud mengawininja. Ini adalah perbuatan dosa.”

,,Itu benar,” katanja.

Aku tidak seratus persen pasti bagaimana harus mengutjapkan maksudku, karena itu aku berpikir sebentar, lalu berkata, ,,Mungkinkah aturan ini dikesampingkan dalam keadaan keadaan tertentu?”

,,Tidak. Tidak mungkin. Untuk Bung Karno sendiripun tidak mungkin,” protes orang alim itu dengan kaget.

Kemudian kubentangkan rentjana itu. ,,Semata-mata sebagai tindakan darurat, demi nama baik anak-anak gadis kita dan demi nama baik negeri kita, saja bermaksud hendak menggunakan lajanan dari para pelatjur di daerah ini. Dengan demikian orang-orang asing itu dapat memuaskan hatinja dan tidak akan menoleh untuk merusak anak gadis kita.”

,,Dalam keadaan-keadaan jang demikian,” kata orang alim itu dengan ramah, ,,sekalipun seseorang harus membunuh, perbuatannja tidak dianggap sebagai dosa.”

Dengan berpegang kepada djaminan ini, bahwa rentjanaku tidak akan ditafsirkan sebagai dosa jang besar, maka aku mendatangi para pelatjur. ,,Saja tidak akan menjarankan saudara-saudara untuk melakukan sesuatu jang bertentangan dengan kebiasaanmu,” aku menegaskan, ,,akan tetapi rentjana ini sedjalan dengan pekerdjaan saudara-saudara sendiri.”

,,Saja dengar, Djepang kaja-kaja dan rojal dengan uang,” salah seorang tertawa gembira, nampaknja senang dengan usulku ini.

,,Benar,” aku menjetudjui. ,,Mereka djuga punja djam tangan dan perhiasan lainnja.”

,,Saja menganggap rentjana ini saling menguntungkan dalam segala segi,” ulas perempuan jang djadi djurubitjara. ,,Tidak hanja kami akan mendjadi patriot besar, tapi ini djuga suatu perdjandjian jang menguntungkan.”

Kukumpulkanlah 120 orang di satu daerah jang terpentjil dan menempatkan mereka dalam kamp jang dipagar tinggi sekelilingnja. Setiap pradjurit diberi kartu dengan ketentuan hanja boleh mengundjungi tempat itu sekali dalam seminggu. Dalam setiap kundjungan kartunja dilobangi. Barangkali tjerita ini tidak begitu baik untuk dikisahkan. Maksudku, mungkin nampaknja tidak baik bagi seorang pemimpin dari suatu bangsa untuk menjerahkan perempuan. Memang, aku mengetahui satu perkataan untuk memberi nama djenis manusia seperti itu. Akan tetapi persoalannja sungguh-sungguh gawat ketika itu, jang dapat membangkitkan bentjana jang hebat. Karena itu aku mengobatinja dengan tjara jang kutahu paling baik. Hasilnjapun sangat baik, kutambahkan keterangan ini dengan senang hati. Setiap orang senang sekali dengan rentjana itu.

Oleh karena Djepang memerlukan tenagaku untuk memetjahkan setiap persoalan pemerintahan, mereka senantiasa berusaha supaja aku tidak kekurangan apa-apa. Fujiyama menawarkan apa sadja. Semua tawaran kutolak. Aku menerima hanja jang perlu-perlu sadja. Tugasku dalam menghubungi rakjat menghendaki untuk berkeliling mendatangi masjarakat jang djauh-djauh. Dalam mengadakan perdjalanan keliling ini sudah tentu aku memertjikkan harapan-harapan kepada kepala-kepala setempat. Dan kepada rakjat. Dan menghidupkan kesadaran nasional mereka untuk hari depan.

Perdjalanan ini memerlukan bensin. Fujiyama dalam waktu-waktu tertentu membekaliku dengan satu drum isi duaratus liter. Diapun memberikan kartu pandjang jang ditjoret-tjoret dalam bahasa Djepang dengan memberikan keterangan, kalau pergi ke tempat ini-ini dan di djalan ini-ini, aku akan diberi persediaan bensin. Sungguhpun demikian aku mendjaga, agar meminta tidak lebih daripada jang diperlukan. Seringkali orang-orangku masuk duapuluh kilometer ke daerah pedalaman untuk mentjari gudang bensin jang disembunjikan oleh Belanda. Aku mentjoba setiap sesuatu dan segala sesuatu supaja tidak bergantung lebih banjak kepada Djepang. Tidak lupa Fujiyama setiap kali bertanja, ,,Apakah tuan Sukarno memerlukan uang?”

Dan kudjawab dengan, ,,Tidak, terimakasih. Rakjat memberikan segala-galanja kepada saja.” Ketika saja sakit baru-baru ini, tersebarlah berita kepada rakjat. Di djalan-djalan terdengarlah rakjat meneruskan berita dari jang satu kepada jang lain, ‘Hee, tablet calcium Bung Karno sudah habis. Dia memerlukan lagi. Tjoba tjarikan.’ Dan dalam waktu satu djam diantarkanlah satu botol lagi ke rumahku.

,,Darimana diperolehnja?” dia bertanja tak-atjuh.

,,Saja tidak tahu,” djawabku tak-atjuh pula. Jang tidak kusampaikan kepadanja ialah, bahwa di Padang banjak orang Tionghoa punja toko jang bisa mentjarikan apa sadja kalau mereka mau. Dan kalau untuk Sukarno mereka mau.

,,Baiklah, apakah tuan Sukarno perlu rumah tempat tinggal jang lain?”

Dan aku mendjawab, ,,Tidak, terimakasih. Saja tinggal dir umah Waworuntu tidak membajar. Rumah itu tjukup buat kami. Saja tidak memerlukan perlakuan jang istimewa.”

,,Bolehkah saja membantu tuan dengan adjudan sebagai pembantu tuan?”

,,Tidak usah, terimakasih. Bangsa lain tidak dapat memahami tjara bantuan kami jang diberikan dengan sukarela, namun itulah tjara kami. Saja mempunjai lebih dari tjukup tenaga pembantu.”

Seorang wartawan setempat mendjadi supirku. Namanja Suska. Suska, ketika buku ini ditulis, adalah Dutabesar Indonesia di India. Seorang lagi jang pernah mendjadi ketua Partindo dari daerah berdekatan bersedia setjara sukarela untuk memberikan tenaga tanpa bajaran. Gunadi, orang dari Bengkulu, bekerdja sebagai sekretaris penuh tanpa gadji.

Karena ia tidak dapat membudjukku ketjuali dengan bensin, maka Kolonel Fujiyama kemudian, menanjakan kepada jang lain-lain apa jang kuperlukan. Mereka selalu kuberitahu supaja mendjawab, ,,Terimakasih, Bung Karno tidak memerlukan apa-apa. Rakjat memberikan apa sadja jang diperlukannja.”

Aku tidak banjak minta, djadi kalau menuntut sesuatu biasanja aku memperolehnja. Dan tidak lama kemudian aku mau tidak mau memulai dengan tuntutan. Tanggal 1 Maret Djepang menjerbu pulau Djawa dengan tjara jang sama seperti Sumatra: Belanda lari puntang-panting. Djepang sekarang berkuasa atas seluruh kepulauan Indonesia. Segera terasa kesombongan mereka. Sebagai balasannja mulailah timbul kegiatan gerakan-bawah-tanah dari para nasionalis jang sangat anti Djepang. Beberapa orang jang terlibat dalam sabotase dan permusuhan setjara terang-terangan ditangkap oleh Polisi Rahasia jang sangat ditakuti. Salahsatu dari jang malang ini kukenal baik. Namanja Anwar. Orang ini disiksa. Kempeitai ingin mendjadikannja sebagai tjontoh perbuatan djahat, oleh karena dialah orang

subversif jang pertama-tama ditangkap, Djepang mentjabut kuku djarinja.

Aku tjepat-tjepat pergi ke Bukittinggi dan menjimpan tasku di rumah Munadji seorang kawan, dan pergi menemui para pembesar. Sementara itu pentjuri memasuki rumah Munadji dan melarikan barangku jang sedikit itu, karena aku tidak pernah punja barang banjak. Melajanglah tasku itu, di dalamnja kalung emas kepunjaan Inggit dengan liontin pakai berlian.

Di Bukittinggi, kalau Sukarno mengagumi sesuatu maka pemilik toko memaksanja untuk menerima barang itu tanpa bajaran. Di Bukittinggi, mereka hanja mau memberikan dan tidak mau menerima sesuatu dariku. Djadi polisi menduga, pentjuri itu tentu orang pendatang. Mendjalarlah dari mulut ke mulut bahwa Bung Karno mendjadi korban pentjurian dan dua hari kemudian harta itu kembali setjara adjaib. Untuk menghindari hukuman, si pentjuri seorang Tionghoa bernama Lian, mengatur dengan seorang alim untuk menjembunjikan barang itu di sudut sebidang sawah, setelah mana orang alim itu harus pergi ke sana untuk mendo’a dan…………..lihat! Dia menemukan milik Bung Karno. Begitulah kedjadiannja .

Dua hari telah berdjalan aku kembali memperdjoangkan persoalan Anwar kepada Djepang. Kataku, ,,Saja kenal baik kepadanja. Selama tuan menepati djandji untuk kerdja-sama dengan aspirasi nasional Indonesia, dia dan orang-orang nasionalis jang lain tidak akan berkomplot menentang tuan. Dia hanja salah terima mengenai penurunan bendera Merah-Putih dan peristiwa-peristiwa lain jang terdjadi sebagai pertanda dari pemutusan djandji tuan. Dia tidak bermaksud apa-apa terhadap tuan pribadi. Kalau tuan mengeluarkannja, saja jakin saja dapat menggunakan tenaganja dengan baik. Saja sendiri memberikan djaminan akan djiwa patriotismenja.”

Dua djam setelah kundjungan jang kedua ini mereka melepaskannja.

 

 

Bab 19

Pendudukan Djepang

 

SEMENTARA itu Djendral Imamura, Panglima Tertinggi tentara pendudukan jang bermarkas-besar di Djakarta, memerintahkan agar para pemimpin bangsa Indonesia membentuk suatu badan pernerintahan sipil, akan tetapi mereka keberatan dengan alasan, ,,Kami tidak akan duduk dalam badan apapun tanpa Bung Karno.” Imamura lalu mengirim surat kepada Kolonel Fujiyama dan menjatakan “Sebagian besar daripada tentara pendudukan beserta pimpinan. Jang mengendalikan tentara ini berada di Djawa. Tugas pemerintahan jang sesungguhnja ada di sini dan ternjata urusan sipil tidak berdjalan dengan baik. Kami sangat memerlukan bantuan dari orang jang paling berpengaruh.” Surat itu achirnja menjimpulkan, ,,Ini adalah perintah militer supaja memberangkatkan Sukarno.”

Ketika Fujiyama memerintahkanku segera, berangkat ke Palembang di mana sebuah kapal akan membawaku ke Djakarta, hatiku menari-nari gembira. Semendjak pendaratan Djepang di Padang empat bulan jang lalu aku mendo’a agar dapat kembali ke pulau Djawa jang tertjinta, akan tetapi aku tidak tahu bagaimana tjaranja memenuhi keinginan hati ini. Sekaranglah Tuhan mendengarkan do’aku dan memerintahkanku kembali.

Dekat Palembang kami terlibat dalam suatu ketjelakaan. Dua buah kendaraan. Djepang dengan ketjepatan jang penuh bertabrakan di hadapan kami. Satu dari kendaraan itu adalah sebuah djip. Itulah pertamakali dalam hidupku aku melihat djip. Kendaraan jang satu lagi sebuah truk besar. Kedua perwira di dalam truk itu tergontjang, akan tetapi tidak apa-apa selain dari babak-belur sedikit. Dengan memberanikan diri mereka tjepat-tjepat lari meneruskan perdjalanan. Djip itu hantjur samasekali. Penumpangnja, seorang kapten, mendapat luka parah. Adjudannja terpelanting ke pinggir djalan dan hanja pusing dan terbaring di bawah sebatang kaju. Sewaktu dia sadar lagi dia menjatakan kepada kami, ,,Kami perlu segera sampai di Palembang. Saja bawa Buick ini.”

,,Tapi,” protesku, ,,Ini milik saja. Komandan daerah ini memberikan izin istimewa kepada saja.” Kutundjukkan sekilas surat tanda milikku. ,,Ini buktinja.”

Sebagian dari ,,pertjakapan” ini kami lakukan dengan gerak. Sekalipun melihat surat itu, adjudan itu menghormat dengan kaku, mengutjapkan sesuatu seakan dia berkata, ,,Ini urusan penting. Ma’af sadja.” Lalu dia pergi membawa kendaraan kami dengan meninggalkan kami terdampar di djalanan itu. Polisi Militer jang segera datang ke tempat ketjelakaan ini mengerti tanda-tanda pengenalku. Kendaraan selandjutnja jang kebetulan lewat adalah sebuah truk. Serta-merta kendaraan itu disita dan kami meneruskan perdjalanan dengan meninggalkan pemiliknja di pinggir djalan itu.

Kami menambah dua orang penumpang lagi. Seorang Indonesia jang terbanting dari atas truk besar tadi menggeletak di semak-semak, mukanja tertelungkup ket anah bermandi darah jang menggenang. Ia sudah tidak bernjawa lagi. Aku tidak dapat meninggalkan orang jang malang itu di tengah hutan, dikelilingi oleh muka-muka masam. Dengan mengangkat majat jang berlumuran darah ke atas truk, aku membawanja untuk dikuburkan sebagaimana mestinja. Jang seorang lagi adalah pradjurit Djepang, ditugaskan untuk membawa kami. Inggit disuruh duduk disebelahnja. Penumpang lain dibelakang, Satu-satunja kesukaran jang kuhadapi ialah mengenai Inggit jang tidak mau duduk di sebelah Djepang. Achirnja aku menjelesaikannja dengan meletakkan si Ketuk Satu dan Ketuk Dua di antara Inggit dan pradjurit itu. Sesampai di Palembang aku menghadapi kesukaran jang lebih banjak. Para pembesar di sana tidak mengizinkan kami meneruskan perdjalanan ke Djakarta sebagaimana instruksi jang telah kuterima. Orang jang bertugas menolakku dengan utjapan singkat, ,Dilarang bepergian antara Sumatra dan Djawa.

,,Tentu ada kekeliruan pengertian dalam hal ini,” aku memberi alasan. ,,Perintah ini saja terima dari komandan atasan saudara sendiri.”

