Puisi W.S. Rendra

Standard

Renungan Indah

Oleh : W.S Rendra

 .

Seringkali aku berkata

Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

.

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya

Mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?

.

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah.

Kusebut itu sebagai ujian,

Kusebut itu sebagai petaka,

Kusebut  dengan  panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah “derita”

 .

Ketika aku berdoa kuminta titipan yang cocok dengan hawa  nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,  dan kutolak sakit,

kutolak kemiskinan.

.

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti “MATEMATIKA”

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

Dan nikmat dunia kerap menghampiriku

 .

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih.

Kuminta Dia membalas perlakuan baikku

Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,

 .

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,

Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah

Ketika langit dan bumi bersatu,

Bencana dan keberuntungan sama saja…

.

.

.

Sajak Sebatang Lisong

Oleh : W.S. Rendra

.

Menghisap sebatang lisong
 melihat Indonesia Raya
 mendengar 130 juta rakyat, dan di langit
 dua tiga cukong mengangkang,
 berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.   Fajar tiba.
 Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
 tanpa pendidikan.
Aku bertanya,   tetapi pertanyaan-pertanyaanku
 membentur meja kekuasaan yang macet,
 dan papantulis-papantulis para pendidik
 yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
 menghadapi satu jalan panjang,
 tanpa pilihan, tanpa pepohonan,   tanpa dangau persinggahan,
 tanpa ada bayangan ujungnya.
 …………………
Menghisap udara yang disemprot deodorant,
 aku melihat sarjana-sarjana menganggur
 berpeluh di jalan raya;
 aku melihat wanita bunting
 antri uang pensiun.
Dan di langit;
 para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
 bahwa bangsa mesti dibangun;
 mesti di-up-grade
 disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
 Langit pesta warna di dalam senjakala
 Dan aku melihat protes-protes yang terpendam,
 terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya, tetapi pertanyaanku
 membentur jidat penyair-penyair salon,
 yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
 sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
 dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
 termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
 berkunang-kunang pandang matanya,
 di bawah iklan berlampu neon,
 Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
 menjadi gemalau suara yang kacau,
 menjadi karang di bawah muka samodra.
 ………………
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
 Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
 tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
 Kita mesti keluar ke jalan raya,
 keluar ke desa-desa,
 mencatat sendiri semua gejala,
 dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
 Pamplet masa darurat.
 Apakah artinya kesenian,
 bila terpisah dari derita lingkungan.
 Apakah artinya berpikir,
 bila terpisah dari masalah kehidupan.
.

19 Agustus 1977

ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s