,,Sekarang, ini tidak ada perdjalanan orang preman antara Sumatra dan Djawa,” dia mengulangi lagi, sambil berdiri menjuruhku pergi.

Ketika aku bertahan terus dia menekan knop dan aku dihadapkan ke markas Kenpetai jang menjeramkan. Kenpeitai memutuskan untuk mengadakan pemeriksaan terhadap diriku. ,,Kami memerlukan lebih banjak keterangan tentang diri tuan, tuan Sukarno,” kata seorang perwira berperut buntjit melengking, sambil mempermainkan pedang Samurai di tangannja. ,,Kami mendapat keterangan dari saluran-saluran kami, bahwa tuan orang jang tidak baik, hatinja tidak bersih terhadap kepentingan kami.”

,,Tidak benar,” aku mendengus tidak sabar. ,,Saja dapat membuktikan, ketidak-benaran keterangan itu.”

Aku mengeluarkan kartu tanda berkelakuan baik jang diberikan oleh Kolonel Fujiyama kepadaku dan dapat digunakan dalam keadaan-keadaan seperti ini. Dia membatja pelahan-lahan. Kemudian diulangnja membatja sekali lagi. Dan setjarik karton berwama putih inilah jang menjelamatkan djiwaku. Namun persoalan pengangkutan tidaklah dipertjepat. Sekarang dia minta bantuanku lagi untuk menjelesaikan persoalan setempat sebelum menandatangani surat izin keluar. Si buntjit telah menjarungkan kembali pedang Samurainja. Sambil tersenjum dia berkata, ,,Kalau betul tuan orang baik dan dengan maksud-maksud baik, saja minta tuan mengundurkan keberangkatan dan membantu kami mengatasi kesukaran-kesukaran di sini jang disebabkan oleh rakjat tuan jang pandir.” Dia duduk di pinggir medja. Aku di korsi. Kami berhadap-hadapan dan pada djarak jang dekat mukanja itu menarik sekali untuk dipeladjari. Mulutnja tersenjum, akan tetapi matanja tidak. ,,Lebih baik kami tidak menahan tuan dengan paksa, tuan Sukarno,” dia mendesis.

,,Akan saja bantu dengan apa jang dapat saja berikan,” djawabku setelah mempertimbangkan, bahwa tidak ada lain jang dapat diutjapkan dalam suasana demikian itu. Orang Djepang di Palembang dan aku tidak dapat memperoleh saling pengertian dengan baik. Aku melakukan satu hal jang tidak mereka senangi samasekali. Akan tetapi sebaliknja mereka lalu melakukan banjak hal jang tidak kusukai djuga. Aku telah menjaksikan perbuatan-perbuatan kurang-adjar dan memuakkan dan menjampaikan hal ini kepada mereka.  Kukatakan kepada Si buntjit, “Seringkali saja Iihat anak-buah tuan terlalu mudah melajangkan tangan. Dengan mata kepala saja sendiri saja menjaksikan mereka berkali-kali menampar orang Indonesia.”

Aku menahan napas dan berhenti, akan tetapi Si buntjit hanja memandang kepadaku, dengan sombong mengajun-ajunkan kakinja -setiap kali hampir-hampir mengenai kakiku- dan menantikan utjapanku untuk memberikan kesimpulan. ,,Pukulan-pukulan terhadap rakjat kami ini harus dihentikan. Ini bukanlah djalan untuk mentjiptakan persahabatan dan membangkitkan kepertjajaan rakjat,” aku menegaskan. ,,Kalau tuan menghendaki kerdjasama dari saja jang baik, tuan hendaknja memperlihatkan kerdjasama pada saja.”

,,Itu keliru,” katanja memberungut. ,,Kelakuan buruk ini dilakukan oleh pradjurit-pradjurit Korea. Orang Korea terkenal dengan sifatnja jang gatal tangan. Pradjurit-pradjurit Djepang sikapnja djauh lebih baik. Mereka tidak pernah bertindak seperti itu.”

,,Komandan,” kataku. ,Orang Indonesia jang kena pukul tidak membedakan siapa jang bertindak itu. Soalnja ialah, apakah tindakan ini tidak bisa dihentikan? Dan tidak dilakukan oleh siapapun?”

,,Baik, tuan Sukarno, tuan dapat memegang perkataan saja. Para Komandan Bataljon akan diperintahkan supaja segera menghentikan perbuatan lantjang tangan ini.” Sedjak itu sikap mereka berobah. Sebulan kemudian mereka membebaskanku untuk berangkat, akan tetapi tentara Djepang di Palembang hanja mempunjai sebuah kapal, jaitu sebuah perahu-motor dengan mesin caterpillar. Perahu jang akan mengarungi lautan ini pandjangnja delapan meter, sedangkan penumpangnja terdiri dari seorang kapten, dua pradjurit, Inggit dan aku sendiri, Sukarti, Riwu dan barang-barang kami, dan sudah tentu Ketuk Satu dan Ketuk Dua. Aku mentjoba untuk mengusahakan kapal jang lebih besar, akan tetapi kepadaku disampaikan supaja kami menunggu. Jah, menunggu. Aku sudah lima setengah bulan lamanja menunggu di Sumatra. Tjukuplah itu. Sekalipun kapal itu sama-sekali tidak memenuhi sjarat sebagai kapal laut, akan tetapi ini adalah kesempatan pertama jang diberikan kepadaku dan kesempatan ini harus kupergunakan.

Empat hari empat malam lamanja kami terkatung-katung di tengah lautan. Kami tidur sambil duduk, setiap detik dan setiap menit angin laut dan kabut-air menjapu muka bumi selama duapuluh empat djam dalam sehari. Pelajaran ini djauh daripada menjenangkan. Ketika kami melalui Selat Bangka membadailah topan jang keras dan kami harus menahankannja di atas perahu jang terbuka, tanpa setjarikpun alat pelindung. Kemudian perahu-motor kami hampir terbalik karena menubruk pulau-karang jang rendah. Lagi pula aku gelisah menghadapi tantangan-tantangan ini, oleh karena aku tak pernah beladjar berenang. Di masa mudaku sportku dalam air hanja memakai ban dalam jang dipompa, lalu duduk di dalamnja dan mentjebur-tjebur.

Kami membawa sajuran jang telah dimasak, ikan kering dan persediaan lainnja dalam stoples dan nasi seperiuk, akan tetapi aku tidak dapat makan. Jang masuk ke dalam perutku hanjalah air djeruk sedikit. Aku terlalu mabuk, sehingga kukira aku akan mati. Kapal ketjil kami melambung ke atas dan dihempaskan lagi oleh gelombang ke bawah, tergontjang, mengoleng-oleng dan berpusing-pusing. Dan aku putjat seperti majat selama empat hari itu.

Aku sakit, perutku terasa mual, aku pusing, kepala mengentak-ngentak, matahari membakarku angus, kabut air-laut membikin bibirku petjah-petjah, perutku lapar dan badan lemah – ach, peduli amat! Bukankah sekarang aku pulang? Aku sekarang kembali ke Djawa. Karena sangat bersjukur dapat kembali dalam keadaan hidup dan selamat, kusumbangkan seluruh milikku kepada kapten itu semuanja! Ini adalah permulaan baru bagiku. Kehidupan baru bagi negeriku. Dan aku ingin memulainja dengan kesegaran baru.

Lintasan pertama dari tanahku jang tertjinta ini terlihat ketika hendak masuk meninggalkan Laut Djawa. Hari sudah sore dan panas ketika kami menderum-derum melalui iring-iringan perahu-lajar penangkap-ikan dan sampan-sampan nelajan jang berbau hanjir. Melewati perairan d iluar aquarium jang dibuat di dok dan memasuki pelabuhan Pasar Ikan jang sempit, di mana hampir tidak mungkin dua buah perahu berpapasan.

Pasar ikan penuh sesak dengan tempat pendjualan hasil dari laut. Airnja kotor. Daun-daunan, kepala ikan dan sampah kelihatan mengapung dalam air. Bau hanjir dari ikan mati memenuhi udara, sekitar itu. Akan tetapi, ketika aku dibantu melangkahkan kaki ke tangga batu jang membawaku ke atas daratan, aku berbitjara dalam hatiku, ,,Alangkah indah pemandangan ini. Seperti tak pernah aku melihat jang lebih indah seumur hidupku.”

Di darat tak seorangpun jang datang mendjemput kami dari kapal. Kuminta pertolongan salah seorang nelajan untuk menghubungi bekas iparku, Anwar Tjokroaminoto, dan pengatjara jang membelaku dulu di Bandung, jaitu Sartono, dan Hatta jang djuga berada di Djakarta. Di udjung darmaga tampak sebuah kantor-emperan. Pradjurit pendjaganja mempersilakanku masuk dan menjuruhku duduk. Dan kududuklah di situ. Aku menunggu.

Anwar jang pertama datang. Tuhan melindunginja. Dia datang berlari dengan mata berlinang-linang. Kami berpelukan dan mentjium satu sama lain tanpa mempedulikan sekitar kami. Pertemuan ini tidak diiringi dengan pukulan punggung jang keras. Suasananja menggambarkan perasaan sjukur jang diutjapkan dengan tidak bersuara. Hanja airmata mengalir ke pipi kami. Seperti kukatakan, kami tidak banjak mengutjapkan kata-kata. Kami tidak sanggup mengeluarkannja. la tidak bisa lewat dari kerongkongan. Sebaliknja ia mentjutjur dari mata kami.

,,Bagaimana kabarnja Harsono?” tanjaku, suaraku berobah karena terharu.

,,Baik.”

,,Utari?”

,,Semua baik. Jang lebih penting lagi saja menanjakan bagaimana keadaan Bung Karno.”

,,Akupun baik.”

Kami berdiri merenggang dan saling memperhatikan satu sama lain pada djarak satu lengan. Di depannja ia lihat sekarang seorang laki-laki jang letih dan kurus, pakai djas putih jang lapang dan tjelana tidak berbentuk. Pakaianku sangat ketinggalan djaman. la adalah buatan Darham, pendjahit dari Pulau Bunga jang tinggal denganku, atau hasil sebelum pengasingan.

Anwar memakai djas kuning-gading dengan potongan ,,doublebreast”. Setelah aku menjeka pipi dan mentjium tanah di bawahku, lalu menggosok mataku untuk mejakinkan apakah jang berdiri di depanku betul-betul Anwar, bukan-pajangan, aku kemudian kembali pada kenjataan. Kuraba-raba djasnja. ,Djasmu bagus sekali potongannja,” aku memudji.

,,Bikinan De Koning,” ia melagak. Pendjahit paling terkenal di Djakarta di waktu Belanda. ! Bagaimana kau membajarnja?”

Dia mengangkat kedua belah tangan seperti tjorong ke mulutnja dan berbitjara langsung ke telingaku. ,,Saja masuk dari pintu belakang. Ongkosnja terlalu tinggi, akan tetapi ada seorang kawan jang bekerdja sebagai pendjahit-pembantu di toko De Koning.”

,,Apa dia mau kira-kira membikinkan untukku?”

,,Tentu mau. Kalau Bung Karno sudah senggang sedikit, saja bawa ke sana.”

Seringkali generasi muda menukil kembali utjapan-utjapan jang abadi dan jang akan hidup terus. Utjapan jang keluar dalam detik-detik jang besar di dalam sedjarah. Utjapan jang akan menggeletarkan tulang sumsum, utjapan jang membangkitkan semangat, utjapan jang dituliskan dengan kata-kata indah seperti ini di saat pertemuan kami. Akan tetapi sajang, ketika kami bertemu dan setelah aku menanjakan tentang keadaan Anwar beserta keluarganja, pokok persoalan selandjutnja jang kutanjakan kepadanja hanjalah mengenai tukang djahitnja. Di minggu itu djuga aku pergi mendjahitkan pakaian jang pertama selama

bertahun-tahun. Setengah djam kemudian Sartono, dan Hatta datang berlarian. Hatta dan aku tidak berkiriman surat selama bertahun-tahun. Dan sekalipun banjak jang hendak dikatakan dan banjak jang hendak ditanjakan, namun masing-masing kami hanja punja satu pertanjaan untuk jang lain.

Hatta membisik, ,,Bagaimana pendapat Bung Karno mengenai pendudukan ini?”

Aku membisikkan kembali, ,,Djepang tidak akan lama di sini. Mereka akan kalah dan kita akan hantjurkan mereka. Inipun asal kita tidak menentang mereka setjara terang-terangan. Kemudian aku bertanja, ,,Bagaimana, Bung Hatta, bagaimana semangat nasionalisme dari rakjat kita?”

,,Semangat rakjat tidak dibinasakan oleh peperangan. Rakjat sudah mulai tjuriga kepada Djepang jang mendjadi ,,pembebas” itu dan rakjat sangat menantikan kedatangan Bung Karno. Djepang telah menjediakan sebuah rumah bertingkat-dua dan manis potongannja, terletak di sebuah djalan-raja Djakarta. Rumah itu mempunjai lapangan rumput, beranda, garasi dan perabot lengkap, ketjuali piring-piring barang petjah-belah lainnja jang sudah dibanting-bantingkan oleh Belanda sebelum berangkat.

Tentunja tidak ada penjambutan kedatanganku kembali pulang, karena tak seorangpun jang tahu kapan Sukarno, akan sampai. Dan lagi adanja larangan jang keras untuk mengadakan pertemuan. Sekalipun demikian di dalam rumah kudapati telah ada beberapa anggota dari ,,Panitia Penjambutan Bung Karno”. Wadjah mereka bersinar dengan kegembiraan jang tenang dan mereka berlutut, lalu mentjium tanganku. Kupegang tangan mereka dengan kuat dalam genggamanku. Aku sangat terharu. Orang-orang jang kutjintai ini telah ditundjuk untuk mentjarikanku rumah tinggal jang tjotjok.

,,Orang Belanda sudah diringkus masuk kamp-tawanan,” kata Ahmad Subardjo. ,,Kalau Bung Karno berdjalan-djalan, akan melihat banjak rumah-rumah bagus jang kosong. Isteri saja meneliti sebelah satu djalan. Isteri Sartono di seberangnja. Dalam beberapa hari sadja mereka menemukan rumah ini.”

,,Rumah ini besar sekali,” kataku sambil memeriksa bagian dalam.

,,Kami berpendapat, bahwa pemimpin kita tentu memerlukan ruangan banjak untuk tetamu. Semendjak tersebar berita bahwa Bung Kamo akan datang dalam waktu tidak lama lagi, rakjat dari desa-desa, dari gunung, dari tepi pantai dan dari daerah jang djauh semakin meluap-luap. Sekalipun dalam keadaan kekurangan, mereka toch sanggup untuk datang dan melihat sendiri wadjah Bung Karno, Mereka tidak pertjaja bahwa Bung Karno betul-betul ada di sini dan bebas dan sudah siap lagi untuk menduduki tempat sebagai pahlawan mereka.” Malam itu Inggit dan aku berdialan-djalan di sekitar rumah kami jang baru itu. Di djalanan jang lebar dengan di kiri-kanannja barisan pohon-pohon, jang merupakan daerah elite di Djakarta. Telah pandjang waktu berlalu di belakangku. Hampir tigabelas tahun. Masa tahanan dan pembuangan telah berlalu. Dan perang telah terdjadi. Tapi sjukur, Aku sudah pulang ke tempatku semula. Aku kembali mendjadi pemimpin dari rakjatku. Aku sudah kembali……

 

 

Bab 20

Kollabolator Atau Pahlawan ?

 

MALAM itu aku pergi ke rumah Hatta. Kami mengadakan pertemuan jang pertama guna membitjarakan taktik kami bekerdja untuk masa jang akan datang. ,,Bung Hatta dan saja di masa jang lalu telah mengalarni pertentangan jang mendalam,” kataku. ,,Memang di satu waktu kita tidak berbaik satu sama lain. Akan tetapi sekarang kita menghadapi suatu tugas jang djauh lebih besar daripada jang dapat dilakukan oleh salah-seorang dari kita. Perbedaan dalam hal partai atau strategi tidak ada lagi. Pada waktu sekarang kita satu. Dan kita bersatu di dalam perdjoangan bersama.”

,,Saja setudju,” Hatta menjatakan. Kami berdjabat tangan dengan kesungguhan hati “inilah”, kataku berdjandji, ,,djandji kita sebagai Dwitunggal. Inilah sumpah kita jang djantan untuk bekerdja berdampingan dan tidak akan berpetjah hingga negeri ini mentjapai kemerdekaan sepenuhnja.”

Bersama-sama dengan Sjahrir, satu-satunja orang jang turut hadir, rentjana-rentjana gerakan untuk masa jang akan datang kami susun dengan tjepat. Telah disetudjui, bahwa kami akan bekerdja dengan dua tjara. Di atas-tanah setjara terang-terangan dan di bawah-tanah setjara rahasia. Jang satu memenuhi tugas jang tidak dapat dilakukan oleh tjara jang lain.

“Untuk memperoleh konsesi-konsesi politik jang berkenaan dengan pendidikan militer dan djabatan-djabatan pemerintahan bagi orang-orang kita, kita harus memperlihatkan diri dengan tjara kollaborasi.” kataku.

,,Djelaslah, bahwa kekuatan Bung Karno adalah untuk menggerakkan massa,” Hatta menegaskan. ,,Djadi Bung Karno harus bekerdja setjara terang-terangan.”

,,Betul, Bung Hatta membantu saja. Karena Bung Hatta terlalu terkenal untuk bisa bekerdja di bawah-tanah.”

,,Biarlah saja,” Sjahrir menjarankan, ,,untuk mengadakan gerakan bawah-tanah dan menjusun bagian penjadap-berita dan gerakan rahasia lainnja.”

Pembitjaraan singkat itu, jang berlangsung selama satu djam, mengembangkan suatu landasan jang begitu ringkas. Dan kelihatannja seolah-olah dikerdjakan dengan sangat saksama, setelah diteliti kembali duapuluh tahun kemudian. Sebenarnja strategi kami adalah satu-satunja pilihan jang mungkin didjalankan ketika itu. Djadi kami tidak mernpunjai pilihan lain.

,,Inilah kesempatan jang kita tunggu- tunggu,” kataku bersemangat. ,,Saja jakin akan hal ini. Pendudukan Djepang adalah kesempatan jang besar dan bagus sekali untuk mendidik dan mempersiapkan rakjat kita. Semua pegawai Belanda masuk kamp-tawanan. Sebaliknja djumlah orang Djepang tidak akan mentjukupi untuk melantjarkan roda pemerintahan di seluruh kepulauan kita. Tentu mereka sangat mernerlukan tenaga kita. Indonesia segera akan melihat, bahwa madjikannja tidak akan berhasil dengan baik tanpa bantuan kita.”

Aku berdjalan hilir-mudik ketika berpikir dengan keras, ,,Akan tetapi rakjat kita harus menderita, lebih dulu, karena hanja dengan penderitaanlah ia dapat bangkit. Rakjat kita adalah bangsa jang suka damai, mau senang dan mengalah dan pema’af. Sungguhpun rakjat Indonesia hampir mentjapai djumlah tudjuhpuluh djuta dan diperintah oleh hanja 500.000 orang, akan tetapi darah rakjat tidak pernah bergolak sedernikian panas sehingga sanggup bertempur melawan Belanda. Belanda menenteramkan penguasaannja dengan memberikan kebaikan-kebaikan palsu. Djepang tidak.

,,Kita tahu, bahwa Djepang tidak segan-segan memenggal kepala orang dengan sekali ajunan pedangnja. Kita mengetahui muslihat mereka, memaksa si korban meminum berliter-liter air dan kemudian melompat ke atas perutnja. Kita sudah mengenal djeritan di tengah malam jang menakutkan jang keluar dari markas Kenpetai. Kita mendengar pradjurit-pradjurit Kenpetai dengan sengadja dalam keadaan mabuk-mabukan untuk menumpulkan perasaannja. ,,Orang Djepang memang keras. Kedjam. Tjepat melakukan tindakan kurangadjar. Dan ini akan membuka mata rakjat untuk mengadakan perlawanan.”

,,Mereka djuga akan memberikan pada kita kepertjajaan terhadap diri sendiri.” Hatta menguraikan. ,,Bangsa Asia tidak lagi lebih rendah dari orang Barat.” ,,Kondisi-kondisi inilah jang akan mentjiptakan suatu kebulatan tekad. Kalau rakjat kita betul-betul digentjet, maka akan datanglah revolusi mental. Setelah itu, revolusi fisik.”

Aku duduk. Melalui lobang sandal aku mengelupas kuku djari kakiku, suatu tanda jang pasti bahwa pikiranku gelisah. Tanpa kusadari aku mengelupas kuku ibu-djari kakiku terlalu dalam hingga berdarah.

,,Kita harus melantjarkan gerakan kebangsaan,” kataku berbitjara dalam mulut.

,,Tidak mungkin,” Hatta membalas. ,,Mengadakan rapat umum dan berpolitik dalam bentuk apapun dilarang.”

,,Kita tidak bisa membangkitkan semangat rakjat kalau tidak ada pergerakan rakjat,” kunjatakan dengan tegas. ,,Saja tidak bisa duduk-duduk sadja di belakang medja setjara passif. Kalau hanja sebagai pemberi nasehat, itu tidak tjukup bagi saja. Harus ada kegiatan. Kita tidak bisa menjuruh rakjat berdjoang, sekalipun dengan diam-diam, tanpa bimbingan. Kalau saja tidak bisa membentuk suatu gerakan sendiri, saja akan mengadakan infiltrasi ke dalam gerakan jang didukung oleh Djepang. Bagaimana dengan Gerakan Tiga-A?”

Gerakan Tiga-A adalah suatu organisasi jang setjara psychologis keliru. la bekerdja dengan sembojannja jang menusuk hati: “Dai Nippon Pemimpin Asia. Dai Nippon Pelindung Asia. Dai Nippon Tjahaja Asia”

,,Gerakan itu tidak betul,” Sjahrir menggerutu. ,,Tudjuannja tadinja hendak mengumpulkan bahan makanan dari kita, mengaut kekajaan alam kita dan bahkan djuga mengumpulkan tenaga manusia.”

,,Akan tetapi gerakan itu tidak memberikan apa-apa sebagai balasannja,” Hatta menambahkan. ,,Ditambah lagi dengan propagandanja jang sangat dibesar-besarkan, tidak adanja pemimpin bangsa Indonesia jang duduk dalam putjuk pimpinannja dan ketidak-senangan rakjat jang sernakin meningkat menjebabkan gerakan itu segera menarik diri. Lebih baik Bung Karno mendjauhkan diri dari Gerakan Tiga-A.”

,,Tidak. Saja pikir, malah saja akan memasukinja.” ,,Kenapa?” ,,Ja. Untuk merombaknja.”

Di malam pertama aku di Djakarta aku pergi tidur dengan kepala jang pusing, oleh karena pikiranku gelisah. Hitam-putihnja baru diketahui di hari esok. Aku harus menghadap Letnan Djendral Imamura. la menerimaku di kamar-duduknja dalam istana jang putih dan besar itu, bekas istana Gubemur Djendral Hindia Belanda. Kamar duduk itu sekarang mendjadi kamar-studiku. Djendral Imamura adalah seorang Samurai sedjati. Kurus, melebihi tinggi orang biasa, bersifat sopan, hormat dan berbudi luhur. Setelah mempersilakanku duduk, iapun duduk. Sikapnja lurus seperti tongkat. Aku berbitjara dalam bahasa Indonesia. Dia dalam bahasa Djepang. Kami mempunjai djurubahasa. Aku pergi sendirian tanpa pengikut. Djendral itu dengan adjudannja tentu. Djendral-djendral selalu punja. Dialah mula-mula membuka pembitjaraan ,,Saja memanggil tuan ke Djawa dengan maksud jang baik. Tuan tidak akan dipaksakan bekerdja bertentangan dengan kemauan tuan. Hasil dari pembitjaraan kita – apakah tuan bersedia untuk bekerdja-sama dengan kami atau tetap sebagai penonton sadja – samasekali tergantung kepada tuan sendiri.”

,,Boleh saja bertanja, apakah rentjana Dai Nippon Teikoku untuk Indonesia?” Mendjawab Imamura, ,,Saja hanja Panglima Tertinggi dari tentara ekspedisi. Tenno Heika sendirilah jang berhak menentukan, apakah negeri tuan akan diberi otonomi dalam arti jang luas di bawah lindungan pemerintah-Nja. Ataukah akan memperoleh kemerdekaan sebagai negara-bagian dalam suatu federasi dengan Dai Nippon. Ataupun mendjadi negara merdeka dan berdaulat penuh. Saja tidak dapat memberikan djandji jang tepat tentang bentuk kemerdekaan jang akan diberikan kepada negeri tuan. Keputusan jang demikian itu tidak dapat diambil sebelum peperangan ini selesai. Sungguhpun demikian, kami dapat memahami tjita-tjita dan sjarat-sjarat tuan, dan ini sedjalan dengan tjita-tjita kami.”

Kalimatku selandjutnja adalah, ,,Terimakasih, Djendral. Terima kasih karena tuanlah orang jang mendupak Belanda jang terkutuk itu keluar. Saja mentjobanja selama bertahun-tahun. Negeri saja mentjoba selama berabad-abad. Akan tetapi Imamura-lah orang jang berhasil.” ,,Boleh saja bertjeritera, Ir. Sukarno, bagaimana saja menaklukkan orang kulitputih jang kuatperkasa itu dari pantai daratan tuan. Dengan gertak. Itulah! Semata-mata gertak.”

Wadjahku di waktu itu tentu mentjerminkan kebingungan, karena Djendral itu berkenan untuk tersenjum dan kemudian dengan riang mentjeriterakan kemenangan itu. ,,Pada waktu tentara saja mendarat di Djawa, pasukan saja hanja tinggal beberapa bataljon dan saja harus memetjah-metjahnja lagi. Sebagian mendarat di Djawa Barat, sebagian di Djawa Tengah, sebagian di Djakarta, beberapa lagi di Banten. Jang langsung di bawah pimpinan saja mendarat di Kalidjati. Dan pasukan ini tjompang-tjamping. Orang-orang saja punja senapan, tapi tidak punja uniform. Sebelum pendaratan kami, Gubemur Djendral sudah terbang ke Bandung.”

,,Kota itu dilindungi oleh gunung-gunung, tentu dia menganggap kota itu dapat dipertahankan.”

,,Betul,” Imamura mengangguk. ,,Lalu saja mengadakan hubungan dengan Bandung dan memerintahkannja ke Kalidjati untuk suatu perundingan perdamaian. Dia datang. Dan segera lagi, Saja bemarkas di sebuah kamar jang ketjil. Dengan suara-suara jang gaduh, tapi tanpa pasukan untuk menjokong keberanian saja, saja menuntut, ‘Nah, apakah tuan sekarang akan menjerah? Kalau tidak, saja akan membom tuan sampai lenjap dari permukaan bumi. Dengan demikian dia dengan stafnja segera terburu-buru dan menjerah.”

,,Dengan sisa tentara jang terpetjah-petjah dan melarat,” kataku kepada penakluk jang menghadapiku, tuan mengusir orang-orang jang akan selalu dianggap sebagai penindas-penindas sedjati dari Indonesia. Saja berterima-kasih kepada tuan untuk selama-lamanja.”

Drama jang kupertundjukkan ini mengingatkan daku kepada pahlawan Filipina, Djendral Aguinaldo. Dia melawan Spanjol selama bertahun-tahun, dan ketika Amerika menaklukkan bekas penakluk itu, jang pertama-tama diutjapkan oleh Aguinaldo kepada orang Amerika adalah, ,,Terima-kasih.” Kemudian ketika Amerika Serikat bermaksud hendak tetap berkuasa di Filipina, Aguinaldo menjepakkannja keluar dengan keras.

“Berapa lama menurut pikiran tuan tentara akan memegang kekuasaan pemerintahan disini?” tanjaku.

,,Terus-terang saja tidak tahu. Saja tidak mempunjai rentjana sampai ke situ.” Nah, dia belum. Tapi aku sudah punja. Dan aku mulai dengan siasat jang pertama. ,,Untuk memimpin rakjat kami sesuai dengan pemerintahan militer, saja memerlukan orang sebagai pembantu pimpinan. Urusan pemerintahan hanja dapat dilantjarkan, kalau orang-orang Indonesia ditempatkan pada djabatan-djabatan pemerintahan. Hanja orang Indonesialah jang mengetahui daerah, bahasa-bahasa daerah dan adat-istiadat saudara-saudaranja.”

,,Kalau ini pemetjahan jang terbaik untuk memadjukan kemakmuran dan kesedjahteraan, maka orang Indonesia akan diberi kesempatan untuk ikut dalam menjelesaikan urusan dalam negeri setjara meningkat. Djabatan-djabatan dalam pemerintahan akan diberikan kepada bangsa Indonesia dengan segera.”

Kalau dilihat dari konsesi-konsesi jang diberikan kepadaku di bidang politik, maka kekuasaan berada di tanganku. Sang Djendral adalah seorang pemimpin militer. la mengetahui tentang sendjata. Aku seorang pemimpin politik. Aku mengetahui tentang pembinaan bangsa. Di dalam tanganku ia seorang baji.

Kugariskan rentjanaku kepada Hatta malam itu djuga. ,Dengan biaja pemerintah Djepang akan kita didik rakjat kita sebagai penjelenggara pemerintahan. Mereka akan dididik untuk memberi perintah tidak hanja menerima perintah. Rakjat dipersiapkan mendjadi kepala. kepala dan administrator-administrator. Mereka dididik untuk memegang roda pemerintahan guna suatu-hari jang akan datang, pada waktu mana kita mengambil alih kekuasaan dan menjatakan kemerdekaan. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin kita melengkapkan susunan pemerintahan tanpa personil” Tanpa menunggu djawaban atas keterangan itu aku melandjutkan, ,,Dulu setiap kepala adalah orang Belanda di mana-mana Belanda…. Belanda. ……pendeknja setiap satu djabatan diduduki oleh si Belanda buruk!” ,,Dan rakjat kita tjukup djadi pengantar-surat sadja atau pesuruh,” Hatta menambahkan, ,,Selalu dalam kedudukan menghambakan diri. Selalu patuh.” ,,Sekarang rakjat jang kurus-kering, diindjak-indjak lagi bebal ini akan mendjadi pedjabat-pedjabat dalam pemerintahan. Mereka akan beladjar membuat keputusan, mereka akan mempeladjari bagaimana melantjarkan tugas, mereka akan mempeladjari bagaimana memberikan perintah. Saja sudah menanamkan bibitnja dan Djepang akan memupuknja.

Aku meludah ke tanah. ,,Itulah sebabnja mengapa setiap orang jang tjerdas membentji Belanda. Orang Belanda mengharapkan kerdjasama kita, akan tetapi tidak sedikitpun memberi kesempatan pada kita jang menguntungkan dari kerdjasama itu. Kalau saja mengingat-ingat perangai Belarida jang munafik, saja mau muntah. Apakah jang dikerdjakan Belanda untuk kita? Nol besar! Saja menjadari, tentu ada orang jang menentang saja, karena saja bekerdjasama dengan Djepang. Tapi, apa salahnja? Memperalat apa jang sudah diletakkan di depan saja adalah taktik jang paling baik. Dan itulah sebabnja mengapa saja bersedia menerimanja.”

Bulan November Gerakan Tiga-A dibekukan. Bulan Maret aku pertamakali memegang djabatan resmiku dalam suatu badan baru jang bernama PUTERA. Tokyo menganggap ,,Pusat Tenaga Rakjat” ini sebagai alat dari Sukarno untuk mengerahkan bantuan rakjat di garis belakang bagi kepentingan peperangan mereka. Tapi Sukarno mengartikannja sebagai alat jang nomor dua paling baik untuk melengkapkan suatu badan penggerak politik jang sempurna. Sebagai Ketua dari PUTERA tugasku ialah meringankan kesulitan-kesulitan jang timbul di dalam negeri. Ambillah misalnja persoalan tekstil jang rumit. Oleh ketiadaan kain rakjat Marhaen memakai badju dari karung atau bagor. Anak-anak jang baru–lahir dibungkus dengan taplak-medja. Aku pergi berkeliling menjampaikan seruan kepada rakjat desa. Kataku, ,,Di negeri kita tumbuh sematjam tanaman jang bemama rosella. Seratnja bisa -ditenun mendjadi kain. Hajo kita tanam rosella. Mari kita tenun kain dari rosella.”

Rakjat mendengarkan seruanku itu. Kalau rakjat terpaksa mentjari akal untuk menutupi kekurangan, mereka melakukannja. Akan tetapi sementara aku mendjalankan gerakan itu, aku memilih patriot-patriot jang dipertjaja dan memperkerdjakannja pada pembesar-pembesar setempat. Kataku, ,,Pekerdjaan ini akan lebih berhasil, kalau orang Indonesia ditugaskan untuk melaksanakannja. Ini orangnja, djadikanlah dia sebagai kepala dari gerakan ini. Saja sendiri mendjamin kesetiaannja.”

Kami tidak mempunjai sabun. Kusampaikanlah kepada tetangga kami, supaja membuat sabun dari minjak-kelapa dan abu daun-kelapa jang dibakar. Abu itu mengandung bahan kimia jang berbuih djika ditjampur dengan minjak. Kemudian kupilih salah-seorang pengikutku jang paling dipertjaja, Ialu kusampaikan kepada pedjabat jang berhubungan dengan itu, ,,Saja mempunjai seorang kawan di sini jang mengetahui bagaimana melakukannja. Tariklah dia untuk mengatasi persoalan tuan.”

Kami tidak punja listrik. Untuk mengatasi ini keluar pulalah seruanku, ,,Hajo kita tanam djarak. Tanaman ini mudah tumbuh seperti tanaman pagar. Dari bidjinja kita dapat membuat minjak kastroli jang bisa menjala dengan terang.” Apa sebabnja aku mengetahui hal ini? Oleh karena aku orang Djawa. Oleh karena keluargaku melarat dan terpaksa memakainja. Oleh karena selama sebagian dari hidupku aku harus membakar bidji djarak karena tidak mampu membeli bola lampu. Itulah sebabnja mengapa para penakluk memerlukan pimpinan dari daerah jang diduduki itu. Hanja penduduk aslilah jang tahu, bagaimana memetjahkan persoalan penduduk. Musuh tidak dapat menduduki suatu negeri tanpa bantuan dari pemimpin negeri itu – ini selalu – dimana sadja – bilamana sadja.

Kami tidak mempunjai obat-obatan. “Pakailah obat asli peninggalan nenek-mojang kita,” aku mengandjurkan. ,,Untuk penjakit malaria pakailah daun ketepeng. Untuk demam panas buatlah teh dari alang-alang.” Rakjat Indonesia sampai sekarang masih menggunakan penemuan-penemuan ini. Kekurangan makanan merupakan kesulitan jang paling rumit untuk diatasi. Tentara Djepang merampas setiap butir beras. Kalau bukan orang penting djangan diharap akan memperolehnja sekalipun satu kilo. Di Bali orang mati karena kelaparan. Aku berhasil mengumpulkan sedjumlah besar bidji pepaja dan membagikannja kepada setiap orang masing-masing dua butir. Buah-buahan jang enak ini kemudian tumbuh di setiap pendjuru pulau.

Untuk memerangi kelaparan, maka tentara Djepang membuat djaringan radio jang tetap dengan menempatkan pengeras-suara di setiap desa, sehingga setiap orang jang sebelum itu hanja mendengar nama Sukarno sekarang dapat mendengar suara Sukarno. ,,Saudara-saudara kaum wanita,” terdengar suara Sukarno mendengung melalui tiap pengeras-suara, ,,Dalam waktu saudara jang terluang, kerdjakanlah seperti jang dikerdjakan oleh Ibu Inggit dan saja sendiri. Tanamlah djagung. Di halaman muka saudara sendiri saudara dapat menanamnja tjukup untuk menambah kebutuhan keluarga saudara.” Nah, karena Sukarno jang mengatakan ini kepada mereka, mereka menanamnja. Dan di setiap halaman bertunaslah buah djagung. Usaha ini ada ketolongannja.

Mau tidak mau aku harus membelokkan kebentjian rakjat terhadap orang Djepang, karena kekurangan makanan ini. Karena itu aku mengadakan pidato-pidato seperti ini. ,,Agen-agen musuh membisikkan di telinga saudara, bahwa Dai Nippon jang mendjadi sebab kesulitan kita. Itu tidak benar. Berbulan-bulan jang lalu dunia mengetahui, bahwa India diamuk oleh kelaparan. Negara-negara Sekutupun menderita kemelaratan dan setiap hari rakjat mereka berbaris untuk memperoleh sepotong roti. Djika mereka mengatakan ‘Tidak’ itu adalah bohong besar. Dan kalau saudara-saudara pertjaja kepada berita bohong ini, maka saudara sama sadja seperti katak di bawah tempurung. Bertahun-tahun jang lalu Winston Churchil sudah mengeluh tentang kekurangan bahan makanan di Inggris. Djadi, saudara-saudara, peperangan mengakibatkan kekurangan di mana-mana.

,,Dulu Belanda mengimpor beras dari Birma dan Muang Thai. Akan tetapi kapal-kapal pengangkut itu sudah ditenggelamkan ke dasar laut. Kekurangan makanan adalah kedjadian jang biasa dalam peperangan. Akan tetapi siapakah jang bersalah, sehingga kita harus mengimpor beras selama ini? Belanda. Bukan Dai Nippon Teikoku. Negeri Belanda dengan paksa merobah sawah-sawah kita mendjadi kebun tebu, tembakau atau hasil lain jang bisa diekspor untuk menggendutkan dirinja sendiri. Maka dari itu, sampai di hari kita berdiri sendiri bebas dari penghisapan imperialisme kita tergantung kepada impor beras.”

Aku ditugaskan untuk ,,menjerang Sekutu, memudji negara-negara As -jaitu sekutu Djerman dan Djepang- menimbulkan kebentjian terhadap musuh-musuh kita Inggris, Amerika dan Belanda, dan bantulah Dai Nippon.” Akan tetapi, sekalipun pidato-pidatoku diteliti terlebih dulu dengan katja-pembesar oleh Bagian Propaganda, kalau dipeladjari sungguh-sungguh ternjatalah bahwa 75% dari isi pidato itu semata-mata menanamkan kesadaran nasional.

Misalnja sadja, sambil menundjuk kepada seorang pradjurit Djepang jang sedang mengawal dengan senapan dan sangkur, aku berkata, ,,Lihat, dia mendjalankan tugasnja oleh karena dia tjinta kepada tanah-airnja. Dia berperang untuk bangsanja. Dia bersedia mati demi kehormatan tanah-airnja. Begitupun…….kita……harus! Kemudian aku menanamkan kepada rakjat tentang kebesaran negeri kami sebelum mengalami pendjadjahan. ,,Keradjaan Madjapahit memperoleh kemenangan jang gilang-gemilang setelah digembleng dengan penderitaan dalam peperangan-peperangan melawan Kubilai Khan. Sultan Agung Hanjokrokusumo membikin negara Mataram mendjadi negara jang kuat setelah mengalami tjobaan-tjobaan di dalam perang Senapati. Dan orang Islam di jaman keemasannja barulah mendjadi kuat setelah mengalami Perang Salib. Tuhan Jang Maha Kuasa berfirman dalam Quran: ‘Ada masa-masa dimana kesukaranmu sangat berguna dan perlu’.”

Aku pandai memilih kata-kata sehingga orang-asing, sekalipun bisa berbahasa Indonesia, tidak dapat menangkap arti kiasan jang chas menurut daerah. Aku memetik tjerita-tjerita dari Mahabharata, oleh karena 80% dari bangsa Indonesia sudah biasa dengan tjerita itu. Mereka tahu, bahwa Ardjuna adalah pahlawan dari Pandawa-Lima, di mana keradjaan mereka telah direbut setjara litjik dalam suatu peperangan besar.

Pandawa-Lima ini melambangkan kebaikan. Jang menaklukkan mereka adalah lambang kedjahatan. Setiap nama mentjerminkan watak manusia didalam pikiran kami. Ardjuna perlambang dari pengendalian diri-sendiri. Saudaranja, Werkudara, melambangkan seseorang Jang kuat berpegang kepada kebenaran. Sebutlah Gatutkatja, serta-merta orang teringat kepada Sukarno. Mendengar Buta Tjakil, orang tahu bahwa itu raksasa jang djahat. Dalam pewajangan maka tokoh-takoh jang baik selalu duduk dikanan, jang djahat di sebelah kiri. Muka-muka jang berwarna keemasan putih atau hitam menundjukkan orang jang baik-baik dan jang merah bandit2nja. Dengan mudah sekali aku membawakan djalan pikiranku dalam perumpamaan ini.

Tjara jang lain ialah dengan perlambang hewan. Dari tulisan-tulisanku jang dibuat sebelum perang rakiat mengetahui, bahwa aku menganggap negeri Djepang sebagai imperialis modern di Asia. Djadi, dalam masa inilah aku mentjetak satu perumpamaan jang terkenal: ,,Di bawah Matahari-Terbit, manakala Liong Barongsai dari Tiongkok bekerdja-sama dengan Gadjah-Putih dari Muang Thai, dengan Karibu dari Filipina, dengan Burung Merak dari Birma, dengan Lembu Mandi dari India, dengan Ular Hydra dari Vietnam, dan sekarang, dengan Banteng dari Indonesia, maka Imperialisme akan hantjur-lebur dari permukaan benua kita!”

Menurut tjara berpikir orang Indonesia ini tjukup djelas. Maksudnja ialah bahwa daerah-daerah jang diduduki bersatu dalam tekad untuk melenjapkan agressi. Aku tidak mengatakan kita bekerdjasama dengan Matahari- Terbit. Aku mengatakan, kita bekerdja-sama DI BAWAH Matahari-Terbit.

Imamura senang sekali dengan kepandaianku berpidato, jang dianggapnja semata-mata sebagai alat untuk dapat mempertahankan daerah takluknja. Ketika aku minta izin untuk ,,menulis dan berkeliling guna meringankan kesulitan-kesulitan di daerah jang tidak bisa ditjapai”, dia menjediakan surat-suratkabar dan pesawat-terbang untuk itu. Dia mengizinkanku untuk mengadakan rapat-rapat raksasa. Aku berpidato di hadapan 50.000 orang dalam suatu rapat, aku berpidato di hadapan 100.000 orang dalam rapat-jang lain. Tidak hanja nama Sukarno, melainkan djuga wadjah Sukarno telah mendjalar ke seluruh pelosok kepulauan Indonesia. Untuk ini aku harus berterima kasih kepada Djepang. Sekali lagi aku menggelorakan hati rakjat. Aku membangkitkan semangat rakjat. Aku mengojak-ojak kesadaran rakjat. Dan Dai Nippon semakin memerlukan bantuanku. Sungguhpun demikian, djanganlah orang mengira bahwa karena kedudukan itu keadaanku empuk dan mewah selama peperangan. Tidak. Kalau rakjat lapar, Sukarnopun lapar. Kalau tidak ada makanan, Sukarno djuga tidak mempunjai makanan. Aku sendiri terpaksa mentjari beras untuk memberi makan keluargaku. Pemimpin dari suatu bangsa pergi ke kampung-kampung untuk mengumpulkan lima kilo beras, tak ubahnja dengan rakjat desa jang paling miskin.

Dan pada suatu kali aku tidak lekas memadamkan lampu pada waktu penggelapan. Setjelah ketjil tjahaja selama satu detik tampak bersinar dari luar jang gelap. Segera setelah aku mematikannja, terdengarlah suara orang menggedor-gedor pintu dengan keras. Dengan tjepat Inggit mendjawabnja dan ia berhadapan dengan sekelompok Polisi Militer.

,,Ada apa?” tanja Inggit gemetar. Kaptennja menggeram, ,,Siapa jang punja rumah ini?” ,,Saja,” djawab Inggit. ,,Tidak,” teriaknja, ,,Kami maksud tuan rumah. Siapa suami njonja?”

Aku sedang berada djauh di dalam, akan tetapi aku keluar djuga Kapten itu membentak-bentak kepadaku karena tjahaja lampu jang sedetik itu, kemudian tangannja melajang plang …… plang ………..plang……. plang, kemplangannja dengan tjepat melekat di mukaku. Melihat pemandangan itu Inggit berlutut dan mendjerit, ,,Aduh……. Aduh…..djangan tampar dia. Saja jang harus bertanggung-djawab. Itu bukan salahnja. Oooo, ma’afkanlah dia. Saja jang lalai ……..!”

Orang-orang itu tidak peduli. Mereka lebih mau menghukumku. Mukaku petjah-petjah. Dari bibir dan hidungku banjak mengalir darah. Akan tetapi tidaklah aku mengutjapkan sepatah kata. Aku tidak bertahan untuk diriku sendiri. Aku hanja menahankannja dengan tenang sambil berkata kepada diriku sendiri, ,,Sukarno, kesakitan jang kaurasakan sekarang hanjalah merupakan kerikil didjalan raja menudju kemerdekaan. Langkahilah dia. Kalau engkau djatuh karenanja, berdirilah engkau kembali dan terus berdjalan.”

Aku melaporkan kedjadian ini kepada Kolonel Nakayama, Kepala Bagian Pemerintahan, dan tentu sadja dia minta maaf dan menjatakan, ,,Kapten itu tidak mengetahui siapa tuan” dan selandjutnja katanja, ,,segera akan diambil tindakan terhadap orang itu”, akan tetapi orang-orang itu tetap mengawasiku setiap saat.

Pada suatu kesempatan Imamura berpidato di hadapan rakjat. Sambutan rakjat lembek. Aku menterdjemahkannja dengan semangat jang berkobar-kobar dan dengan memberikan beberapa putar-balik kata-kata gaja Sukarno. Rakjatku djadi gila karenanja. Pada setiap utjapan mereka bersorak dan berteriak dan bertepuk. Hal ini membangkitkan ketjurigaan Kenpeitai. Aku diiringkan ke markasnja, dimana aku dibentak-disenggak dan diantjam. Aku merasa jakin dalam diriku, bahwa aku akan digantung. Tapi untunglah. Seorang djurubahasa jang mereka pakai dibawa masuk untuk menghadapiku. Akan tetapi orang ini setia kepadaku dan dia mendjamin utjapan-utjapanku. Kemudian setelah mengalami detik-detik jang menakutkan selama berdjam-djam aku dibebaskan kembali.

Kemanapun aku pergi, aku diiringi oleh perwira-perwira Djepang atau menelitiku setjara diam-diam. Seringkali Kenpeitai datang di waktu jang tidak tertentu. Aku harus mendjaga diriku setiap saat. Orang Djepang tidaklah bodoh. Mereka tidak pernah mempertjajaiku sepenuhnja. Kaki-tangan kami dalam gerakan bawah-tanah mengabarkan, bahwa ada rentjana Djepang untuk membunuh semua pemimpin bangsa Indonesia. Pun orang mengatakan, bahwa Djepang masih memerlukan tenagaku guna mengambil hati rakjat untuk kepentingan mereka. Akan tetapi di saat tugas ini selesai, gilirankupun akan datang pula. Aku senantiasa dalam bahaja.

Berbahaja atau tidak, namun aku tetap mengadakan hubungan rahasia dengan gerakan bawah-tanah. Kadang-kadang djauh tengah malam, pada waktu semua lampu sudah padam dan semua orang sudah menutup pintunja, aku mengadakan pembitjaraan di klinik Dr. Suharto. Adakalanja aku mengadakan kontak dengan seorang penghubung di luar tempat terbuka setjara beramah-tamah, kelihatan tersenjum seolah-olah kami berbitjara dengan senang. Kemudian di hari berikutnja setjara berbisik-bisik tersebarlah instruksi kepada anggota-anggota bawah-tanah, ,,Ini boleh kita kerdjakan ………… ini tidak.” Perintah-perintah ini datangnja dariku. Aku sendirilah jang memiliki fakta-fakta tertentu. Aku merupakan saluran informasi ke kedua djurusan. Akan tetapi Djepang mempunjai tjara-tjara untuk melemahkan semangat seseorang.

Orang jang tertangkap karena memakai bahasa Belanda dipukuli. Perempuan-perempuan ditarik dari rumahnja dan diangkut dengan kapal, katanja ke-“tempat-pendidikan”, tapi kemudian mereka didjerumuskan ke dalam rumah perzinaan. Laki-laki dan perempuan jang tidak membungkukkan badan pada waktu melewati seorang pendjaga di djalanan mendapat tamparan. Dari tjara hukuman jang demikian karena kesalahan ketjil-ketjil dapatlah orang membajangkan, bagaimana hukuman jang harus dihadapi oleh orang-orang jang kedapatan bergerak dibawah-tanah. Dan kenjataan ini memaksa orang untuk bertindak hati-hati sekali.

Tjutjunguk ada di mana-mana. Dengan menjamar sebagai tukang sate mereka berdjalan sepandjang waktu, sambil mendengar-dengarkan suara titit…..titit dari radio, jang berarti bahwa ada seseorang jang sedang menerima ‘atau mengirim berita. Kemenakan Suharto ditangkap karena ketahuan mendengarkan radio gelap.

la didjatuhi hukuman mati. Dr. Suharto, seorang kawan seperdjoanganku jang akrab dan kawan sesungguhnja, tidak minta pertolonganku supaja berusaha melepaskannja, oleh karena dia menganggap tuduhan itu terlalu berat dan djika aku turut membelanja dapat mendjerumuskanku ke dalam bahaja jang besar.

Akan tetapi aku mempunjai mata dan telinga dalam Kenpeitai. Mereka selalu mengetahui sebelumnja, kalau ada kekeruhan tugas merekalah untuk menjalurkan berita itu kepadaku. Berita disampaikan setjara lisan. Tidak ada jang berani menjatakannja dengan tertulis. Berita itu diteruskannja kepada seorang agen jang bekerdja di Sendenbu, jang kemudian menghubungi pula seorang kawan di PUTERA.

Achirnja sampailah kabar kepadaku, bahwa telah terdjadi penggerebekan dan Dr. Darmasetyawan ini ditahan dan disiksa. Aku mendengar, bahwa tanggal ia akan mendjalani hukuman mati telah ditetapkan. Dan pada suatu hari Suharto mendapati kemenakannja sudah kembali lagi dan sedang duduk di beranda depan rumahnja. Semuanja terdjadi dengan sangat tjepat, tidak dengan ribut-ribut.

Orang Indonesia mempunjai keluarga jang besar dan ratusan sanak-saudara, sehingga berita dapat berdjalan dari desa ke desa ke seluruh pelosok pulau dalam waktu beberapa hari. Tjara ini lebih baik daripada telpon. Dengan tjara berita dari mulut ke mulut ini datanglah pesan jang lain: ,,Pengatjara Sujudi ditahan. Sampaikan kepada Sukarno.” Sujudi telah mengorbankan reputasinja untukku. Di rumahnjalah aku ditangkap dalam bulan Desember tahun 1929. Aku mengadakan hubungan dengan para pembesar jang mengurus perkaranja, memberikan diriku sendiri sebagai djaminan untuk menjelamatkan Sujudi. ,,Tidak mungkin dia mengadakan komplot menentang Dai Nippon,” aku mempertahankan. ,,Tuduhan ini tentu keliru. Sujudi adalah nasionalis jang setia dan takkan mau melawan Dai Nippon jang kami hormati, karena Nipponlah jang membantu kami untuk kemerdekaan.” Setelah itu ia bebas.

Sampai pula laporan kepadaku bahwa Amir Sjarifuddin, salahseorang pemimpin kami dari gerakan bawah-tanah, selama berminggu-minggu telah digantung oleh Kenpetai dengan kakinja ke atas. Dia disuruh meminum air-kentjingnja sendiri. Dia takkan dapat tahan lebih lama lagi. Aku merundingkan pembebasannja dengan menegaskan kepada para pedjabat jang bersangkutan, ,,Bebaskan dia atau kalau tidak, djangan diharap lagi kerdja-sama dari saja.” Untuk dapat membuat pernjataan seperti itu, sungguh-sungguh diperlukan hati jang kuat. Akan tetapi untuk dapat memandangi keadaan Amir Sjarifuddin ketika Djepang mengeluarkannja, memerlukan kekuatan hati jang lebih besar lagi. Badannja kurus seperti lidi. Orang tidak dapat pertjaja, bahwa seseorang masih sanggup menahankan penderitaan seperti itu dan masih mungkin keluar daIam keadaan bernjawa.

Aku telah banjak menjelesaikan persoalan-persoalan demikian ini. Sampai sekarang ia terkubur djauh di dalam hatiku. Tidaklah kusorak-sorakkan djasa jang telah kuberikan kepada orang lain dari atas atap rumah, betapapun djuga banjaknja. Selama hidupku aku telah mendjalankan amal djariah kepada semua manusia, apabila aku sanggup melakukannja. Aku tahu. Dan Tuhan pun tahu. Itulah jang penting bagiku.

 

 

Bab 21

Puteraku Jang Pertama

 

SEBENARNJA keadaanku tidak dapat dikatakan sehat ditahun 1943, baik djasmani maupun rohani. Ketegangan-ketegangan jang timbul telah mengorek-ngorek djiwa dan ragaku dengan hebat. Sebagai penderita malaria jang melarut aku dimasukkan ke rumah-sakit selama berminggu-minggu terus-menerus. Pada suatu kali, oleh karena tidak ada tempat-tidur jang kosong, aku dimasukkan ke Kamar Bersalin. Perempuan tjantik-tjantik dibawa masuk di sebelahku, akan tetapi keadaanku terlalu pajah untuk dapat memperhatikan mereka. Tambahan lagi aku menderita penjakit gindjal. Kadang-kadang aku meringkuk dengan kaki rapat ke badan, oleh karena serangan-serangan jang tidak tertahankan sakitnja. Adakalanja keluar keringat dingin, bahkan kadang-kadang aku tidak dapat berdiri tenang di atas podium. Bukan sekali dua kali terdjadi, bahwa setelah selesai berpidato aku harus merangkak dengan kaki dan tangan masuk kendaraan.

Kehidupan pribadipun tidaklah seperti jang diharapkan. Aku menghadapi persoalan-persoalan jang sungguh-sungguh berat. Kehidupanku diselubungi oleh gontjangan-gontjangan urat sjaraf. Hubungan Inggit denganku tidak baik. Di suatu malam, karena ingin mendapat kata-kata jang menghibur hati dan ketenangan pikiran, aku menemani seorang kawan ke sebuah Rumah Geisha. Sekembali di rumah, Inggit mengamuk seperti orang gila. Dia berteriak-teriak kepadaku. Barang-barang beterbangan dan sebuah tjangkir mengenai pinggir kepalaku.

Rupanja persoalan Fatmawati masih mengapung-apung di antara kami, sekalipun tidak ada kontak antara Fatmawati denganku. Hubungan pos terputus dan memang ada aku mengirim surat sekali untuk mengabarkan bahwa kami sudah selamat sampai di Djakarta. Hanja itu. Surat ini kupertjajakan kepada seorang suruhan jang dipertjaja jang menitipkannja pula kepada tukang-mas dalam perdjalanan menudju Sumatra.

Pada waktu itu kami sudah pindah, karena aku tidak senang tinggal di rumah bertingkat. Di rumah baru ini anak kami dengan suaminja Asmara Hadi tinggal bersama-sama dengan kami. Pada achirnja merekapun mengaku, bahwa perhubungan antara Inggit denganku tidak mungkin diteruskan lebih lama lagi.

,,Bu,” Ratna Djuami menangis di hadapan Inggit pada suatu malam. ,,Bapak kelihatan sekarang sangat pentjemas dan penggugup. Pikirannja nampaknja katjau. Dan kesehatannja selalu terganggu.”

,,Kami kira ini disebabkan kehidupan pribadinja,” sambung Asmara Hadi terus-terang. ,,Kalau sekiranja dia tidak dibinasakan dalam bidang kehidupan lain, tentu akan lain halnja. Akan tetapi perasaan tidak bahagia ini jang ditumpukkan ke atas bebannja jang sudah tjukup berat itu sangat melemahkan kekuatannja.”

Aku meminta pengertian Inggit. ,Aku sendiri, akan mentjarikanmu rumah. Dan aku akan selalu mengusahakan segala sesuatu jang kauperlukan. Kaupun tahu, diantara kita semakin sering terdjadi pertengkaran dan ini tentu tidak baik untukmu.”

,,Ini djalan satu-satunja, Bu,” Asmara Hadi mengeluh. ,,Negeri kita memerlukan bapak. Tidak hanja ibu, ataupun saja maupun Ratna Djuami jang memerlukannja. Dia kepunjaan kita semua. Rakjat memerlukan bapak sebagai pemimpinnja, tidak jang lain. Dan apa jang akan terdjadi terhadap Indonesia, kalau dia hantjur?”

Setelah pertjeraian telah disepakati bahwa Inggit kembali ke kota kelahirannja. Di pagi itu ia harus pergi ke dokter-gigi dulu. Hatiku senantiasa dekat pada isteriku dan aku tidak akan membiarkannja pergi seorang diri. Karena itu Inggit kutemani. Hari sudah tinggi ketika kami kembali dalam keadaan letih, merasa badan kami tidak enak, dan sesampai di rumah kami mendapati serombongan wanita jang akan bertamu kepada Inggit. Sedjam lamanja mereka berkundjung, sekalipun tidak banjak jang dipertjakapkan. Kuingat di waktu itu aku merasakan kegelisahan jang amat sangat. Saat jang melelahkan sekali. Kemudian aku mengiringkan Inggit ke Bandung, membongkar barang-barangnja, mejakinkan diri kalau-kalau ada sesuatu jang kurang, lalu aku mengutjapkan selamat tinggal kepadanja…………….

Bulan Djuni 1943 Fatma dan aku kawin setjara nikah wakil. Untuk dapat mengangkutnja beserta orangtuanja ke Djawa urusannja terlalu berbelit-belit dan pandjang, pun aku tidak bisa segera mendjemputnja ke Sumatra, sedang aku tak mungkin rasanja menunggu leliih lama lagi. Mendadak timbul keinginanku jang keras untuk kawin. Menurut hukum Islam perkawinan dapat dilangsungkan, asal ada pengantin perempuan dan sesuatu jang mewakili mempelai laki-laki. Aku mempunjai lebih daripada sesuatu itu. Aku mempunjai seseorang. Kukirimlah telegram kepada seorang kawan jang akrab dan memintanja untuk mewakiliku. la memperlihatkan telegram itu kepada orangtua Fatma dan usul ini mendapat persetudjuan. Pengantin dan wakilku pergi menghadap kadi dan sekalipun dia masih di Bengkulu dan aku di Djakarta, dengan demikian kami sudah mengikat tali perkawinan.

Di tahun berikutnja Fatmawati melahirkan seorang putera. Aku tidak sanggup menggambarkan kegembiraan jang diberikannja kepadaku. Umurku sudah 43 tahun dan achirnja Tuhan Jang Maha Pengasih mengaruniai kami seorang anak.

Di saat mendengar bahwa Fatma dalam keadaan hamil, maka ibu, bapak dan kakakku perempuan datang dengan segera dari Blitar. Mereka sangat gembira. Orangtua kami dari kedua-belah pihak tinggal dengan kami di paviljun dekat rumah hingga sang baji lahir. Bapaklah jang mengawasi segala pekerdjaan. Dialah jang duduk setiap djam memberi petundjuk kepada Fatma, bagaimana ia harus mempersiapkan dirinja. Selalu aku melihat mereka duduk bersama-sama dan selalu aku dapat mendengar bapak mengatakan sesuatu seperti, ,,Nah, djangan lupa mentjatat bedak baji, pisau ketjil untuk pemotong talipusatnja dan emban untuk menahan perutmu sendiri.”

Di malam Fatma akan melahirkan kami mendjamu tamu-tamu penting – orang Djepang dan orang Indonesia. Fatmawati sibuk melajani sebagai njonja-rumah, akan tetapi kemudian dia mulai merasa sakit. Aku sendiri membimbingnja ke kamar dan memanggil dokter. Mulai dari saat itu aku tetap berada di sisinja, pun tidak tidur barang satu kedjap sampai ia memberikan kepadaku seorang putera jang tidak ternilai itu. Kududuk di atas tempat-tidur mendampinginja, memegang tangannja sementara ia melahirkan. Aku bukanlah orang jang bisa tahan melihat darah, akan tetapi di saat didjadikannja seorang manusia idamanku ini adalah saat jang paling nikmat dari seluruh hidupku. Djam lima waktu subuh, ketika terdengar azan dari mesdjid memanggil ummat untuk menjembah Tuhannja, anakku jang pertama, Guntur Sukarnoputra, lahirlah. Tuhan Jang Maha-Penjajang dan Maha-Bidjaksana telah memandjangkan umur bapakku untuk dapat melihat darah-dagingku mengindjak dunia ini. Setelah itu ia djatuh sakit. Fatma merawatnya berbulan-bulan dengan tekun dan setia hingga ia menghembuskan napas jang penghabisan.

Aku teringat akan ,,Si Tukang Kebun”, sebuah buku tjerita jang kubatja pada waktu masih berumur 13 tahun. Waktu itu aku tidak mengerti maknanja jang lebih dalam. la mentjeritakan tentang bagaimana daun-daun kaju jang sudah tjoklat dan kering harus djatuh dan memberikan tempatnja kepada putjuk jang hidjau dan baru. Duapuluh tahun kemudian barulah aku mengerti.

Syair dan Puisi Gus Mus

Standard

SUJUD

Bagaimana kau hendak bersujud pasrah,

Sedang wajahmu yang bersih sumringah,

Keningmu yang mulia dan indah,

Begitu pongah minta sajadah agar tak menyentuh tanah

Apakah kau melihatnya seperti iblis saat menolak

Menyembah bapamu dengan congkak

Tanah hanya patut diinjak, tempat kencing dan berak,

membuang ludah dan dahak

atau paling jauh hanya lahan pemanjaan nafsu serakah dan tamak

Apakah kau lupa bahwa

tanah adalah bapa dari mana ibumu dilahirkan

Tanah adalah ibu yang menyusuimu dan memberi makan

Tanah adalah kawan yang memelukmu dalam kesendirian

dalam perjalanan panjang menuju keabadian

Singkirkan saja sajadah mahalmu

Ratakan keningmu

Ratakan heningmu

Tanahkan wajahmu

Pasrahkan jiwamu

Biarlah rahmat agung Allah membelaimu dan

Terbanglah kekasih.

.

.

CINTAMU

bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarilah

rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu

datanglah aku akan berlari menyambutmu

tapi kau terus sibuk dengan dirimu

kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku

tanpa meski sekedar melongokku

kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku

lalu kau rayu aku dari kejauhan

kau merayu dan memujaku

bukan untuk mendapatkan cintaku

tapi sekedar memuaskan egomu

kau memarahi mereka

yang berusaha mendekatiku

seolah olah aku sudah menjadi kekasihmu

apakah karena kau cemburu buta

atau takut mereka lebih tulus mencintaiku

Pulanglah ke dirimu

aku tak kemana mana

.

2005

.

.

PUISI ISLAM

Islam agamaku, nomor satu di dunia

Islam benderaku, berkibar dimana-mana

Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana

Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya

Islam sorbanku

Islam sajadahku

Islam kitabku

Islam podiumku, kelas eksklusif yang mengubah cara dunia memandangku

Tempat aku menusuk kanan-kiri

Islam media-massaku, gaya komunikasi islami masa kini

Tempat aku menikam sana-sini

Islam organisasiku

Islam perusahaanku

Islam yayasanku

Islam instansiku, menara dengan seribu pengeras suara

Islam muktamarku, forum hiruk-pikuk tiada tara

Islam bursaku

Islam warungku, hanya menjual makanan sorgawi

Islam supermarketku, melayani segala keperluan manusiawi

Islam makananku

Islam teaterku, menampilkan karakter-karakter suci

Islam festivalku, memeriahkan hari-hari mati

Islam kausku

Islam pentasku

Islam seminarku, membahas semua

Islam upacaraku, menyambut segala

Islam puisiku, menyanyikan apa

Tuhan, Islamkah aku?

.

Rembang, 1. 1413

.

.

ADA APA DENGAN KALIAN

Kalian sibuk mengujarkan dan mengajarkan kalimat syahadat

Sambil terus menyekutukan diri kalian dengan Tuhan penuh semangat

Berjihad di jalan kalian

Berjuang menegakkan syariat kalian

Memerangi hamba hambaNya yang seharusnya kalian ajak ke jalanNya

Seolah olah kalian belum tahu bedanya

Antara mengajak yang diperintahkanNya

Dan memaksa yang dilarangNya

Kalian kibarkan Rasulurrahmah Al Amien dimana mana

Sambil menebarkan laknatan lil’aalamien kemana mana

Ada apa dengan kalian?

Mulut kalian berbuih akhirat

Kepala kalian tempat dunia yang kalian anggap nikmat

Ada apa dengan kalian?

Kalian bersemangat membangun masjid dan mushalla

Tapi malas memakmurkannya

Kalian bangga menjadi panitia zakat dan infak

Seolah olah kalian yang berzakat dan berinfak

Kalian berniat puasa di malam hari

Dan iman kalian ngeri

Melihat warung buka di siang hari

Kalian setiap tahun pergi umrah dan haji

Tapi kalian masih terus tega berlaku keji

Ada apa dengan kalian?

Demi menjaga tubuh dan perut kaum beriman dari virus keharaman

Kalian teliti dengan cermat semua barang dan makanan

Bumbu penyedap, mie, minyak, sabun, jajanan.

Rokok dan berbagai jenis minuman

Alkohol, minyak babi dan nikotin adalah najis dan setan

Yang mesti dibasmi dari kehidupan

Untuk itu kalian

Tidak hanya berkhotbah dan memasang iklan

Bahkan menyaingi pemerintah kalian

Menarik pajak produksi dan penjualan

Dan agar terkesan sakral

Kalian gunakan sebutan mulia, label halal

Tapi agaknya kalian melupakan setan yang lebih setan

Najis yang lebih menjijikkan

Virus yang lebih mematikan

Daripada virus alkohol, nikotin dan minyak babi

Bahkan lebih merajalela daripada epidemi

Bila karena merusak kesehatan, rokok kalian benci

Mengapa kalian diamkan korupsi yang merusak nurani

Bila karena memabokkan, alkohol kalian perangi

Mengapa kalian biarkan korupsi

Yang kadar memabokkannya jauh lebih tinggi?

Bila karena najis, babi kalian musuhi

Mengapa kalian abaikan korupsi

Yang lebih menjijikkan

Ketimbang kotoran seribu babi

Ada apa dengan kalian?

Kapan kalian berhenti membangun kandang kandang babi

Di perut dan hati kalian dengan merusak kanan-kiri?

Sampai kalian mati dan dilaknati?

.

.

PERKENANKAN AKU MENCINTAI-MU SEMAMPUKU

Tuhanku..

Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu,

Lembar demi lembar kitab kupelajari,

Untai demi untai kata para ustadz kuresapi,

Tentang cinta para Nabi,

Tentang kasih para sahabat,

Tentang mahabbah para sufi,

Tentang kerinduan para syuhada,

Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam,

Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan..

Tapi Ya Rabbi..

Berbilang detik, menit, jam, hari, bulan dan kemudian tahun berlalu,

Aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang paling utama,

Tapi aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu,

Aku makin merasakan gelisahku membadai,

Dalam cita yang mengawang,

Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi,

Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan..

Wahai Illahi..

Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun berlalu,

Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali,

Menatap, memohon dan menghiba-Mu..

Allahu Rahiim, Illahi Rabbii..

Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,

Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii..

Perkenankanlah aku mencintai-Mu sebolehku,

Dengan segala kelemahanku..

Ya Illahi..

Aku tak sanggup mencintai-Mu,

Dengan kesabaran menanggung derita,

Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al Musthafa,

Kerana itu izinkan aku mencintai-Mu,

Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu,

Atas derita batin dan jasadku,

Atas sakit dan ketakutanku..

Ya Rabbii..

Aku tak sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar,

Yang menyedekahkan seluruh hartanya,

Dan hanya meninggalkan Engkau dan Rasul-Mu bagi diri dan keluarga,

Atau layaknya Umar yang menyerahkan separuh harta demi jihad,

Atau Utsman yang menyerahkan seribu ekor kuda untuk syiarkan din-Mu,

Izinkan aku mencintai-Mu, melalui seringgit-dua yang terulur,

Pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,

Pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di tepi jembatan,

Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan..

Ya Illahi..

Aku tak sanggup mencintai-Mu,

Dengan khusyuknya sholat salah seorang shahabat Nabi-Mu,

Hingga tiada terasa anak panah musuh menujah di kakinya,

Karena itu Ya Allah,

Perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu,

Dalam sholat yang coba kudirikan terbata-bata,

Meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia..

Ya Rabbii..

Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib,

Yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu,

Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rakaat lailku,

Dalam satu-dua sunnah nafilah-Mu,

Dalam desah nafas kepasrahan tidurku..

Yaa Maha Rahmaan..

Aku tak sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah,

Yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam,

Perkenankanlah aku mencintai-Mu,

Melalui selembar dua lembar tilawah harianku,

Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku..

Yaa Maha Rahiim..

Aku tak sanggup mencintai-Mu semisal Sumayyah,

Yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya Din-Mu,

Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagi-Mu,

Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu,

Dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwah-Mu,

Maka izinkanlah aku mencintai-Mu,

Dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru..

Allahu Kariim..

Aku tak sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,

Bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,

Dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya,

Maka izinkanlah aku mencintai-Mu di dalam segalanya,

Izinkan aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku,

Dengan mencintai sahabat-sahabatku,

Dengan mencintai manusia dan alam semesta..

Allahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii..

Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,

Agar cinta itu mengalun dalam jiwa,

Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku..

 .

 .

FRAGMEN

(K.H.A. Mustofa Bisri)

YA ALLAH

Semoga tidak hanya mulut hamba
Hati hamba pun menyatakan
Hanya Engkau Tuhan
Tuhan hamba

YA RAHMAAN YA RAHIIM

Demi kasih sayang ibu
yang menahan kantuk sepanjang malam
agar puteranya tetap lelap
nyaman dalam hangat pelukan
dan merdu kidungnya,
limpahkanlah kasih sayangMu
wahai Sang Maha kasih sayang

Demi induk kuda yang hati-hati
meletakkan kaki-kakinya
agar tak menginjak anak-anaknya,
limpahkanlah kasih sayangMu
wahai Sang Maha kasih sayang

Demi burung yang tak tega
mendengar cicit piyik-piyiknya
dan segera melolohnya,
limpahkanlah kasih sayangMu
wahai Sang Maha kasih sayang

Demi para pengasih yang mengeluskan perhatian
pada bocah-bocah yatim yang papa,
limpahkanlah kasih sayangMu
wahai Sang Maha kasih sayang

Demi kerelaan kekasih
mengorbankan segala,
limpahkanlah kasih sayangMu
wahai Sang Maha kasih sayang

Wahai Sang Maha kasih sayang
yang membagi satu perseratus kasih sayangNya
kepada hamba-hambaNya yang pengasih dan penyayang,
pancarkanlah cahaya kasih sayangMu
di hati para pembenci dan pendengki
di hati raja tega yang tak berperasaan
Janganlah Engkau siksa mereka
dengan kegelapan kebencian
luapan kedengkian
dan kematian ruhani

YA MAALIKU YA QUDDUUS

Wahai Sang Maha penguasa
Yang memberi kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau suka
Yang memberi kekuasaan kepada
nabi Yusuf, nabi Sulaiman, Iskandar yang agung
hingga Umar Ibn Abdul Aziz dan Sultan Agung
Yang memberi kekuasaan kepada
Namrud, Firaun, Nero si kaisar Roma
hingga Hitler dan Bush si raja Amerika

Wahai Sang Mahasuci
yang telah mensucikan hati nabi Ibrahim dan nabi Musa
hingga nabi Isa dan nabi Muhammad al-musthafa,
berikanlah kekuasaan kepada kami
atas diri-diri kami
dan sucikanlah hati kami
dari daki-daki kesombongan, kedengkian, dan keserakahan
dan dari kesewenang-wenangan jabatan dan kepentingan.

YA SALAAMU YA MU’MIN

Kedamaian dan ketentraman purnama dalam langit malamnya
Kedamaian dan ketentraman bayi dalam dekapan ibunya
Kedamaian dan ketentraman sufi dalam kefanaan wushulnya
Kedamaian dan ketentraman hati dalam kerelaan pemiliknya
Adalah bagian dari percikan rahmatMu
Wahai Sang Mahapemberi Kedamaian dan ketentraman
Percikkanlah kedamaian dan ketentraman di kalbu kami

Wahai Sang Mahapemberi rasa aman
Berilah kami rasa aman dariMu dalam ridhaMu
Bukan rasa aman yang meninabobokkan
penyembah sorga dalam ibadahnya
Bukan rasa aman yang meninabobokkan
penyembah dunia dalam kehidupannya

YA MUHAIMINU

Singa, serigala, ular, buaya, dan bahkan manusia
yang merasa diri perkasa
mengawasi tempatnya mengincar mangsa mereka
dengan mata mereka yang nyalang
Engkau Yang Mahaperkasa
mengawasi makhluk-makhlukMu semesta
dengan mata kasihsayang
Lindungilah kami dari incaran kekejian diri kami sendiri
dan apa saja yang membuatMu berpaling dari kami

YA ‘AZIIZU

Mereka yang merasa menang
cenderung sewenang-wenang
Mereka yang berjaya
cenderung suka menganiaya
menjarah yang kalah
menista yang tak berdaya

Engkau Yang Mahamenang di atas segala yang menang
Yang Mahajaya dari semua yang berjaya
Menangkanlah kami atas nafsu-nafsu kami yang rakus
Dukunglah kami menundukkan diri kami yang angkuh
Bantulah kami meraih kejayaan yang tak semu:
mahkota keridhaanMu

YA JABBAARU YA MUTAKABBIR

Penguasa-penguasa yang perkasa
Cepat atau lambat
hancur karena takabur
Khalifah yang lupa kehambaannya
lupa kelemahannya
dikejutkan oleh kejatuhannya

Hanya Engkaulah, wahai Yang Mahaperkasa
yang berhak takabur karena Engkau Mahasempurna
Kelebihan apa pun yang Engkau limpahkan kepada kami
janganlah Engkau jadikan penyebab lupa dan bangga diri
Lindungilah kami dari keangkuhan
yang menjauhkan kami dari kasihMu

.

.

TADARUS

Bismillahirrahmanirrahim

Berhenti mengalir darahku menyimak firmanMu

Idzaa zulzilatil-ardlu zilzaalahaa
Wa akhrajatil-ardlu atsqaalahaa
Waqaalal-insaanu maa lahaa
(Ketika bumi diguncang dengan dasyatnya
Dan bumi memuntahkan isi perutnya
Dan manusia bertanya-tanya: Bumi ini kenapa?

Yaumaidzin tuhadditsu akhbaarahaa
Bianna Rabbaka auhaa lahaa
Yaumaidzin yashdurun-naasu asytaatan
Liyurau a’maalahum
(Ketika itu bumi mengisahkan kisah-kisahnya
Karena Tuhanmu mengilhaminya
Ketika itu manusia tumpah terpisah-pisah
‘Tuk diperlihatkan perbuatan-perbuatan mereka)

Faman ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah
Waman ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarah
(Maka siapa yang berbuat sezarrah kebaikan pun akan melihatnya
Dan siapa yang berbuat sezarrah kejahatan pun akan melihatnya)

Ya Tuhan, akukah insan yang bertanya-tanya
Ataukah aku mukmin yang sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi

Aduhai, akan kemanakah kiranya bergulir?
Di antara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah kulihat sezarrah saja
Kebaikan yang pernah kubuat?

Nafasku memburu diburu firmanMu

Dengan asma Allah Yang Pengasih Penyayang

Wa’aadiyaati dlabhan
Falmuuriyaati qadhan
Fa-atsarna bihi naq’an
Fawasathna bihi jam’an
(Demi yang sama berpacu berdengkusan
Yang sama mencetuskan api berdenyaran
Yang pagi-pagi melancarkan serbuan
Menerbangkan debu berhamburan
Dan menembusnya ke tengah-tengah pasukan lawan)

Innal-insana liRabbihi lakanuud
Wainnahu ‘alaa dzaalika lasyahied
Wainnahu lihubbil-khairi lasyadied
(Sungguh manusia itu kepada Tuhannya Sangat tidak tahu berterima kasih
Sungguh manusia itu sendiri tentang itu menjadi saksi
Dan sungguh manusia itu sayangnya kepada harta luar biasa)

Afalaa ya’lamu idza bu’tsira maa fil-qubur
Wahushshila maa fis-shuduur
Inna Rabbahum bihim yaumaidzin lakhabier
(Tidakkah manusia itu tahu saat isi kubur dihamburkan
Saat isi dada ditumpahkan?
Sungguh Tuhan mereka
Terhadap mereka saat itu tahu belaka!)

Ya Tuhan,
kemana gerangan butir debu ini ‘kan menghambur?
Adakah secercah syukur menempel
Ketika isi dada dimuntahkan
Ketika semua kesayangan dan andalan entah kemana?

Meremang bulu romaku diguncang firmanMu

Bismillahirrahmaanirrahim
Al-Qoaari’atu
Mal-qaari’ah
Wamaa adraaka mal-qaari’ah
(Penggetar hati
Apakah penggetar hati itu?
Tahu kau apa itu penggetar hati?)

Resah sukmaku dirasuk firmanMu

Yauma yakuunun-naasu kal-faraasyil-mabtsuts
Watakuunul-jibaalu kal’ihnil-manfusy
(Itulah hari manusia bagaikan belalang bertebaran
dan gunung-gunung bagaikan bulu-bulu dihambur-terbangkan)

Menggigil ruas-ruas tulangku dalam firmanMu

Wa ammaa man tsaqulat mawaazienuhu
Fahuwa fii ‘iesyatir-raadliyah
Wa ammaa man khaffat mawaazienuhu faummuhu haawiyah
Wamaa adraaka maa hiyah Naarun haamiyah
(Nah barangsiapa berbobot timbangan amalnya
Ia akan berada dalam kehidupan memuaskan
Dan barangsiapa enteng timbangan amalnya
Tempat tinggalnya di Hawiyah
Tahu kau apa itu?
Api yang sangat panas membakar!)

Ya Tuhan
kemanakah gerangan belalang malang ini ‘kan terkapar?
Gunung amal yang dibanggakan
Jadikah selembar bulu saja memberati timbangan
Atau gunung-gunung dosa akan melumatnya
Bagi persembahan lidah Hawiyah?

Ataukah,
o, kalau saja maharahmatMu
Akan menerbangkannya ke lautan ampunan

Shadaqallahul’ Adhiem

Telah selesai ayat-ayat dibaca
Telah sirna gema-gema sari tilawahnya
Marilah kita ikuti acara selanjutnya
Masih banyak urusan dunia yang belum selesai
Masih banyak kepentingan yang belum tercapai
Masih banyak keinginan yang belum tergapai
Marilah kembali berlupa
Insya Allah Kiamat masih lama.
Amien.

.

.

NEGERI KEKELUARGAAN

meski kalian tidak bersaksi
sejarah pasti akan mencatat dengan huruf-huruf besar
bukan karena inilah
negeri bagai zamrud yang amat indah
bukan karena inilah
negeri dengan kekayaan yang melimpah
dan rakyat paling ramah
tapi karena kalian telah membuatnya
menjadi negeri paling unik di dunia

kalian buat norma-norma sendiri yang unik
aturan-aturan sendiri yang unik
perilaku-perilaku sosial sendiri yang unik
budaya yang lain dari yang lain

kalian buat bangsa negeri ini
tampil beda dari bangsa-bangsa lain di muka bumi
kehidupan penuh makna kekeluargaan
yang harmonis, seragam dan serasi
dengan demokrasi keluarga
yang manis, rukun dan damai

dalam sistem negeri kekeluargaan
bapak sebagai kepala rumahtangga
memimpin dan mengatur segalanya
sampai akhir hayatnya
bagi kepentingan keluarganya
kepentingan keluarga adalah kepentingan semua
kepentingan keluarga adalah kepentingan bangsa dan negara
keluarga harus sejahtera
dan semua harus mensejahterakan keluarga

demi kesejahteraan dan kemakmuran keluarga
kepala keluarga berhak menentukan
sispa-siapa termasuk keluarga
berhak memutuskan dan membatalkan keputusan
berhak mengatasnamakan siapa saja
berhak mengumumkan dan menyembunyikan apa saja

kepala keluarga demi keluarga
berhak atas laut dan dan udara
berhak atas air dan tanah
berhak atas sawah dan ladang
berhak atas hutan dan padang
berhak atas manuasia dan binatang

sejarah pasti akan menulis dengan huruf-huruf besar
bahwa di suatu kurun waktu yang lama
pernah ada negeri kekeluargaan
yang sukses membina dan mempertahankan
kemakmuran dan kebahagiaan keluarga

.

1997

.

.

NEGERI TEKA TEKI

jangan tanya, tebak saja

jangan tanya apa
jangan tanya siapa
jangan tanya mengapa
tebak saja

jangan tanya apa yang terjadi
apalagi apa yang ada di balik kejadian
karena disini yang ada memang
hanya kotak-kotak teka-teki silang
dan daftar pertanyaan-pertanyaan

jangan tanya mengapa
yang disana dimanjakan
yang disini dihinakan,
tebak saja
jangan tanya siapa
membunuh buruh dan wartawan
siapa merenggut nyawa
yang dimuliakan Tuhan
jangan tanya mengapa,
tebak saja

jangan tanya mengapa
yang disini selalu dibenarkan
yang disana selalu disalahkan
tebak saja

jangan tanya siapa
membakar hutan dan emosi rakyat
siapa melindungi penjahat keparat
jangan tanya mengapa,
tebak saja

jangan tanya mengapa
setiap kali terjadi kekeliruan
pertanggungjawabannya tak karuan
tebak saja

jangan tanya siapa
beternak kambing hitam
untuk setiap kali dikorbankan
tebak saja

jangan tanya siapa
membungkam kebenaran
dan menyembunyikan fakta
siapa menyuburkan kemunafikan dan dusta
jangan tanya mengapa
tebak saja

jangan tanya siapa
jangan tanya mengapa
jangan tanya apa-apa
tebak saja

rembang – oktober 1997

SAJAK ATAS NAMA

ada yang atas nama Tuhan melecehkan Tuhan
ada yang atas nama negara merampok negara
ada yang atas nama rakyat menindas rakyat
ada yang atas nama kemanusiaan memangsa manusia

ada yang atas nama keadilan meruntuhkan keadilan
ada yang atas nama persatuan merusak persatuan
ada yang atas nama perdamaian mengusik kedamaian
ada yang atas nama kemerdekaan memasung kemerdekaan

maka atas nama apa saja atau siapa saja
kirimkanlah laknat kalian
atau atas nama Ku
perangilah mereka dengan kasihsayang

.

rembang – agustus 1997

.

.

KAUM BERAGAMA NEGERI INI

Tuhan, lihatlah betapa kaum beragama negeri ini
mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain
di negeri-negeri lain,
demi mendapatkan ridha Mu
mereka rela mengorbankan saudara-saudara mereka
untuk berebut tempat terdekat di sisi Mu
mereka bahkan tega menyodok dan menikam
hamba-hamba Mu sendiri
demi memperoleh rahmat Mu
mereka memaafkan kesalahan
dan mendiamkan kemungkaran
bahkan mendukung kelaliman
untuk membuktikan keluhuran budi mereka
terhadap setanpun mereka tak pernah berburuk sangka

Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini
mereka terus membuatkan Mu rumah-rumah mewah
di antara gedung-gedung kota
hingga tengah-tengah sawah
dengan kubah-kubah megah dan menara-menara menjulang
untuk meneriakkan nama Mu
menambah segan dan keder hamba-hamba kecil Mu
yang ingin sowan kepada Mu
nama Mu mereka nyanyikan dalam acara hiburan
hingga pesta agung kenegaraan
mereka merasa begitu dekat dengan Mu
hingga masing-masing merasa berhak mewakili Mu
yang memiliki kelebihan harta membuktikan
kedekatannya dengan harta yang Engkau berikan
yang memiliki kelebihan kekuasaan membuktikan
kedekatannya dengan kekuasaan yang Engkau limpahkan
yang memiliki kelebihan ilmu membuktikan
kedekatannya dengan ilmu yang Engkau karuniakan
mereka yang Engkau anugerahi kekuatan
seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri
mereka bukan saja ikut menentukan ibadah
tapi juga menetapkan siapa ke sorga siapa ke neraka
mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan
hingga takbir dan ikrar mereka
yang kosong bagai perut bedug

Allahu Akbar Walillahil Hamd

.

rembang – menjelang idul adha 1418 / 1998

.

.

REFORMASI TERUS MELAJU

api terus melalap kota dan hutan
bayi-bayi terus dikabarkan dibuang sembarangan
demam berdarah terus meminta korban
aktivis-aktivis terus dikabarkan hilang
perusahaan-perusahaan besar terus dibingungkan utang
menteri-menteri terus bernegosiasi dengan para pemilik piutang
bank-bank terus deg-degan
petinggi-petinggi negeri terus berusaha meyakinkan
negara-negara donor terus mempertimbangkan bantuan
ibu-ibu rumah tangga terus mengeluhkan harga bahan-bahan
toko-toko yang pintunya tak pro reformasi
terus jadi sasaran penjarahan
korupsi, kolusi dan nepotisme terus menjadi pembicaraan
pengamat terus mengkritik dan mempertanyakan
pakar-pakar terus berteori
mahasiswa terus berdemonstrasi
abri terus berjaga-jaga
politisi-politisi terus memasang kuda-kuda
ulama dan umara terus beristighatsah dan berdoa
modal dan moral terus terkikis
sembako dan kepercayaan terus menipis
harga-harga terus naik
rupiah yang dicintai terus melemah
orsospol-orsospol terus bengong
wakil-wakil rakyat terus tampak bloon
padahal pak harto sudah lengser keprabon
reformasi terus melaju

rembang – 1998

TEKA TEKI

binatang apa kira-kira
yang hendak membangun istana
untuk kita semua
?

1998

.

.

AKHIRNYA

akhirnya api keserakahan kalian
membakar hutan belukar dan dendam
asapnya menyesakkan napas
berjuta-juta manuasia
memedihkan mata mereka

akhirnya kalian harus memetik hasil
dari apa yang kalian ajarkan
ribuan orang kini telah pandai
meniru kalian menjarah apa saja
yang tersisa dari sehabis jarahan kalian
beberapa tokoh sudah pandai meniru kalian
menyembunyikan gombal kepentingan
dalam retorika yang dimanis-maniskan

akhirnya kalian harus membayar
kemerdekaan dan kedamaian
yang selama ini kalian curi dari kami
kepercayaan yang selama ini
kalian lecehkan

.

1998

.

.

KEMBALIKAN MAKNA PANCASILA

selama ini di depan kami
terus kalian singkat-singkat pancasila
karena kalian takut ketauan
sila-sila yang kalian maksud
sila-sila yang kalian anut
tidak sebagaimana yang kalian tatarkan
kepentingan-kepentingan sempit sesaat
telah terlalu jauh menyeret kalian
maka pancasila kalian pun selama ini adalah :
KESETANAN YANG MAHA PERKASA
KEBINATANGAN YANG DEGIL DAN BIADAB
PERSETERUAN INDONESIA
KEKUASAAN YANG DIPIMPIN OLEH NIKMAT KEPENTINGAN
DALAM KEKERABATAN / PERKAWANAN
KELALIMAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

dan sorga kamipun menjadi neraka
di depan dunia
ibu pertiwi menangis memilukan
merah putihnya di cabik-cabik
anak-anaknya sendiri bagai serigala
menjarah dan memperkosanya

o, gusti kebiadaban apa ini ?
o, azab apa ini ?
gusti,
sampai memohon ampun kepada Mu pun
kami tak berani lagi

1998

.

.

KINILAH SAATNYA BERTERUS TERANG

setelah sekian lama
kita dihimpit gelap kabut
ditindih rasa takut
setelah sekian lama
kita digoncang deru angin
setelah semua kata-kata
hanya menggumpal dalam dada
setelah semua merasa lara
kinilah saatnya berterus terang
jangan tutupi kebenaran
agar dunia tetap terang
jangan tutupi kesalahan
biar dada tetap lapang
kinilah saatnya berterus terang

jangan biarkan rasa takut
membuatmu menjadi munafik dan pengecut
cahaya kebenaran telah datang
kinilah saatnya berterus terang

marilah kita bicara laiknya saudara
jangan lagi kita biarkan
kepentingan merekayasa kita
menyumbat makna
tumpukan kata menyuburkan dendam
tumpukan keluhan meledakkan dada
dan akhirnya dendam membakar segalanya

kinilah saatnya berterus terang
setelah sekian lama
kita saling terkam bagai serigala
masihkah tersisa kemanusiaan kita ?
setelah sekian lama
kebencian antara kita membara
masihkan kita bersaudara ?

1998

.

.

GELOMBANG GELAP

gelombang gelap menyapu negeriku
memedihkan mata dan hatiku

siapa kalian menggiring gelap
atas panorama bumiku yang elok gemerlap
?

kenikmatan apa yang kalian cari
maka segala milik kami
kalian curi
hingga secercah harapan yang tersisa
pada kami
?

kalian bakar hutan dan dendam
hingga kobarannya sampai kini
tak kunjung padam
gelombang gelap menyapu negeriku
mengacaukan akal sehat
orang-orang waras
menghentikan kesibukan kerja para pekerja
merusuhkan belaian kasih sayang para penyayang
menjauhkan keakraban saudara dengan saudara
mengganggu keasyikan bermain bocah-bocah
mengusik kekhusukan para mukmin beribadah

gelombang gelap menyapu negeriku
Tuhan, ampunilah kami
yang tanpa sadar ikut memperpekat gelap
yang mereka giring kemari
dan datanglah kembali
dengan maha cahya Mu

1998

.

.

TAHTA

tahta dan singgasana tempatnya di istana
uang dan emas tempatnya di brankas
rumah dan sawah tempatnya di tanah
padi dan jagung tempatnya di lumbung
ternak dan kuda tunggang tempatnya di kandang
barang-barang tempatnya di gudang
jangan ditempatkan di hati !

.

.

DI LUAR HENING LANGIT

di luar hening langit meredam
ronta tangisku atas kehidupan penuh dendam
ketika nurani menagih janji
ketika kemerdekaan menuntut tanggung jawab
pada kekuasaan yang membantai kemanusiaan
pada kepemimpinan yang menyia-nyiakan kesetiaan
pada kekuatan yang memanfaatkan kesabaran
pada keserakahan yang menghina keadilan
ternyata angkara masih saja ikut bicara
o, hening langit
beri kami keindahan bulanmu
untuk menghias batin kami
beri kami cerah mentarimu
untuk mengusir awan gelap pikiran kami
beri kami hening bintang-bintang mu
untuk menerbitkan kearifan diri kami
o, hening langit
ajarilah kami meredam dendam
agar keadilan dan kebenaran sendiri tegak
bagai takdir yang tak tertolak
amin

1418

.

.

DOA

kami tak berani menatap langit
bumi yang terbaring
terus mengerang
menghisap air mata kami

( tapi tak menghilangkan, sayang
bahkan menambah dahaga )

.

.

SELAMA INI DI NEGERIMU

selama ini di negerimu
manusia tak punya tempat
kecuali di pinggir-pinggir sejarah yang mampat

inilah negeri paling aneh
dimana keserakahan dimapankan
kekuasaan dikerucutkan
kemunafikan dibudayakan
telinga-telinga disumbat harta dan martabat
mulut-mulut dibungkam iming-iming dan ancaman

orang-orang penting yang berpesta setiap hari
membiarkan leher-leher mereka dijerat dasi
agar hanya bisa mengangguk dengan tegas
berpose dengan gagah
di depan kamera otomatis yang gagu

inilah negeri paling aneh
negeri adiluhung yang mengimpor
majikan asing dan sampah
negeri berbudaya yang mengekspor
babu-babu dan asap
negeri yang sangat sukses
menernakkan kambing hitam dan tikus-tikus
negeri yang angkuh dengan utang-utang
yang tak terbayar
negeri teka-teki penuh misteri

selama ini di negeri mu
kebenaran ditaklukkan
oleh rasa takut dan ambisi
keadilan ditundukkan
oleh kekuasaan dan kepentingan
nurani dilumpuhkan
oleh nafsu dan angkara

selama ini di negeri mu
manusia hanya bisa
mengintip masalahnya dibicarakan
menghabiskan anggaran
oleh entah siapa
yang hanya berkepentingan
terhadap anggaran
dan dirinya sendiri

selama ini di negeri mu
anginpun menjadi badai
matahari bersembunyi
bulan dan bintang tenggelam
burung-burung mati
bunga-bunga layu sebelum berkembang
dan tembang menjadi sumbang
puisi menjadi tak indah lagi

yang tersisa tinggal doa
dalam rintihan
mereka yang tersia-sia
dan teraniaya
untunglah Allah Yang Maha Tahu
masih berkenan memberi waktu
kepadamu untuk memperbaiki negerimu
dari kampus-kampusmu yang terkucil
Ia mengirim burung-burung ababil
menghujani segala yang batil
dengan batu-batu membakar dari sijjil
dan pasukan bergajah abradah kerdil
bagai daun-daun dimakan ulat
beruntuhan menggigil

di negeri mu
kini telah menyingsing fajar peradaban baru
jangan tunggu, ambil posisi mu
proklamasikan kembali
kemerdekaan negeri mu

rembang, 1998

.

.

JADI APA LAGI

jadi apa lagi
yang bisa kita lakukan
bila mata sengaja dipejamkan
telinga sengaja ditulikan
nurani mati rasa
?

apalagi
yang bisa kita lakukan
bila kepentingan lepas dari kendali
hak lepas dari tanggung jawab
perilaku lepas dari rasa malu
pergaulan lepas dari persaudaraan
akal lepas dari budi
?

apalagi
yang bisa kita lakukan
bila pernyataan lepas dari kenyataan
janji lepas dari bukti
hukum lepas dari keadilan
kebijakan kepas dari kebijaksanaan
kekuasaan lepas dari koreksi
?

apalagi
yang bisa kita lakukan
bila kata kehilangan makna
kehidupan kehilangan sukma
manusia kehilangan kemanusiaannya
agama kehilangan Tuhan nya
?

apalagi, saudara
yang bisa
kita lakukan
?

Allah,
kalau saja itu semua
bukan kemurkaan dari Mu terhadap kami
kami tak peduli

rembang, awal dzulhijjah 1418 / 1998

.

.

RASANYA BARU KEMARIN
( Versi VI )

rasanya
baru kemarin bung karno dan bung hatta
atas nama kita menyiarkan dengan seksama
kemerdekaan kita di hadapan dunia
rasanya
gaung pekik merdeka kita
masih memantul-mantul
tidak hanya dari mulut-mulut jurkam pdi saja
rasanya
baru kemarin
padahal sudah lima puluh tiga tahun lamanya

pelaku-pelaku sejarah yang nista dan yang mulia
sudah banyak yang tiada
penerus-penerusnya sudah banyak yang berkuasa
atau berusaha
tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
taruna-taruna sudah banyak yang jadi
petinggi negeri
mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
sudah banyak yang jadi menteri

rasanya
baru kemarin
padahal sudah lebih setengah abad lamanya
negara sudah semakin kuat
rakyat sudah semakin terdaulat

pembangunan ekonomi kita sudah sedemikian laju
semakin jauh meninggalkan pembangunan akhlak
yang tak kunjung maju
anak-anak kita sudah semakin mekar tubuhnya
bapak-bapak kita sudah semakin besar perutnya

rasanya baru kemarin
padahal sudah lima puluh tiga tahun kita merdeka
kemajuan sudah menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
kemakmuran duniawi sudah menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya

daging sudah lebih tinggi harganya
dibanding ruh dan jiwa
tanda gambar sudah lebih besar pengaruhnya
dari bendera merah putih dan lambang garuda
pejuang marsinah sudah berkali-kali
kuburnya digali tanpa perkaranya terbongkar
preman-preman sejati sudah berkali-kali
diselidiki dan berkas-berkasnya selalu terbakar

rasanya
baru kemarin
padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka
pahlawan-pahlawan idola bangsa
seperti diponegoro
imam bonjol dan sisingamangaraja
sudah dikalahkan oleh ksatria baja hitam
dan kura-kura ninja

banyak orang pandai sudah semakin linglung
banyak orang bodoh sudah semakin bingung
banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

rasanya
baru kemarin

banyak ulama sudah semakin dekat kepada pejabat
banyak pejabat sudah semakin erat dengan konglomerat
banyak wakil rakyat sudah semakin jauh dari umat
banyak nurani dan akal budi sudah semakin sekarat

( hari ini ingin rasanya
aku bertanya kepada mereka semua
sudahkah kalian
benar-benar merdeka ? )

rasanya
baru kemarin

tokoh-tokoh angkatan 45 sudah banyak yang koma
tokoh-tokoh angkatan 66 sudah banyak yang terbenam

rasanya
baru kemarin

negeri zamrud katulistiwaku yang manis
sudah terbakar habis
dilalap krisis demi krisis
mereka yang kemarin menikmati pembangunan
sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri

rasanya baru kemarin
padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka

mahasiswa-mahasiswa penjaga nurani
sudah kembali mendobrak tirani
para oportunis pun mulai bertampilan
berebut menjadi pahlawan
politisi-politisi pensiunan
sudah bangkit kembali
partai-partai politik sudah bermunculan
dalam reinkarnasi

rasanya
baru kemarin

tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma
tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru

rasanya
baru kemarin

pak harto sudah tidak menjadi tuhan lagi
bayang-bayangnya sudah berani persi sendiri
mester habibie sudah memberanikan diri
menjadi presiden transisi
bung harmoko sudah tak lagi
mengikuti petunjuk dan mendominasi televisi
gus dur mulai siap madeg pandita
ustadz amin rais sudah siap jadi sang nata
mbak mega sudah mulai agak lega
mas surjadi sudah mulai jaga-jaga

( hari ini rasanya
aku bertanya kepada mereka semua
bagaimana rasanya merdeka )

rasanya baru kemarin
padahal sudah lima puluh tiga tahun kita merdeka

para jendral dan pejabat sudah saling mengadili
para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali

mereka kemarin yang dijarah
sudah mulai pandai meniru menjarah
mereka yang perlu direformasi
sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
mereka yang kemarin dipaksa-paksa
sudah mulai berani mencoba memaksa
mereka yang kemarin dipojokkan
sudah mulai belajar memojokkan

rasanya baru kemarin
orangtuaku sudah lama pergi bertapa
anak-anakku sudah pergi berkelana
kakakku sudah menjadi politikus
aku sendiri sudah menjadi tikus

( hari ini
setelah lima puluh tiga tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama )

rasanya baru kemarin
ternyata sudah lima puluh tiga tahun kita merdeka

( ingin rasanya
aku sekali lagi menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa :
merdeka ! )

8 Agustus 1998

Satya Darma

Standard

TRI SATYA

Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh:

- Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia,

dan mengamalkan Pancasila

- Menolong sesama hidup, dan ikut serta membangun masyarakat

- Menepati Dasa Darma

.

.

DASA DARMA

1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia

3. Patriot yang sopan dan ksatria

4. Patuh dan suka bermusyawarah

5. Rela menolong dan tabah

6. Rajin, terampil, dan gembira

7. Hemat, cermat, dan bersahaja

8. Disiplin, berani, dan setia

9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya

10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan